Telat
REPUTASI saya buruk. Sangat buruk. Labelnya: Tukang Telat.
Bukan setahun dua tahun, tapi sudah belasan tahun. Begitu lengketnya label itu sampai ada seloroh: kalau saya datang tepat waktu, itu justru mencurigakan. Teman-teman memanggil saya Menot. Dan bagi mereka, kalau tidak telat, bukan Menot namanya. Itu sudah seperti kalimat permakluman.
Saya tidak bangga, tapi juga tidak bisa menolak.
Semua berawal dari satu hal: insomnia. Kebiasaan tidur larut dan bangun kesiangan. Saya lebih suka menyebutnya "kebiasaan" daripada penyakit. Suatu pola perilaku yang berulang secara sadar.
Efeknya seperti utang bunga berbunga: bangun telat, pikiran berantakan, tubuh lesu, imun merosot, lalu mudah panik. Saya mencari solusi instan: kopi. Bagi saya, kopi adalah tombol reset. Sekejap bikin rileks, tapi itu ilusi.
Tentu kopi tanpa rokok itu hambar. Maka jadilah saya penggila kafein sekaligus perokok berat.
Nyatanya, "ritual" itu tidak menyembuhkan. Saya tetap terlambat. Liputan telat, janji temu telat, plus bonus: asam lambung akut. "Telat" pun akhirnya mengeras menjadi identitas.
Sahabat saya, Kadek Putra, sampai geleng-geleng kepala. Sebagai sesama wartawan, dia menyarankan saya ke psikiater. Saya menolak.
"Kalau terapinya tanpa obat, saya mau," jawab saya.
Ironis, memang. Saya takut ketergantungan obat, padahal saya sudah ketergantungan pada banyak hal: pada kopi, pada insomnia, dan pada rasa nyaman dalam keterlambatan.
Bicara soal telat, pikiran saya melayang pada I Made Suteja dan Angga Wijaya. Kali ini bukan soal jam karet, tapi soal kegelisahan hidup. Mereka pernah bertanya kepada saya: "Apakah sudah telat memulai usaha di usia awal 40 tahun?"
Mereka gelisah. Maklum, usia sudah kepala empat. Di usia itu, orang biasanya sudah duduk manis dan mapan. Tapi mereka justru baru mau merintis dari nol. Saya pernah berada di posisi mereka, merasakan ketakutan yang sama.
Lalu saya bilang kepada mereka: usia 40 itu justru posisi paling ideal.
Ingat pepatah lama: Life begins at forty. Itu bukan sekadar kalimat penghibur buat orang tua, itu fakta lapangan. Di usia ini, kita sudah matang dan berpengalaman. Skill sudah di luar kepala. Dan yang paling penting, kita punya aset yang tidak dimiliki anak muda: Jejaring (Networking).
Itu aset tak terlihat yang sulit dinilai dengan uang. Apalagi jika ingin membangun media sendiri. Anak muda mungkin menang di energi, tapi kita menang di relasi. Hubungan yang dibangun selama puluhan tahun menjadi wartawan bukan main-main. Itulah modal utama kita.
Lihat saja sekeliling. Banyak sejawat baru mulai di usia 50-an gara-gara disrupsi digital. Media cetak rontok, mereka kena PHK. Dan pilihan paling logisnya: merintis media online sendiri.
Demi apa? Demi bertahan hidup. Demi harga diri dan menghidupi keluarga.
Kami memang baru di tahap bertahan, belum bisa ekspansi. Tapi setidaknya kami punya pilihan, dan itu jauh lebih baik daripada tidak punya pilihan sama sekali.
Saya sering memberikan simulasi angka sederhana. Harapan hidup orang Indonesia rata-rata 74 tahun. Jika kita mulai di usia 40, artinya asumsi kita masih punya waktu 30 tahun lebih untuk bertumbuh.
Itu waktu yang sangat lama. Cukup untuk jatuh bangun berkali-kali sampai akhirnya tegak mandiri.
Kita memang tidak pernah tahu rahasia usia dari Tuhan. Tapi setidaknya, kita punya harapan. Dan harapan itulah yang menjaga semangat kita untuk terus bertahan dan berjuang.
Ternyata, telat datang ke janji temu memang masalah yang harus saya perbaiki. Tapi "telat" memulai hidup baru di usia 40? Itu bukan masalah. Itu adalah tantangan yang baru saja dimulai. (*)
Menot Sukadana