Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Slogan Nokia

Oleh Nyoman Sukadana • 08 Mei 2026 • 01:03:00 WITA

Slogan Nokia

ANDA masih ingat slogan ponsel Nokia?

Itu lho. Merek ponsel jadul yang masih pakai antena tarik kalau sinyalnya lemot. Seri 3310 dan 5110 adalah legenda. Populer disebut ponsel "sejuta umat" pada tahun 1998–2000.

Jika ingat, Anda berarti satu barisan dengan saya: generasi old school. Alias paruh baya.

Tapi jadi generasi lawas itu menyenangkan. Kita punya kenangan nostalgia yang tidak dimiliki anak zaman sekarang. Misalnya: merasakan betapa kerennya menenteng ponsel GSM.

Saya juga tumbuh sebagai remaja dewasa era kejayaan ponsel asal Finlandia itu. Saat itu saya masih mahasiswa semester pertengahan di Fakultas Hukum Universitas Udayana (FH Unud).

Di tahun 1998–2000 itu, saya belum punya ponsel. Saya pakainya pager. Mereknya Starco. Iurannya Rp33 ribu per bulan. Pager itu untuk menunjang aktivitas saya di kampus, NGO, dan membantu usaha orang tua. Persis seperti lagu "Tididit" milik Sweet Martabak: "Tididit pager-ku berbunyi..."

Tahun-tahun itu, penampilan saya memang sering terlihat "menggembel". Tapi siapa sangka, di balik ransel kusam itu, saya memegang mandat finansial yang besar.

Di rekening ATM yang saya kelola kala itu, ada nominal jumbo sebesar Rp150 juta.

Angka itu fantastis untuk ukuran tahun 1998-2000. Sebagai gambaran: harga satu unit rumah di BTN Dalung Permai saat itu rata-rata hanya Rp15 juta. Artinya, saldo itu setara dengan 10 unit rumah. Atau kalau mau lahan di pinggir jalan utama, harganya masih Rp30 juta per unit.

Status saya memang mahasiswa, tapi peran saya adalah "menteri keuangan" bagi usaha jual beli beras ayah saya.

Pernah satu kali, sekitar tahun 2000, saya menjabat Ketua BPM FH Unud. Organisasi di fakultas sedang rugi akibat sebuah kegiatan. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya pinjamkan dana Rp3 juta dari kantong pribadi. Uang yang sangat besar bagi mahasiswa saat itu.

Kejadian unik lainnya di tahun 2001. Suatu malam, tas ransel saya diam-diam dibongkar kawan sendiri. Namanya Arie "Step". Dia relawan di Kisara PKBI Bali.

Saya memang aktif di sana sebagai tim ceramah radio dan pendampingan remaja berisiko HIV/AIDS. Arie bersama Cok "Baglug" kaget bukan main saat menemukan buku tabungan saya. Di sana tertera angka Rp78 juta.

Tak hanya itu, mereka menemukan bundelan SHM (Sertifikat Hak Milik). Isinya beberapa sertifikat aset usaha keluarga yang kebetulan sedang saya bawa untuk urusan administrasi.

Mereka melongo. Kontras sekali antara angka di buku tabungan dengan penampilan saya yang seperti gembel. Mereka tidak tahu bahwa setiap hari saya bergelut dengan laporan keluar masuk beras yang mencapai 30 sampai 40 ton per bulan.Saya hanyalah seorang kurir yang dipercaya memegang "napas" bisnis orang tua.

Tapi cukup soal nostalgia pribadi. Kita kembali ke Nokia. Slogannya sangat kuat: Connecting People. Menghubungkan orang.

Bagi saya, menulis itu persis seperti slogan Nokia. Melalui tulisan, kita bisa terhubung dengan ribuan orang, tanpa perlu bertatap muka. Itulah alasan saya rajin meracik esai di kolom JEDA ini. Saya ingin terhubung dengan alam pikiran pembaca.

Sebab, apa yang saya tahu adalah hasil "sambungan" dari orang lain. Dari buku, majalah, koran, atau cerita hidup orang lain.

Seperti yang pernah saya bilang ke Angga Wijaya, seorang kawan penulis juga. Ada hal yang tidak akan pernah habis meski dibagi-bagi: pengetahuan dan pengalaman. Bahkan, ia justru terus tumbuh berkembang subur.

"Saya berharap lewat tulisan itu dapat berguna menambah pengetahuan pembaca. Lalu mereka menularkannya lagi ke yang lain. Semacam getok tular," kata saya waktu itu

Kini, genap setahun saya menulis di kolom JEDA. Hasilnya? Setidaknya sudah ada lima wartawan yang "terprovokasi" ingin menulis esai atau buku. Ada yang cuma tanya-tanya, ada yang sudah mulai praktik.

Sahabat dekat saya, I Made Suteja dan Kadek Putra, sudah mulai tergerak. Bahkan ada teman wartawan yang ngepos di Pemkab Badung juga mulai gatal ingin menulis buku.

Wartawan di Badung ini sempat secara serius bertanya soal cara menulis buku. Saya sarankan dia bertanya lebih detail ke ahlinya: Angga Wijaya.

Sabtu lalu, saat ngopi di Warung Mogan, Dalung, Angga mengonfirmasi hal itu. "Kemarin ada teman wartawan nanya soal tulisan, Bli. Katanya Bli menyarankan bertanya ke saya," ujar Angga.

Ternyata benar.

Tulisan bukan cuma bisa memengaruhi pemikiran seseorang. Ia bisa menggerakkan mereka melakukan tindakan nyata. Menulis adalah cara terbaik untuk tetap Connecting People.

Tanpa perlu antena tarik. Tanpa perlu takut kehilangan sinyal. Karena sinyal tulisan langsung memancar terhubung ke hati pembaca.

Sekarang, apakah Anda sudah terhubung? (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.