Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Jejak Tantri

Oleh Nyoman Sukadana • 12 Juni 2026 • 11:52:00 WITA

Jejak Tantri

BANYAK orang Barat mengira mereka tahu cara menemukan diri mereka di Bali.

Apalagi sejak industri sinema global melahirkan film Eat, Pray, Love. Tokohnya, yang dimainkan dengan begitu anggun oleh Julia Roberts, menggambarkan sebuah pelarian yang teramat manis. Kecewa oleh pernikahan yang karam di kota megapolitan, dia pergi ke Italia untuk memanjakan lidah, melangkah ke India untuk bersujud dan berdoa, lalu akhirnya mendarat di Ubud, Bali, untuk menemukan cinta sejati.

Itulah potret pencarian spiritual generasi modern. Nyaman. Estetis. Instan. Bersepeda di sela-sela petak sawah yang hijau ranum, tersenyum ramah pada penduduk lokal, mengobrol santai dengan Ketut Liyer sang dukun ramal, lalu pulang membawa ketenangan jiwa yang siap dipamerkan di panggung media sosial.

Bali, dalam lanskap kacamata Hollywood abad ke-21, telah direduksi menjadi sebotol obat penenang spiritual. Tempat orang-orang kaya Barat menyembuhkan ego mereka yang terluka oleh kejamnya peradaban modern.

Tapi, jauh sebelum Julia Roberts menaiki sepedanya menyusuri jalanan Ubud, ada seorang perempuan Barat lain yang sudah menapakkan kakinya di pulau ini. Dia tidak membawa kemanjaan eksistensial. Dia membawa segenap hidupnya untuk dipertaruhkan. Namanya Muriel Stuart Walker. Kelak, sejarah dunia mencatat namanya dengan tinta yang jauh lebih tebal dan sakral: K’tut Tantri.

Jejak Tantri adalah antitesis sempurna dari seluruh romantisasi klise ala Eat, Pray, Love.

Kisah romantika petualangan Muriel bermula di sebuah gedung bioskop tua di Hollywood Boulevard. Tahun itu 1932. Hollywood sedang berada di puncak kejayaan transisi sinema bisu ke film bersuara. Semua orang bermimpi untuk datang ke Los Angeles, bertaruh nasib di bawah lampu-lampu sorot studio.

Muriel sudah berada di episentrum itu. Dia bukan sekadar penonton pasif. Dia adalah jurnalis berbakat sekaligus seniman lukis mobil yang mapan di industri perfilman paling bergengsi sejagat. Hidupnya sudah mapan, dikelilingi oleh kepulan asap cerutu produser dan gemerlap pesta.

Namun, sore itu di Hollywood Boulevard, nasibnya berputar haluan. Langkah kakinya menuntun dia masuk ke kegelapan ruang bioskop yang sedang menyajikan sebuah film dokumenter langka tentang sebuah pulau terpencil di Hindia Belanda: Bali, The Last Paradise.

Di atas layar perak, Muriel melihat sebuah peradaban yang belum terjamah oleh kerakusan industrialisasi. Sawah berundak yang memantulkan cahaya langit, tarian yang mistis, dan manusia-manusia yang hidup selaras dengan alam. Seketika itu juga, otaknya seperti mengalami korsleting budaya. Jiwa petualangnya berontak hebat. Dia merasa film itu bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah maklumat takdir.

Atas inspirasi film itulah, dia mengambil keputusan paling gila dalam hidupnya. Dia keluar dari bioskop, pulang ke apartemennya, dan menjual seluruh harta benda yang dia miliki. Tidak ada sisa. Dia mengemas pakaian seadanya dan langsung memesan tiket kapal laut.

Dia berlayar dari pelabuhan New York. Kapalnya membelah samudra luas, mengarungi rute panjang yang melelahkan berbulan-bulan, menuju satu titik koordinat di belahan bumi lain: Batavia. Dari Batavia, tujuannya hanya satu, tanpa keraguan sedikit pun: Bali.

Nekat? Jelas. Tapi itulah awal dari runtuhnya identitas kemapanan seorang Muriel Stuart Walker.

Begitu kakinya menginjak tanah Bali, Muriel menolak menjadi turis borjuis. Dia ogah menginap di hotel-hotel milik kolonial Belanda yang dipenuhi pelayan pribumi berpakaian seragam membungkuk-bungkuk. Dia memilih untuk "menghilang" dari radar peradaban Barat.

Dia menanggalkan pakaian modernnya. Melepas sepatu hak tingginya. Berjalan telanjang kaki di atas tanah berdebu dan lumpur sawah. Kulit putih Eropa-nya dibiarkan terbakar matahari hingga kecokelatan. Rambut pirang aslinya dicat hitam pekat. Dia memakai kebaya, melilitkan kain kamen. Dia mulai belajar bahasa lokal, mengunyah sirih, dan makan apa yang dimakan oleh rakyat jelata. Dia ingin melebur seutuhnya menjadi bagian dari tanah yang dia sebut sebagai Nusa Damai itu.

Ketulisan dan keberaniannya yang di luar nalar ini menarik perhatian Raja Bangli, Anak Agung Gede Tokot. Sang raja melihat ada jiwa Timur yang terperangkap dalam tubuh wanita Barat ini. Begitu kagumnya sang raja, sampai-sampai Muriel diangkat menjadi anak kandung secara resmi melalui upacara adat. Dia diberi nama baru: K’tut Tantri. Nama yang kelak akan mengguncang stabilitas politik kolonial.

Bersama keluarga kerajaan Bangli, K’tut sempat membangun sebuah hotel kecil di pesisir pantai Kuta yang masih sunyi. Nama hotel itu indah: Suara Samudra. Itulah hotel pertama yang berdiri di tepi pantai Kuta. Jauh sebelum Kuta dipadati kafe remang-remang, kemacetan ugal-ugalan, atau turis-turis asing yang mabuk kelapa muda. Dulu, di tangan K’tut Tantri, Kuta adalah ketenangan yang magis dan spiritual.

Namun, sejarah tidak mengizinkan K’tut Tantri bersenang-senang dalam kedamaian buatan.

Tahun 1942, badai perang Pasifik pecah. Bala tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang datang merangsek dengan bayonet terhunus dan senapan mesin. Kolonial Belanda yang selama ini angkuh, lari tunggang langgang bagai ayam kehilangan induk. Orang-orang Barat dievakuasi secara besar-besaran. Konsul Amerika memerintahkan K’tut Tantri untuk segera berkemas, naik ke kapal evakuasi terakhir. Nyawanya berada di ujung takdir.

Apa jawabannya? Dia menolak. Dengan ketegasan yang membuat para pejabat konsuler geleng-geleng kepala, dia menegaskan bahwa dirinya adalah orang Bali. Dia bukan lagi orang Amerika yang mencari suaka. Dia tidak akan pernah meninggalkan rumah dan keluarganya yang sedang diinjak-injak oleh penjajah baru.

Keputusan itu harus dibayar dengan harga yang teramat mahal. Sikapnya yang terang-terangan antipati terhadap fasisme Jepang, ditambah jaringannya dengan gerakan bawah tanah, membuat namanya masuk dalam daftar hitam Kempeitai—polisi militer Jepang yang terkenal tanpa ampun.

K’tut Tantri ditangkap. Dia dijebloskan ke dalam sel tahanan bawah tanah yang gelap, pengap, dan dipenuhi tikus. Di sanalah spiritualitas Tantri diuji sampai ke titik nadir. Bukan dengan yoga meditasi yang tenang di bawah bimbingan guru spiritual berwajah teduh, melainkan dengan siksaan fisik yang keji.

Selama lebih dari dua tahun, dia diinterogasi di bawah siraman lampu sorot yang panas. Tubuhnya didera, dipukul dengan popor senapan, dan dibiarkan kelaparan. Berat badannya merosot drastis hingga tubuhnya kurus kering bagai tengkorak berjalan yang dibalut kulit. Berkali-kali dia pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Berkali-kali maut mengintip dari balik jeruji besinya.

Namun, entah terbuat dari baja apa mental perempuan jebolan Hollywood Boulevard ini. Dia menolak mati di tangan Kempeitai. Dia bertahan, terus bertahan, memelihara sisa api di dadanya hingga bom atom jatuh di Hiroshima dan Sekutu memaksa Jepang bertekuk lutut pada Agustus 1945.

Ketika pintu penjara terbuka, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. K’tut keluar dengan tubuh yang ringkih dan pincang, tetapi jiwanya justru melompat bebas. Alih-alih mencari kapal medis untuk pulang ke Amerika demi memulihkan trauma psikisnya, dia justru melihat fajar menyingsing dari sebuah bangsa baru yang sedang lahir.

Mendengar kabar bahwa tentara Inggris dan Belanda (NICA) hendak mendarat kembali untuk merebut tanah merdeka ini, nalar jurnalisme dan keberpihakan ideologis Tantri langsung menyala. Pilihan hidupnya mutlak: dia memilih membela Republik Indonesia.

Tantri nekat menyeberang ke Jawa Timur, membelah barikade militer menuju Surabaya. Kota itu sedang mendidih, bersiap menghadapi pertempuran paling berdarah dalam sejarah modernnya. Di sanalah dia bertemu dengan seorang pemuda kurus berambut ikal dengan sorot mata laksana elang, yang jikalau berpidato mampu menggerakkan puluhan ribu massa: Bung Tomo.

Bagai gayung bersambut, Bung Tomo sadar betul dengan aset berharga yang berdiri di hadapannya. Wanita ini punya modal besar yang tidak dimiliki pejuang lokal mana pun: dia fasih berbahasa Inggris dengan aksen internasional, paham cara kerja psikologi publik Barat, dan menguasai dramaturgi informasi ala Hollywood. Bung Tomo langsung menempatkannya di jantung pertahanan opini: Radio Pemberontakan.

Tugas K’tut Tantri sangat spesifik: mengudara dalam bahasa Inggris.

Setiap malam, di tengah kepulan asap mesiu, dentuman meriam kapal perang Inggris di Tanjung Perak, dan pekik takbir arek-arek Surabaya, suara lantang K’tut Tantri membelah frekuensi radio udara internasional. Lewat mikrofon sederhana itu, dia menelanjangi kemunafikan tentara Sekutu yang mengklaim diri sebagai pembawa perdamaian namun menembaki rakyat sipil. Dia teriakkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah merdeka, dan rakyatnya lebih memilih mati berkalang tanah daripada dijajah kembali.

Dunia internasional gempar. Markas besar Sekutu di Singapura bingung setengah mati. Siapa perempuan misterius di kubu ekstremis Indonesia ini? Pers Barat yang frustrasi melacak identitasnya kemudian menjulukinya "Surabaya Sue". Sebuah nama yang menebar perang urat saraf yang luar biasa efektif menandingi propaganda resmi Belanda.

Kehebatan suara Tantri sampai ke telinga Presiden Soekarno. Bung Karno yang tahu pentingnya diplomasi internasional segera menarik K’tut Tantri ke ibu kota perjuangan di Yogyakarta. Di sana, dia ditugaskan di kamar gelap redaksi kepresidenan. Tugasnya adalah menerjemahkan pidato-pidato berapi-api Bung Karno ke dalam bahasa Inggris yang bernas, agar bisa dikonsumsi oleh koresponden asing dan dibawa langsung ke meja sidang Dewan Keamanan PBB.

Perannya tidak berhenti di belakang meja komunikasi. Jiwa petualangannya menuntut aksi yang lebih berbahaya: dia menjadi agen rahasia dan penyelundup ulung Republik. Dengan modal paspor tiruan, samaran yang matang, serta kecerdikannya mengeksploitasi identitas ras kulit putihnya, K’tut Tantri berkali-kali menembus barikade dan blokade ketat kapal-kapal perang Belanda di Selat Malaka.

Dia menyelundup ke Singapura, lalu terbang ke Australia. Misinya berat: membawa dokumen rahasia negara, mencari sumber pendanaan senjata, dan menggalang solidaritas internasional. Di Australia, Tantri mendatangi pelabuhan-pelabuhan, menemui para aktivis buruh dan pelaut lokal. Dia menceritakan kekejaman Belanda di Indonesia dengan begitu dramatis. Hasilnya dahsyat: para pelaut Australia menggelar aksi mogok massal, memboikot total seluruh kapal perang dan logistik militer Belanda yang hendak berlayar menuju Indonesia. Sebuah pukulan telak bagi militer Belanda.

Ketika kedaulatan Indonesia akhirnya diakui dunia pada tahun 1949, K’tut Tantri tidak meminta jabatan menteri atau konsesi tanah. Tahun 1960, dia menerbitkan memoar hidupnya yang legendaris, Revolt in Paradise, yang di Indonesia diterjemahkan menjadi Revolusi di Nusa Damai. Buku itu laris manis, diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa, dan menjadi salah satu rujukan populer dunia mengenai perang kemerdekaan Indonesia.

Tentu saja, setelah buku itu meledak, para sejarawan akademis Barat mulai melontarkan kritik sinis. Mereka menuduh K’tut Tantri mengidap mitomania—penyakit psikologis suka membual dan membesarkan peran sendiri. Mereka meragukan kebenaran apakah dia benar-benar sedekat itu dengan Bung Karno, atau apakah adegan-adegan spionasenya tidak terlalu didramatisasi mirip skenario film Hollywood.

Bagi saya, perdebatan akademis itu kering dan tidak penting-penting amat. Mau dia membumbui ceritanya atau tidak, satu fakta sejarah yang kokoh dan tidak bisa didebat oleh siapa pun: suaranya nyata pernah mengudara di Radio Pemberontakan Surabaya. Keberpihakannya pada Republik Indonesia di masa-masa paling kritis dan berdarah adalah kebenaran yang mutlak. Dia mempertaruhkan lehernya di tiang gantungan demi sebuah bangsa yang bahkan tidak tercantum dalam akta kelahirannya.

Itulah batas tegas yang memisahkan K’tut Tantri dengan komodifikasi spiritual modern ala Eat, Pray, Love.

Generasi pelancong spiritual modern datang ke Bali untuk mengambil. Mereka mengambil ketenangan alamnya, mengeksploitasi eksotisme budayanya, dan memanen foto-foto estetik demi kepuasan ego pribadi. Setelah batin mereka yang manja itu merasa sembuh, mereka berkemas, naik pesawat kelas bisnis, lalu pulang ke kenyamanan negara Barat mereka yang kapitalistik.

K’tut Tantri sebaliknya. Dia datang ke Bali, melepas seluruh egonya, dan memilih untuk memberi. Dia memberikan kemapanan Hollywood-nya, memberikan keahliannya, mengorbankan kesehatan fisiknya di dalam penjara fasis, dan menyerahkan sisa hidupnya untuk membela martabat kemainan bangsa Indonesia yang sedang dizalimi.

Namun sejarah sering kali bersikap kejam kepada para martirnya. Akhir kisah hidup K’tut Tantri justru berjalan antiklimaks. Teramat sunyi.

Setelah badai revolusi mereda dan Jakarta mulai sibuk dengan perebutan kursi kekuasaan serta proyek pembangunan fisik, sosok perempuan eksentrik ini perlahan-lahan terpinggirkan dan dilupakan. Masa tuanya dihabiskan dalam kesendirian yang pekat di sebuah panti jompo sederhana di Sydney, Australia. Tanpa tunjangan pahlawan, tanpa sorot lampu kamera, jauh dari hiruk-pikuk kekuasaan Jakarta, dan jauh dari pelukan hangat tanah Bali yang sangat dia rindukan.

Dia mengembusen napas terakhirnya pada 27 Juli 1997 dalam usia yang sangat sepuh, 99 tahun. Hampir genap satu abad jalan sunyi yang dia tempuh.

Namun, sebelum mata tuanya tertutup untuk selamanya, K’tut Tantri meninggalkan sebuah wasiat terakhir yang menggetarkan. Dia memohon agar jenazahnya dikremasi dengan upacara adat Ngaben Bali, dan seluruh sisa abunya dilarung ke tengah ombak laut Bali.

Permintaan terakhir itu dikabulkan oleh para sahabatnya. Abunya kini telah larut, menyatu dengan buih ombak di pantai Nusa Damai. Dia telah pulang ke satu-satunya rumah yang dia akui dalam hidupnya.

Dari jejak Tantri kita disodori sebuah cermin refleksi yang menohok nalar: bahwa nasionalisme sejati itu tidak pernah ditentukan oleh selembar kertas paspor, warna kulit, atau di mana ari-arimu ditanam oleh ibumu. Nasionalisme, pada tingkatannya yang paling radikal dan suci, adalah soal ke mana hatimu kau serahkan ketika sebuah bangsa sedang berjuang melawan ketidakadilan.

K’tut Tantri telah menyerahkan seluruh tarikan napas dan detak jantungnya untuk Indonesia. Seorang perempuan yang terlahir di tengah gemerlap Hollywood Boulevard, namun memilih takdir untuk mati sebagai seorang manusia Bali merdeka. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.