Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Mapan vs Mampu

Oleh Nyoman Sukadana • 26 Maret 2026 • 19:18:00 WITA

Mapan vs Mampu
Menot Sukadana (dok/pribadi)

USIA 50 itu angka keramat. Bagi laki-laki di Denpasar, itu masa "rembang petang". Matahari masih terang, tapi bayangan sudah mulai memanjang.

Di sinilah ujian sesungguhnya: Anda ini sebenarnya Mampu? Atau sudah Mapan?

Bedanya tipis. Setipis kulit ari. Tapi dampaknya luar biasa. Fatal kalau salah hitung.

Banyak orang di Denpasar merasa sudah sukses. Rumah sudah di kawasan strategis. Mobil keluaran terbaru. Anak sekolah di swasta favorit. Gaya hidup? Jangan ditanya. Tiap akhir pekan nongkrong di café hits kawasan Renon atau Sanur.

Inilah kelompok "Mampu".

Penghasilannya lumayan. Antara Rp15 juta sampai Rp25 juta sebulan. Mereka adalah mesin ekonomi kota. Profesional hebat. Pemilik UKM yang sedang naik daun.

Tapi ada tapinya: Mereka sangat rentan.

Uang masuk hanya kalau mereka bekerja. Kalau besok sakit? Aliran dana mampet. Kalau bisnis lesu? Cicilan KPR goyang. Kalau kesehatan menurun? Tabungan ludes dalam semalam.

Rumah dan mobil mereka memang bagus. Tapi statusnya masih "milik bank". Masih dicicil. Gaya hidupnya tinggi, tapi dana pensiunnya tipis.

Inilah si "Mampu" yang goyah.

Beda dengan si "Mapan".

Mapan itu kondisi ketahanan. Kekayaan bersihnya sudah di atas Rp5 miliar. Minimal.

Si Mapan tidak lagi mengejar uang. Uanglah yang mengejar mereka.

Di usia 50, rumah di Renon atau Sanur sudah lunas. Tidak ada lagi beban bunga bank yang mencekik leher. Mereka punya aset yang bisa "bernapas" sendiri.

Bisa berupa kos-kosan di Panjer. Atau ruko yang disewakan di Gatot Subroto. Atau portofolio SBN yang tiap bulan mengirimkan kupon. Rutin. Pasti.

Anak mau kuliah? Dana sudah aman. Sakit? Asuransi sudah meng-cover. Aset tetap utuh.

Di Denpasar, harga tanah naiknya lebih cepat dari gaji. Pria usia 50 dengan dua anak remaja harus waspada. Jangan sampai terjebak fenomena "Rich Poor". Kaya di penampilan, miskin di kenyataan. Punya rumah besar warisan, tapi tak punya uang tunai untuk beli beras saat pensiun.

Maka, mapan itu bukan soal punya supercar.

Mapan itu soal ketenangan. Ketenangan bahwa jika besok Anda berhenti bekerja, sekolah anak tidak terhenti. Dapur tetap mengepul. Status sosial tidak luruh.

Kuncinya satu: Berani mengerem gaya hidup. Pindahkan surplus pendapatan ke aset produktif.

Sebab, kekayaan sejati bukan soal besarnya gaji. Tapi soal seberapa lama Anda bisa bertahan hidup tanpa harus bekerja lagi.

Mampu itu pilihan. Mapan itu keharusan.

Anda pilih yang mana?

Menot Sukadana