Setan Pikiran
TERNYATA, selama ini saya terlalu sibuk memikirkan "masa depan" sampai lupa punya "masa kini".
Kepala saya penuh sesak seperti pasar tumpah. Ada strategi SEO yang berteriak, ekosistem bisnis media yang menuntut, hingga rencana lima tahun ke depan yang berebut ruang. Ramai sekali
Pikiran juga butuh jeda. Seperti mesin, kalau dipaksa gas pol terus, ia akan panas. Overheat. Lalu ia akan mogok di saat yang paling tidak tepat. Meninggalkan kita dalam kegelapan.
Pikiran yang tak bisa berhenti itu adalah setan yang kita ciptakan sendiri. Namanya: Cemas.
Ia lahir di tempurung kepala. Hidup dari tumpukan rencana yang belum tentu jadi, tapi sudah rakus menguras energi hari ini.
Setan ini licik. Ia sering menyamar jadi "ambisi". Atau "dedikasi". Padahal, ia hanya sedang mencuri ketenangan saya.
Saya pun berhenti sejenak. Berjalan ke kamar. Lalu menjatuhkan diri.
Punggung saya menyentuh kasur. Empuk. Tulus. Saya biarkan tubuh ini tenggelam dalam gravitasi. Saya tidak melakukan apa-apa. Hanya bernapas.
Ternyata, kasur ini tidak pernah menuntut saya untuk sukses. Ia hanya ingin menopang lelah saya. Di sini. Saat ini.
Kenapa saya tidak bisa sesantai raga yang sedang rebahan ini?
Selama ini, kaki saya ada di ruang tamu, tapi pikiran sudah lari ke tahun 2030. Badan sedang makan siang, tapi otak sedang sibuk berhitung target tahun depan.
Saya ternyata sering absen dari hidup saya sendiri. Saya sedang memelihara setan di kepala saya sendiri.
Padahal, masa depan itu urusan Tuhan. Tugas kita cuma satu: kerjakan apa yang ada di depan mata. Lalu nikmati. Termasuk menikmati rebahan ini.
Menulis esai ini adalah ritual pembersihan saya. Mengusir setan pikiran itu. Dengan cara pulang ke "masa kini". Merasakan setiap ketukan jari di keyboard. Menghirup udara yang ada sekarang. Bukan udara dari rencana esok hari.
Ketenangan pikiran itu ternyata sederhana. Tidak perlu menunggu ekosistem bisnis itu jadi besar. Cukup dengan mampu menikmati keheningan di atas tempat tidur. Tanpa gangguan hantu masa depan.
Hidup bukan soal seberapa cepat kita sampai ke tujuan. Tapi seberapa sadar kita saat sedang berjalan.
Jangan sampai kita sudah di puncak, tapi baru sadar kalau kita kehilangan diri sendiri di sepanjang jalan. Karena sibuk melayani setan di kepala.
Saya pejamkan mata sejenak. Gelap. Tapi nyata.
Setan itu pergi. Rasa tenang menyusup perlahan.
Anda punya setan serupa di kepala? Coba rebahan sebentar. Rasakan detak jantung Anda sendiri. Bukti bahwa Anda masih hidup di masa kini.
Lalu, usir setannya. (*)
Menot Sukadana