Mitos Surga
BALI itu indah. Tapi Bali itu fiksi. Setidaknya, fiksi di kepala orang Barat. Hollywood yang memulainya. Mereka datang membawa kamera. Lalu pulang membawa mitos. Mitos tentang surga terakhir yang beku oleh waktu.
Mari kita lacak sejarahnya. Sejarah kata. Sejarah julukan.
Dunia mengenal Bali lewat banyak nama. The Island of Gods. Pulau Dewata. The Island of a Thousand Temples. Pulau Seribu Pura. Ada lagi yang paling ikonik: The Last Paradise. Surga Terakhir. Begitu megah. Begitu menghipnotis.
Pertanyaannya sederhana. Siapa yang membuat julukan itu? Orang Bali? Bukan. Pemerintah Indonesia? Jelas bukan. Yang membuat adalah para pelancong Barat. Para orientalis. Sineas Hollywood. Mereka membentuk cetak biru imajinasi dunia sejak era kolonial.
Semua bermula pada tahun 1930-an.
Tahun 1935 menjadi gerbang awal. Ada film bisu beredar di bioskop global. Judulnya eksotis: Legong: Dance of the Virgins. Sutradaranya Henri de La Falaise. Dia merekam Bali dengan teknik Technicolor awal. Warnanya mencolok. Visualnya memanjakan mata. Ada tarian sakral. Ada upacara ngaben yang kolosal. Ada potret eksotisme perempuan lokal bertelanjang dada.
Penonton di New York terkesima. Penonton di London terbelalak. Bagi mereka, ini bukan sekadar film biasa. Ini adalah penemuan sebuah benua kedamaian.
Barat saat itu sedang sakit. Mereka baru saja dihantam Depresi Besar ekonomi. Pabrik-pabrik tutup. Pengangguran merajalela. Jiwa masyarakatnya kering oleh industrialisasi. Ketika melihat Bali di layar lebar, mereka langsung mengambil kesimpulan instan. Bali adalah obat. Bali adalah tempat manusia hidup tanpa stres modern. Sawahnya hijau. Masyarakatnya tersenyum tulus. Selaras dengan alam. Mitos "Pulau Surga" pun lahir dari rahim pelarian emosional tersebut.
Waktu berjalan terus. Zaman berubah. Perang dunia lewat. Perang kemerdekaan usai. Teknologi kamera makin canggih. Tetapi, cara Barat melihat Bali tidak pernah berubah. Sama sekali tidak berubah. Tetap stagnan.
Lompat ke tahun 1972. Datang film dokumenter selancar Morning of the Earth. Karya Albert Falzon. Sutradara Australia. Kali ini temanya olahraga air. Ombak murni di Uluwatu direkam. Tebing-tebing karang yang sepi dieksplorasi.
Dampaknya dahsyat. Bali langsung dicap sebagai "Mekah" peselancar dunia. Anak-muda Barat berambut gondrong datang berbondong-bondong membawa papan selancar. Mereka mencari kebebasan dari aturan kaku negara maju. Uluwatu yang sunyi mulai bising.
Lalu datang puncaknya pada tahun 2010. Puncak dari segala puncak romantisasi. Film Eat, Pray, Love.
Bintang utamanya Julia Roberts. Aktris nomor satu Hollywood. Plot ceritanya sangat egois—khas narasi Barat. Seorang wanita Amerika mengalami krisis paruh baya. Stres karena perceraian dan jenuh dengan kemewahan New York.
Dia pergi ke tiga tempat demi ego pribadinya. Italia untuk memanjakan lidah. India untuk menenangkan pikiran. Terakhir, Ubud di Bali menjadi pelabuhan untuk menemukan cinta sejati dan menyembuhkan luka batin. Film ini sukses besar dan meledak di seluruh dunia. Sawah berundak Tegalalang menjadi ikon global. Pantai Padang Padang penuh sesak.
Mari kita bedah secara sosiologis. Mengapa film-film ini bermasalah? Di mana letak mitosnya?
Fenomena ini disebut Orientalism. Ini istilah ilmiah dari teori Edward Said. Intinya: Barat selalu mengonstruksikan Timur sebagai wilayah yang eksotis, spiritual, mistis, namun pasif. Timur dianggap tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri sehingga harus dijelaskan oleh lensa Barat.
Lihat polanya dalam film Hollywood. Karakter utamanya selalu orang kulit putih. Mereka yang punya dinamika psikologis. Mereka yang berpikir keras. Mereka yang memegang kendali cerita.
Orang Bali hanya diletakkan sebagai dekorasi hidup. Menjadi latar belakang yang estetis. Menjadi figuran yang ramah membawa sesajen. Menjadi supir taksi yang jenaka. Menjadi peramal eksentrik seperti mendiang Ketut Liyer.
Dalam bingkai Hollywood, orang Bali tidak boleh memiliki masalah modern. Mereka seolah tidak pusing memikirkan cicilan bank. Mereka seolah tidak pernah frustrasi karena harga kebutuhan pokok yang naik. Mereka dianggap hidup dalam kapsul waktu yang abadi. Miskin, tradisional, tetapi diwajibkan selalu tersenyum demi memuaskan ekspektasi turis. Ini adalah bentuk penjinakan budaya yang kejam.
Dampaknya di lapangan sangat nyata. Mitos surga ini akhirnya memenjarakan Bali dalam ekspektasi global yang palsu. Bali dipaksa bersandiwara demi dolar.
Terjadilah komodifikasi budaya skala masif. Budaya spiritual yang sakral diubah menjadi komoditas dagangan. Tari Kecak dipotong durasinya agar pas dengan waktu makan malam turis di restoran. Ritual adat diatur jadwalnya mengikuti paket biro perjalanan. Kreativitas budaya tidak lagi tumbuh organik dari dalam pura, melainkan didikte oleh selera pasar internasional.
Nasib sawah-sawah di Ubud kini mengenaskan. Lahan hijau dipertahankan bukan lagi demi ketahanan pangan petani. Sawah beralih fungsi menjadi pajangan visual dan latar belakang foto Instagram. Petani menanam padi bukan lagi sekadar bertani. Mereka telah menjadi aktor di tanah mereka sendiri. Mereka memacul di bawah tontonan turis yang sedang meminum kopi latte di kafe mewah pinggir sawah.
Beban label The Last Paradise pun menjelma menjadi belenggu penahan kemajuan. Ketika Bali ingin membangun infrastruktur modern, komunitas global mengkritik karena dianggap merusak keaslian. Bali dipaksa untuk tetap tradisional agar orang Barat memiliki tempat pelarian saat mereka jenuh dengan modernitas negaranya.
Bahkan ketika Hollywood mencoba membuat film berlatar Bali modern, kemalasan industri itu tetap terlihat.
Lihat film Ticket to Paradise pada tahun 2022. Bintangnya George Clooney dan Julia Roberts. Plot cerita tentang pernikahan di Bali. Namun, proses syutingnya dilakukan di Queensland, Australia. Hollywood merasa cukup menjual nama dan ide tentang Bali tanpa perlu menginjakkan kaki di lanskap aslinya. Bagi industri global, Bali bukan lagi tempat nyata berisi manusia bernyawa, melainkan sekadar merek dagang yang bisa direplikasi di mana saja.
Mitos surga ini kini membentur dinding realitas yang keras. Bali di kehidupan nyata sedang menghadapi krisis akut yang tidak pernah ditampilkan dalam film fiksi Hollywood.
Kemacetan di kawasan Canggu dan Kuta Utara sudah berada di titik nadir. Jalanan sempit dikepung ribuan kendaraan setiap sore, menciptakan labirin polusi yang bising. Keadaan diperparah oleh krisis pengelolaan sampah pasca-pembatasan pembuangan limbah organik ke TPA Suwung. Di sudut-sudut jalan, bau semerbak dupa keagamaan yang sakral kini kerap kalah bersaing dengan bau tumpukan sampah dan asap pembakaran limbah domestik. Bali yang nyata sedang berjuang keras melawan polusi, alih fungsi lahan yang brutal, dan ketimpangan ekonomi.
Pariwisata memang mendatangkan berkah ekonomi yang luar biasa. Hotel megah dan restoran mewah membuka ratusan ribu lapangan kerja. Pendapatan daerah melonjak. Film Hollywood memberikan promosi gratis bernilai miliaran dolar.
Namun, berapa harga yang harus dibayar? Harganya terlalu mahal jika identitas, harga diri, dan kedaulatan sebuah masyarakat harus digadaikan demi pemuasan fantasi penonton bioskop global.
Masyarakat Bali bukan sekadar dekorasi panggung atau patung hidup penghias hotel berbintang. Mereka adalah subjek dinamis dan manusia modern yang memiliki aspirasi masa depan. Mereka memiliki hak mutlak untuk menguasai teknologi, maju secara ekonomi, dan mendefinisikan diri mereka sendiri tanpa perlu didikte oleh kamera asing.
Sudah saatnya narasi sinema ini dibalik secara total. Kreator lokal, sutradara Indonesia, dan seniman asli Bali harus mengambil alih panggung utama. Kita harus menampilkan Bali dengan segala kejujurannya.
Tampilkan Bali yang bangga dengan adat subak dan peninggalan leluhurnya. Tetapi tampilkan juga Bali yang hari ini sedang berjuang keras melawan tantangan nyata. Tantangan yang tidak pernah ada di film Julia Roberts. Tantangan seperti alih fungsi lahan yang brutal hingga masalah ketimpangan ekonomi antara pemodal besar dan warga lokal.
Bali yang nyata, dengan segala luka, keringat, dan perjuangan sosialnya, jauh lebih terhormat dan bermartabat. Dibandingkan hanya menjadi "surga palsu" yang beku dalam imajinasi layar lebar Hollywood.
Mitos surga itu indah di layar perak. Tapi realitas kehidupan harus dimenangkan di atas tanah sendiri. Bali harus tetap menjadi milik orang Bali, bukan menjadi milik imajinasi Barat yang memenjarakan. Masa depan Bali ditentukan oleh langkah kaki masyarakatnya sendiri, bukan oleh sudut pengambilan gambar kamera asing. (*)
Menot Sukadana