Santai Saja
JUDULNYA begitu: Santai Saja. Tapi hati?
Sulit. Sulit sekali.
Umur saya kurang satu angka lagi. Pas setengah abad: 50 tahun. Sisa hidup makin pendek. Celakanya, dompet juga ikut-ikutan menipis. Amsyong.
Pagi ini saya ngaca. Lama sekali. Cermin memang jujur. Terlalu jujur bahkan. Rambut sudah memutih dan menipis. Kulit mulai mengendur. Di saat itulah muncul pikiran itu: Santai saja!
Ah. Bicara memang murah. Teori selalu gampang. Yang mahal itu cicilan. Praktiknya? Ampun. Lebih pahit dari kopi tanpa gula.
Apalagi kalau sudah buka HP. Isinya teror dan amarah. Di TikTok, para "pakar" ekonomi dadakan sibuk meramal kiamat finansial. Media massa pun setali tiga uang; beritanya gelap gulita, seolah esok pagi tak ada lagi harapan untuk sekadar bertahan hidup.
Di Facebook, warganet teriak-teriak soal harga beras yang hobi mendaki gunung, soal pajak yang makin kreatif mencekik leher, hingga kebijakan pemerintah yang seringkali bikin dahi berkerut. Semua orang protes. Semua orang mengeluh soal sulitnya mencari sesuap nasi di tengah aturan yang berubah-ubah secepat cuaca.
Belum lagi kalau melirik ke luar jendela. Kondisi lokal makin bikin pening. Sampah menumpuk entah kapan tuntasnya, macet yang bikin tua di jalan, hingga banjir yang datang menyapa setiap kali langit menangis sedikit saja.
Hidup terasa sesak: di layar HP dikeroyok berita buruk, di jalanan dikeroyok realita yang semrawut. Algoritma media sosial dan keadaan seolah sepakat ingin bikin kita tidak bisa tidur.
Mulut boleh berbisik santai. Tapi kalkulator di dalam kepala tidak bisa direm. Terus berputar. Otomatis. Menghitung biaya operasional kantor. Menghitung lonjakan harga-harga yang tidak pernah ramah, sementara layar HP terus berteriak soal inflasi dan ketidakadilan yang membakar emosi.
Sementara penghasilan? Begitu-begitu saja. Flat. Statis.
Saya ini cuma sok tegar. Aslinya? Gemetaran setiap kali melihat saldo ATM dan membandingkannya dengan kegaduhan di linimasa serta semrawutnya lingkungan sekitar yang serba tidak pasti.
Kata "santai" itu sebenarnya cuma obat penenang murah meriah. Mirip koyo cabe. Hangatnya sesaat. Dipasang hanya biar jantung tidak copot saat membaca tagihan gaji karyawan di tengah ancaman resesi dan karut-marut kebijakan yang seringkali tidak berpihak pada rakyat kecil.
Ya, saya harus menggaji orang. Hebatnya di situ: menghidupi orang lain, sementara diri sendiri megap-megap dihajar ketidakpastian. Ngenes.
Dulu tidak begitu.
Waktu umur dua puluhan, gairah saya meledak-ledak. Saya seperti bus kota: kejar setoran. Semua orang mau disalip. Tikungan tajam pun dihajar. Target harus tembus. Tidak ada kata nanti. Tidur? Cukup tiga jam sehari. Mimpinya setinggi langit: jadi orang kaya nan sukses mirip peran tokoh utama di sinetron-sinetron.
Nyatanya? Zonk. Gagal total.
Dulu, ambisi adalah nyawa. Sekarang? Ambisi terasa seperti beban salah alamat. Ada rasa malu yang terselip pada diri sendiri. Mimpi besar itu ternyata cuma balon sabun. Indah sebentar, lalu pecah kena panas matahari. Meninggalkan rasa perih di mata.
Tapi, di balik kegagalan itu, ada rasa lega yang aneh. Plong. Rasanya persis seperti melepas sepatu yang kesempitan setelah dipakai berjalan seharian. Senggang.
Sekarang posisi saya sudah di ambang angka keramat. Kurang satu langkah lagi genap 50. Fisik jelas mulai loyo. Encok juga mulai rajin datang. Keadaanlah yang akhirnya memaksa cara pandang saya harus berubah.
Mau mengejar apa lagi, toh?
Jabatan? Hanya bikin kepala botak. Harta? Makan nasi pecel di pinggir jalan saja sudah terasa mewah. Perut kenyang, selesai. Sudah bahagia. Popularitas? Melelahkan. Buat apa.
Maka, "santai saja" itu akhirnya berubah menjadi sebuah kearifan. Ini kearifan kaum paruh baya. Ini bukan malas. Ini juga bukan tanda menyerah. Eling.
Ini soal tahu diri. Tahu membedakan mana yang benar-benar kebutuhan hidup, dan mana yang cuma gengsi hidup. Tahu kapan harus mengerem selera belanja sebelum dompet mengalami gagal jantung total akibat panik mengikuti tren ekonomi atau emosi melihat berita politik dan ruwetnya jalanan.
Sisa usia tinggal sedikit. Mengapa harus dihabiskan dengan mata melotot melihat angka rekening atau ikut stres memaki kebijakan dan tumpukan sampah yang kita sendiri tak punya kuasa mengubahnya secara instan?
Mengapa leher harus tegang memikirkan harta yang kita semua tahu tidak akan dibawa mati? Lagipula, kain kafan tidak pernah didesain memiliki kantong untuk menyimpan kartu kredit. Sia-sia.
Lebih baik tersenyum. Pasrah. Nrimo.
Dunia mungkin sedang kacau. Macet dan banjir mungkin masih jadi kawan setia. Tapi stres juga tidak akan pernah bisa menghentikan inflasi, menurunkan harga BBM, atau menguras genangan air di jalanan. Menghadapinya dengan kepanikan hanya akan menguras energi yang sisa sedikit ini.
Tentu, kadang panik itu datang lagi. Masih sering keringat dingin melihat slip tagihan. Wajar. Namanya juga manusia pencari rupiah.
Tapi sekarang saya punya mantra pelipur lara yang manjur. Hirup udara dalam-dalam. Nikmati mumpung masih gratis. Lepaskan pelan-pelan. Buang semua teror angka-angka, keluhan warganet, berita tanpa harapan, dan macetnya pikiran itu.
Sudahlah. Santai saja. Mari kita ngopi.
Tapi, Anda yang traktir bayar kopinya. (*)
Menot Sukadana