Benci Tapi Rindu
"Benci, benci, benci tapi rindu jua..."
SAYA tiba-tiba teringat Diana Nasution. Penyanyi legendaris itu. Lewat lagunya yang meledak di akhir tahun 1970-an. Tepatnya tahun 1978: Benci Tapi Rindu.
Lagu lama. Sangat lama.
Tapi kok rasanya pas sekali. Pas untuk menggambarkan hubungan publik dan media online saat ini. Khususnya di Bali.
Publik kita itu aneh. Unik. Marah-marah, tapi tidak bisa pindah ke lain hati.
Tiap pagi mereka mengumpat. Memaki. Katanya media sekarang tidak bermutu. Hanya mengejar klik. Murahan.
Tapi, apa yang terjadi kemudian?
Jempol mereka tetap saja gatal. Tetap mengklik portal yang sama. Membaca sampai habis. Lalu membagikan tautannya ke grup WhatsApp sambil menggerutu.
Persis seperti pasangan lama yang sedang retak. Sering bertengkar. Saling kecewa. Tapi diam-diam masih saling intip status.
Sebenarnya, publik itu sedang terluka hati. Mereka kecewa karena media yang diharapkan justru asyik sendiri.
Lihat saja lanskapnya sekarang.
Di Bali saja, jumlah media online tumbuh luar biasa. Luar biasa banyak. Sekarang sudah lebih dari 500 media. Dan setiap tahun, puluhan media baru terus lahir. Ruang digital kita penuh sesak.
Upaya profesionalisme sebenarnya jalan terus. Di Bali ada empat asosiasi perusahaan pers yang aktif: AMSI, SMSI, JMSI, dan AMO Bali. Yang bergabung di sana sudah mendekati angka 200 media.
Standardisasi di Dewan Pers juga berproses. Hingga kini, sudah ada 16 media di Bali yang terverifikasi administrasi dan faktual. Itu sebuah perjalanan panjang. Menuju kematangan industri.
Tapi, ya itu tadi. Di tengah ledakan kuantitas, kualitasnya masih jadi PR besar.
Banyak redaksi yang akhirnya terjebak dalam jurnalisme permukaan. Jurnalis dituntut lari maraton tiap detik. Kecepatan jadi panglima. Kedalaman? Ah, itu jadi cadangan saja.
Akibatnya fatal. Rilis resmi dari humas sering naik "mentah-mentah". Tanpa verifikasi. Tanpa tanya lebih jauh. Copy-paste.
Jurnalisme rilis pun pelan-pelan jadi budaya baru.
Wajah media kita pun penuh dengan seremoni. Gunting pita. Peresmian gedung. Kunjungan pejabat. Semua dikemas positif. Manis.
Padahal, di luar halaman berita, Bali sedang tidak baik-baik saja. Tantangannya nyata dan berat.
Sawah terus beralih fungsi. Akses air mulai sulit. Tumpukan gunungan sampah. Dan, kemacetan kian mencekik leher.
Publik menanti media hadir di sana. Bukan sekadar memotret gunting pita pejabat. Publik ingin media berani bertanya: bagaimana masa depan ruang hidup warga?
Keberanian menjaga jarak dengan kekuasaan itulah yang kini dirindukan publik. Sangat dirindukan.
Sebab pers lahir untuk menjaga akal sehat. Bukan sekadar mengejar trafik. Bukan memburu pageviews demi memuaskan algoritma. Ketika jurnalisme bergeser menjadi industri unggah cepat, pembaca pasti bisa merasakannya.
Lalu kenapa publik tidak pergi saja? Kenapa rindu itu masih ada?
Jawabannya sederhana: karena media sosial jauh lebih gila. Jauh lebih gaduh.
Hoaks beterbangan tiap detik. Video dipelintir tanpa konteks. Emosi selalu mengalahkan akurasi.
Di tengah kebisingan yang memekakkan telinga itu, publik tetap butuh pegangan. Mereka tetap butuh media yang bekerja dengan disiplin jurnalistik. Yang bisa dipercaya.
Itulah mengapa publik marah. Karena mereka merasa memiliki. Karena mereka masih punya harapan.
Media online kini berada di persimpangan jalan. Tetap menjadi rumah bagi kepentingan publik, atau berubah menjadi papan reklame digital yang sibuk menjual impresi.
Pilihannya tentu tidak mudah. Industri sedang tertekan hebat. Persaingan kian brutal.
Tapi satu hal yang harus tetap digenggam: integritas.
Sebab ketika kepercayaan publik benar-benar runtuh, statistik setinggi apa pun tidak akan bisa membelinya kembali. Tidak akan pernah bisa.
Hubungan publik dan media memang rumit. Ada benci, ada kecewa, tapi rindu tetap tersisa.
Namun semua ada batasnya. Kalau media terus-menerus bermain di permukaan, rasa rindu itu akan habis. Total.
Dan ketika jurnalisme kritis tinggal menjadi nostalgia, kita semua kehilangan salah satu penyangga akal sehat yang terakhir.
Lirik itu kembali terngiang, meninggalkan tanya: sampai kapan publik Bali harus bertahan dalam hubungan yang galau ini?
"Sakitnya hati ini, namun aku rindu..." (*)
Menot Sukadana