Podiumnews.com / Aktual / Kesehatan

Konsumsi Susu Indonesia Baru Satu Sendok Sehari

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Juni 2026 • 18:15:00 WITA

Konsumsi Susu Indonesia Baru Satu Sendok Sehari
Ilustrasi segelas susu. Pemerintah mengungkap konsumsi susu masyarakat Indonesia baru setara sekitar satu sendok per orang setiap hari. (podiumnews)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com – Pemerintah mengungkapkan konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini masih sangat rendah, yakni hanya setara sekitar satu sendok per orang setiap hari. Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan serius dalam upaya membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengatakan konsumsi susu nasional saat ini baru berada pada kisaran 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah rekomendasi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) yang mencapai 30 liter per kapita per tahun.

"Kalau dibagi per hari, konsumsi susu kita hanya sekitar satu sendok per orang. Ini jauh dari kebutuhan ideal tubuh," ujar Hanif dalam peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 bertema "Dengan Susu, Generasi Kuat, Indonesia Hebat!" di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, rendahnya konsumsi susu harus menjadi perhatian serius karena susu merupakan sumber gizi penting yang mengandung protein, kalsium, kalium, serta berbagai vitamin dan mineral yang berperan dalam pembentukan tulang, perkembangan otak, dan peningkatan kualitas metabolisme tubuh.

Hanif menegaskan, peringatan Hari Susu Nusantara tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan momentum evaluasi nasional untuk memperkuat sektor persusuan dari hulu hingga hilir.

"Peringatan ini tidak boleh dimaknai hanya sebagai seremoni. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama untuk membangun sektor persusuan nasional," katanya.

Ia menjelaskan, peningkatan konsumsi susu berkaitan langsung dengan kesiapan Indonesia memanfaatkan bonus demografi. Saat ini sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif, sedangkan sekitar 24 persen merupakan generasi muda berusia di bawah 14 tahun.

"Kita tidak bisa berbicara tentang Indonesia Emas 2045 jika ketahanan sumber daya manusianya tidak dibangun dari sekarang," tegas Hanif.

Selain rendahnya konsumsi, pemerintah juga menyoroti tingginya ketergantungan terhadap pasokan susu dari luar negeri. Saat ini sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.

Menurut Hanif, kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik dan gangguan rantai pasok global.

"Ketika geopolitik global terganggu dan pasokan terhenti, dampaknya langsung terasa. Karena itu, ketahanan pangan, termasuk susu, tidak bisa ditunda lagi," ujarnya.

Pemerintah pun mempercepat pembangunan kemandirian susu nasional melalui penguatan peternakan sapi perah lokal, peningkatan kualitas bibit, perbaikan produktivitas, serta pengembangan ternak yang lebih adaptif terhadap iklim tropis Indonesia.

Pada sektor hilir, pemerintah mendorong industri pengolahan susu memperkuat kemitraan dengan peternak lokal agar rantai pasok lebih efisien sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

Hanif juga mengajak seluruh pihak memperluas edukasi dan kampanye konsumsi susu secara berkelanjutan.

"Kalau hari ini satu sendok, minimal tahun depan harus naik menjadi dua sendok, lalu terus meningkat secara bertahap. Semua membutuhkan proses," katanya.

Menurutnya, momentum bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini tidak boleh disia-siakan. Penguatan konsumsi susu dan pembangunan kemandirian persusuan nasional menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang sehat, kuat, dan mampu menopang pembangunan jangka panjang.

"Kesempatan emas ini tidak datang dua kali. Kita harus menyiapkan generasi yang sehat dan kuat dari sekarang," ujar Hanif.

(sukadana)

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.