Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Jubah Tanggal

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Juni 2026 • 08:30:00 WITA

Jubah Tanggal
Menot Sukadana (vector/ai)

HEBAT betul jadi orang terkenal itu. Ke mana-mana dikawal ketat. Pakai baju apa saja langsung jadi bahan omongan seminggu suntuk.

Mau makan di restoran pun repot. Tempatnya harus disterilkan dulu. Oleh tim protokol.

Tapi, benarkah mereka bahagia? Dengan segala barikade itu?

Tanyakan itu pada Andrew Garfield. Bintang Hollywood papan atas. Pemeran utama The Amazing Spider-Man. Kurang terkenal apa lagi dia?

Di Los Angeles, wajahnya adalah target utama. Menjadi buruan moncong kamera paparazzi yang lapar. Di London, dia tidak bisa melangkah keluar pintu rumah. Harus selalu memakai jubah bernama kemewahan.

Hidupnya terjebak. Dalam sangkar emas bernama popularitas.

Lalu, tengoklah apa yang terjadi di Bali. Begitu ia menginjakkan kaki di sana. Jubah ketenaran itu mendadak lepas. Tanggal.

Jagat media sosial sempat heboh luar biasa. Khususnya di X dan Instagram. Netizen lokal berulang kali mengunggah foto-fotonya. Saat Garfield sedang beredar di jalanan Bali.

Tapi, jangan bayangkan dia sedang berada di atas karpet merah. Tidak ada tuksedo mahal di sana. Bukan rancangan desainer ternama dunia.

Garfield tertangkap kamera sedang santai. Naik sepeda motor matic. Di jalanan aspal Bali. Tanpa kawalan ajudan bertubuh kekar.

Ia bahkan bertelanjang dada. Rambutnya acak-acakan. Terkena sapuan angin Bali. Hanya mengenakan celana pendek.

Di foto lain yang beredar luas, ia tampak tersenyum begitu ramah. Sembari memegang kelapa muda. Ia melayani ajakan foto bersama warga lokal di tepi pantai.

Sang Spider-Man merayakan ulang tahunnya di Bali. Dengan sangat membumi. Ia melebur. Menjelma menjadi turis ranselan biasa. Yang sedang menikmati kebebasan.

Ada lagi kisah Gerard Butler. Aktor laga legendaris Hollywood. Bertubuh kekar. Pemeran Raja Leonidas dalam film kolosal 300.

Saat liburan Tahun Baru, Butler memutuskan terbang ke Bali. Potongan videonya mendadak viral di TikTok.

Apakah dia berjalan dikelilingi pagar betis? Pengawal berwajah sangar?

Sama sekali tidak.

Butler terlihat begitu santai. Berjalan kaki menyusuri trotoar jalanan Bali. Bersama seorang rekannya.

Pakaiannya kasual. Sangat sederhana. Jauh dari kesan glamor industri perfilman dunia.

Ketika beberapa penggemar lokal mengenali wajahnya, mereka menyapa. Butler tidak menghindar. Dia justru berhenti.

Ia memberikan senyuman lebar. Senyum yang tulus. Bahkan merangkul hangat penggemarnya berkali-kali. Sebelum melanjutkan perjalanan.

Tanpa sekat protokoler. Tanpa kepura-puraan industri hiburan.

Mengapa Bali memiliki daya magis yang begini luar biasa? Mengapa aturan ketat itu mendadak menguap? Mengapa gengsi duniawi itu tanggal begitu saja ketika kaki menyentuh tanah Bali?

Jawabannya bukan sekadar pada keindahan alamnya. Melainkan ada pada masyarakatnya. Pada budayanya.

Orang Bali punya cara pandang unik. Terhadap manusia.

Di depan adat dan ritual yang masif, status duniawi itu kerdil. Mendadak kerdil.

Bagi warga lokal, seberapa pun besarnya nama Anda di Hollywood—bahkan pemenang Oscar sekalipun—Anda tetaplah seorang tamu. Kultur Bali mengajarkan ketenangan. Menyambut tamu tidak dengan histeria yang meledak-ledak. Tidak mengonfrontasi mereka demi konten. Mereka menghormati privasi.

Ada semacam kesepakatan tidak tertulis. Sangat elegan di sana: "Kami tahu siapa Anda. Tapi di sini, silakan nikmati ruang Anda. Sebagai manusia biasa."

Sikap acuh yang penuh hormat (respectful indifference) inilah yang sangat mahal harganya. Sikap ini memberikan rasa aman yang luar biasa. Bagi para pesohor dunia.

Mereka tidak perlu takut diserbu kerumunan massa yang histeris. Saat hanya ingin menikmati secangkir kopi pagi. Di kedai kecil pinggir jalan.

Ketertarikan yang muncul dari warga lokal biasanya hangat. Namun tetap berjarak. Menyisakan ruang bagi sang bintang untuk bernapas bebas. Tanpa kamera yang terus mengintai di balik semak.

Tengok juga potongan momen digital masa lalu. Melibatkan pasangan emas Hollywood, Ashton Kutcher dan Mila Kunis.

Mereka pernah terekam kamera sedang berjalan santai. Di sebuah bandara dan sudut jalanan Bali. Tanpa kawalan ketat. Tanpa pakaian bermerek.

Hanya kaus oblong longgar. Celana kain santai. Topi fedora sederhana. Sembari bergandengan tangan dengan senyum lepas.

Di Bali, mereka tampak tak berbeda dengan sepasang pelancong. Yang sedang mencari penginapan murah.

Atau ingatkah kita saat legenda sepak bola dunia, David Beckham, memboyong keluarganya ke Bali?

Di sela-sela liburannya, ia mengunggah foto bertelanjang dada. Duduk santai di atas motor matic. Menjulurkan lidah dengan jenaka bersama anak-anaknya. Di depan sebuah air terjun alami.

Pria yang biasanya mengenakan setelan jas bernilai ribuan dolar di tribun VIP stadion Eropa itu mendadak berubah. Menjelma menjadi seorang ayah biasa. Yang sedang menikmati sore yang gerah bersama keluarga.

Sosialita sekelas Paris Hilton pun setali tiga uang. Wanita yang lekat dengan kemewahan ekstrem ini terekam kamera netizen lokal. Sedang asyik bermain air dan berjalan kaki di kawasan Seminyak.

Menggunakan pakaian pantai kasual, ia tampak sangat rileks. Menikmati harinya tanpa beban sorotan lampu kilat.

Fenomena luar biasa ini tidak hanya terjadi pada pesohor internasional. Coba lihat pesohor nasional kita.

Di Jakarta, seorang menteri, pejabat tinggi, atau artis papan atas harus selalu tampil prima. Dikawal ajudan. Harus menjaga wibawa sedemikian rupa. Demi menjaga citra publik.

Begitu kakinya menginjak tanah Bali, jubah protokoler yang kaku itu langsung tanggal.

Mereka bisa dengan santai melipir ke warung ayam betutu di pinggir jalan. Duduk di atas kursi plastik. Atau mengantre gelato di kawasan sempit Canggu.

Mereka hanya mengenakan celana pendek. Dan sandal jepit. Membaur bersama aroma dupa dan semilir angin pantai.

Bahkan, saking candunya dengan kemewahan menjadi "orang biasa" ini, banyak artis ibu kota yang akhirnya memutuskan untuk berhenti. Berhenti sekadar menjadi turis.

Mereka memilih pindah rumah. Menetap secara permanen di Bali. Demi mengejar ketenangan hidup yang sejati.

Lihatlah Tamara Bleszynski. Di Jakarta, era 90-an hingga 2000-an, dia adalah ratu sinetron nomor satu Indonesia. Wajahnya eksklusif. Hidupnya dipenuhi lampu sorot.

Begitu pindah dan menetap di Bali, jubah keartisannya disimpan rapat-rapat. Di dalam lemari.

Selama bertahun-tahun, ia memilih membuka warung makan sederhana. Bernuansa merakyat. Diberi nama Warung Teh Manis di kawasan Batu Mejan, Canggu.

Di warung itu, Tamara menjelma menjadi orang biasa.

Ia mengenakan kaus oblong putih. Dan apron celemek. Ikut gerah di dapur. Berdiri langsung di balik etalase kaca untuk melayani pembeli. Yang mengantre makanan rumahan.

Ia menikmati belanja ke pasar tradisional. Tanpa beban kepura-puraan. Di Bali, dia merayakan kebebasan terbesarnya sebagai manusia.

Ada lagi kisah Dahlia Poland. Artis muda yang memilih membangun kehidupan membumi di Bali bersama anak-anaknya.

Jauh dari gaya hidup glamor dan sosialita artis metropolitan Jakarta, Dahlia di Bali dikenal sangat mandiri. Ia mengurus ketiga buah hatinya sendiri. Memasak. Mengelola rumah tangga. Tanpa ketergantungan pada barisan asisten rumah tangga atau babysitter.

Hidupnya di Bali fokus pada hal-hal yang esensial. Membesarkan anak dengan penuh kasih sayang. Di tengah lingkungan alam yang asri dan tenang.

Begitu pula dengan pasangan Nana Mirdad dan Andrew White. Atau Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion.

Mereka membangun rumah. Menetap di Bali. Dan menjalani rutinitas yang sangat organik.

Bersepeda di jalanan desa. Lari pagi menyusuri pematang sawah. Mengantar anak sekolah sendiri. Dan mengopi di kedai kecil lokal. Tanpa sekat pembatas bernama status selebritas.

Pada akhirnya, apa sebenarnya yang dicari oleh manusia? Ketika mereka sudah memiliki segalanya di dunia ini?

Kemewahan materi tentu bukan lagi jawabannya. Rumah megah, mobil sport, atau pakaian desainer tidak lagi mempan. Mereka sudah kenyang. Dan lelah dengan itu semua.

Hal yang paling mewah bagi seorang publik figur adalah anonymity. Hak dan kebebasan untuk menjadi tidak terkenal. Walau hanya untuk beberapa hari saja.

Kemampuan untuk bisa berjalan kaki di bawah terik matahari. Merasakan embus angin pantai. Mendengarkan gemercik air terjun. Tanpa harus memikirkan sudut kamera atau penilaian orang lain di media sosial.

Itu adalah kemewahan kosmik tertinggi.

Bali menyediakan ruang jeda yang sangat berharga itu. Sebuah tempat sakral di mana mahkota popularitas yang berat itu bisa diletakkan sejenak. Di atas meja kamar hotel.

Lalu, pemiliknya bisa berjalan keluar pintu dengan kaki telanjang. Menghirup udara bebas sedalam-dalamnya. Dan tersenyum lebar.

Karena menyadari satu hal yang sudah lama hilang dari hidup mereka: mereka akhirnya bisa kembali menjadi orang biasa. Saat jubah kemewahan itu sudah benar-benar tanggal. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.