Titik Nol dan Ingatan Kota
MENJELANG senja, langkah kaki mulai memenuhi Kawasan Heritage Titik Nol Singaraja. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang berolahraga, ada pula yang sekadar duduk menikmati matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Sesekali, kamera telepon genggam terangkat untuk mengabadikan latar bangunan tua dan ornamen singa yang kini menjadi penanda wajah baru pusat Kota Singaraja.
Namun, kawasan itu sesungguhnya menyimpan lebih dari sekadar ruang publik yang cantik.
Di tempat inilah sebuah kota sedang berusaha mengingat dirinya sendiri.
Penataan Kawasan Heritage Titik Nol Singaraja menjadi upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng untuk menghidupkan kembali jejak sejarah Kota Singaraja yang pernah berdiri sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di Bali Utara, bahkan menjadi ibu kota Sunda Kecil pada masanya.
Bupati Buleleng, dr I Nyoman Sutjidra, mengatakan kawasan tersebut dibangun bukan semata-mata untuk memperindah ruang kota, melainkan menghadirkan kembali memori sejarah yang melekat pada Kota Singaraja.
"Kawasan ini menyimpan banyak jejak sejarah yang sengaja kita hidupkan kembali melalui penataan kawasan heritage. Jadi yang kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujarnya saat meninjau kawasan tersebut, Kamis (18/6/2026).
Bagi Singaraja, sejarah bukan sesuatu yang berdiri di museum atau tersimpan dalam lembaran buku. Sejarah hidup dalam nama-nama jalan, bangunan tua, pelabuhan, hingga jejak perdagangan yang pernah menjadikan kota ini sebagai pintu gerbang Bali Utara.
Sebagai ibu kota Sunda Kecil pada era kolonial, Singaraja pernah menjadi pusat administrasi, pendidikan, perdagangan, dan pergerakan masyarakat di kawasan timur Indonesia. Berbagai bangsa pernah singgah dan meninggalkan pengaruh budaya yang masih dapat ditemukan hingga kini.
Melalui konsep heritage, identitas tersebut kini coba dihadirkan kembali.
Pemerintah daerah berharap ruang publik baru ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang belajar yang mempertemukan masyarakat dengan sejarah kotanya sendiri.
"Kami ingin kawasan ini menjadi ruang bersama bagi masyarakat. Tempat untuk beraktivitas, berinteraksi, menikmati suasana kota, sekaligus mengenal sejarah daerahnya sendiri," kata Sutjidra.
Harapan itu tampaknya mulai menemukan bentuknya.
Menjelang sore, kawasan yang berada di jantung Kota Singaraja tersebut dipadati warga. Anak-anak berlarian di ruang terbuka, mahasiswa berbincang di sudut taman, dan para pengunjung bergantian berfoto dengan latar bangunan bersejarah.
Eli, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), menjadi salah satu yang terkesan dengan perubahan tersebut.
Menurutnya, wajah pusat Kota Singaraja kini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
"Perubahan pembangunan di Kota Singaraja ini sangat luar biasa. Ini membuat interaksi sosial masyarakat lebih banyak di sini. Kami yang datang dari luar Bali sangat mengapresiasi hal ini," ujarnya.
Baginya, penataan kawasan tidak hanya membuat lingkungan kota menjadi lebih tertata dan nyaman, tetapi juga menghadirkan identitas baru yang tetap berpijak pada sejarah.
"Kalau dibandingkan dengan yang dulu tentu perbedaannya sangat mencolok. Sekarang lebih cantik, nyaman, dan cocok untuk menikmati suasana sore maupun berfoto," katanya.
Meski sebagian orang membandingkan suasana kawasan tersebut dengan beberapa ruang publik di Yogyakarta, Eli menilai Singaraja tetap memiliki karakter yang khas.
"Memang ada kesan yang mirip, tetapi Singaraja punya ciri khas sendiri. Ornamen singa yang ada di kawasan ini langsung menunjukkan identitas Kota Singaraja," ujarnya.
Barangkali itulah makna terbesar dari penataan Kawasan Heritage Titik Nol Singaraja.
Ia bukan sekadar proyek pembangunan fisik.
Ia adalah upaya sebuah kota untuk merawat ingatannya.
Sebab sebuah kota yang kehilangan ingatan akan kehilangan jati dirinya. Dan di jantung Singaraja hari ini, ingatan itu perlahan sedang dipanggil pulang melalui langkah kaki warga, tawa anak-anak, dan senja yang kembali menemukan rumahnya di Titik Nol.
(sukadana)