Men Lari
NAMA Men Lari tiba-tiba ikut masuk dalam percakapan tentang masa depan jalan di Badung.
Dalam sebuah kesempatan bersama Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung Wayan Adi Arnawa menyebut Warung Be Guling Men Lari ketika menjelaskan kawasan Werdi Bhuwana. Warung yang berada di Denkayu itu digunakan sebagai penanda lokasi yang mudah dikenali.
Bagi orang Mengwi dan sekitarnya, cara menjelaskan tempat seperti itu memang lumrah. Nama warung, pasar, pura, atau persimpangan kadang lebih mudah dipahami daripada nama jalan.
Men Lari kemudian terasa semakin relevan ketika Pemerintah Kabupaten Badung mengumumkan rencana pembangunan jalan baru Gatot Subroto Barat-Canggu-Mengwitani-Werdi Bhuwana.
Jalan itu dirancang menjadi koridor baru yang menghubungkan Denpasar Barat, kawasan Canggu, hingga Mengwi. Pada akhir Juli 2026, Adi Arnawa kembali menegaskan proyek tersebut akan dilanjutkan hingga Werdi Bhuwana.
Bagi saya, nama Men Lari dalam percakapan itu menimbulkan perasaan yang agak berbeda.
Beberapa ratus meter dari kawasan tersebut ada sebidang tanah yang beberapa tahun terakhir semakin sering saya tengok. Tanah itu berada di Gulingan, dekat Taman Ayun, dengan sawah terbentang di belakangnya. Jika semua berjalan sesuai rencana, sekitar 2030 di sanalah saya ingin membangun Podium Ecosystem.
Karena itu, hampir setiap pulang kampung ke Mengwi, saya mempunyai ritual kecil.
Menengok tanah.
Lalu singgah di Men Lari.
Urutannya kadang terbalik. Bisa mampir lebih dahulu, baru menuju lahan. Bisa juga setelah berdiri beberapa saat di tanah, saya melanjutkan perjalanan ke Men Lari. Kadang untuk makan be guling. Kadang cukup memesan kopi.
Kebiasaan itu sudah begitu sering dilakukan hingga keluarga di kampung hafal.
Adik sepupu saya, Pendi, bahkan mempunyai pertanyaan hampir tetap setiap kali kami bertemu.
“Sudah singgah di Men Lari, Bli Komang?”
Saya biasanya hanya tertawa.
Pertanyaan tersebut sederhana, tetapi diam-diam Men Lari memang sudah menjadi bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang bahkan belum dibangun.
Di tanah itu sekarang belum ada kantor. Belum ada kedai kopi. Belum ada ruang kerja. Tidak ada papan bertuliskan Podium Ecosystem. Hanya tanah, jalan di depan, dan sawah di belakang.
Selebihnya masih berada di kepala.
Saya sering berdiri di sana sambil membayangkan posisi bangunan. Di mana kantor redaksi ditempatkan. Di sebelah mana kedai kopi dibangun. Bagaimana meja-meja menghadap sawah. Di mana kendaraan parkir. Ruang mana yang kelak digunakan untuk rapat, menulis, membaca, atau sekadar bercakap.
Saya tidak membayangkan sebuah kompleks besar.
Podium Ecosystem bagi saya justru harus tumbuh dari ukuran yang masuk akal. Sebuah kantor media yang mempunyai ruang kerja kreatif, coffee shop, tempat bertemu, dan halaman yang cukup untuk membuat orang tidak merasa sedang berada di sebuah gedung kantor.
Media selama ini identik dengan layar komputer, ruang redaksi, berita, dan tenggat waktu. Saya ingin suatu hari Podium memiliki alamat yang lebih hidup.
Orang bisa datang bukan hanya karena mempunyai urusan dengan redaksi.
Seorang penulis bisa mampir untuk bekerja. Wartawan bertemu narasumber. Komunitas mengadakan diskusi kecil. Anak muda membuka laptop sambil minum kopi. Orang yang baru dari Taman Ayun bisa beristirahat. Seseorang dari Canggu yang hendak bertemu koleganya di Mengwi mempunyai tempat untuk berhenti.
Keinginan itu pula yang membuat saya memilih menunggu.
Tahun 2030 masih cukup jauh. Mengwi sedang berada pada masa ketika banyak rencana infrastruktur mulai diarahkan ke kawasan ini. Jalan dari Gatsu Barat menuju Canggu, Mengwitani hingga Werdi Bhuwana merupakan salah satunya. Jika terealisasi, pola perjalanan menuju Mengwi kemungkinan ikut berubah.
Lokasi yang hari ini terasa berada di jalan kampung bisa beberapa tahun lagi menjadi dekat dengan salah satu koridor penting Badung.
Saya ingin melihat perubahan itu lebih dahulu.
Tidak ada gunanya membangun tergesa-gesa hanya karena sebuah jalan diumumkan pemerintah. Jalan harus benar-benar dibangun. Arus kendaraan harus terbentuk. Pergerakan orang harus terlihat. Setelah itu barulah sebuah usaha bisa membaca peluang dengan lebih jernih.
Sambil menunggu, saya cukup menengok tanah.
Dan mampir ke Men Lari.
Hubungan saya dengan warung itu sebenarnya tidak hanya terjadi di Mengwi.
Men Lari juga mempunyai warung di Dalung. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor PodiumNews saat ini. Akibatnya, be guling Men Lari seperti mengikuti dua babak perjalanan Podium.
Di Dalung, ia dekat dengan tempat PodiumNews bekerja hari ini.
Di Mengwi, namanya berada dekat dengan tempat yang saya bayangkan sebagai rumah Podium pada masa depan.
Saya cukup sering makan di Men Lari Dalung. Sesekali sendiri, pada kesempatan lain bersama teman dekat. Made Suteja pernah saya ajak ke sana. Begitu pula Kadek Saputra dan Surnantaka.
Tidak ada pertemuan resmi. Tidak ada agenda besar.
Makan, minum kopi, lalu ngobrol.
Kadang justru dalam pertemuan semacam itu pembicaraan bergerak ke mana-mana. Media, pekerjaan, Bali, politik, rencana usaha, kehidupan sehari-hari, sampai cerita yang besok mungkin sudah dilupakan.
Warung memiliki fungsi sosial seperti itu.
Orang datang karena makanan, tetapi sering pulang membawa percakapan.
Barangkali alasan itu pula yang membuat gagasan coffee shop dalam Podium Ecosystem terus bertahan dalam kepala saya. Saya tidak ingin sekadar menjual kopi. Mengwi sudah mempunyai banyak tempat untuk membeli kopi, dan pada 2030 jumlahnya pasti jauh lebih banyak.
Yang lebih menarik adalah menciptakan tempat di mana orang merasa punya alasan untuk tinggal sedikit lebih lama.
Minum kopi sambil bekerja.
Makan sambil berbincang.
Membaca.
Bertemu teman.
Melihat sawah.
Atau datang tanpa agenda apa pun.
Saya belajar bahwa sebuah tempat kadang menjadi penting bukan karena bangunannya hebat, melainkan karena kebiasaan manusia tumbuh di dalamnya.
Men Lari, setidaknya bagi saya, sudah membuktikan itu.
Namanya bahkan dapat dipakai seorang bupati untuk menjelaskan lokasi kepada gubernur. Orang Mengenal kawasan Denkayu melalui Men Lari. Polisi pernah menggunakan kawasan simpang Men Lari sebagai penanda dalam pengaturan lalu lintas. Bagi keluarga saya sendiri, nama itu sudah menjadi semacam ukuran apakah ritual pulang kampung saya telah lengkap atau belum.
“Sudah singgah di Men Lari?”
Pertanyaan Pendi akhirnya mempunyai arti lebih panjang daripada sekadar menanyakan apakah saya sudah makan be guling.
Sebab biasanya, jika sudah ke Men Lari, besar kemungkinan saya juga sudah melihat tanah itu.
Tanah yang sekarang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain.
Luasnya hanya beberapa are. Jalan di depannya sekitar enam meter lebih. Di belakangnya masih sawah. Dari Taman Ayun jaraknya hanya beberapa ratus meter. Werdi Bhuwana juga dekat.
Tetapi setiap orang mungkin mempunyai sebidang tanah yang nilainya sulit dihitung hanya dengan harga per are.
Bagi saya, tanah itu menyimpan kemungkinan.
PodiumNews hari ini masih bekerja dari Dalung. Di sekitar kantor itu ada Men Lari yang beberapa kali menjadi tempat saya makan bersama teman.
Kelak, jika rencana berjalan baik, Podium akan mempunyai rumah di Mengwi. Tidak jauh dari sana juga ada Men Lari yang hampir selalu saya singgahi ketika pulang kampung.
Ada kebetulan yang menyenangkan dalam perjalanan tersebut.
Men Lari seperti berada di dekat Podium hari ini sekaligus di dekat Podium yang sedang saya bayangkan untuk masa depan.
Entah seperti apa Mengwi pada 2030.
Mungkin jalan baru sudah penuh kendaraan. Mungkin kawasan Werdi Bhuwana berubah cepat. Harga tanah meningkat. Usaha-usaha baru bermunculan. Bisa pula perubahan berjalan lebih lambat daripada yang dibayangkan pemerintah hari ini.
Saya tidak bisa memastikan.
Yang bisa saya lakukan sekarang adalah menjaga rencana tetap hidup sambil melihat keadaan bergerak.
Sesekali pulang ke Mengwi.
Menengok tanah.
Melihat sawah.
Menghitung ulang apa yang mungkin dibangun.
Kemudian mencari secangkir kopi.
Dan kalau suatu hari Pendi kembali bertanya, “Sudah singgah di Men Lari, Bli Komang?”
Jawabannya kemungkinan besar masih sama.
Sudah.
Sebab sebelum Podium Ecosystem benar-benar mempunyai bangunan, Men Lari telanjur menjadi salah satu penanda perjalanan menuju ke sana. (*)
Menot Sukadana