Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Zaman Klik

Oleh Nyoman Sukadana • 05 Mei 2026 • 14:32:00 WITA

Zaman Klik
Menot Sukadana (vector/ai)

MENULIS esai di zaman TikTok itu seperti berteriak di tengah konser rock. Sia-sia? Mungkin. Melelahkan? Pasti. Tapi di depan layar monitor, semua peluh itu tidak ada harganya. Yang ada hanya angka. Kejam memang, tapi angka adalah satu-satunya kejujuran yang tersisa di warung kopi digital kita. Itulah hukum utama di Zaman Klik.

Saya perhatikan satu per satu. Judul "Telat" cuma dapat 135. Sedih? Jangan dulu. Lihat bawahnya: "Balian Kata-Kata" tembus 1.488. "Humas, Rok Mini atau Daster?" nyenggol 1.392.

Di sinilah seninya "berteriak".

Strategi saya sederhana. Saya tidak mau teriak di sembarang tempat. Saya hanya melempar esai ke kolam terbatas: dua grup WhatsApp dan dinding Facebook pribadi. Total pasukannya cuma 4.500-an orang.

Ini adalah sebuah simulasi. Sebuah tes nyali di tengah riuhnya arus informasi.

Saya ingin tahu sejauh mana teriakan saya di kolam kecil ini bisa menggerakkan riak air. Jika dari 4.500 orang itu rata-rata 502 orang membaca alias 11 persen artinya frekuensinya pas. Di dunia digital marketing, angka konversi segitu sudah bikin orang sujud syukur.

Angka simulasi ini adalah kompas. Ia yang menentukan: apakah tulisan ini layak saya bawa ke panggung yang lebih besar, atau cukup berhenti di sini saja.

Data itu bicara: apa yang sedang mendidih di kepala orang Bali hari ini. Di Zaman Klik, orang tidak mau lagi dicekoki berita kaku yang membosankan. Mereka mencari rasa. Mereka mencari kegelisahan yang sama.

Saat saya menulis tentang Canggu yang makin asing, angka langsung meledak. Kenapa? Karena teriakan itu mewakili jeritan hati banyak orang. Di sana, esai bukan lagi sekadar teks, tapi sudah jadi cermin sosial.

Tapi ingat, angka besar bukan berarti kita harus jadi "pelacur algoritma".

Jangan karena mengejar statistik, kita kehilangan taksu. Gaya "Dua Muka" harus dimainkan. Satu muka harus cerdik. Judul harus punya hook, sedikit nakal boleh. Tapi muka kedua harus jujur. Begitu pintu dibuka, pembaca harus dapat gizi. Kalau mereka merasa tertipu dalam simulasi ini, mereka tidak akan pernah kembali.

Bagi media lokal di Bali, angka 502 itu adalah prestasi organik. Itu adalah 502 manusia yang ikhlas menyerahkan lima menit waktu mereka yang berharga di tengah godaan video-video pendek yang berseliweran.

Kita tidak butuh jutaan "turis pembaca" yang cuma lewat. Kita butuh umat. Kita butuh komunitas yang kalau sudah sepakat, mereka akan meresonansi isu ini ke seluruh pelosok Bali melalui grup-grup WhatsApp mereka sendiri.

Jadi, jangan silau dengan angka, tapi jangan juga abai. Gunakan ia untuk membaca arah angin. Jika tes pasar menunjukkan kegelisahan yang meledak, itulah saatnya kita tekan tombol "sebar luas".

Teruslah mengejar angka. Karena di dunia siber, satu judul yang nakal sering kali jauh lebih berharga daripada seribu paragraf yang bijaksana. Selamat datang di peradaban klik. (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.