Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Canggu Sudah Beda

Oleh Nyoman Sukadana • 29 Maret 2026 • 05:32:00 WITA

Canggu Sudah Beda
Menot Sukadana (dok/pribadi)

PAGI di Canggu sekarang terasa lain.

Langit baru saja terang. Jalanan sudah penuh. Motor berseliweran. Mobil merayap pelan. Kadang berhenti, lalu bergerak lagi. Seperti semua orang sedang terburu-buru, namun tidak benar-benar tahu sedang mengejar apa.

Di pinggir jalan, kafe-kafe mulai buka. Orang-orang sudah duduk dengan laptop di depan mereka. Secangkir kopi mengepul. Wajah-wajah asing bercampur dengan yang lokal. Semua tampak sibuk. Ritmenya cepat.

Dulu, pagi tidak seperti ini.

Simpang kecil itu dulu sepi. Paling lewat sepeda, atau orang yang berjalan santai ke pura. Sekarang? Kendaraan harus saling menunggu. Tidak macet sepenuhnya, namun juga tidak pernah benar-benar lancar. Semua bergerak pelan dan terasa agak gagap.

Sawah-sawah di sekitar itu pun tidak lagi selapang dulu. Pelan-pelan berubah. Ada yang menjadi jalan. Ada yang menjadi bangunan. Ada yang hilang tanpa banyak suara.

Saya berdiri sebentar. Memperhatikan.

Lalu muncul pertanyaan sederhana itu: Canggu ini sebenarnya sedang jadi apa? Atau, lebih jauh lagi, Bali ini sedang dibawa ke mana?

Perubahan memang tidak bisa dihindari. Dunia datang ke Bali dengan caranya sendiri. Orang tidak lagi hanya liburan. Mereka datang untuk tinggal, bekerja, dan menjalani hidup dari sini. Mereka datang dengan laptop dan pekerjaan, lalu menemukan Bali sebagai tempat yang terasa nyaman.

Tidak ada yang salah dengan itu. Dunia memang sudah berubah. Kerja tidak harus di kantor. Hidup tidak harus menetap di satu tempat. Bali punya banyak hal yang dicari orang.

Namun, di tengah semua itu, ada yang pelan-pelan bergeser.

Harga-harga terasa tidak lagi sama. Ruang hidup terasa makin sempit. Ada yang perlahan menjauh, bukan karena ingin pergi, tapi karena tidak lagi punya tempat. Semua berjalan lebih cepat.

Sebagai jurnalis, saya hidup dari kecepatan. Saya butuh internet. Butuh arus informasi yang terus berjalan. Itu bagian dari pekerjaan. Namun entah sejak kapan, saya mulai merasa lelah dengan ritme itu. Ada bagian dalam diri yang ingin pelan.

Maka saya memilih menepi.

Tidak jauh. Hanya bergeser ke arah Mengwi. Di sana ada sebidang tanah yang saya rawat pelan-pelan. Saya lebih banyak menanam daripada membangun. Ada ruang yang saya biarkan tetap terbuka. Ada waktu yang tidak saya isi dengan banyak hal.

Internet tetap ada. Pekerjaan tetap jalan. Namun suasananya berbeda. Lebih tenang. Lebih mudah didengar. Mungkin ini bukan sesuatu yang besar. Hanya cara sederhana agar tidak sepenuhnya ikut arus yang terlalu deras.

Saya membayangkan beberapa tahun ke depan. Bali mungkin akan semakin maju. Jalan lebih baik. Akses lebih mudah. Pembangunan semakin banyak. Itu bagus secara ekonomi.

Namun tetap ada satu hal yang perlu dijaga: rasa.

Rasa yang membuat Bali tetap Bali. Yang hidup dalam keseharian. Dalam cara orang menyapa. Dalam waktu yang tidak selalu tergesa. Kalau rasa itu hilang, Bali mungkin tetap ramai, namun akan terasa berbeda dan hambar.

Perubahan tidak bisa dihentikan. Namun arah perubahan itu masih bisa dijaga. Mungkin yang perlu dirawat bukan hanya bangunan, tapi juga keseimbangan.

Bali ini mau dijadikan apa? Saya tidak punya jawaban pasti.

Namun saya percaya, masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh mereka yang datang membawa dolar. Tapi juga oleh kita yang tinggal, dan memilih untuk tetap peduli.

Pagi itu, di tengah Canggu yang semakin ramai, saya menarik napas pelan. Memang sudah beda. Dan mungkin, kita semua sedang belajar menyesuaikan diri. Sambil, sebisa mungkin, menjaga apa yang masih tersisa. (*)

Menot Sukadana