Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Cocok Harga

Oleh Nyoman Sukadana • 10 Juni 2026 • 18:28:00 WITA

Cocok Harga
Menot Sukadana (vector/ai)

WARTAWAN itu makhluk berbahaya.

Sangat berbahaya.

Senjatanya bukan pistol. Bukan pula senapan serbu. Senjatanya hanya kata-kata.

Dulu, senjata itu berupa pena. Kini, berganti jari-jari di atas layar ponsel. Tapi kekuatannya sama. Dunia seolah di bawah kendalinya.

Kritiknya tajam. Kalimatnya pedas. Saking pedasnya, yang dikritik merasa dikuliti hidup-hidup. Publik suka yang begitu.

Dulu, mereka garang sekali.

Tiada hari tanpa kritik. Kebijakan ini keliru. Pejabat itu ngawur. Semua disikat. Mereka berdiri tegak sebagai anjing penjaga. Watchdog. Istilah kerennya begitu.

Masyarakat berdecak kagum. "Ini baru wartawan!" puji orang-orang. Mereka dianggap pahlawan. Pembela kebenaran di tengah kegelapan.

Tapi, itu dulu.

Cerita lama. Sebelum datangnya musim kompromi. Musim yang kini akrab disebut: "momen rekonsiliasi".

Dunia memang panggung sandiwara. Tapi kalau sudah urusan perut, sandiwaranya keterlaluan. Plot twist-nya bikin mual.

Tiba-tiba saja, nadanya berubah.

Tidak ada lagi kritik menyengat. Kalimat yang dulu serupa cuka, mendadak manis seperti sirup. Manis sekali.

Sang pejabat yang dulu dicaci bobrok, kini dipuji setinggi langit. Disebut pemimpin visioner. Kebijakan yang dulu dianggap menyengsarakan rakyat, kini berubah label. Disebut langkah strategis demi masa depan.

Kok bisa?

Apa yang terjadi?

Sederhana saja: cocok harga.

Rupanya, idealisme itu ada label harganya. Murah atau mahal, tergantung siapa yang menawar.

Begitu angka yang disodorkan pas, atau posisi yang dijanjikan menggiurkan, pena yang tajam itu langsung tumpul.

Bahkan tidak sekadar tumpul. Pena itu berubah fungsi. Menjadi alat poles. Menjadi humas tanpa seragam. Tugasnya hanya satu: bikin citra tuan menjadi kinclong.

Fenomena ini bukan barang baru. Sudah lama ada. Tapi tetap saja membuat dada sesak.

Wartawan tipe begini punya seribu alasan. Mereka pintar bersilat lidah. Alasan itu diproduksi untuk membenarkan pengkhianatannya.

Katanya: "Kami melihat dari perspektif yang berbeda."

Atau: "Kami sudah mendapatkan data yang lebih akurat."

Padahal, publik tidak buta. Publik zaman sekarang sudah pintar. Mereka tahu betul yang berubah bukan datanya. Melainkan angka saldo di rekeningnya.

Lebih parah lagi kalau sudah jadi pendukung buta.

Mereka kehilangan kompas. Tidak bisa lagi membedakan mana kebenaran, mana pesanan. Bahkan, mereka tega menyerang rekan sejawat sendiri. Menyerang wartawan yang masih waras dan kritis. Menggunakan narasi yang sudah disiapkan oleh sang pemesan.

Mereka lupa.

Kehormatan seorang wartawan itu bukan karena dekat dengan kekuasaan. Kehormatan itu ada pada jarak. Seberapa jauh mereka bisa menjaga jarak demi objektivitas.

Menjadi kritikus itu berat. Konsistensi itu barang mewah. Mahal harganya. Banyak yang rontok di jalan karena godaan materi.

Tapi, begitulah hidup. Pilihan selalu ada.

Mau tetap menjadi anjing penjaga yang setia pada kebenaran? Meski harus hidup sederhana.

Atau memilih menjadi anjing peliharaan yang kenyang? Asalkan perut terisi, tidur pun nyenyak di atas karpet merah kekuasaan.

Masalahnya hanya satu. Kalau sudah kekenyangan, biasanya lupa cara menggonggong.

Kecuali, tentu saja, kalau diperintah menggonggong untuk membela sang tuan.

Semua ada harganya. Dan bagi sebagian orang, harga diri adalah barang paling murah untuk dijual.

Asalkan harganya cocok. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.