Lelah Pikiran
SAYA baru tahu: tidak semua lelah bisa tuntas dengan tidur. Delapan jam pun tidak cukup. Ditambah kopi hitam pekat, tetap saja tidak banyak menolong.
Ini bukan lelah di badan. Bukan di kaki yang pegal. Bukan di pinggang yang kaku. Ini lelah pikiran. Ia menetap di kepala. Menguasai seluruh ruang saraf. Datangnya pelan. Tidak terasa. Tahu-tahu sudah penuh. Sesak.
Belakangan ini, saya sering mengalaminya.
Saya tetap duduk di meja yang sama di Dalung. Secara fisik, saya tidak ke mana-mana. Tapi di dalam kepala, pikiran seperti pelari maraton yang berlari ke dua arah. Berlawanan.
Meja kerja saya jadi saksi.
Lampu mulai redup. Asbak penuh. Abu dan puntung rokok menumpuk seperti sisa-sisa keputusan yang belum selesai. Keyboard kusam. Debu tipis menempel. Di sudut meja, bungkus rokok kosong berserakan. Gelas-gelas kopi tinggal lingkaran kering di dasarnya.
Semua berantakan. Seberantakan isi kepala saya.
Satu arah ingin membangun sesuatu yang besar. Menyusun Podium Ecosystem. Menjahit banyak hal agar bisa berdiri rapi. Media, kreativitas, komunitas. Semua harus terhubung. Harus jadi satu sistem yang hidup.
Arah satunya lagi justru ingin sunyi. Ingin sederhana. Menulis pelan. Menuntaskan empat naskah buku yang sudah lama menunggu dilahirkan.
Dua-duanya penting. Dua-duanya tidak mau menunggu.
Di situlah masalahnya. Tidak mudah menjalankan keduanya sekaligus.
Menyusun konsep itu butuh pikiran yang tajam. Harus jelas. Harus tegas. Banyak yang harus dipilih. Lebih banyak lagi yang harus dilepaskan.
Menulis buku berbeda. Ini urusan hati. Ia tidak bisa dipaksa. Kalau hati tidak tenang, tulisan tidak akan keluar. Kalau pikiran terlalu penuh, kalimat jadi kaku. Tidak mengalir.
Di titik itu, lelah pikiran mencapai puncaknya. Seperti ada dua orkestra besar yang dimainkan bersamaan, tapi konduktornya hanya satu: diri sendiri.
Saya sempat bertanya: ini normal atau tidak? Jawabannya: ya, memang begitu.
Kalau yang dikerjakan kecil, lelahnya kecil. Kalau yang dikerjakan besar, lelahnya ikut besar. Tidak ada yang aneh.
Saya mulai paham satu hal. Tidak semua lelah harus diusir. Ada lelah yang memang harus dijalani. Karena itu tanda kita sedang mengerjakan sesuatu yang punya arti.
Saya juga mulai menerima: tidak semua harus cepat selesai. Ada yang memang harus matang pelan. Dipikirkan berulang-ulang. Diragukan dulu. Baru kemudian menjadi jelas.
Malam ini saya tidak memaksakan apa-apa. Konsep itu saya biarkan tergeletak di meja. Naskah buku saya tutup.
Saya duduk saja. Diam. Memandangi gelas kopi yang sudah dingin. Dan asbak yang penuh.
Tidak apa-apa. Besok masih ada waktu. Bisa dilanjutkan lagi.
Pelan saja. Yang penting tetap berjalan.
Karena yang bertahan lama bukan yang paling cepat sampai. Tapi yang tidak berhenti di tengah jalan.
Lelah pikiran ini? Mungkin memang ongkos yang harus dibayar. Untuk sesuatu yang ingin dibuat bertahan lebih lama dari umur kita sendiri. (*)
Menot Sukadana