Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Jual Rindu

Oleh Nyoman Sukadana • 06 Juni 2026 • 16:45:00 WITA

Jual Rindu

SAYA tertegun. Melihat layar ponsel.

Angka di kolom pemesanan tiket itu berkedip. Lalu merah. Sold out. Habis. Ludes.

Hanya dalam hitungan menit. Begitu tombol dibuka.

Ini gila. Ini bukan war tiket Taylor Swift. Bukan pula Coldplay yang visualnya aduhai itu. Ini konser F4.

Ya. F4 yang itu.

Empat cowok asal Taiwan. Yang dulu, dua puluh lima tahun lalu, membuat jutaan remaja putri di Indonesia mendadak histeris setiap Minggu malam. Di depan TV tabung mereka.

Jerry Yan. Vic Chou. Ken Chu. Vanness Wu.

Nama-nama penguasa kamar remaja zaman awal milenium.

Sekarang? Realitas biologis tidak bisa bohong. Usia mereka sudah mendekati kepala lima. Sudah masuk fase paruh baya. Mungkin sudah akrab dengan keluhan encok. Mungkin vokal mereka sudah tidak sebulat dulu. Rambut gondrong lurus legendaris milik Dao Ming Si itu entah masih asli atau sudah bantuan klinik kesuburan rambut kelas atas.

Tapi kenapa orang masih berebut? Kenapa sistem Loket.com sampai megap-megap? Mahal pula.

Jawabannya satu: yang dijual bukan kualitas vokal. Yang dijual bukan koreografi mutakhir yang rumit. Yang dijual adalah barang paling mewah di dunia saat ini: rindu.

Manusia itu aneh. Sering kali merasa membeli barang fisik. Padahal, sebetulnya, kita hanya membeli perasaan.

Konser bertajuk F*FOREVER 1st World Tour ini adalah mesin waktu. Dihelat tiga hari berturut-turut. Tanggal 28 sampai 30 Mei lalu. Tempatnya di Indonesia Arena, kawasan GBK, Jakarta. Puluhan ribu orang menyemut di sana.

Siapa penontonnya? Rata-rata usianya sudah matang. Banyak yang sudah jadi ibu-ibu. Banyak yang sudah jadi manajer korporasi, direktur, atau pengusaha sukses yang mandiri.

Mereka datang ke Indonesia Arena bukan untuk melihat Jerry Yan bernyanyi secara objektif. Bukan. Mereka datang untuk menjemput diri mereka sendiri. Di masa lalu.

Diri mereka yang dulu masih remaja. Polos. Naif. Yang kamarnya penuh poster kertas bonus dari majalah Aneka Yess! atau Fantasi. Yang rela tidak jajan demi beli kaset pita Meteor Rain. Yang kalau malam rebutan remot TV sama bapaknya demi menonton kelanjutan kisah San Chai.

Aha! Begitu lagu Qing Fei De Yi berkumandang malam itu, stadion bergemuruh hebat. Air mata massal tumpah.

Mengapa menangis? Karena saat lagu itu berbunyi, ingatan mereka terbang bebas. Ke masa di mana beban hidup hanyalah tugas matematika dari guru sekolah. Belum ada tagihan paylater. Belum ada cicilan rumah. Belum ada drama politik kantor yang menguras energi setiap hari.

Itulah hebatnya industri ini. Dia mengemas rindu masa lalu menjadi produk masa kini. Harganya? Tak ternilai.

Maka, ketika promotor mematok harga tiket dari Rp1,25 juta hingga Rp4,5 juta untuk kelas Super VVIP, bahkan tembus belasan juta di tangan calo, orang tidak peduli. Atas nama kenangan masa muda, berangkat!

Saya angkat topi pada promotornya. Pintar sekali membaca psikologi pasar kelas menengah.

Di dunia bisnis, ini disebut memanfaatkan historical equity. Aset sejarah. Membangun merek baru dari nol itu setengah mati mahalnya. Risiko gagalnya besar. Harus bakar duit untuk edukasi pasar. Tapi merawat merek lama yang sudah punya ikatan emosional kuat?

Itu seperti memanen padi di sawah yang subur. Tinggal bawa sabit.

F4 tidak perlu bersusah payah masuk studio lagi. Tidak perlu rilis album baru untuk sukses. Mereka tidak perlu menciptakan koreografi rumit yang bikin napas tersengal-sengal.

Mereka cukup berdiri di panggung. Tersenyum. Lalu melambaikan tangan dengan gaya khas masing-masing. Penonton sudah pasti histeris.

Apakah ini salah? Tentu tidak. Ini bisnis yang indah. Saling menguntungkan.

Promotor dapat untung besar. Personel F4 dapat tambahan tabungan pensiun yang makin tebal. Dan penonton pulang dengan senyum lebar. Mereka mendapatkan kembali "masa muda" mereka selama dua jam. Sebuah rekreasi jiwa yang sangat dibutuhkan di tengah penatnya hidup modern.

Ada fenomena psikologis menarik di balik ini semua. Otak manusia itu punya sistem filter otomatis yang luar biasa. Namanya rosy retrospection. Anda sudah tahu artinya: kecenderungan untuk melupakan hal-hal yang menyebalkan di masa lalu, dan hanya mengkristalkan hal-hal yang indah saja.

Kalau diingat-ingat lagi dengan jujur, zaman tahun 2000-an awal itu hidup kita tidak seindah itu. Kita sering bokek. Nungguin angkot kepanasan di pinggir jalan berdebu. Patah hati sampai menangis semalaman di kamar kos yang pengap.

Tapi begitu waktu berlalu dua puluh tahun, semua penderitaan masa remaja itu mendadak berubah warna. Menjadi sangat romantis. Begitu disuguhkan kembali hari ini dalam bentuk konser reuni, memori yang meledak di kepala hanyalah bagian manisnya saja.

Lalu ada faktor lain: balas dendam ego finansial.

Dulu, waktu kaset pita F4 harganya puluhan ribu, kita harus menabung berminggu-minggu. Mau nonton konsernya? Mustahil. Jangankan beli tiket, buat ongkos saja susah. Kita cuma bisa memandang poster mereka di dinding kamar.

Sekarang, anak-anak remaja yang dulu bokek itu sudah tumbuh menjadi penentu kebijakan. Sudah pegang kendali finansial sendiri. Membeli tiket konser kelas VIP seharga jutaan rupiah hari ini adalah bentuk penebusan masa lalu. Ada kepuasan batin yang berbisik: "Dulu saya tidak mampu, sekarang saya bisa beli tanpa perlu berpikir dua kali."

Itulah mengapa industri ini tidak pernah mati. Logika ekonomi biasa, di mana harga berbanding lurus dengan utilitas fisik barang, menjadi tidak berlaku. Di pasar rindu, harga ditentukan oleh seberapa dalam rasa kangen Anda.

Mengapa rindu generasi ini begitu mahal?

Karena mereka tumbuh di era transisi. Era jembatan analog ke digital. Mereka mengalami masa di mana akses terhadap idola harus ditebus dengan perjuangan fisik yang nyata. Mereka tahu rasanya menggulung pita kaset yang kusut pakai pensil. Mereka tahu rasanya mengantre pinjam VCD bajakan milik tetangga.

Zaman memang sudah berubah. Musik berganti, idola baru berdatangan dengan teknologi yang jauh lebih canggih. Boyband Korea zaman sekarang menari dengan presisi luar biasa. Bak robot yang diprogram sempurna. Manajemen mereka rapi, visual mereka tanpa cela. Aksesnya instan, melimpah, tinggal klik di aplikasi streaming.

Tapi sekeren-kerennya K-Pop zaman sekarang, mereka kehilangan satu hal yang paling krusial: mereka tidak ada di sana saat penonton konser F4 ini sedang tumbuh dewasa. Mereka tidak menemani fase pencarian jati diri para penonton ini.

Perjuangan fisik di masa lalu itulah yang mengkristalkan emosi menjadi sangat pekat. Sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh produk budaya instan digital.

Teknologi bisa diperbarui setiap tahun. Kualitas vokal bisa dilatih. Tata panggung bisa dibuat sekolosal mungkin dengan bantuan kecerdasan buatan.

Namun, sejarah, otentisitas, dan momen kebersamaan yang telah lewat tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin secanggih apa pun.

Ketika "Waktu" sudah berubah menjadi barang dagangan, rindu otomatis menjadi komoditas paling langka sekaligus paling diburu.

Selamat bagi para ibu-ibu tangguh yang kemarin sempat menjemput masa mudanya di Indonesia Arena. Kenangannya pasti masih membekas sampai hari ini.

Namun, ada satu hal yang paling jernih yang harus Anda sadari setelah konser ini usai.

Begitu lampu stadion padam dan Anda melangkah keluar pintu arena, pangeran meteor Anda sudah berganti. Jerry Yan dan Vic Chou kembali ke Taiwan, dan Anda harus pulang menemui kenyataan: seorang suami di rumah yang sedang asyik rebahan sambil memakai sarung.

Selamat merawat rindu, dan selamat kembali ke pelukan realitas! (*)

Menot Sukadana

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.