Tirai Ilusi
KADANG, kebenaran itu justru datang dari sebuah fiksi.
Itu yang saya rasakan setelah tuntas menonton film The King (2017). Film lawas asal Korea Selatan yang digarap apik oleh Han Jae-rim.
Begitu layar gawai saya matikan, keheningan malam justru membuat kepala saya bising. Pikiran saya mengembara ke dunia nyata. Ke sekeliling kita.
Film ini menyoroti kehidupan para jaksa elit di Seoul. Mereka rapi, berjas mahal, dan berdasi merek terkenal. Tapi itu hanya bungkus.
Di balik meja kerja mereka yang mengilat, ada satu ruangan rahasia. Isinya mengejutkan: bukan tumpukan kitab hukum, melainkan tumpukan dosa. Dosa siapa? Dosa para selebriti. Dosa para politisi oposisi. Dosa siapa saja yang punya nama besar.
Semua dikumpulkan. Dijadikan satu berkas.
Sutradara Han Jae-rim sangat jeli. Dia tidak memakai metafora yang rumit. Dia tunjukkan langsung prosesnya. Ada rapatnya. Ada kalkulasinya.
Melalui karakter Han Kang-shik—diperankan dengan sangat dingin dan karismatik oleh aktor senior Jung Woo-sung—kita melihat bagaimana kekuasaan bekerja. Han Kang-shik adalah kepala jaksa bertangan besi. Dia "Raja" tanpa mahkota.
Di bawahnya ada Yang Dong-chul (Bae Seong-woo), jaksa senior yang lincah bergerak di zona abu-abu.
Lalu ada Park Tae-soo (diperankan oleh Jo In-sung). Dia tokoh utamanya. Anak muda dari keluarga miskin. Mantan berandalan. Dia belajar mati-matian hanya untuk satu tujuan: meraih kekuasaan.
Mengapa? Karena sejak kecil dia melihat ayahnya yang jago berantem justru berlutut ditampar jaksa. Di mata Tae-soo, hukum adalah kasta tertinggi. Dia mendaki tangga kekuasaan dengan cepat. Caranya? Dengan menggadaikan idealisme sejak langkah pertama.
Di sinilah letak ngerinya. Tumpukan berkas skandal di ruangan rahasia itu tidak digunakan untuk menegakkan keadilan. Sama sekali bukan. Berkas-berkas itu disimpan rapi di dalam lemari besi. Dikunci rapat. Mereka menyebutnya sebagai "tabungan".
Kapan tabungan itu dibuka? Nanti. Saat posisi para jaksa elit itu terancam. Saat borok korupsi mereka sendiri mulai dicium oleh publik. Saat angin politik berembus kencang ke arah mereka. Saat kursi nyaman mereka mulai digoyang.
Begitu skandal sang jaksa mau meledak, tombol darurat ditekan. Lemari besi dibuka.
Satu berkas skandal artis top berselingkuh atau memakai narkoba dilempar ke meja redaksi media. Boom! Publik langsung heboh. Jagat maya gempar. Netizen sibuk menghujat sang artis. Berhari-hari. Berpindah dari satu utas ke utas lain.
Lalu, apa yang terjadi dengan skandal korupsi sang jaksa? Hilang. Menguap. Terkubur oleh riuhnya berita hiburan. Masyarakat langsung terkena amnesia massal dalam semalam.
Itulah tirai ilusi. Sebuah tirai yang sengaja dibentangkan di depan mata masyarakat. Tujuannya satu: agar kita semua melihat apa yang mereka ingin kita lihat. Bukan apa yang seharusnya kita lihat.
Kita dipaksa menoleh ke kanan, padahal tabrakan sesungguhnya terjadi di sebelah kiri.
Dalam ilmu komunikasi, ini makanan sehari-hari. Namanya teori agenda setting. Media punya kekuatan untuk menentukan apa yang penting dan apa yang tidak penting di otak pemirsa.
Cilakanya, dalam film The King, yang memegang kendali remote control media itu bukan pemimpin redaksi berita. Melainkan para kingmaker di korps kejaksaan. Merekalah sutradara informasi yang sesungguhnya.
Semua dihitung layaknya pedagang di pasar saham. Berapa hari isu artis ini bisa bertahan? Apakah cukup untuk meredam isu pemilihan presiden? Manusia dan harga dirinya hanya menjadi angka-angka komoditas politik.
Bahkan kematian dan darah pun bisa dikalkulasi. Tengok saja bagaimana nasib Choi Doo-il (diperankan dengan sangat apik oleh Ryu Jun-yeol). Dia sahabat masa kecil Tae-soo. Tapi garis hidup membawanya menjadi bos gangster.
Doo-il bergerak di dunia bawah. Tugasnya membereskan urusan kotor yang tidak bisa disentuh oleh hukum formal. Dia tangan kanan yang berlumuran darah.
Namun saat ekosistem politik berubah, dia pun dikorbankan tanpa kedipan mata. Persahabatan runtuh di hadapan syahwat kekuasaan.
Saya duduk termenung di depan cangkir kopi yang sudah dingin. Pikiran saya kian liar. Bukankah pola seperti ini terasa sangat akrab? Sangat dekat dengan keseharian kita?
Kita sering kali merasa menjadi masyarakat yang paling tahu segalanya. Kita punya ponsel pintar di genggaman. Kita punya akses internet 24 jam penuh. Kita merasa bebas memilih informasi apa saja yang mau dibaca.
Namun, benarkah kita benar-benar bebas? Atau, jangan-jangan, kita ini hanya seperti penonton sirkus? Yang pandangannya diarahkan sepenuhnya oleh lampu sorot sang pawang?
Ketika perhatian kita beralih ke perdebatan yang sengit di media sosial tentang hal-hal yang remeh, di saat yang sama, ada kebijakan besar yang sedang disahkan diam-diam.
Ketika kita sibuk menonton drama kehidupan seorang influencer, ada anggaran triliunan rupiah yang sedang dibagi-bagi di ruang gelap. Kita sibuk bertengkar tentang kulit luar, sementara isinya sudah habis dikerogoti.
Tirai ilusi ini bekerja dengan sangat rapi karena memanfaatkan sifat dasar manusia: menyukai sensasi.
Korupsi sistemik itu menjemukan. Rumit. Deretan angka kerugian negara bikin pening. Tapi perselingkuhan artis? Renyah. Asyik dikunyah bersama secangkir kopi di pagi hari.
Para penguasa hitam tahu betul psikologi massa ini. Mereka memanjakan rasa ingin tahu kita yang dangkal, demi menutupi agenda mereka yang dalam.
Kita diberi umpan remah-remah, agar kita lupa bahwa jatah roti besar kita sedang dijarah.
Di film itu, Park Tae-soo akhirnya tersadar. Dia bangun dari mimpi panjangnya. Dia sadar bahwa dia telah menjadi bagian dari mesin ilusi yang merusak negaranya sendiri. Dia dikhianati oleh sistem yang dia puja habis-habisan.
Dan menariknya, cara dia membalas dendam juga menggunakan media. Dia balik menyerang dengan membuka tirai itu lebar-lebar. Dia telanjangi para mentornya di depan kamera.
Dia beralih dari jubah jaksa menuju panggung politik untuk meruntuhkan dinasti Han Kang-shik. Dia gunakan senjata yang sama untuk menghancurkan sang pencipta senjata.
Nonton film berdurasi 134 menit ini membuat kita sadar satu hal: menjadi pembaca yang cerdas itu berat. Sungguh berat.
Kita tidak boleh hanya menelan apa yang disajikan di piring media. Kita harus selalu bertanya. Mengapa berita ini muncul sekarang? Ada isu apa di balik isu ini? Siapa yang paling diuntungkan dari kehebohan ini? Mengapa netizen mendadak diarahkan ke satu titik yang sama?
Jika kita malas berpikir kritis, kita akan selamanya menjadi figuran. Menjadi penonton bayaran dalam skenario yang ditulis oleh para elit. Kita akan terus menari dan bersorak di atas panggung ilusi yang mereka ciptakan.
Film ini sebenarnya adalah cermin besar yang diletakkan di depan muka kita. Han Jae-rim mengemasnya dengan gaya penceritaan yang cepat, bertenaga, penuh satir, dan humor gelap. Mengingatkan kita pada gaya Martin Scorsese dalam The Wolf of Wall Street.
Kalimatnya staccato. Ritmenya cepat. Penonton tidak diberi ruang untuk mengantuk atau sekadar mengambil napas panjang.
Kita diajak tertawa melihat kebobrokan, lalu sedetik kemudian terdiam. Mengapa terdiam? Karena kita sadar kebobrokan itu nyata terjadi di sekitar kita. Bukan sekadar fiksi di layar gawai.
The King sukses besar di Korea Selatan dengan meraup lebih dari 5,3 juta penonton. Mengapa bisa selaris itu?
Karena rakyat di sana merasa film itu sedang membicarakan diri mereka sendiri. Film itu adalah potret sejarah politik Korea dari era 1980-an hingga 2000-an. Melewati masa-masa kediktatoran militer yang kejam hingga era reformasi yang penuh intrik politik tingkat tinggi.
Rakyat menonton sejarah mereka yang dikencingi oleh segelintir elit.
Pada bagian akhir, film ini ditutup dengan sebuah open ending yang sangat kuat. Park Tae-soo berdiri di depan kamera. Dia menatap langsung ke arah mata penonton. Seolah menembus layar.
Lalu narasi terakhirnya menembak tepat di dahi kita: "Apakah aku menang atau kalah? Itu tergantung pilihanmu."
Sebuah penegasan yang telak. Sekotor apa pun elite bermanuver di ruang-ruang gelap, pada akhirnya penentu arah sebuah bangsa tetap berada di tangan masyarakat yang melek informasi.
Rem kendali itu ada pada kita. Bukan pada mereka yang dasinya mahal.
Maka, tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi mencari informasi. Informasi sudah banjir bandang. Bahkan sudah berubah menjadi polusi yang menyumbat nalar.
Tantangan kita adalah menyibak tirai ilusi itu. Berani melihat melampaui riuhnya berita viral. Mencari kebenaran yang sengit di balik drama yang sengaja dipentaskan dengan rapi.
Sebab, di bilik suara atau di depan layar gawai, kitalah penentu akhirnya. Kitalah pemilik panggung yang sebenarnya.
Jika kita terus-menerus membiarkan mata ditutupi oleh tirai ilusi, maka sejatinya kita sedang menyerahkan leher untuk dituntun oleh para sutradara kekuasaan. Kita sukarela menjadi kerbau yang dicocok hidungnya.
Dan itu, sungguh, adalah sebuah tragedi demokrasi yang paling sunyi. Tragedi di mana rakyatnya merasa merdeka, padahal pikirannya sedang dipenjara di balik tirai yang mereka ciptakan sendiri.
Malam makin larut, kopi saya sudah habis, tapi ingatan tentang The King masih terus mengetuk nalar. Kita harus tetap terjaga. (*)
Menot Sukadana