Podiumnews.com / Aktual / Kesehatan

Kemenkes Sebut Fase Kritis DBD Kerap Mengecoh Masyarakat

Oleh Nyoman Sukadana • 16 Juni 2026 • 12:45:00 WITA

Kemenkes Sebut Fase Kritis DBD Kerap Mengecoh Masyarakat
ILUSTRASI pasien demam berdarah yang tampak membaik setelah demam turun, padahal sedang memasuki fase kritis yang berisiko mengancam nyawa. (podiumnews)

JAKARTA, PODIUMNEWS.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh ketika demam pada pasien demam berdarah dengue (DBD) mulai turun. Kondisi tersebut justru dapat menandakan pasien memasuki fase kritis yang berisiko menyebabkan perdarahan, kebocoran plasma, hingga syok yang mengancam jiwa.

Peringatan tersebut disampaikan Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, dalam Temu Media bertema “Indonesia Menuju Nol Kematian Akibat Dengue Tahun 2030” di Jakarta, Senin (15/6/2026).

Menurut Prima, dengue masih menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia karena dapat menyebabkan kematian apabila pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.

"Dengue ini berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda dan gejalanya serta memahami kapan harus segera mencari pertolongan medis," ujar Prima.

Ia menjelaskan perjalanan penyakit dengue terbagi dalam tiga fase. Fase pertama adalah demam tinggi yang umumnya terjadi pada hari pertama hingga ketiga dengan suhu tubuh mendadak mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius, disertai nyeri otot dan sakit kepala hebat.

Setelah itu, pasien memasuki fase kritis. Pada fase ini, suhu tubuh justru menurun sehingga sering membuat keluarga pasien menganggap kondisi penderita telah membaik.

"Ketika demam turun, masyarakat jangan langsung menganggap pasien sudah sembuh. Fase kritis inilah yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa," tegasnya.

Prima mengatakan pada fase kritis, pasien berisiko mengalami kebocoran plasma, perdarahan, hingga syok. Karena itu, masyarakat diminta segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan apabila muncul tanda bahaya seperti lemas, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, atau perdarahan.

Setelah berhasil melewati fase kritis dengan penanganan yang tepat, pasien akan memasuki fase penyembuhan yang ditandai dengan kondisi tubuh yang berangsur membaik dan jumlah trombosit yang mulai kembali normal.

Selain meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala, Kemenkes juga mengimbau masyarakat aktif melakukan pencegahan dengan memutus rantai penularan nyamuk Aedes aegypti.

Nyamuk pembawa virus dengue tersebut berkembang biak di genangan air bersih, baik di dalam rumah maupun lingkungan sekitar, seperti bak mandi, toren air, vas bunga, tempat penampungan dispenser, barang bekas, hingga cekungan alami pada tumbuhan.

"Kami mengajak masyarakat untuk secara rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air, ditambah langkah perlindungan lainnya," kata Prima.

Ia optimistis target Indonesia mencapai nol kematian akibat dengue pada 2030 dapat diwujudkan melalui kombinasi edukasi, deteksi dini, penanganan medis yang cepat, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk.

"Melalui kombinasi edukasi, deteksi dini, penanganan medis yang cepat, serta gerakan 3M Plus, pemerintah optimistis target nol kematian akibat dengue di Indonesia dapat terwujud pada 2030," pungkasnya.

(sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.