Podiumnews.com / Kolom / Opini

Buku-buku Tak Bisa Menolongmu

Oleh Nyoman Sukadana • 03 Mei 2026 • 13:15:00 WITA

Buku-buku Tak Bisa Menolongmu
Angga Wijaya (Dok/Pribadi)

DULU, saat masih sekolah hingga menjadi mahasiswa, saya mempunyai keyakinan bahwa mereka yang rajin membaca buku akan menjadi orang sukses saat nanti tamat dari sekolah atau universitas. Saya rajin membaca buku sejak SD. Perpustakaan menjadi tempat nongkrong sehari-hari, saat murid-murid lain lebih memilih berkumpul dan mengobrol bersama teman-temannya. Tanpa disadari, saya lebih memilih buku-buku ketimbang pergaulan dengan teman-teman.

Saya tumbuh menjadi kutu buku, pembaca yang selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Sejak SMA, saya mulai gemar mengoleksi buku. Saat mahasiswa lebih gila lagi. Uang saku dari orang tua lebih banyak saya belikan buku. Bahkan pakaian yang saya miliki hanya beberapa helai. Lemari yang harusnya sebagai tempat pakaian saya penuhi dengan buku. Apakah ini sebuah gangguan, entahlah, saya juga tidak berpikir ke arah itu karena saya merasa tak ada yang aneh.

Masa kuliah benar-benar saya nikmati. Berdiskusi, menghadiri berbagai seminar, menjadi rutinitas harian saya. Jarang sekali saya bergaul dengan teman-teman sesama mahasiswa. Saya merasa menemukan dunia saya sendiri di antara halaman-halaman buku. Dunia yang terasa lebih jujur,logis, dan masuk akal dibandingkan kehidupan sehari-hari.

Namun ada sisi lain yang diam-diam tumbuh dalam diri saya. Saya menjadi pribadi yang agak arogan. Bahkan dosen-dosen kerap saya ajak berdebat. Saya merasa hebat dan di atas angin. Merasa lebih dari orang lain. Buku-buku tidak hanya membentuk cara berpikir saya, tetapi juga membangun tembok yang memisahkan saya dari orang lain.

Saat itu saya percaya, dengan semua yang saya baca, masa depan saya akan baik-baik saja. Saya tidak pernah benar-benar memikirkan hal lain di luar itu. Hingga hidup berjalan ke arah yang tidak saya rencanakan.

Saya tidak menyelesaikan kuliah. Pada akhir masa studi, saya jatuh sakit. Cuti kuliah tidak diurus oleh keluarga. Sebuah hal yang hingga kini masih saya sesali. Ada satu fase dalam hidup saya yang seperti terputus begitu saja. Seperti buku yang belum selesai dibaca, lalu hilang.

Sejak saat itu, saya sering berandai-andai. Andaikan dulu saya lulus kuliah, mungkin saya bisa melanjutkan S2. Mungkin saya menjadi dosen, hidup saya lebih mapan, dan tidak harus memulai dari titik yang begitu jauh tertinggal.

Puluhan tahun kemudian, buku-buku tetap menjadi barang kesukaan saya. Rak buku di kamar kos saya kini juga ada. Bahkan tiga lemari buku. Namun, ada satu hal yang berubah. Cara saya memandang buku tidak lagi sama.

Di saat saya mengalami kegagalan dalam mengelola keuangan, saya mulai merasa bahwa banyak membaca buku tidak ada gunanya. Kalimat itu terdengar kasar, tapi jujur. Ada momen ketika semua yang pernah saya baca seperti tidak punya daya tawar di dunia nyata.

Teman-teman seangkatan saya telah banyak yang bekerja dan hidupnya mapan. Mereka punya penghasilan tetap, keluarga, rumah, dan arah hidup yang jelas. Sementara saya masih bergulat dengan ketidakpastian sebagai penulis dan jurnalis lepas dengan penghasilan yang minim.

Di titik itulah saya mulai mempertanyakan keyakinan lama saya. Apakah benar membaca buku akan membawa seseorang pada kesuksesan? Jawabannya, ternyata tidak sesederhana itu.

Dunia tidak bekerja hanya berdasarkan seberapa banyak buku yang kita baca. Dunia juga tidak selalu memberi tempat bagi orang-orang yang berpikir terlalu lama. Ada hal-hal lain yang diam-diam lebih menentukan. Keberanian mengambil risiko, kemampuan bergaul, kecerdikan membaca situasi, bahkan keberuntungan.

Saya mulai menyadari, selama ini saya terlalu percaya bahwa pengetahuan akan otomatis dihargai. Saya lupa bahwa kehidupan tidak selalu berjalan dengan logika yang sama seperti di dalam buku.

Ada juga kesalahan yang harus saya akui. Saya terlalu sibuk membaca, tetapi kurang belajar memahami manusia. Saya terlalu tenggelam dalam ide-ide, tetapi kurang hadir dalam realitas sosial. Buku-buku membuat saya merasa cukup, padahal dunia menuntut lebih dari sekadar merasa cukup.

Namun, apakah itu berarti buku-buku benar-benar tidak menolong saya? Tidak juga. Buku-buku mungkin tidak membawa saya pada kekayaan materi. Mereka tidak memberi saya gaji tetap, jabatan, atau jaminan hidup. Tetapi mereka membentuk sesuatu yang lain dalam diri saya. Cara berpikir, melihat dunia, juga cara memahami penderitaan, termasuk penderitaan saya sendiri.

Di saat hidup terasa berantakan, justru apa yang saya baca selama ini perlahan menemukan maknanya. Buku-buku tidak bekerja secara instan. Ia seperti benih yang lama tersembunyi, lalu tumbuh diam-diam ketika kita benar-benar membutuhkannya.

Saya mungkin bukan sarjana. Saya tidak memiliki gelar akademik yang bisa dibanggakan. Tetapi saya tidak merasa kosong. Saya tetap bisa berpikir, menulis, dan memahami banyak hal dengan cara saya sendiri. Dan mungkin, di situlah letak pertolongan itu.

Buku-buku tidak menyelamatkan saya dari kegagalan. Tetapi mereka menyelamatkan saya dari keputusasaan yang lebih dalam. Mereka tidak membuat hidup saya mudah. Tetapi mereka membuat hidup ini tetap bisa dipahami. Kini saya tidak lagi percaya bahwa membaca buku akan membuat seseorang pasti sukses. Tetapi saya juga tidak percaya bahwa membaca adalah sesuatu yang sia-sia.

Buku-buku tidak bisa menolongmu menjadi kaya secara instan. Mereka tidak menjamin hidupmu akan lebih baik dari orang lain. Tetapi mereka memberi sesuatu yang sering kali tidak terlihat. Ketahanan untuk bertahan, dan keberanian untuk terus berjalan, bahkan ketika hidup tidak sesuai dengan rencana. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup. (*)

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.