Sok Ideal
BELAKANGAN saya sadar satu hal. Saya ternyata sering menulis soal media.
Bukan berita tentang media. Bukan pula gosip wartawan. Lebih sering soal nasib media itu sendiri.
Soal iklan yang makin sulit. Soal algoritma. Soal wartawan yang terlalu dekat dengan kekuasaan. Soal amplop. Soal pembaca yang ingin berita gratis. Soal perusahaan pers yang tetap harus menggaji orang.
Daftarnya lumayan panjang.
Saya sempat membuka kembali beberapa tulisan lama. Ternyata benar. Tema itu muncul berkali-kali. Kadang saya sendiri tidak merencanakannya. Ada peristiwa, ada percakapan, ada berita, lalu ujung-ujungnya saya menulis media lagi.
Dasar wartawan.
Sudah puluhan tahun hidup di ruang redaksi. Masih saja urusan redaksi dibawa pulang. Padahal saya tidak ingin jadi penulis yang hanya bicara media. Bosan. Sok idealis terus juga tidak enak.
Saya masih ingin menulis Kuta. Canggu. Mengwi. Pariwisata. Politik. Jalan baru. Harga tanah. Warung kopi. Musik lama. Buku. Kadang soal hidup yang tidak jelas arahnya.
Bali menyediakan terlalu banyak cerita. Terlalu sempit kalau hanya dilihat dari jendela kantor.
Canggu saja cukup untuk puluhan tulisan. Dulu sawah. Sekarang vila, restoran, pusat kebugaran, klub malam, dan kemacetan. Orang datang dari berbagai negara. Tanah naik harga. Pekerjaan berubah. Desa berubah.
Kuta punya cerita lain. Mengwi mulai punya cerita sendiri.
Badung bahkan bisa ditulis dari banyak sisi. Soal uang. Pembangunan. Pariwisata. Ketimpangan. Sampai pertanyaan sederhana: apa sebenarnya yang hendak dibangun setelah kas daerah semakin gemuk?
Semua menarik.
Tapi anehnya, setelah berjalan ke mana-mana, saya sering kembali ke soal media.
Mungkin memang begitu. Setiap penulis punya tempat yang sering didatangi kembali. Ada yang tidak pernah bosan menulis politik. Ada yang puluhan tahun menulis sastra. Ada yang setia pada lingkungan.
Saya rupanya sering kembali ke newsroom.
Bukan karena newsroom tempat paling menyenangkan. Justru sebaliknya. Di sana banyak masalah. Dan di sana pula benturan antara sikap sok idealis dan urusan perut terjadi setiap hari.
Saya pernah jadi reporter. Pernah jadi redaktur. Pernah mengurus liputan. Sekarang ikut memikirkan perusahaan media.
Sudut pandangnya ikut berubah.
Waktu masih reporter, persoalan terbesar cuma satu: berita hari ini. Di tahap ini, jadi orang yang sok ideal terasa sangat mudah.
Waktu jadi redaktur, persoalannya bergeser: berita mana yang penting.
Waktu ikut mengurus perusahaan, pertanyaannya lebih kejam: besok wartawan digaji pakai apa? Sikap sok idealis langsung diuji di depan meja kasir.
Itu pelajaran yang tidak ada dalam buku jurnalistik.
Idealisme memang penting. Sangat penting. Tapi listrik tetap harus dibayar. Server juga. Internet juga. Reporter tetap perlu bensin.
Lucunya, pembaca sekarang terbiasa dapat berita gratis. Pada saat yang sama, perusahaan teknologi meraup uang besar dari lalu lintas informasi.
Google dapat bagian. Meta dapat bagian. TikTok dapat bagian. Media lokal sering dapat bagian paling akhir.
Kalau masih ada.
Di Bali persoalannya lebih menarik. Pulau ini hidup dari cerita.
Hotel menjual cerita tentang Bali. Vila menjual Bali. Restoran menjual Bali. Agen perjalanan menjual Bali. Pengembang properti juga menjual Bali.
Bahkan orang bisa menjual kamar kecil dengan harga mahal. Asal berada beberapa kilometer dari pantai, lalu diberi nama yang cukup asing.
Media setiap hari ikut memproduksi cerita tentang pulau yang sama. Tentang jalan macet. Hotel baru. Turis. Sampah. Konflik. Pemerintah. Sampai tentang orang Bali sendiri.
Tapi industri yang tumbuh dari citra Bali belum tentu punya hubungan ekonomi yang kuat dengan pers lokal. Ini soal yang belum selesai.
Lalu datang pemerintah. Bagi banyak media lokal, pemerintah adalah pasar penting. Ada kerja sama publikasi. Ada iklan layanan masyarakat. Ada advertorial.
Tidak ada yang aneh.
Masalah baru muncul ketika media harus mengawasi orang yang pada saat bersamaan jadi sumber pendapatannya.
Teorinya mudah: jaga independensi. Jangan sok idealis kalau cuma di mulut.
Praktiknya?
Silakan tanyakan kepada pemilik media yang harus menutup gaji tanggal satu.
Saya termasuk di dalam persoalan itu. Karena itu, menulis media selalu agak berbahaya bagi saya.
Kalau saya bicara agak keras, orang dengan gampang menuding: dasar sok ideal!
Kalau bicara bisnis, orang menduga saya sedang mencari iklan. Kalau mengkritik wartawan, teman sendiri tersinggung.
Lengkap.
Tapi mungkin justru karena berada di dalamnya—di antara batas tipis antara idealisme dan pragmatisme—persoalan itu layak ditulis. Tentu dengan satu syarat: jangan jadikan tulisan sebagai keluhan pemilik media. Lebih parah lagi kalau esai berubah jadi proposal kerja sama terselubung.
Malu-maluin. Lebih sok ideal dari yang sok ideal.
Karena itu saya mulai merasa tulisan soal media butuh disiplin lebih keras. Data. Fakta. Perbandingan. Bukan sekadar pengalaman pribadi atau retorika sok idealis.
Berapa sebenarnya media yang hidup di Bali? Berapa yang sehat? Berapa gaji reporternya? Dari mana pendapatannya? Seberapa besar ketergantungan pada pemerintah?
Berapa belanja iklan pariwisata yang masuk ke media lokal? Berapa yang pindah ke Google, Meta, TikTok, dan influencer?
Pertanyaan seperti itu jauh lebih menarik daripada sekadar berpura-pura sok ideal atau sekadar mengatakan pers sedang susah. Semua orang juga sudah tahu pers sedang susah.
Yang belum banyak diketahui: mengapa susahnya seperti itu. Dan siapa yang paling menanggung akibatnya.
Mungkin itu alasan saya akan tetap menulis media.
Bukan terus-menerus. Saya tidak ingin setiap minggu membuat wartawan merasa sedang diceramahi oleh orang yang merasa paling sok ideal. Saya sendiri wartawan. Bisa bosan mendengar ceramah dari diri sendiri.
Saya tetap akan berjalan ke tema lain. Ke Canggu. Ke Kuta. Ke Mengwi. Ke orang-orang yang hidup dari pariwisata. Ke keluarga yang menjual tanah. Ke desa yang mulai berubah wajah. Ke pemerintah yang membangun jalan. Ke kelas menengah Bali yang sedang tumbuh.
Ke musik, buku, kopi, atau hal-hal kecil yang kadang justru lebih enak ditulis.
Tapi sekali-sekali saya mungkin pulang. Ke media. Melihat lagi apa yang berubah.
Dulu persoalannya koran melawan televisi. Lalu media daring datang. Kemudian media sosial. Sekarang AI. Besok entah apa lagi.
Mesinnya berubah terus. Masalah manusianya sering tetap sama.
Uang. Kekuasaan. Integritas. Sikap sok ideal yang diuji zaman. Dan kebutuhan untuk dipercaya.
Itulah barangkali yang membuat media terus menarik untuk ditulis. Bukan karena medianya. Tapi karena manusia di dalamnya.
Saya tidak tahu apakah itu kelak jadi ciri tulisan saya. Tidak perlu diputuskan sekarang. Biarkan pembaca yang menilai.
Saya hanya tahu satu hal. Setiap kali terlalu jauh berjalan ke tema lain, ada satu tempat yang selalu membuat saya ingin kembali.
Newsroom.
Rumah lama itu.
Atapnya memang masih sering bocor. Tapi setidaknya, saya tidak sedang sok idealis berpura-pura tidak tahu di mana letak embernya. (*)
Menot Sukadana