Penyakit Jantung Mulai Ancam Keselamatan Ibu Hamil
YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com – Penyakit jantung mulai muncul sebagai ancaman baru bagi keselamatan ibu hamil di Indonesia. Di tengah upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), para ahli mengingatkan bahwa kematian ibu kini tidak hanya disebabkan oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi, tetapi juga semakin dipengaruhi oleh penyakit penyerta yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Eugenius Phyowai Ganap, M.Kes., Sp.O.G., Subsp.Obginsos, mengatakan tren baru tersebut perlu menjadi perhatian serius dalam upaya menekan AKI di Indonesia.
“Sekarang mulai muncul tren peningkatan kematian akibat penyebab lain, misalnya penyakit jantung bawaan yang baru terdeteksi saat kehamilan,” ujar Phyowai, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, kasus penyakit jantung yang baru diketahui saat seorang perempuan memasuki masa kehamilan meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu dan janin. Kondisi tersebut dapat memperburuk proses kehamilan, terutama jika tidak terdeteksi sejak awal.
Phyowai menjelaskan bahwa saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih mencapai 144 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Meski menunjukkan perbaikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, angka tersebut masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang menetapkan AKI sebesar 70 per 100.000 kelahiran hidup.
“Artinya, dalam lima tahun ke depan kita masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai target tersebut,” katanya.
Ia menilai tingginya AKI tidak dapat dijelaskan hanya dari satu faktor. Selain ketersediaan tenaga kesehatan, dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai, sistem rujukan yang efektif, serta kemampuan deteksi dini terhadap berbagai faktor risiko kesehatan.
“Kita membutuhkan sistem kesehatan yang resilien. SDM yang baik tidak akan optimal apabila sarana-prasarana tidak memadai atau sistem rujukan tidak berjalan dengan baik. Selain itu, kemampuan deteksi dini juga menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya.
Untuk menekan risiko kematian akibat penyakit penyerta, Phyowai menekankan pentingnya penerapan pre-conception care atau pelayanan kesehatan sebelum kehamilan. Melalui pendekatan tersebut, perempuan dapat mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini sebelum merencanakan kehamilan.
“Idealnya, seorang perempuan memeriksakan kondisi kesehatannya terlebih dahulu sebelum merencanakan kehamilan agar berbagai faktor risiko dapat dideteksi dan ditangani sejak awal,” tegasnya.
Menurut Phyowai, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi, pemerataan layanan kesehatan, penguatan sistem rujukan, serta pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan menjadi langkah penting untuk menekan angka kematian ibu dan mencapai target SDGs 2030.
Ia berharap munculnya tren penyakit penyerta seperti gangguan jantung dapat menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat layanan kesehatan ibu sejak tahap perencanaan kehamilan, bukan hanya saat proses persalinan.
(sukadana)