Kafe Boleh, Banjar Jangan Lupa
PESAN itu masuk ketika Adi sedang menggeser logo sebuah vila ke sudut kanan layar laptopnya.
“Jam tujuh rapat di banjar. Bahas ulang tahun sekaa teruna.”
Adi, 22 tahun, membaca pesan di grup WhatsApp itu tanpa membalas. Ia sedang bekerja di sebuah kafe di Canggu. Di mejanya ada kopi susu yang tinggal separuh, telepon seluler, dan kabel pengisi daya. Kliennya meminta desain promosi selesai sebelum pukul delapan malam.
Revisinya tampak kecil. Warna latar diganti. Foto kolam diperbesar. Huruf pada bagian bawah diperkecil. Kalimat promosi dipangkas. Pekerjaan semacam itu sering disebut sederhana oleh klien, tapi dapat menghabiskan satu jam.
Pukul setengah tujuh, desain itu belum selesai.
Adi menutup laptop, memasukkannya ke dalam tas, lalu mengendarai sepeda motor menuju rumah. Ia hanya sempat membasuh muka dan makan beberapa suap. Bale banjar berjarak sekitar seratus meter dari rumahnya.
Belasan pemuda telah duduk melingkar ketika ia tiba. Ketua sekaa teruna membuka rapat. Ulang tahun organisasi tinggal tiga pekan. Mereka belum menetapkan rangkaian acara, anggaran, sponsor, jumlah kupon bazar, dan pembagian tugas malam puncak.
Usul bermunculan.
Ada yang ingin membuat pertandingan futsal. Ada yang memilih jalan santai. Seorang anggota mengusulkan pertunjukan musik. Bendahara mengingatkan uang kas tak cukup untuk menyewa panggung dan perangkat suara.
Pembicaraan kemudian beralih ke proposal sponsor, hadiah lomba, konsumsi, izin keramaian, dan penjualan kupon. Satu persoalan selesai, persoalan lain muncul.
Adi kebagian membuat poster dan materi promosi.
Keahlian yang pada siang hari dijual kepada pemilik vila, malam itu diserahkan kepada sekaa teruna tanpa tagihan. Ia tak mempersoalkannya. Hampir semua yang hadir adalah teman masa kecilnya. Mereka pernah bermain bola, membuat ogoh-ogoh, dan mengikuti lomba antarsekaa teruna.
Telepon Adi beberapa kali menyala.
Klien menanyakan hasil revisi.
“Masih rapat banjar. Nanti saya kirim,” tulisnya.
Rapat berakhir mendekati pukul sepuluh. Adi pulang, membuka laptop, dan kembali bekerja. Desain itu baru terkirim menjelang tengah malam.
Pada usia 22 tahun, waktunya sudah dibagi oleh dua jenis kewajiban. Yang satu memberinya penghasilan. Yang lain memberinya tempat dalam lingkungan.
Ungkapan “kafe boleh, banjar jangan lupa” kerap terdengar sebagai nasihat kepada anak muda Bali. Mereka boleh bekerja dengan laptop, minum kopi, mengikuti tren, dan membangun pergaulan di luar desa. Tapi banjar tetap harus diingat.
Nasihat itu tidak muncul tanpa alasan.
Dalam satu dekade terakhir, kafe tumbuh cepat di kawasan pariwisata Bali. Canggu, Ubud, Kuta, Sanur, hingga pinggiran Denpasar dipenuhi tempat minum kopi dengan meja panjang, sambungan Internet, dan colokan listrik. Kafe tak lagi sekadar menjual minuman. Ia menjual tempat duduk, suasana, dan kesempatan bekerja jauh dari kantor.
Anak muda Bali ikut mengisi ruang itu.
Mereka menjadi desainer, fotografer, pengelola media sosial, pembuat video, barista, pekerja hotel, pedagang daring, dan tenaga lepas. Sebagian mengurus klien dari luar Bali. Sebagian bekerja untuk usaha yang tumbuh bersama pariwisata.
Dari luar, pekerjaan mereka terlihat lentur. Tak ada seragam. Tak ada meja kantor. Tak selalu ada atasan yang berdiri di belakang kursi.
Kebebasan itu sering menipu.
Pekerja lepas memang dapat memilih tempat bekerja, tapi tak selalu dapat memilih kapan bekerja. Klien bisa mengirim pesan malam hari. Revisi datang ketika pekerjaan dianggap selesai. Pendapatan bergantung pada proyek berikutnya. Terlambat mengirim hasil dapat berarti kehilangan klien.
Pekerja hotel dan restoran menghadapi keadaan berbeda. Jadwal mereka lebih pasti, tapi sulit ditawar. Malam, akhir pekan, dan hari libur justru menjadi waktu tersibuk. Ketika warga lain berkumpul di banjar, mereka mungkin sedang melayani tamu.
Setelah pekerjaan selesai, kewajiban lain menunggu.
Ada rapat sekaa teruna, latihan gamelan, persiapan piodalan, pembuatan ogoh-ogoh, kegiatan olahraga, penggalangan dana, dan acara lingkungan. Sebagian berlangsung malam hari agar dapat diikuti setelah jam kerja.
Masalahnya, jam kerja anak muda Bali tak lagi seragam.
Pekerja kantor mungkin pulang pukul lima. Barista baru sibuk pada sore hari. Pegawai hotel bekerja bergiliran. Pengemudi memperoleh lebih banyak penumpang ketika orang lain libur. Pekerja lepas dapat bekerja hingga tengah malam karena menyesuaikan waktu klien.
Banjar masih menyusun kegiatan berdasarkan anggapan lama: orang bekerja pada siang hari, berkumpul pada malam hari, dan libur pada hari Minggu.
Anggapan itu makin sering meleset.
Karena itu, persoalannya bukan lagi apakah anak muda Bali masih mencintai adat. Yang diperebutkan adalah waktu mereka.
Kafe dan banjar kerap digambarkan sebagai dua ruang yang berlawanan. Kafe mewakili kehidupan modern, individual, dan komersial. Banjar dianggap komunal, tradisional, dan berakar pada adat.
Pembagian itu terlalu mudah.
Kafe tidak selalu individualistis. Di sana anak muda juga bertemu teman, membahas kegiatan, menyusun proposal, dan mencari sponsor. Rencana ulang tahun sekaa teruna bisa saja dimulai dari obrolan di meja kafe sebelum dibahas di bale banjar.
Banjar juga tidak hidup di luar perkembangan zaman. Undangan rapat beredar melalui WhatsApp. Iuran ditransfer. Poster kegiatan dibuat dengan laptop dan dipasang di Instagram. Pendaftaran lomba menggunakan formulir digital. Dokumentasi acara disebarkan melalui media sosial.
Teknologi telah masuk ke banjar. Urusan banjar ikut masuk ke kafe.
Batas antara ruang modern dan tradisional tak lagi jelas. Yang tersisa adalah perbedaan dalam cara keduanya menuntut sesuatu.
Kafe meminta transaksi. Seseorang membeli minuman agar dapat duduk lebih lama, bertemu klien, atau memakai Internet. Hubungan di dalamnya bersifat terbuka, tapi ditentukan kemampuan membayar.
Banjar tidak meminta orang membeli kopi. Namun keanggotaan di dalamnya datang bersama kewajiban. Seseorang diharapkan hadir, mengambil tugas, membayar iuran, atau menyumbangkan keahlian.
Kafe meminta uang. Banjar meminta partisipasi.
Keduanya mengambil waktu.
Dalam bukunya tentang ruang sosial, sosiolog Amerika Ray Oldenburg menyebut tempat di luar rumah dan kantor sebagai “ruang ketiga”. Tempat semacam itu memungkinkan orang bertemu secara informal, berbincang, dan membentuk hubungan sosial.
Kafe sering dimasukkan ke dalam kategori ini. Tapi bagi Adi, kafe bukan ruang di luar pekerjaan. Kafe justru menjadi kantor. Ia datang membawa laptop, mengejar tenggat, dan menjawab pesan klien.
Banjar, yang selama ini dianggap ruang sosial, juga tak selalu menjadi tempat bersantai. Di sana ada rapat, tugas, tenggat kegiatan, dan penilaian terhadap keaktifan anggota.
Dua ruang yang tampak berbeda itu ternyata sama-sama menuntut produktivitas.
Di kafe, produktivitas diukur melalui pekerjaan yang selesai. Di banjar, ia diukur melalui kehadiran dan keterlibatan.
Tidak semua anak muda memiliki kemampuan yang sama untuk memenuhi keduanya.
Anak dari keluarga mapan mungkin dapat menolak proyek atau mengatur jadwal kerja. Mereka yang hidup dari upah harian tak punya keleluasaan serupa. Menolak giliran kerja dapat mengurangi pendapatan. Meninggalkan tempat kerja dapat menimbulkan masalah dengan atasan.
Gambaran anak muda Bali yang duduk di depan laptop sambil minum kopi juga hanya mewakili kelompok tertentu. Banyak anak muda bekerja sebagai pegawai toko, pramusaji, petugas keamanan, buruh proyek, pengemudi, atau pekerja lapangan.
Mereka tidak menguasai jadwal kerjanya sendiri.
Ketika tak hadir dalam kegiatan banjar, alasannya mudah disederhanakan: terlalu sibuk, terlalu modern, atau mulai tak peduli. Jarang ditanyakan apakah mereka mendapat izin, memiliki kendaraan, bekerja lembur, atau sedang mengejar penghasilan untuk keluarga.
Ketidakhadiran dianggap sebagai sikap. Padahal, sering kali ia merupakan akibat keadaan ekonomi.
Banjar memang menjadi rumah sosial bagi banyak orang Bali. Di sana hubungan antarkeluarga dipelihara. Bantuan dikumpulkan saat ada kematian. Kegiatan adat diatur. Persoalan lingkungan dibahas.
Tapi rumah sosial juga memiliki aturan dan hierarki.
Usia, kedudukan keluarga, kemampuan menyumbang, pengalaman berorganisasi, dan hubungan dengan tokoh adat dapat memengaruhi suara seseorang. Pemuda yang rajin hadir belum tentu paling didengar. Orang yang jarang datang, tapi mampu membantu dana, dapat memperoleh tempat berbeda.
Karena itu, anggapan bahwa seluruh perbedaan sosial hilang ketika orang duduk di bale banjar terlalu manis.
Ngayah pun tak cukup diterjemahkan sebagai gotong royong tanpa pamrih. Di dalamnya terdapat pengabdian, kewajiban, hubungan timbal balik, dan harapan untuk tetap diterima sebagai bagian dari kelompok.
Banyak orang melakukannya dengan tulus. Namun ketulusan tidak membuat tenaga dan waktu menjadi gratis. Bagi pekerja dengan jam panjang, mengikuti kegiatan banjar dapat berarti kehilangan waktu istirahat. Bagi pekerja harian, itu bisa berarti kehilangan pendapatan.
Beban tersebut juga tidak terbagi merata antara laki-laki dan perempuan.
Kegiatan sekaa teruna sering digambarkan melalui pemuda yang rapat, membuat ogoh-ogoh, atau mengatur panggung. Perempuan muda lebih jarang terlihat dalam cerita. Padahal mereka juga bekerja di hotel, sekolah, toko, rumah sakit, dan kantor.
Setelah pekerjaan selesai, sebagian masih mengurus rumah, membantu keluarga, dan menyiapkan keperluan upacara. Kerja mereka kerap berlangsung tanpa rapat dan tanpa dokumentasi.
Mereka menghadapi tuntutan yang sama, kadang lebih berat, tapi tak selalu mendapat ruang bicara yang sama.
Anak muda Bali sering dipuji karena mampu menjalani modernitas tanpa meninggalkan tradisi. Pagi bekerja dengan teknologi, malam hadir di banjar. Laptop dan udeng dianggap dapat hidup berdampingan.
Pujian semacam itu nyaman didengar.
Ia juga dapat menutupi kelelahan.
Anak muda boleh mencintai banjar dan tetap keberatan jika rapat berlangsung terlalu lama. Mereka dapat bangga menjadi anggota sekaa teruna dan tetap kesulitan meninggalkan pekerjaan. Mereka dapat bersedia membantu kegiatan, tapi tak selalu mampu hadir dalam setiap pertemuan.
Keluhan bukan tanda kehilangan identitas. Ketidakhadiran bukan selalu bentuk penolakan.
Mereka sedang menegosiasikan hidup yang berubah lebih cepat daripada aturan di sekelilingnya.
Banjar tak harus ditinggalkan. Tapi cara mengelolanya perlu dibicarakan kembali. Rapat dapat dibuat lebih singkat. Pembagian tugas dapat mempertimbangkan jadwal kerja. Kehadiran fisik tak harus menjadi satu-satunya ukuran kepedulian. Keahlian anggota dapat dihargai sebagai bentuk kontribusi, bukan dianggap tersedia tanpa batas.
Tempat kerja juga perlu berubah.
Industri pariwisata menjual budaya Bali sebagai daya tarik. Hotel, vila, restoran, dan tempat hiburan memperoleh keuntungan dari citra masyarakat yang tetap menjaga adat. Ironis jika pekerjanya justru tak diberi ruang untuk terlibat dalam kehidupan sosial yang menopang citra tersebut.
Selama ini, anak muda yang diminta menyesuaikan diri dengan semuanya.
Siang harus profesional. Malam harus hadir di banjar. Pesan klien harus dijawab. Pesan grup sekaa teruna tak boleh diabaikan. Ketika absen dari rapat, mereka dinilai mulai lupa lingkungan. Ketika pekerjaan terlambat, mereka dianggap tak mampu mengatur waktu.
Malam itu, setelah mengirim desain kepada klien, Adi kembali membuka grup WhatsApp sekaa teruna. Ketua telah mengirim daftar pembagian tugas.
Namanya tercantum sebagai penanggung jawab poster dan publikasi media sosial.
Adi membaca pesan itu, lalu mematikan laptop.
Besok, klien lain mungkin mengirim pekerjaan. Pekan depan, rapat banjar kembali digelar.
Kafe boleh. Banjar jangan lupa.
Tapi waktu Adi tetap hanya 24 jam. (*)
Menot Sukadana