Podiumnews.com / Khas / Warisan

Joged Gobleg Menyapa Zaman

Oleh Nyoman Sukadana • 15 Juni 2026 • 16:30:00 WITA

Joged Gobleg Menyapa Zaman
Penari Sanggar Seni Werdhi Suara dari Desa Gobleg menampilkan Joged Bumbung khas Buleleng era 1960-an pada PKB XLVIII Tahun 2026. (foto/sukadana)

SORE mulai merambat di Kalangan Madya Mandala Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Minggu (14/6/2026). Di tengah riuh Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, denting gamelan Joged Bumbung tiba-tiba membawa penonton melintasi lorong waktu. Irama yang mengalun bukan sekadar musik pengiring tari, melainkan gema kesenian Bali Utara yang pernah hidup dan berkembang pada era 1960-an.

Dari Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Sanggar Seni Werdhi Suara hadir sebagai Duta Kabupaten Buleleng dengan misi yang tidak sederhana. Mereka berupaya menghidupkan kembali karakter Joged Bumbung khas Denbukit yang perlahan mulai memudar ditelan zaman.

Gerak para penari tampak dinamis dan komunikatif. Sesekali senyum penari menyapa penonton, sementara alunan gamelan menghadirkan suasana riang yang menjadi ciri khas Joged Bumbung Bali Utara. Ratusan pasang mata yang memadati arena pertunjukan seolah diajak menyaksikan sebuah ingatan kolektif yang kembali bernyawa di atas panggung.

Penata Tabuh Sanggar Seni Werdhi Suara, Gede Nikolas Candra Wiadi, mengatakan proses tersebut berawal ketika pihaknya ditunjuk Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng sebagai duta daerah pada PKB 2026.

“Kami melakukan penggalian kembali terhadap kesenian Joged Bumbung khas Buleleng yang berkembang sejak era 1960-an. Proses revitalisasi dilakukan dengan melibatkan para seniman senior dan tokoh-tokoh yang masih memahami bentuk asli Joged Bumbung Buleleng,” ujarnya.

Bagi Nikolas dan rekan-rekannya, pertunjukan ini bukan semata penampilan seni. Mereka sedang merawat jejak budaya yang pernah menjadi identitas masyarakat Bali Utara.

Upaya itu dilakukan dengan menelusuri kembali gending-gending lama, pola gerak, hingga karakter pejogedan khas Denbukit yang dikenal dinamis dan hangat dalam berinteraksi dengan penonton.

Namun, mereka juga menyadari bahwa tradisi tidak bisa bertahan jika hanya dibekukan dalam romantisme masa lalu. Karena itu, sentuhan kreatif tetap dihadirkan tanpa meninggalkan akar tradisi.

Salah satunya melalui penggunaan alat musik genggong dan mandolin kuno yang dipadukan ke dalam komposisi pertunjukan.

“Generasi muda perlu diberikan ruang untuk berkreasi. Namun, inovasi yang dilakukan tetap berpijak pada akar tradisi agar identitas seni Joged Bumbung Buleleng tetap terjaga,” jelasnya.

Di balik penampilan yang memukau itu, ada cerita lain yang tak kalah menarik. Sebagian besar anggota Sanggar Seni Werdhi Suara merupakan pelajar, mahasiswa, dan pekerja yang berada di luar Desa Gobleg. Mereka hanya bisa berkumpul dan berlatih setiap akhir pekan.

Sejak April lalu, mereka secara konsisten meluangkan waktu untuk pulang, berkumpul, dan berlatih bersama demi mempersiapkan penampilan di PKB.

Bagi mereka, Joged Bumbung bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah warisan yang menghubungkan generasi muda dengan para leluhurnya.

Malam itu, di panggung PKB, Joged Bumbung era 1960-an tidak hanya kembali ditampilkan. Ia kembali menari, menyapa zaman, dan membuktikan bahwa warisan budaya akan tetap hidup ketika ada generasi yang bersedia merawat dan menghidupkannya kembali.

(sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.