Bertahan Saja Tak Cukup
BEBERAPA tahun terakhir, saya beberapa kali mendapat pertanyaan yang sama dari sesama pengelola media online di Bali. Pertanyaan itu datang dari pemilik media kecil, pengelola portal yang sudah bertahun-tahun berjalan, bahkan pernah disampaikan seorang ketua organisasi asosiasi media.
“Media online di Bali masih prospektif ke depannya?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar aneh. Orang-orang yang bertanya justru mereka yang setiap hari hidup dari media online. Mereka mempunyai perusahaan pers, wartawan, kantor, jaringan narasumber, dan ribuan berita yang sudah dipublikasikan.
Namun kegelisahan itu bisa dipahami.
Bisnis media online memang sedang berubah. Masalahnya bukan lagi sekadar semakin banyak portal berita. Cara pembaca mencari informasi, cara pengiklan membelanjakan uang, sampai cara platform mendistribusikan berita ikut berubah.
Selama bertahun-tahun, model bisnis media online relatif sederhana. Redaksi memproduksi berita sebanyak mungkin. Berita mendatangkan trafik. Trafik kemudian dijual dalam bentuk iklan, advertorial, atau kerja sama publikasi.
Semakin besar jumlah pembaca, semakin besar nilai media di depan pengiklan.
Model tersebut belum hilang. Namun fondasinya semakin rapuh.
Reuters Institute dalam laporan Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2026 mencatat trafik dari pencarian Google ke lebih dari 2.500 situs berita turun sekitar 33 persen secara global antara November 2024 dan November 2025. Para pemimpin media yang disurvei bahkan memperkirakan trafik mesin pencari dapat turun sekitar 43 persen dalam tiga tahun berikutnya.
Facebook dan X lebih dahulu kehilangan perannya sebagai pemasok pembaca ke situs berita. Sekarang Google mulai berubah dari mesin pencari menjadi mesin pemberi jawaban. Pengguna semakin sering mendapatkan ringkasan informasi tanpa perlu membuka situs sumbernya.
AI mempercepat perubahan tersebut.
Reuters Institute mencatat penggunaan AI generatif secara mingguan di enam negara meningkat dari 18 persen pada 2024 menjadi 34 persen pada 2025. Sebagian pengguna mulai memanfaatkan chatbot untuk mendapatkan informasi dan berita.
Kondisi serupa mulai menjadi perhatian industri media Indonesia.
Dewan Pers pada Juni 2026 menyebut industri sedang menuju era zero click. Iklan programatik semakin tertekan dan model bisnis iklan yang selama ini menopang perusahaan media mulai rusak.
AMSI bersama PR2Media juga melakukan riset terhadap 262 perusahaan media anggotanya. Hasilnya menunjukkan perkembangan AI membawa tantangan mulai dari penurunan trafik, penurunan pendapatan digital, sampai penggunaan karya jurnalistik oleh platform AI tanpa mekanisme kompensasi yang memadai.
Bagi media lokal di Bali, masalahnya bisa lebih berat.
Pasar iklan tidak besar. Jumlah perusahaan yang mau memasang iklan di portal berita lokal terbatas. UMKM kini bisa langsung beriklan melalui Instagram, TikTok, Facebook, atau menggunakan kreator konten.
Sementara itu, banyak portal masih bertumpu pada tiga sumber pendapatan yang hampir sama: iklan, advertorial, dan kerja sama pemerintah.
Selama uang itu masih ada, medianya bisa hidup.
Pertanyaannya, apakah itu cukup untuk sepuluh tahun berikutnya?
Saya meragukannya.
Media lokal tentu masih bisa bertahan dengan cara lama. Tim dibuat kecil. Pemilik merangkap banyak pekerjaan. Kantor sederhana. Biaya ditekan. Hubungan dengan klien dipertahankan. Selama pemasukan mampu membayar pengeluaran, portal tetap bisa terbit setiap hari.
Namun ada perbedaan antara media yang hidup dengan media yang sehat sebagai bisnis.
Perusahaan dengan omzet Rp20 juta atau Rp30 juta per bulan bisa bertahan bertahun-tahun. Tetapi jika pendapatannya tidak bertambah sementara gaji, teknologi, pajak, dan biaya hidup terus meningkat, secara ekonomi perusahaan sebenarnya mengecil.
Tidak bangkrut, tetapi juga tidak tumbuh.
Kondisi itu mungkin menjelaskan mengapa sejumlah pemilik media mulai bertanya mengenai prospek bisnis yang mereka jalankan sendiri.
Mereka bukan sedang kehilangan keyakinan terhadap jurnalistik. Yang dipertanyakan adalah model ekonominya.
Menurut saya, jawabannya bukan menutup portal berita. Juga bukan mendirikan semakin banyak portal.
Perusahaan media lokal justru perlu mengubah cara melihat portalnya.
Selama ini portal dianggap sebagai produk utama sekaligus mesin pendapatan. Semua dibebankan kepadanya. Redaksi harus menghasilkan berita, menarik trafik, mencari iklan, mendatangkan advertorial, sekaligus membiayai perusahaan.
Ke depan, beban itu mungkin terlalu berat.
Portal berita lebih masuk akal ditempatkan sebagai pusat jurnalistik dan reputasi. Dari sana perusahaan membangun kegiatan ekonomi lain yang masih menggunakan kompetensi yang sama.
Media sudah mempunyai kemampuan menulis, memproduksi video, mengelola informasi, membangun jaringan, menyelenggarakan diskusi, dan berhubungan dengan komunitas.
Kemampuan tersebut bisa dikembangkan menjadi pelatihan, riset, event, produksi konten, creative agency, media khusus gaya hidup, buku, studio, komunitas, atau jasa komunikasi.
Tren diversifikasi seperti ini juga terjadi secara global. Dalam survei Reuters Institute 2026, langganan dan keanggotaan menjadi fokus pendapatan bagi 76 persen publisher. Sebanyak 54 persen juga menempatkan acara daring maupun fisik sebagai bagian penting dari strategi pendapatan mereka.
Untuk media lokal Bali, model langganan berita mungkin belum mudah. Tetapi prinsip dasarnya tetap relevan: pendapatan tidak lagi bisa hanya mengandalkan satu pintu.
Namun diversifikasi membawa persoalan baru.
Jika perusahaan media mempunyai agency, lalu salah satu klien agency tersandung masalah, apakah redaksinya tetap berani memberitakan?
Jika sebuah acara dibiayai sponsor, apakah sponsor tersebut tetap bisa dikritik?
Jika pemasukan terbesar perusahaan datang dari jasa komunikasi, siapa yang memastikan keputusan redaksi tidak ikut dibeli?
Batas itu harus dibuat sejak awal.
Diversifikasi seharusnya membuat jurnalistik lebih kuat karena newsroom tidak lagi dibebani seluruh kebutuhan ekonomi perusahaan. Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya: bisnis baru tumbuh, tetapi redaksi kehilangan independensinya.
Di sinilah saya melihat masa depan media lokal akan ditentukan.
Bukan oleh siapa yang mempunyai portal paling banyak.
Bukan pula oleh siapa yang memproduksi berita paling banyak setiap hari.
Yang akan bertahan adalah perusahaan yang mempunyai jurnalistik yang dipercaya, hubungan langsung dengan pembacanya, struktur biaya yang sehat, dan sumber pendapatan yang tidak hanya bergantung pada trafik.
Reuters Institute mencatat kecenderungan publisher mulai mengurangi ketergantungan kepada pencarian dan platform pihak ketiga. Mereka kembali berusaha membangun hubungan langsung dengan pembaca melalui situs, aplikasi, newsletter, podcast, komunitas, dan produk khusus.
Media lokal sebenarnya mempunyai keuntungan untuk melakukan itu.
Wilayah kerjanya jelas. Pembacanya berada dalam komunitas yang sama. Wartawannya mengenal persoalan daerahnya. Narasumber dan pembaca bisa bertemu secara langsung.
Kedekatan itu tidak mudah ditiru oleh perusahaan teknologi global.
Karena itu, ketika ditanya apakah media online di Bali masih prospektif, jawaban saya tetap: masih.
Tetapi mungkin bukan media online seperti yang kita kenal selama sepuluh tahun terakhir.
Portal berita akan tetap ada. Wartawan tetap dibutuhkan. Berita tetap diproduksi.
Yang harus berubah adalah cara perusahaan menghasilkan uang.
Media yang hanya mempertahankan pola lama mungkin masih bisa hidup lima atau sepuluh tahun lagi. Tetapi hidup saja bukan ukuran keberhasilan sebuah perusahaan.
Ia harus mampu membayar wartawannya dengan layak, menyediakan ruang untuk liputan yang serius, membangun cadangan keuangan, berinvestasi pada teknologi, dan tetap bekerja meskipun pemiliknya suatu hari tidak lagi mengurus semuanya sendiri.
Kalau itu tidak terjadi, media memang bertahan.
Tetapi hanya bertahan.
Dan dalam industri yang sedang berubah begitu cepat, bertahan saja tidak lagi cukup. (*)
Menot Sukadana