Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Kabel Kusut

Oleh Nyoman Sukadana • 24 Juli 2026 • 02:53:00 WITA

 Kabel Kusut
Menot Sukadana (AI/Vector)

KABEL-KABEL itu sebenarnya tidak tampak.

Pembaca hanya melihat layar yang menyala. Mereka membuka PodiumNews, membaca berita, berpindah ke sebuah esai, lalu menekan tautan menuju website lain. Dalam beberapa detik, halaman baru terbuka.

Sederhana.

Namun, di belakang layar, ada banyak kabel yang harus disambungkan. Salah satu ujungnya menuju PodiumNews. Ujung lain menuju Podium Kreatif, UrbanBali, PodiumEcosystem.com, dan MenotSukadana.com.

Sebagian sudah terpasang. Sebagian belum jelas arahnya. Beberapa bahkan saling membelit.

Begitulah kira-kira keadaan Podium Ecosystem pada tahun pertamanya.

Saya mulai merancangnya pada 20 Mei 2025, tepat delapan tahun setelah PodiumNews diluncurkan. Podium Ecosystem, yang kemudian saya singkat POST, dirancang sebagai pengembangan bertahap dari sebuah portal berita menjadi ekosistem media lokal.

Targetnya 2030.

Lima tahun.

Ketika pertama kali menetapkan target itu, lima tahun terasa cukup panjang. Ada waktu untuk memperkuat PodiumNews, mengembangkan Podium Kreatif, menyiapkan UrbanBali, dan membangun Kedai Kopi Redaksi sebagai ruang pertemuan.

Setelah menjalani tahun pertama, lima tahun ternyata tidak terlalu lama.

Membangun ekosistem berbeda dengan mendirikan satu usaha. Satu usaha dapat memiliki satu nama, satu pekerjaan utama, dan satu alamat. Ekosistem memiliki banyak pintu. Setiap pintu harus mengarah ke rumah yang sama.

PodiumNews telah berjalan sejak 20 Mei 2017. Ia menjadi fondasi paling awal. Podium Kreatif tumbuh dari pengalaman mengelola komunikasi dan produksi konten. UrbanBali disiapkan untuk membaca gaya hidup, kebudayaan, dan perubahan masyarakat Bali. Kedai Kopi Redaksi direncanakan menjadi ruang fisik bagi percakapan, literasi, dan komunitas.

Sementara itu, MenotSukadana.com hadir sebagai rumah pribadi untuk menyimpan tulisan, buku, perjalanan profesional, dan gagasan.

Semua terlihat berhubungan.

Namun, hubungan itu harus dijelaskan.

Apakah MenotSukadana.com merupakan unit usaha POST? Apakah Podium Ecosystem menjadi perusahaan baru atau pengembangan dari PodiumNews? Apakah Kedai Kopi Redaksi sudah beroperasi atau masih berupa rencana? Apa posisi Podium Kreatif terhadap PodiumNews? Kapan sebenarnya proses membangun ekosistem dimulai?

Pertanyaan semacam itu terlihat kecil. Namun, bila jawabannya berbeda antara satu website dan website lain, orang akan memperoleh beberapa versi cerita.

Satu situs menyebut empat unit.

Situs lain menyebut lima.

Satu halaman menempatkan website pribadi sebagai bagian ekosistem. Halaman lain menyebutnya sebagai rumah pendiri.

Ada pula istilah yang harus dipilih: pendiri, perintis, penggagas, atau penggerak.

Semua harus dirapikan.

Tahun pertama POST akhirnya tidak hanya diisi dengan membangun sesuatu yang baru. Banyak tenaga justru habis untuk memeriksa kembali apa yang sudah ada.

Saya membaca ulang profil yang pernah dibuat. Memeriksa bagian paling bawah website. Menentukan susunan tautan. Menyamakan kronologi. Mengganti istilah. Menimbang posisi nama pribadi di antara nama perusahaan.

Terlalu sedikit ditampilkan, publik tidak memahami siapa yang membangun semuanya.

Terlalu banyak ditampilkan, media dapat terlihat seperti panggung pribadi.

PodiumNews tetap harus berdiri sebagai institusi jurnalistik. Ia tidak boleh berubah menjadi sekadar perpanjangan profil pendirinya. Sebaliknya, sejarah media juga tidak perlu dibuat anonim. Publik berhak mengetahui siapa yang memulai, siapa yang mengambil risiko, dan dari pengalaman apa sebuah media dibangun.

Menemukan batas itu ternyata tidak mudah.

Pada saat yang sama, pekerjaan rutin tidak berhenti.

PodiumNews tetap harus terbit setiap hari. Berita harus diperiksa. Redaksi perlu dikelola. Kerja sama harus dijalankan. Administrasi, pemasaran, narasumber, teknologi, dan urusan tim terus datang.

Portal berita tidak dapat berhenti hanya karena pendirinya sedang merancang ekosistem.

Saya harus membangun masa depan POST sambil menjaga PodiumNews tetap hidup hari ini.

Lalu ada tulisan.

Dalam setahun terakhir, saya menulis lebih dari 300 esai, opini, editorial, dan ulasan. Sebagian lahir dari berita yang terasa belum selesai. Sebagian berangkat dari perubahan sosial dan gaya hidup di Bali. Sebagian lainnya datang dari pengalaman sebagai wartawan dan pengelola media.

Tulisan-tulisan itu kemudian menjadi bahan bagi lima buku.

Ketika dihitung, jumlahnya terlihat besar. Namun, dalam keseharian, saya jarang berhenti untuk menghitungnya. Satu esai selesai, gagasan lain muncul. Satu naskah dikumpulkan, persoalan baru terlihat.

Mengubah ratusan tulisan menjadi buku bukan sekadar memindahkan file.

Tulisan yang kuat sebagai esai belum tentu tepat menjadi bagian sebuah buku. Ada tema yang berulang. Ada argumen yang tumpang tindih. Ada tulisan yang terlalu bergantung pada peristiwa harian. Ada pula naskah yang terasa utuh ketika berdiri sendiri, tetapi kehilangan tempat ketika dimasukkan ke dalam susunan yang lebih besar.

Saya pernah menyangka kumpulan tulisan yang memiliki tema serupa otomatis dapat menjadi buku.

Ternyata tidak.

Sebuah buku memerlukan arah. Setiap bab harus memiliki fungsi. Setiap tulisan harus diketahui hubungannya dengan gagasan utama. Bila semuanya dimasukkan begitu saja, hasilnya bukan buku utuh. Hanya tumpukan esai yang dijilid.

Pekerjaan menyusun buku akhirnya mirip dengan pekerjaan menyambungkan website.

Harus diketahui mana yang menjadi pusat. Mana yang menjadi penghubung. Mana yang perlu dipindahkan. Mana yang harus dilepas karena hanya membuat susunan semakin penuh.

Di tengah seluruh pekerjaan itu, kelelahan kadang muncul dari urusan yang terlihat remeh.

Satu istilah tidak konsisten.

Sebuah tautan belum terpasang.

Profil terlalu panjang.

Keterangan unit belum jelas.

Tanggal belum sama.

Logo masih salah tempat.

Kalimat di satu website bertentangan dengan kalimat di website lain.

Hal-hal semacam itu jarang dianggap sebagai pekerjaan besar. Tidak ada peluncuran. Tidak ada gunting pita. Tidak ada panggung dan sambutan.

Namun, identitas sebuah institusi justru sering dibentuk melalui pekerjaan kecil tersebut.

Publik tidak berada di dalam kepala pendirinya. Mereka tidak mengetahui semua rencana yang belum ditulis. Mereka hanya membaca apa yang muncul di layar.

Bila penjelasannya kusut, gagasannya ikut terlihat kusut.

Saya semula membayangkan tahun pertama POST sebagai masa memperkenalkan sebuah rencana besar. Ternyata, sebagian besar waktu justru digunakan untuk menjelaskan rencana itu kepada diri sendiri.

Apa sebenarnya yang sedang saya bangun?

Mengapa setiap unit perlu ada?

Bagaimana hubungan antara kerja jurnalistik, konsultasi komunikasi, media gaya hidup, website pribadi, dan ruang komunitas?

Bagaimana semua itu dapat menghasilkan pendapatan tanpa mengorbankan independensi PodiumNews?

Pertanyaan tersebut tidak selalu dijawab melalui rapat besar atau dokumen bisnis yang tebal. Kadang jawabannya ditemukan ketika menulis ulang satu paragraf profil.

PodiumNews menghasilkan berita, analisis, dan pengetahuan.

Podium Kreatif mengembangkan pengalaman komunikasi menjadi layanan profesional.

UrbanBali membaca perubahan gaya hidup dan kebudayaan yang tidak seluruhnya tertampung dalam portal berita umum.

Kedai Kopi Redaksi kelak menjadi ruang agar percakapan tidak berhenti di layar.

MenotSukadana.com berada di sampingnya sebagai rumah karya pendiri, bukan sebagai unit usaha.

Setelah pembagian itu mulai jelas, hubungan antarlini perlahan terlihat.

Belum semuanya berjalan sempurna.

UrbanBali masih harus menemukan ritme dan karakternya. Podium Kreatif memerlukan sistem usaha yang lebih mapan. Kedai Kopi Redaksi masih harus menempuh perjalanan panjang sebelum menjadi ruang nyata. PodiumNews sendiri tetap membutuhkan penguatan isi, distribusi, teknologi, dan organisasi.

Lima buku juga belum selesai. Semuanya masih memerlukan penyuntingan, penyusunan ulang, dan penerbitan.

Masih banyak kabel yang belum terpasang.

Namun, tahun pertama memberi satu pelajaran yang sebelumnya tidak terlalu saya pikirkan: membangun ekosistem tidak selalu berarti menambah unit baru.

Kadang pekerjaan terpenting justru merapikan hubungan di antara yang sudah ada.

Menyambungkan sejarah dengan rencana. Menyambungkan website dengan website. Menyambungkan tulisan dengan buku. Menyambungkan pengalaman jurnalistik dengan model usaha yang dapat menopangnya.

Pada 20 Mei 2026, tahun pertama POST berakhir.

Ekosistem itu belum selesai. Bentuknya bahkan baru mulai terlihat.

Namun, setidaknya saya sudah mengetahui fungsi sebagian besar kabelnya. Mana yang menghidupkan PodiumNews. Mana yang mengarah ke Podium Kreatif. Mana yang perlu dipasang menuju UrbanBali. Mana yang kelak akan menyalakan Kedai Kopi Redaksi.

Pekerjaan berikutnya bukan sekadar menambah sambungan.

Saya harus memastikan setiap kabel menuju tempat yang benar, tidak saling mengganggu, dan tetap mampu menyalakan rumah yang sama. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.