Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Ujian Mood

Oleh Nyoman Sukadana • 13 Mei 2026 • 02:22:00 WITA

Ujian Mood

SAYA sedang berantem. Lawan saya berat sekali: diri sendiri.

Penyebabnya satu: rencana jadwal tayang tetap. Selasa dan Jumat. Kedengarannya gagah. Sangat profesional. Mirip jadwal praktik dokter spesialis atau jadwal penerbangan pesawat di bandara.

Tapi, jujur saja, hati saya menciut. Saya ini tipe manusia "angin-anginan". Kadang anginnya sepoi-sepoi, produktif bukan main. Kadang anginnya puting beliung, merusak semua rencana yang sudah disusun rapi. Atau yang paling parah: tidak ada angin sama sekali. Macet.

Menulis esai reflektif itu beda. Sangat beda. Bukan seperti wartawan lapangan yang melaporkan kebakaran di pasar. Itu teknis. Itu rilis. Menulis kolom JEDA adalah urusan rasa. Urusan perenungan. Perlu pengendapan. Ibarat menyeduh kopi tubruk, airnya harus tepat panasnya, kopinya harus pas gilingannya. Tidak bisa diburu-buru.

Bagaimana kalau hari Selasa tiba, tapi otak saya sedang mogok total? Bagaimana kalau hari Jumat datang, tapi hati saya sedang kerontang?

Saya takut jadwal itu malah jadi penjara. Sebuah jeruji besi yang saya ciptakan sendiri. Saya khawatir tulisan saya nanti terasa "kering". Terasa hambar. Seperti makanan yang dimasak tanpa bumbu, hanya karena mengejar jam makan siang. Padahal, kekuatan utama kolom JEDA selama ini ada pada kejujuran rasanya. Ada pada kedalamannya.

Namun, melihat grafik dashboard website sedang genit-genitnya. Sangat menggoda. Angka tiga bulan rata-rata lebih seribu pembaca tiap esai itu bikin candu. Grafik yang melonjak itu membuat adrenalin saya naik. Ada kepuasan melihat angka-angka itu melompat. Tapi, muncul pertanyaan besar: apakah angka-angka itu sebanding dengan hilangnya kemerdekaan saya dalam menulis?

Ragu. Itulah status saya sekarang.

Saya berada di persimpangan jalan. Antara ingin menjadi profesional yang disiplin atau tetap menjadi "pengrajin kata" yang menulis sesuka hati. Antara mengejar trafik yang besar atau merawat rasa yang tulus. Antara menjadi mesin atau tetap menjadi manusia.

Mungkin, Selasa dan Jumat itu memang bukan harga mati. Mungkin itu hanya sebuah peta jalan. Sebuah komitmen untuk tidak terlalu santai. Tapi bukan berarti saya harus menghukum diri sendiri kalau sesekali meleset. Namanya juga usaha manusia.

Kalau saya tidak memaksakan diri dengan jadwal, saya khawatir akan selamanya begini. Berantakan. Melempar dadu. Menunggu mood yang datangnya sesuka hati. Padahal, konon penulis besar itu tidak menunggu inspirasi. Mereka menjemputnya. Mereka mendisiplinkan diri agar inspirasi tahu kapan harus datang.

Tapi ya itu tadi. Teori memang lebih mudah daripada praktik di depan komputer.

Sekarang, saya sedang di fase ujian. Benar-benar ujian melawan mood sendiri. Antara menuruti rasa malas yang dibungkus alasan "estetika", atau mulai menyiksa diri demi sebuah kemajuan.

Menurut Anda, apakah saya harus tetap gas pol dengan jadwal ketat itu? Atau biarkan JEDA mengalir saja seperti air sungai di desa, yang kadang meluap hebat tapi kadang surut hingga terlihat dasarnya?

Jadi, apakah Selasa dan Jumat itu akan benar-benar menjadi saksi kedisiplinan baru, atau justru menjadi hari di mana saya lihai mencari alasan untuk bolos menulis? Apa saya sanggup? Entahlah. Kita lihat saja pembuktiannya di dashboard bulan depan.

Anda berani taruhan saya bakal konsisten?

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.