Podiumnews.com / Kolom / Jeda

Semut Asing

Oleh Nyoman Sukadana • 18 Juni 2026 • 01:58:00 WITA

Semut Asing

MARI kita tundukkan kepala sejenak. Berdoa untuk keluhuran budi bangsa kita. Bangsa yang saking ramahnya, rela kelaparan demi melihat tamunya kenyang kekenyangan.

Ada gula, ada semut.

Selama puluhan tahun, Bali adalah sebongkah gula yang ranum. Manisnya luar biasa. Kita, semut lokal yang pemalu ini, biasanya cuma berani mengambil remah-remah kecil di pinggiran. Membuka warung kelontong, menyewakan satu-dua sepeda motor, atau menjadi pemandu wisata yang fasih membungkuk hormat. Kita sudah merasa kaya raya kalau bisa memegang selembar uang dolar.

Lalu, datanglah semut-semut jenis baru dari seberang lautan. Badannya kekar. Kulitnya kemerahan terpanggang matahari. Paspornya sakti. Kita sebut saja mereka: semut asing.

Awalnya, mereka datang sebagai penikmat gula yang sopan. Duduk manis, memesan makanan, lalu membayar. Kita tepuk tangan. "Pahlawan devisa telah tiba!" puji kita sembari tersenyum lebar.

Tapi itu cerita lama. Cerita romantis masa lalu.

Sekarang, semut asing ini sadar akan satu hal: mengapa harus repot-repot membeli eceran kalau cetakan kuenya bisa direbut? Mengapa harus bayar orang lokal kalau mereka bisa menguasai semuanya sendiri?

Maka, terjadilah keajaiban pariwisata modern di Bali.

Di Ubud, Canggu, hingga Uluwatu, kita disuguhi pemandangan yang mengharukan. Warga negara asing (WNA) tidak lagi sudi merepotkan orang lokal. Mereka sangat mandiri. Saking mandirinya, urusan menyuntik wajah dan memoles kulit pun mereka kerjakan sendiri melalui PRIME Skin Clinic di Badung. Tanpa izin usaha, tanpa dokter resmi. Dokter dari Rusia dan Armenia langsung turun tangan memegang jarum suntik. Hebat. Sangat efisien.

Bukan cuma urusan medis. Di Ubud, ada bule yang dengan sukarela membuka kelas meditasi dan yoga berbayar. Di Pantai Kuta, mereka berjemur sekalian menjadi instruktur selancar. Mereka iba melihat instruktur lokal yang kulitnya terlalu gelap, jadi mereka ambil alih pekerjaannya.

Di lini transportasi, mereka bahkan membuat jaringan rental motor tersendiri. Menggunakan nama warga lokal sebagai tameng, mereka menyewakan puluhan motor ke sesama komunitas mereka lewat aplikasi khusus. Sistemnya luar biasa tertutup. Dari bule, oleh bule, untuk bule.

Bahkan industri kreatif pun kena imbas kebaikan mereka. Fotografer asing berbekal visa turis dengan senang hati mengambil alih pesanan foto pranikah (pre-wedding) di Bali. Bayarannya langsung masuk ke rekening luar negeri mereka, atau via mata uang kripto. Bebas pajak. Bebas potongan. Enak sekali, bukan? Bali hanya kebagian macetnya, sampahnya, dan polusi suaranya.

Orang Bali? Oh, kita adalah penonton yang baik. Kita duduk di pinggir jalan, bertepuk tangan, sembari mengagumi betapa kreatifnya para tamu kita dalam merampok mata pencaharian kita sendiri.

Ironisnya, sebagian dari kita justru sangat mendukung aksi ini.

Ada warga lokal yang dengan bangga meminjamkan namanya untuk perizinan perusahaan asing—praktik nominee yang sangat patriotik. Ada yang rela menjadi tameng hukum demi komisi recehan. Kita bantu semut asing membangun sarang di ruang tamu kita, lalu kita menangis di media sosial saat anak cucu kita tidak lagi punya tempat untuk sekadar tidur. Nalar kita benar-benar berada di tingkat tertinggi kebodohan.

Kita dilarang benci orang asing. Menolak investasi adalah dosa pariwisata. Tetapi membiarkan rumah sendiri dijarah sembari terus membungkuk minta ampun adalah puncak dari komedi.

Pemerintah kita tentu tidak tinggal diam. Mereka sangat sibuk. Sibuk menunggu sebuah kasus menjadi viral di media sosial terlebih dahulu sebelum menerjunkan tim gabungan. Razia musiman adalah keahlian kita. Begitu media tenang, operasi pun ikut tenang. Semut asing kembali bertelur dengan damai.

Banjar, desa adat, dan pecalang juga harus diapresiasi. Kita sangat tegas menjaga kesucian pura dari bule yang berfoto telanjang. Tapi di saat yang sama, kita sering kali rabun dekat melihat rumah kontrakan di sebelah banjar yang berubah fungsi menjadi kantor agensi properti ilegal milik WNA.

Sudah saatnya kita menyudahi drama komedi ini. Ramah itu budaya, tapi minder dan bodoh adalah pilihan hidup.

Mari berpikir jernih. Gunakan akal sehat yang tersisa.

Jika kita terus mempertahankan mentalitas "pokoknya asal bule pasti benar", jangan kaget jika beberapa tahun ke depan, orang Bali harus menunjukkan paspor dan visa hanya untuk sekadar berjalan-jalan di pantai tanah kelahirannya sendiri.

Saatnya tegakkan punggung. Gula ini milik kita. Tamu yang baik tidak akan merampok isi dapur tuan rumahnya, kecuali si tuan rumah memang terlalu malas untuk menjaga rumahnya sendiri. (*)

Menot Sukadana




Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.