Trauma Rumah Sakit
DULU, setiap datang ke rumah sakit, saya merasa takut dan cemas. Perasaan itu muncul begitu saja, bahkan ketika saya hanya mengantar teman berobat atau menjalani pemeriksaan kesehatan biasa. Begitu memasuki halaman rumah sakit, ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Jantung terasa berdetak lebih cepat, pikiran menjadi tidak tenang. Kenangan-kenangan lama perlahan muncul ke permukaan.
Saya teringat pada orang-orang terkasih yang telah berpulang, pada wajah-wajah yang pernah saya temani di ruang perawatan. Pada malam-malam panjang ketika keluarga bergantian menjaga di samping ranjang pasien. Pada suara langkah perawat di lorong rumah sakit yang terdengar lebih nyaring saat dini hari. Pada kecemasan menunggu hasil pemeriksaan dokter. Dan pada momen-momen ketika harapan perlahan mengecil, sementara kenyataan bergerak ke arah yang tidak bisa dicegah.
Saya juga teringat pada mereka yang menahan sakit lebih dari apa pun sebelum ajal datang menjemput. Tubuh yang perlahan kehilangan tenaga. Tatapan mata yang berubah. Napas yang semakin berat. Serta keluarga yang hanya bisa menunggu sambil berdoa agar penderitaan itu segera berakhir, apa pun bentuk akhirnya. Semua kenangan itu seperti hidup kembali setiap kali saya berada di rumah sakit.
Dalam psikologi, pengalaman semacam ini dapat berkaitan dengan trauma. Kata trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka. Jika luka fisik terjadi pada tubuh, trauma psikologis merupakan luka yang terjadi pada batin akibat pengalaman yang sangat mengguncang atau menyakitkan. Trauma tidak selalu muncul karena kecelakaan, bencana, atau kekerasan. Kehilangan orang yang dicintai, menyaksikan penderitaan yang berkepanjangan, atau mendampingi anggota keluarga menjelang kematian juga dapat meninggalkan jejak psikologis yang mendalam.
Jejak itu terkadang muncul kembali ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang mengingatkannya pada pengalaman tersebut. Psikolog menyebutnya sebagai trigger atau pemicu. Bau antiseptik, suara monitor pasien, seragam tenaga kesehatan, ruang tunggu, bahkan warna dinding rumah sakit dapat membangkitkan kembali ingatan emosional yang tersimpan di dalam otak.
Karena itu, ketakutan yang saya rasakan setiap kali datang ke rumah sakit bukan semata-mata ketakutan terhadap bangunan bernama rumah sakit. Yang sesungguhnya saya hadapi adalah kumpulan kenangan yang melekat pada tempat itu.
Rumah sakit menjadi semacam arsip emosional. Di sana tersimpan perjumpaan saya dengan sakit, duka, kehilangan, dan kematian. Saya kira banyak orang memiliki kisahnya sendiri tentang rumah sakit. Sebagian besar kenangan itu mungkin telah memudar, tetapi ada beberapa fragmen yang tetap tinggal. Potongan-potongan adegan yang sesekali muncul tanpa diundang.
Saya masih ingat suasana ruang tunggu pada malam hari. Lampu-lampu tetap menyala, perawat berjalan mondar-mandir. Sesekali terdengar suara roda brankar melintas di lorong. Keluarga pasien duduk dengan wajah lelah. Sebagian mencoba tidur, sebagian hanya menatap kosong ke depan.
Tidak ada yang benar-benar tenang. Semua orang sedang menunggu sesuatu; hasil pemeriksaan, dokter datang, menunggu kabar baik, atau diam-diam menunggu kabar buruk.
Dalam keadaan seperti itu, hidup tiba-tiba menjadi sangat sederhana. Hal-hal yang biasanya dianggap penting kehilangan daya tariknya. Pekerjaan, ambisi, pertengkaran kecil, bahkan berbagai rencana yang disusun dengan begitu serius terasa tidak lagi mendesak. Yang tersisa hanya satu harapan sederhana, yakni semoga orang yang sedang sakit itu membaik.
Rumah sakit mengajarkan bahwa manusia sesungguhnya tidak membutuhkan terlalu banyak hal untuk merasa bahagia. Kadang kita hanya membutuhkan kabar bahwa orang yang kita cintai baik-baik saja.
Saya belajar hal itu dari orang-orang yang menjaga keluarganya di rumah sakit. Dari seorang anak yang menyuapi ibunya yang sudah lanjut usia, dari seorang istri yang memijat kaki suaminya yang terbaring lemah, atau dari seorang kakak yang tidak beranjak dari samping tempat tidur adiknya sepanjang malam.
Mereka mungkin tidak pernah menulis buku filsafat tidak pernah berbicara tentang makna kehidupan. Namun melalui tindakan-tindakan sederhana itu, mereka memperlihatkan sesuatu yang sangat penting: cinta sering kali hadir dalam bentuk menemani.
Kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan, produktivitas, dan pencapaian. Namun rumah sakit mengajarkan pelajaran yang berbeda. Di sana, kehadiran menjadi jauh lebih penting daripada kata-kata.
Tidak ada nasihat yang benar-benar mampu menghapus rasa sakit seseorang. Tidak ada kalimat bijak yang sanggup menghentikan kematian. Tetapi duduk di samping orang yang sedang menderita, menggenggam tangannya, atau sekadar memastikan bahwa ia tidak sendirian sering kali memiliki makna yang jauh lebih besar.
Seiring bertambahnya usia, saya mulai mencoba memahami pengalaman saya dengan rumah sakit melalui cara yang berbeda. Saya tidak lagi bertanya mengapa rumah sakit membuat saya takut. Saya mulai bertanya apa yang sebenarnya sedang diingat oleh tubuh dan pikiran saya.
Pertanyaan itu membawa saya kepada psikologi, filsafat, dan spiritualitas. Dari psikologi saya belajar bahwa duka tidak selalu selesai ketika pemakaman berakhir. Kehilangan memiliki waktunya sendiri. Ia dapat tinggal bertahun-tahun dalam ingatan dan muncul kembali ketika dipanggil oleh tempat tertentu, suara tertentu, atau pengalaman tertentu.
Dari filsafat saya belajar bahwa ketakutan terhadap kematian adalah bagian dari pengalaman manusia. Kita takut kehilangan orang-orang yang kita cintai karena mereka memiliki tempat yang penting dalam hidup kita. Kita takut berpisah karena kehadiran mereka memberi makna bagi hari-hari yang kita jalani.
Sementara dari spiritualitas saya belajar bahwa tidak semua luka harus dihapuskan. Sebagian luka perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup. Sebab dari luka itulah sering lahir empati, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami penderitaan orang lain.
Perubahan itu tentu tidak terjadi dalam semalam. Butuh waktu bertahun-tahun untuk sampai pada titik di mana saya bisa memasuki rumah sakit tanpa segera dikuasai oleh kecemasan. Bahkan sampai sekarang, perasaan itu sesekali masih muncul. Namun bedanya, saya tidak lagi berusaha melarikan diri darinya.
Saya mencoba mendengarkannya, mencoba memahami pesan apa yang dibawa oleh ingatan tersebut. Dari situlah saya menyadari bahwa trauma sering kali bukan sekadar soal ketakutan terhadap masa lalu. Trauma juga merupakan cara ingatan mempertahankan sesuatu yang dianggap penting.
Mengapa saya masih mengingat orang-orang yang pernah sakit dan meninggal? Karena mereka berarti. Mengapa saya masih merasa sedih ketika mengingat ruang perawatan atau lorong rumah sakit? Karena di tempat-tempat itulah sebagian kisah hidup saya berlangsung.
Barangkali kita memang tidak pernah benar-benar melupakan pengalaman yang membentuk hidup kita. Kita hanya belajar hidup berdampingan dengannya.
Kesadaran itu membuat saya memandang duka dengan cara yang berbeda. Dulu saya mengira tujuan dari proses berduka adalah melupakan. Seolah-olah seseorang dianggap telah pulih ketika ia tidak lagi merasa sedih. Namun pengalaman mengajarkan hal yang lain.
Orang-orang yang kita cintai mungkin telah pergi, tetapi hubungan dengan mereka tidak serta-merta berakhir. Mereka tetap hidup dalam ingatan. Dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka tinggalkan, dalam nasihat yang masih teringat. Juga, dalam cerita yang sesekali kita ulang kepada orang lain.
Bahkan dalam cara kita memandang dunia. Karena itu saya mulai percaya bahwa lawan dari duka bukanlah lupa. Lawan dari duka adalah makna.
Ketika kehilangan hanya dipandang sebagai kehilangan, ia akan terus terasa sebagai luka yang terbuka. Namun ketika kehilangan mulai dipahami sebagai bagian dari perjalanan hidup, luka itu perlahan berubah menjadi pelajaran.
Saya tidak mengatakan bahwa proses itu mudah. Ada hari-hari ketika kenangan datang begitu kuat, ketika rasa sedih muncul tanpa alasan yang jelas. Namun saya belajar bahwa menjadi manusia bukan berarti bebas dari kesedihan.
Menjadi manusia berarti mampu membawa kesedihan itu tanpa membiarkannya menghancurkan seluruh hidup kita. Mungkin karena itulah saya tertarik pada filsafat dan spiritualitas. Keduanya tidak pernah menjanjikan hidup tanpa penderitaan. Sebaliknya, keduanya mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dengan penderitaan.
Bagaimana menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah, menemukan makna di tengah kehilangan. Dan bagaimana tetap mencintai kehidupan meskipun kita tahu bahwa suatu hari kehidupan itu akan berakhir.
Perlahan-lahan rumah sakit berubah makna bagi saya. Ia tidak lagi hanya menjadi tempat yang mengingatkan saya pada kehilangan. Ia juga menjadi tempat untuk merenungkan betapa rapuhnya kehidupan manusia.
Di rumah sakit saya melihat bahwa sakit tidak mengenal status sosial. Penyakit tidak bertanya tentang jabatan, pendidikan, agama, ataupun kekayaan seseorang. Semua orang dapat mengalami penderitaan yang sama.
Di ruang tunggu rumah sakit, seorang pejabat bisa duduk berdampingan dengan seorang buruh. Seorang dosen bisa menunggu hasil pemeriksaan seperti seorang petani. Penyakit tidak peduli pada gelar akademik. Kematian tidak memeriksa isi rekening bank sebelum datang.
Kesadaran itu mula-mula terasa menakutkan.Namun lama-kelamaan justru terasa membebaskan. Ia mengingatkan bahwa banyak hal yang kita kejar dengan sangat serius ternyata bersifat sementara. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan memudar. Harta benda suatu hari akan ditinggalkan. Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat dengan baik pun pada akhirnya akan menua.
Rumah sakit membuat saya menyadari bahwa hidup sesungguhnya jauh lebih rapuh daripada yang sering kita bayangkan. Mungkin karena itu ia juga membuat saya lebih menghargai hal-hal kecil. Percakapan sederhana dengan keluarga, makan bersama, telepon dari seorang sahabat, atau tawa yang terdengar biasa pada hari-hari normal. Semua itu tampak sepele sampai suatu hari kita menyadari bahwa tidak ada yang berlangsung selamanya.
Sebagai penyintas skizofrenia, hubungan saya dengan dunia medis memiliki lapisan pengalaman yang lain. Sejak didiagnosis pada tahun 2009, rumah sakit dan fasilitas kesehatan menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Ada masa ketika saya datang sebagai pasien. Ada masa ketika saya belajar menerima bahwa kesehatan mental, sebagaimana kesehatan fisik, membutuhkan perhatian dan perawatan.
Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa sakit bukan hanya persoalan tubuh. Sakit juga dapat menyentuh pikiran, perasaan, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Saya melihat bagaimana stigma sering kali menambah penderitaan seseorang. Saya melihat bagaimana orang yang sakit terkadang harus berjuang bukan hanya melawan penyakitnya, tetapi juga melawan penilaian masyarakat.
Karena itu saya semakin menghargai mereka yang tetap memilih hadir untuk orang-orang yang sedang berjuang. Ada hal lain yang saya pelajari dari rumah sakit, yakni manusia ternyata jauh lebih kuat daripada yang sering ia bayangkan.
Ketika masih muda, saya mengira kekuatan berarti kemampuan mengendalikan keadaan. Saya mengira orang yang kuat adalah mereka yang selalu berhasil, selalu sehat, selalu mampu menyelesaikan masalah.
Rumah sakit mengubah pandangan itu. Di sana saya melihat bentuk kekuatan yang berbeda. Kekuatan seorang ibu yang tetap tersenyum meskipun sedang menahan rasa sakit, seorang ayah yang berusaha tampak tegar di hadapan keluarganya meskipun ia sendiri sedang ketakutan.
Kekuatan seorang anak yang setia menjaga orang tuanya tanpa mengetahui bagaimana akhir dari perjuangan tersebut. Dan kekuatan orang-orang yang setiap hari bangun dari tempat tidur rumah sakit untuk kembali melanjutkan hidup.
Kekuatan semacam itu jarang mendapat perhatian. Ia tidak menjadi berita utama. Ia tidak dirayakan di media sosial. Namun justru di sanalah saya melihat ketangguhan manusia yang sesungguhnya.
Mungkin karena itu saya tidak lagi melihat rumah sakit hanya sebagai tempat penderitaan. Di balik segala kesedihan yang ada, rumah sakit juga menyimpan banyak kisah tentang harapan., tentang pasien yang akhirnya pulih, keluarga yang kembali tersenyum setelah berhari-hari menunggu. Tentang orang-orang yang menemukan semangat hidup baru setelah melewati masa sulit.
Harapan dan kesedihan ternyata hidup berdampingan di tempat yang sama. Begitu pula kehidupan dan kematian. Setiap hari rumah sakit menjadi saksi kelahiran dan kepergian. Menjadi saksi tangis kebahagiaan dan tangis kehilangan, menjadi saksi bahwa hidup tidak pernah hanya terdiri dari satu warna.
Kesadaran itulah yang perlahan mengubah trauma menjadi renungan. Saya tidak lagi melihat rumah sakit sebagai tempat yang harus dihindar, melainkan melihatnya sebagai tempat yang mengingatkan saya pada sesuatu yang sering dilupakan manusia modern, bahwa hidup ini terbatas.
Dan justru karena terbatas, ia menjadi berharga. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang kita miliki bersama orang tua. Kita tidak tahu sampai kapan sahabat-sahabat kita akan menemani. Kita tidak tahu kapan pertemuan berubah menjadi perpisahan.
Karena itu, mungkin yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita menggunakan waktu yang diberikan kepada kita. Apakah kita cukup hadir bagi orang-orang yang kita cintai? Apakah kita cukup sering mengucapkan terima kasih? Apakah kita cukup berani menunjukkan kasih sayang sebelum semuanya terlambat?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu mengikuti saya setiap kali keluar dari rumah sakit. Dan anehnya, justru pertanyaan itulah yang membuat saya merasa lebih hidup.
Sebab pada akhirnya rumah sakit tidak hanya berbicara tentang sakit. Ia berbicara tentang kehidupan itu sendiri. Tentang bagaimana manusia mencintai, kehilangan, berharap, berduka, dan terus melanjutkan perjalanan meskipun berkali-kali patah hati oleh kenyataan.
Mungkin itulah alasan mengapa saya tidak lagi berusaha menghapus trauma rumah sakit dari ingatan. Saya memilih menyimpannya sebagai pengingat. Pengingat bahwa hidup tidak berlangsung selamanya, bahwa cinta selalu mengandung risiko kehilangan. Dan pengingat bahwa menjadi manusia berarti belajar menerima keduanya.
Kini, setiap kali memasuki rumah sakit, saya masih membawa ketakutan-ketakutan lama. Saya masih mengingat orang-orang yang pernah saya jaga, mmengingat mereka yang telah pergi. Namun saya tidak lagi memusuhi kenangan itu.
Saya menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup. Rumah sakit memang mengajarkan saya tentang sakit. Tentang kehilangan. Tentang kematian. Tetapi lebih dari itu, rumah sakit mengajarkan saya tentang cinta. Sebab hanya kepada mereka yang kita cintai, kita bersedia duduk berjam-jam di kursi tunggu, menahan kantuk sepanjang malam, dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar mereka tetap bersama kita sedikit lebih lama.
Mungkin karena itulah trauma rumah sakit tidak pernah benar-benar hilang. Ia berubah menjadi pengingat bahwa hidup ini rapuh, waktu sangat terbatas, dan kasih sayang tidak seharusnya ditunda.
Dan di antara suara monitor pasien, langkah kaki perawat, serta bau antiseptik yang khas, saya akhirnya memahami satu hal: rumah sakit bukan hanya tempat orang berobat. Ia adalah tempat manusia belajar menjadi manusia. (*)
Angga Wijaya