Banyak Keluarga Pasien Stroke Belum Siap Merawat di Rumah
YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com – Banyak keluarga pasien stroke di Indonesia ternyata belum siap melakukan perawatan ketika anggota keluarganya kembali ke rumah setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Keterbatasan pengetahuan, minimnya dukungan perawatan, hingga kurangnya komunikasi dengan tenaga kesehatan menjadi sejumlah faktor yang memicu kondisi tersebut.
Temuan itu terungkap dalam penelitian doktoral yang dilakukan Margareta Hesti Rahayu dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM).
Margareta menjelaskan ketidaksiapan keluarga merawat pasien stroke berpotensi meningkatkan ketidakpastian yang dialami pasien maupun anggota keluarga. Kondisi tersebut dapat berdampak pada proses pemulihan pasien setelah kembali ke lingkungan rumah.
"Ketidakpastian ini akan semakin meningkat ketika pasien atau keluarga memiliki pengetahuan yang terbatas tentang stroke, kurang mendapatkan dukungan perawatan, komunikasi yang buruk dengan tenaga kesehatan dan kurangnya kesiapan keluarga untuk merawat pasien saat kembali ke rumah," ujarnya dalam ujian terbuka promosi doktor di FK-KMK UGM, Selasa (9/6/2026).
Menurut Margareta, stroke masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Selain menjadi penyebab kecacatan nomor dua secara global, penyakit ini juga menyebabkan sekitar 6,5 juta kematian setiap tahun.
Melalui penelitiannya, Margareta mengembangkan intervensi Advance Care Planning (ACP) atau perencanaan perawatan lanjutan yang dirancang untuk membantu pasien dan keluarga menghadapi ketidakpastian selama proses perawatan.
Penelitian tersebut dilakukan pada 2024–2025 di RSUP Dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, dan Rumah Sakit Panti Rapih dengan melibatkan 33 partisipan yang terdiri atas pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat tema utama yang muncul dari wawancara dan diskusi kelompok terarah (focus group discussion). Tiga tema berkaitan dengan pengalaman pasien dan keluarga, yakni permasalahan yang dihadapi pasien stroke, kebutuhan informasi dan edukasi, serta pentingnya dukungan emosional. Sementara tema keempat menyoroti kebutuhan perencanaan perawatan lanjutan bagi pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tim peneliti menyusun dua modul ACP stroke. Modul pertama ditujukan bagi tenaga kesehatan yang memuat konsep ACP, komunikasi dalam ACP, serta panduan pelaksanaan ACP bagi pasien stroke. Modul kedua diperuntukkan bagi pasien dan keluarga yang mencakup informasi mengenai stroke, perawatan di rumah, pola makan, latihan fisik, hingga penggunaan obat-obatan.
"Keseluruhan topik di atas merupakan rangkuman dari masukan dan saran dari pasien, keluarga dan tenaga kesehatan," kata Margareta.
Ia menjelaskan implementasi ACP terbukti memberikan dampak positif terhadap pasien maupun keluarga. Intervensi tersebut berhasil menurunkan ketidakpastian pasien terhadap penyakit yang dialami, meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai perawatan stroke, memperkuat kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan, serta meningkatkan kesiapan keluarga melakukan perawatan di rumah.
Selain itu, ACP juga membantu menurunkan stres, kecemasan, dan depresi pasien sekaligus mengurangi potensi konflik dalam keluarga selama proses perawatan.
"Intervensi ini juga menjadi strategi dalam menurunkan ketidakpastian," tegasnya.
Margareta berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat cumlaude dalam ujian terbuka yang dipromotori Prof. Dr. dr. Sri Sutarni, Sp.S(K), dan ko-promotor Dr. Heny Suseani Pangastuti, S.Kp., M.Kes.
(sukadana)