Wartawan Z
MUDA. Bersemangat. Terdidik. Hobi baca. Suka nulis. Melek teknologi. Dan yang paling penting: haus belajar.
Itulah mereka: Wartawan Gen Z.
Saya jarang bertemu mereka sekarang. Maklum, saya sudah jarang "ngelayap" di lapangan. Tapi Sabtu sore kemarin beda. Saya ke Stadion Ngurah Rai, Denpasar. Ada bola.
Di sana, saya melihat wajah-wajah baru. Segar. Enerjik. Rata-rata usia pertengahan 20-an.
Saya tanya ke Gus Alit dari Pos Bali. Teman lama. Pernah sekantor di Ubung Kaja. "Banyak wartawan muda ya, Gus?" tanya saya.
“Iya, Bli,” jawabnya sambil tersenyum kecil. Jawaban singkat itu cukup menjelaskan banyak hal. Dia juga tahu saya sudah lima tahun lebih "absen" dari hiruk-pikuk liputan lapangan.
Jujur, saya punya "penyakit". Sulit ingat nama. Susah ingat wajah. Apalagi kalau baru sekali-dua kali bertemu. Tapi sore itu ada dua anak muda yang saya kenal baik: Agus Pebriana dan Dewa Fathur.
Selesai jumpa pers, mereka saya ajak mojok. Cari kopi. Di warung sebelah barat lapangan basket indoor. Saya sengaja cari tempat sepi. Saya ingin dengar apa yang ada di kepala mereka.
Saya kagum.
Industri media online lokal saat ini sedang megap-megap. Kesejahteraan? Jangan ditanya. Masih sangat minim. Tapi mereka tetap di sana. Bertahan. Menjaga cinta pada profesi jurnalisme.
Sebab mencintai profesi wartawan hari ini kadang mirip mencintai sesuatu yang sedang kehilangan pamor. Banyak orang muda lebih tertarik menjadi konten kreator, seleb TikTok, atau YouTuber. Lebih cepat terkenal. Lebih cepat menghasilkan uang.
Tetapi dua anak muda itu tetap memilih jalan jurnalistik.
Latar belakang mereka juga "ngeri". Mantan aktivis. Kuliah pascasarjana. Tetap aktif di organisasi pemuda. Pernah jadi pemimpin pula. Jelas, mereka bukan wartawan "kaleng-kaleng".
Agus Pebriana sempat cukup membuat saya terkejut. Dia bicara sejarah pers dengan fasih. Dari era kompeni sampai Orba. Dia hafal di luar kepala.
"Kok kamu tahu banyak sejarah?" tanya saya heran.
"Saya lulusan ilmu sejarah, Bli," jawabnya kalem.
Oalah. Pantas saja.
Saya bisiki mereka: Jangan takut jadi wartawan. Banyak senior yang bisa hidup layak. Bisa sekolahkan anak sampai sarjana.
Saya juga menyebut nama sejumlah tokoh di Bali yang berlatar belakang wartawan. Ada I Gusti Putu Artha, I Gede Pasek Suardika, Agus Astapa dan Alm I Wayan Suyadnya. Lalu ada jadi profesor: Prof Dr I Nyoman Darma Putra, Prof Dr Wayan P Windia, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, sampai Prof Dr Yohanes Usfunan.
Bahkan di level nasional, keluarga Gus Dur adalah bukti nyata kedekatan itu. Gus Dur adalah kolumnis ulung, istrinya Sinta Nuriyah merupakan redaktur Majalah Zaman pimpinan sastrawan besar asal Tabanan, Putu Wijaya, dan putrinya Yenny Wahid pernah terjun langsung meliput konflik Timor Leste.
Semua dulunya wartawan. Mereka adalah bukti bahwa profesi ini bisa menjadi batu pijakan yang kokoh untuk menjadi apa saja di masa depan. Mulai dari hukum, politik, pejabat publik, gerakan sosial, hingga akademisi dan pemimpin negara.
Saya yakinkan mereka satu hal. Dunia sekarang memang lagi kacau. Chaos. Akibat disrupsi. Tapi dalam teori, ketidakteraturan akan selalu membentuk keteraturannya sendiri. Itu hukum alam.
Mirip filosofi Tri Murthi: Lahir, Tumbuh, Lebur. Sesuatu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk.
"Semacam dekonstruksi ya, Bli. Membentuk tatanan baru," timpal Agus.
Cerdas.
Lihat sekarang: Muncul fenomena news-influencer. Jurnalis merangkap konten kreator. Berita dilaporkan lewat media sosial secara langsung. Tanpa sekat. Itulah cara jurnalis beradaptasi dengan zaman.
Hanya satu yang payah: Regulasi.
Aturan hukum kita selalu telat. Selalu tertinggal jauh di belakang dari perkembangan realitas dinamika masyarakat. Dunia hukum kita bahkan masih gagap melihat berita.
Di UU Hak Cipta lama, berita sering dianggap cuma "fakta aktual" gratisan. Boleh dicomot siapa saja.
Akibatnya? Agregator raksasa dan mesin Artificial Intelligence (AI) bebas mengeruk, menyedot, dan melatih algoritmanya pakai keringat tulisan wartawan. Tanpa bayar sepeser pun.
Logikanya begini: informasi lapangan boleh saja gratis. Tapi memprosesnya menjadi karya jurnalistik berkedalaman itu mahal. Butuh biaya, nyawa, dan intelektualitas.
Inilah aset HAKI. Hak ekonomi dan moralnya harus dilindungi.
Platform digital wajib bayar lisensi jika ingin memakai berita untuk monetisasi. Regulasi Publisher Rights dan draf baru RUU HAKI harus dikawal sampai gol. Agar jurnalisme kembali jadi profesi yang menghidupi melalui dividen kekayaan intelektual.
Bukan sekadar kerja bakti.
Maka saya pesan kepada mereka: Adaptasilah. Bangun personal branding. Kuasai bidang khusus yang kalian minati. Jaga orisinalitas tulisan kalian. Itu aset paling berharga di masa depan.
Sedangkan demi berkelanjutan. Industri media di Bali butuh darah segar.
Dulu saya pernah diskusi panjang dengan I Nyoman Adhi Irawan, Ketua JMSI Bali. Kami gelisah soal regenerasi. Kami ingin ada pola rekrutmen khusus mahasiswa. Ada pelatihan. Ada magang.
Tujuannya satu: agar generasi ini lahir tak sekadar jadi penonton, tapi menjadi penggerak utama jurnalisme di masa depan.
Sebab, teknologi bisa diganti setiap saat. Tapi nurani yang memegang pena? Tak ada gantinya.
Di warung kopi pinggir stadion itu, saya melihat harapan itu masih menyala. Masih ada anak muda yang mau "susah" demi sebuah berita.
Sehat selalu, anak muda. (*)
Menot Sukadana