Di Atas Cuaca Ada Tuhan
RAMALAN cuaca, astrologi, dan ramalan bintang, dulu sekali saat remaja, begitu saya suka. Acara di televisi, rubrik di koran, tak pernah absen saya ikuti. Tapi itu dulu, saat semua hal saya pandang secara hitam-putih.
Kini, banyak orang membicarakan perubahan iklim. Cuaca menjadi sesuatu yang sulit ditebak. Bulan-bulan yang biasanya musim penghujan, malah kering. Sebaliknya, masa-masa yang biasanya musim panas, malah hujan turun tak henti. Terbaru, ramai dibicarakan soal El Niño. Namun hujan beberapa kali justru mengguyur Bali. Siapa yang berbohong, sebenarnya? Apakah ilmu pengetahuan yang keliru, ataukah alam yang memang tak pernah benar-benar bisa kita pahami sepenuhnya?
Dulu saya mengira, dengan membaca, dengan memahami, kita akan bisa menaklukkan ketidakpastian. Ramalan cuaca terasa seperti janji, bahwa besok bisa ditebak, hujan bisa dijadwalkan, dan bahwa langit punya logika yang patuh pada rumus manusia.
Namun, semakin ke sini, keyakinan itu pelan-pelan goyah. Cuaca tidak lagi setia pada kebiasaan. Musim tidak lagi berjalan rapi seperti yang kita pelajari di buku-buku sekolah. Kita mulai hidup dalam ketidakpastian yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan angka-angka.
Para ilmuwan menyebut fenomena seperti ini sebagai bagian dari ENSO, sebuah siklus yang melibatkan perubahan suhu laut dan atmosfer. Kita diberi penjelasan tentang bagaimana pemanasan di Samudra Pasifik bisa memengaruhi hujan di Indonesia. Kita diberi grafik, prediksi, dan peringatan.
Semua itu membantu, tetapi tidak selalu menenangkan. Sebab di lapangan, kehidupan tidak berjalan dalam grafik. Petani tidak menanam berdasarkan kurva. Mereka menanam berdasarkan langit yang mereka lihat setiap hari. Dan ketika langit tidak lagi bisa dipercaya, kegelisahan itu menjadi nyata.
Di titik itu, saya mulai melihat sesuatu yang menarik. Leluhur kita di Nusantara, terutama di Bali, sejak lama telah hidup berdampingan dengan ketidakpastian cuaca. Mereka tidak menolaknya, juga tidak mencoba sepenuhnya menguasainya. Mereka membaca tanda-tanda, tetapi tidak memaksakan kepastian.
Dalam tradisi Bali, dikenal sistem Wariga, sebuah pengetahuan tentang waktu, musim, dan peredaran alam. Pengetahuan ini tersimpan dalam berbagai lontar yang mengatur hari baik-buruk, siklus waktu, serta hubungan manusia dengan semesta. Orang-orang tua membaca arah angin, pergerakan bintang, dan perubahan-perubahan kecil di alam sebagai isyarat. Namun mereka tidak berhenti pada perhitungan. Dalam praktik keseharian, selalu ada ruang untuk memohon, untuk berserah, terutama ketika hujan tak kunjung datang. Di situlah manusia tidak hanya menjadi pembaca alam, tetapi juga bagian darinya.
Barangkali, di situlah letak kebijaksanaan yang perlahan kita lupakan. Kita hari ini begitu percaya pada kemampuan kita membaca dunia, hingga kadang lupa bahwa membaca tidak sama dengan menguasai.
Ketika El Niño diprediksi membawa kemarau panjang, kita bersiap. Ketika hujan justru turun, kita mulai ragu. Kita bertanya siapa yang salah. Kita ingin kepastian, seolah-olah dunia ini harus selalu masuk akal.
Padahal, mungkin sejak awal, dunia memang tidak pernah sepenuhnya masuk akal bagi manusia. Sains memberi kita cahaya, tetapi bukan seluruh terang. Ia membuka banyak pintu, tetapi tidak semua pintu. Kita bisa memahami banyak hal, tetapi tidak semuanya. Dan mungkin, di situlah kita perlu belajar kembali untuk rendah hati.
Saya tidak melihat pertentangan antara ilmu pengetahuan dan keyakinan. Keduanya justru saling melengkapi. Ilmu membantu kita memahami bagaimana dunia bekerja. Keyakinan membantu kita menerima ketika pemahaman itu tidak lengkap.
Ketika hujan datang di saat yang tidak kita duga, kita bisa menjelaskannya dengan teori, tetapi kita juga bisa merasakannya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar peristiwa alam.
Ada rasa kecil yang muncul, bahwa kita sedang diingatkan. Diingatkan bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam genggaman kita. Bahwa ada kekuatan yang bergerak di luar hitungan kita, dan ada kehendak yang tidak selalu bisa kita baca.
Sebagian orang mungkin menyebutnya kebetulan, menyebutnya hukum alam, dan sebagian lagi menyebutnya Tuhan.
Saya tidak merasa perlu memilih satu di antaranya. Sebab yang terpenting bukanlah istilahnya, melainkan kesadaran yang muncul darinya. Kesadaran bahwa kita bukan pusat dari segala sesuatu. Bahwa kita hidup dalam jaringan yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri.
Barangkali, hidup memang bukan soal memastikan segalanya berjalan sesuai rencana. Hidup adalah soal tetap berjalan, meski rencana sering berubah. Di tengah cuaca yang semakin sulit ditebak, di tengah perubahan yang tak selalu kita mengerti, kita diajak untuk kembali pada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pengetahuan. Kita diajak untuk mengingat bahwa tidak semua hal harus kita pahami untuk bisa kita jalani.
Kita tetap menanam, meski hujan belum tentu datang. Kita tetap melangkah, meski arah kadang terasa kabur. Ada keyakinan kecil yang terus menyala, bahwa hidup tidak pernah benar-benar dibiarkan berjalan tanpa makna.
Dan mungkin, di situlah letak harapan itu.Bukan pada kepastian bahwa hari esok akan selalu cerah, tetapi pada kepercayaan bahwa apa pun yang datang, kita tidak sepenuhnya sendiri. Ada sesuatu yang bekerja diam-diam, melampaui hitungan, melampaui ramalan, melampaui kecemasan manusia. Sesuatu yang tidak selalu bisa kita jelaskan, tetapi bisa kita rasakan kehadirannya.
Ketika hujan akhirnya turun, atau justru tertahan lebih lama dari yang kita inginkan, kita diingatkan bahwa hidup tidak hanya bergerak oleh kehendak kita. Ada tangan lain yang turut bekerja, dengan caranya sendiri.
Dan di antara segala ketidakpastian itu, kita belajar satu hal yang sederhana, tetapi menenangkan. Bahwa di atas segala ramalan, perhitungan, dan di atas segala upaya manusia memahami langit, tetap ada yang lebih tinggi. Di atas cuaca, ada Tuhan. (*)
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.