Pikiran Nakal
SEBUTAN nakal biasanya berbau negatif. Identik dengan anak yang susah diatur. Atau orang yang suka melanggar aturan. Tapi bisa berbeda kalau nakal itu urusannya dengan pikiran. Apalagi kalau dicampur dengan kreativitas. Hasilnya bisa mengejutkan.
Saya pun mencoba memplesetkannya. Nakal: NA-lar dan a-KAL. Masuk akal juga.
Jangan-jangan, kata "Nakal" memang diciptakan untuk mereka yang ogah berhenti berpikir lurus-lurus aja. Mereka yang tidak mau terjebak dalam kebiasaan. Yang dalam bahasa kerennya disebut: Out of the Box.
Belakangan saya lagi keranjingan. Ingin mencoba menggunakan judul-judul "nakal" dalam esai kolom JEDA. Saya sempat menguji ide ini. Meminta tanggapan beberapa teman dekat. Hasilnya? Beragam.
Ada yang mendukung. Tapi ada juga yang kurang setuju. Khawatir. Jangan-jangan roh esai JEDA hilang. Maklum, JEDA itu sudah punya identitas: personal dan reflektif. Kalau terlalu nakal, takutnya malah jadi liar.
Tapi saya ini penulis esai yang masih "hijau". Masih baru belajar. Saya sedang ingin mengeksplorasi gaya tulisan. Saya sudah memantapkan hati: setahun dua tahun ini adalah masa "wajib belajar". Masa pencarian "sidik jari" gaya penulisan sendiri.
Momen menarik terjadi Sabtu lalu. Saat ngopi bareng Angga Wijaya di Warung Mogan, Dalung. Angga berkomentar spontan. Dia menilai gaya tulisan saya sudah jauh berbeda. Terutama soal struktur kalimatnya.
Sekarang saya cenderung pakai kalimat pendek-pendek. Sangat pendek. Istilahnya: gaya ekonomis kata.
"Kayaknya sudah mulai menemukan gaya tulisannya, Bli," ucap Angga. Singkat, padat. Dia bahkan menyarankan saya untuk mempertahankan gaya itu. "Jangan diubah lagi."
Saran Angga bukan tanpa alasan. Penulis memang harus punya "sidik jari". Karakter yang kuat. Sehingga ketika orang membaca sekilas saja, mereka sudah tahu: ini tulisan siapa. Tanpa perlu melihat nama penulisnya.
Soal kalimat pendek-pendek ini, Angga menilai sudah jarang yang pakai di Bali. Dia teringat Bli Nanoq da Kansas. Penulis yang dulu sangat gemar menggunakan gaya staccato alias "gaya jotosan" seperti itu. Kalimatnya pendek dan langsung menghantam.
Selama proses pencarian jati diri ini, masukan seperti itu sangat mahal harganya. Saya bersyukur. Saya katakan ke Angga, saya masih mau terus belajar. Setidaknya sampai dua tahun ke depan. Sampai benar-benar menemukan gaya yang pas di hati.
Lalu bagaimana caranya belajar? Saya pilih jalur autodidak. Saya baca lagi karya-karya penulis besar. Saya bedah kalimatnya. Saya pelajari setiap katanya. Bagaimana mereka membangun alur. Bagaimana mereka mengunci isu.
Di situlah "pikiran nakal" saya bekerja lagi. Saya mulai mencoba judul-judul pendek. Cukup dua sampai tiga kata saja. Kadang saya pilih judul yang rasanya tidak nyambung dengan isi. Tapi sebenarnya sangat nyambung kalau dibaca sampai tuntas. Kadang malah judulnya terkesan nakal untuk tema yang sangat serius.
Ada satu lagi "kenakalan" yang saya pelajari dari Angga. Dia jagoan dalam mengolah tema keseharian. Hal-hal yang awalnya terlihat remeh. Tapi di tangan dia, melalui esainya, hal remeh itu diulas dari berbagai sudut pandang. Hasilnya: pembaca dapat perspektif baru.
Diam-diam saya pengagum tulisannya. Baik yang tayang di Tatkala maupun media daring lainnya. Menarik. Mengalir.
Mencari gaya tulisan memang butuh keberanian. Butuh keberanian untuk menjadi "nakal". Melepaskan diri dari pakem yang membosankan.
Jadi, masih takut berpikiran nakal? Saya sih tidak. Justru asyik. (*)
Menot Sukadana