Hollywood Ngawur
NONTON film jadul itu seperti membuka lemari tua. Ada bau apeknya. Tapi selalu ada kenangan yang bikin tersenyum.
Akhir pekan lalu, saya iseng. Memutar kembali film Road to Bali. Film tahun 1952. Hitungannya sudah sangat kuno. Berusia 74 tahun. Pemainnya trio legendaris Hollywood masa itu: Bing Crosby, Bob Hope, dan Dorothy Lamour.
Sebagai orang Bali, kuping saya langsung tegak mendengar judulnya. Bali. Pulau kebanggaan kita. Pikiran saya langsung melayang jauh. Membayangkan bagaimana orang Amerika di tahun 50-an memandang Pulau Dewata. Apakah mereka sudah mengagumi keindahan Ubud? Apakah mereka sudah terpukau oleh magisnya Tari Kecak? Atau setidaknya pesona Pantai Kuta?
Ternyata, saya kecele. Total.
Kecewa? Tidak juga. Malah jadi terhibur oleh kekonyolannya.
Jangan pernah harap Anda akan melihat pura yang anggun. Jangan mimpi melihat lanskap sawah berundak. Atau gadis-gadis Bali dengan banten di atas kepala. Bali di film ini murni khayalan. Seratus persen imajinasi liar sutradara Hal Walker dan penulis naskah Frank Butler serta William Morrow.
Mereka tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Jangankan ke Bali. Mencium bau angin laut Indonesia saja tidak. Syutingnya habis di dalam studio Paramount di Los Angeles. Paling banter mereka keluar studio menuju sepetak lahan di Baldwin Ranch, California. Untuk mengambil adegan luar ruangan.
Yang membuat saya tertawa sepanjang film bukan cuma lawakan khas Bob Hope. Tapi bagaimana Hollywood zaman itu mencampuradukkan budaya. Begitu berani. Kalau tidak mau disebut super ngawur.
Bayangkan saja. Ada putri raja namanya Lala McTavish. Parasnya eksotis khas Asia, dimainkan oleh Dorothy Lamour yang asli New Orleans. Tapi bapaknya diceritakan sebagai bangsawan dari Skotlandia.
Lalu, musuh utamanya bernama Pangeran Ken Arok. Dimainkan oleh aktor Murvyn Vye. Nama yang sangat legendaris di Jawa Timur. Pendiri Kerajaan Singasari. Tapi di film ini dijadikan pangeran jahat di pulau entah berantah dekat Bali.
Penduduk lokalnya lebih ajaib lagi. Alih-alih pakai kain kamen atau udeng, mereka berbaju mirip penduduk pulau tropis Polinesia di Pasifik Selatan. Lengkap dengan tarian yang tidak ada Bali-balinya sama sekali. Malah lebih mirip tarian hula-hula.
Ada lagi. Di tengah hutan "Bali" itu, tiba-tiba muncul hewan-hewan aneh. Ada simpanse. Ada gorila. Ada singa Afrika. Padahal kita tahu, fauna Bali itu masuk zona asiatis. Tidak ada gorila berkeliaran di Bedugul. Tapi bagi Hollywood, pokoknya kalau judulnya wilayah tropis, semua binatang eksotis harus dimasukkan ke dalam satu keranjang.
Inilah hebatnya industri hiburan Barat di masa lalu. Mereka tidak butuh akurasi sejarah. Mereka tidak peduli fakta geografis. Yang mereka butuhkan hanyalah jualan.
Bagi penonton Amerika saat itu, Bali, Singapura, Maroko, atau Zanzibar hanyalah simbol dari satu kata: eksotisme. Tempat yang letaknya sangat jauh. Misterius. Penuh bahaya. Dan cocok jadi latar petualangan komedi.
Namun, gaya penulisan dan eksekusi komedi film ini harus diakui sangat cair. Saya sangat menyukai istilah "mendobrak dinding keempat" (breaking the fourth wall) yang mereka mainkan dengan fasih.
Di tengah-tengah adegan yang sedang tegang, Bob Hope tiba-tiba bisa menengok langsung ke arah kamera. Menatap mata penonton. Dia berbicara langsung kepada kita. Mengomentari aktingnya sendiri yang jelek. Atau mengejek karakter Bing Crosby.
Bahkan ada satu adegan di mana Humphrey Bogart—aktor besar masa itu—tiba-tiba muncul sebagai kameo lewat potongan film The African Queen (1951). Bob Hope langsung berkomentar ke kamera bahwa film mereka sangat bagus sampai-sampai Bogart ingin ikut bermain.
Spontan. Segar.
Di zaman itu, teknik komedi seperti ini sangat modern. Jenius. Humornya tidak jaim. Mereka sadar betul sedang main film. Dan mereka mengajak penonton untuk ikut menertawakan kekonyolan diri mereka sendiri.
Film ini juga mencatat sejarah penting. Ini adalah satu-satunya seri dari total tujuh film waralaba Road to... yang diproduksi dengan format berwarna. Enam film sebelumnya—mulai dari Road to Singapore (1940) sampai Road to Rio (1947)—semuanya hitam putih.
Road to Bali diproduksi menggunakan teknologi Technicolor tiga jalur (three-strip Technicolor). Teknologi yang sangat mahal pada masanya. Biaya produksinya membengkak hingga sekitar USD 2 juta. Angka yang sangat besar untuk tahun 1952.
Hasilnya memang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Warna-warnanya mencolok. Cerah. Dan sangat hidup. Gaun-gaun yang dikenakan Dorothy Lamour terlihat begitu kontras dengan latar belakang studio yang hijau buatan. Benar-benar memanjakan mata penonton bioskop pasca-Perang Dunia II yang haus hiburan segar.
Namun, di balik layar yang gemerlap dan penuh tawa itu, ada realitas industri yang dingin. Saya membaca satu fakta sejarah bisnis film ini yang bikin mengelus dada.
Bing Crosby dan Bob Hope mendapat kontrak istimewa. Namanya sistem bagi hasil keuntungan (profit-sharing). Mereka memiliki saham atas film tersebut melalui perusahaan produksi mereka sendiri yang bermitra dengan Paramount Pictures. Mereka berdua kaya raya, meraup jutaan dolar dari waralaba ini.
Sementara Dorothy Lamour? Dia adalah primadona. Wajah cantiknya dipajang di semua poster bioskop. Namanya dijual untuk menarik penonton pria. Tapi dia hanya dibayar menggunakan sistem gaji tetap (flat salary). Jauh lebih kecil dibanding dua rekan pria utamanya.
Ketimpangan itu berlanjut ke industri rekaman. Ketika album lagu dari film ini sukses besar di pasaran melalui label Decca Records, Lamour menuntut hak royalti rekaman yang layak. Apa respons industri? Bagian vokal Lamour dalam album komersial justru digantikan oleh penyanyi lain bernama Peggy Lee. Hanya karena Lamour berani menuntut haknya.
Industri tetaplah industri. Kapitalisme Hollywood rupanya sudah kejam sejak dulu. Kontras dengan keceriaan lagu Chicago Style yang mereka nyanyikan bersama di dalam film.
Ada satu lagi cerita unik dari aspek hukum film ini. Kini, Road to Bali sudah menjadi domain publik. Sifatnya gratis. Siapa saja bisa mengunduh, menggandakan, atau menayangkannya di platform seperti YouTube tanpa takut melanggar hukum atau dituntut membayar royalti.
Mengapa bisa begitu? Ini karena keteledoran administratif yang luar biasa dari pihak studio di masa lalu.
Berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta AS tahun 1909, film yang dirilis sebelum tahun 1978 harus didaftarkan ulang hak ciptanya pada tahun ke-28 setelah rilis untuk mendapatkan perpanjangan perlindungan. Pihak pemilik hak cipta Road to Bali lupa. Mereka lalai memperpanjang dokumennya pada tahun 1980.
Akibatnya, film berbiaya mahal ini langsung jatuh menjadi milik masyarakat luas. Sebuah kelalaian birokrasi yang menjadi berkah tersembunyi bagi para pencinta film tua seperti saya.
Menonton film ini akhirnya membuat saya merenung panjang.
Dulu, 74 tahun lalu, Bali dibayangkan begitu liar oleh dunia luar. Begitu fiktif. Begitu asing. Sebuah nama entitas yang eksotis tapi tidak dipahami realitanya. Hanya dipinjam namanya sebagai magnet penarik keuntungan industri sinema global.
Sekarang, zaman sudah berbalik total. Bali bukan lagi studio buatan di Los Angeles. Bali sudah menjadi halaman belakang global. Semua orang di bumi tahu Bali. Wisatawan Amerika kini datang langsung ke Ubud, ke Kuta, ke Uluwatu. Bukan lagi melihat tiruan murah di California.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah dari tahun 1952 sampai sekarang. Bali selalu berhasil memantik imajinasi terdalam manusia. Menjadi simbol universal untuk mencari kebahagiaan, kebebasan, dan pelarian dari rutinitas hidup yang menjemukan.
Meskipun, pada awalnya, imajinasi itu dibangun dari sebuah kenekatan sutradara yang super ngawur. (*)
Menot Sukadana