Podiumnews.com / Khas / Warisan

Ketika Tembok Tua Bercerita

Oleh Nyoman Sukadana • 16 Juni 2026 • 17:53:00 WITA

Ketika Tembok Tua Bercerita
Gedung Kavalerie Artilerie di sebelah timur Pura Mangkunegaran pernah jadi markas Legiun Mangkunegaran. (Solo Tempo Doeloe)

“Dulu ini markas pasukan elite.”

KALIMAT itu diucapkan pelan oleh Haryanto. Tidak panjang. Tidak pula terdengar seperti penuturan seorang sejarawan. Namun, dari satu kalimat sederhana itu, sebuah lorong waktu seakan terbuka.

Pagi itu, lelaki berusia 67 tahun tersebut duduk di selasar teduh kawasan Kavallerie-Artillerie, bagian dari kompleks Pura Mangkunegaran di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Di tangannya tergenggam secangkir teh hangat. Sesekali matanya menerawang ke halaman yang diapit bangunan-bangunan tua.

Di tempat itu, masa lalu tidak tampil dalam bentuk monumen besar. Ia hadir dalam dinding yang mulai kusam, pepohonan tua yang menaungi halaman, dan cerita yang masih tersimpan dalam ingatan seorang abdi dalem.

“Dulu ini markas pasukan elite lho, Mas, tempatnya prajurit beristirahat. Sekarang sudah gabung republik, jadi ditinggali keluarga abdi dalem saja,” ujar Haryanto.

Suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar, seperti tertahan oleh tembok dan pepohonan. Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini tampak tenang itu pernah menjadi bagian penting dari sejarah militer Jawa.

Kavallerie-Artillerie dahulu merupakan salah satu pusat aktivitas Legiun Mangkunegaran, pasukan militer milik Kadipaten Mangkunegaran yang memiliki reputasi sebagai salah satu kekuatan tempur paling modern di tanah Jawa.

Jejak legiun ini tidak dapat dipisahkan dari sosok Raden Mas Said, pendiri Mangkunegaran yang dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Dari perjuangan dan pengalaman perang panjangnya lahir tradisi militer yang kuat, berpijak pada semangat kebersamaan yang dikenal melalui ikrar tiji tibeh, mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. Satu mati, semua ikut menanggung. Satu memperoleh kemuliaan, semua ikut merasakan.

Namun, sejarah membawa pasukan itu memasuki babak baru.

Pada 29 Juli 1808, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Legiun Mangkunegaran dibentuk sebagai institusi militer resmi. Kehadirannya tidak hanya terkait kepentingan pertahanan kolonial, tetapi juga menjadi bagian dari konfigurasi politik Jawa yang tengah berubah.

Jawa ketika itu berada dalam pusaran persaingan kekuatan lokal dan kepentingan bangsa-bangsa Eropa. Situasi menuntut kemampuan beradaptasi.

Mangkunegaran memilih tidak menutup diri.

Dari sinilah lahir sebuah eksperimen unik: sebuah pasukan Jawa yang mengadopsi organisasi, disiplin, dan teknologi militer Barat, tetapi tetap mempertahankan nilai-nilai lokal.

Legiun Mangkunegaran mengenal struktur staf dan pasukan, dokter militer, sistem penggajian tetap, tunjangan keluarga, hingga pensiun. Bahkan, mereka memiliki korps musik dan lapangan tembak.

Pada awal abad ke-19, sistem semacam itu tergolong maju.

Prajurit tidak hanya dipandang sebagai simbol kekuasaan atau pengawal istana. Mereka menjadi bagian dari organisasi modern yang memiliki hak, kewajiban, jenjang karier, serta jaminan kesejahteraan.

Di lingkungan Mangkunegaran juga berdiri sekolah militer internal yang dikenal sebagai Soldat Sekul.

Di tempat itu, para calon prajurit tidak hanya belajar memainkan tombak, pedang, atau keris. Mereka juga belajar menggunakan senjata api dan meriam, membaca peta, memahami taktik perang Barat, matematika, hingga bahasa asing seperti Belanda dan Prancis.

Bagi ukuran zamannya, pendekatan tersebut terasa melampaui era.

Prajurit tidak hanya dituntut kuat secara fisik, tetapi juga cakap secara intelektual.

Membaca peta berarti memahami ruang. Menguasai bahasa asing berarti membuka diri terhadap dunia yang lebih luas.

Legiun Mangkunegaran menjadi bukti bahwa modernitas tidak selalu datang dengan menghapus identitas lokal.

Di dalam tubuh pasukan itu, Jawa dan Eropa justru bertemu.

Para prajurit mengenakan perlengkapan yang dipengaruhi tradisi militer Barat. Mereka mempelajari disiplin dan strategi modern. Namun, mereka tetap hidup dalam tata nilai Mangkunegaran yang sarat dengan ikatan sosial, loyalitas, dan semangat kebersamaan.

Modernisasi diterima, tetapi tidak ditelan mentah-mentah.

Ada proses memilih, menyaring, dan menempatkan unsur baru ke dalam kerangka budaya Jawa.

Mungkin karena itulah jejak Legiun Mangkunegaran masih terasa hingga hari ini.

Tidak lagi dalam bentuk derap pasukan berkuda atau suara dentuman meriam. Tidak pula dalam formasi prajurit yang berbaris rapi di halaman.

Jejak itu hidup melalui bangunan, arsip, nama-nama tempat, dan cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi.

Haryanto menjadi salah satu penjaganya.

Ia tidak menyebut daftar tahun. Ia tidak menghafal kronologi pertempuran. Ia hanya menyampaikan satu kalimat pendek tentang markas pasukan elite.

Namun, justru dari kesederhanaan itulah sejarah terasa dekat.

Karena sejarah sesungguhnya tidak hanya hidup di dalam buku. Ia juga tinggal dalam ingatan orang-orang yang menjaga ruang bersejarah.

Di halaman yang teduh itu, derap kuda memang telah lama berhenti.

Tidak ada lagi pasukan yang keluar dari Kavallerie-Artillerie. Tidak ada lagi latihan militer atau suara komando.

Tetapi sejarah tidak selalu pergi ketika suara menghilang.

Ia dapat bertahan dalam tembok yang menua, dalam lorong yang sepi, dan dalam cerita yang disampaikan perlahan oleh seseorang yang masih mengingat.

Di balik tembok tua Pura Mangkunegaran, tersimpan kisah tentang sebuah pasukan yang pernah menjadi simbol disiplin, pengetahuan, adaptasi, dan kemampuan masyarakat lokal membaca perubahan zaman.

Tembok-tembok itu tidak berbicara.

Namun, jika didengarkan dengan saksama, ia sesungguhnya sedang bercerita.

(sukadana)



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.