Bali Harus Tetap Bali
TURIS asing itu berdiri di teras vila sambil memandang sebidang sawah yang tinggal separuh. Sebuah rumah bertingkat baru selesai dicat di belakang pematang. Temboknya tinggi, atapnya datar, dan bentuknya memotong garis hijau yang selama ini menjadi latar sarapan.
“Bali berubah terlalu cepat,” katanya.
Keluhan itu terdengar ganjil. Vila tempat ia berdiri juga dibangun di atas bekas sawah.
Bali memang lama dipuji karena berbeda. Sawah, pura, banjar, upacara, sesajen, tari, dan kehidupan desa membentuk gambaran yang mudah dikenali. Pelancong datang untuk menemukan pulau yang dianggap lebih tenang, lebih spiritual, dan lebih dekat dengan alam dibandingkan tempat tinggal mereka.
Persoalan muncul ketika kekaguman berubah menjadi tuntutan.
Sawah jangan hilang. Rumah jangan terlalu modern. Desa jangan terlalu padat. Upacara harus tetap khusyuk. Jalan kecil sebaiknya sunyi. Masyarakat Bali boleh maju, asalkan kemajuan itu tidak mengganggu pemandangan yang ingin dinikmati wisatawan.
Karena itu, seruan “Bali harus tetap Bali” tidak sesederhana kedengarannya.
Bagi masyarakat Bali, kalimat tersebut dapat berarti menjaga tanah, bahasa, pura, banjar, subak, dan ruang hidup. Bagi pemerintah, ia sering diterjemahkan sebagai upaya mempertahankan citra destinasi. Bagi industri pariwisata, Bali harus tetap memiliki kekhasan yang dapat dijual. Sementara bagi sebagian wisatawan, maksudnya lebih praktis: Bali jangan berubah terlalu jauh dari gambar yang sudah tersimpan di kepala mereka.
Gambar itu dibentuk melalui proses panjang.
Jauh sebelum Bali dipenuhi vila, studio yoga, pusat kebugaran, dan kafe, pelancong, fotografer, seniman, penulis, antropolog, serta pejabat kolonial telah ikut menentukan cara dunia melihat pulau ini.
Dokter dan fotografer Jerman, Gregor Krause menghasilkan ribuan foto Bali pada awal abad ke-20. Ia merekam tari, upacara, perempuan, pertanian, pura, dan kehidupan desa. Foto-foto tersebut kemudian beredar luas dan berperan dalam memperkenalkan Bali sebagai pulau yang eksotis pada masa awal perkembangan pariwisata.
Krause memang merekam kenyataan. Namun, kamera tidak pernah membawa seluruh kenyataan.
Bingkai dapat memilih penari, tubuh, pura, dan sawah. Kekerasan kolonial, penyakit, kemiskinan, kerja berat, konflik, serta perubahan sosial bisa diletakkan di luar gambar.
Kemudian datang pelukis, penulis, antropolog, dan pelancong lain. Ubud berkembang menjadi tempat perjumpaan seniman Bali, keluarga puri, dan tokoh asing. Lukisan, buku, foto, cerita perjalanan, serta jaringan pergaulan internasional membantu mengangkat Bali sebagai pulau seni dan Ubud sebagai pusat kebudayaannya.
Sejarawan Australia Adrian Vickers merangkum proses tersebut melalui judul bukunya, Bali: A Paradise Created. Surga Bali, dalam pembacaan Vickers, tidak semata-mata ditemukan. Ia dibentuk melalui kolonialisme, tulisan, seni, fotografi, promosi, dan pariwisata.
Bali sebagai tempat tentu telah lama ada. Namun, “Bali” yang beredar di dunia merupakan hasil seleksi.
Tari, gamelan, tubuh, pura, sawah, kehidupan desa, dan upacara terus-menerus ditampilkan. Konflik politik, kasta, kemiskinan, perebutan tanah, ambisi ekonomi, serta keinginan masyarakat Bali untuk hidup modern lebih mudah disisihkan.
Di sinilah pemikiran Edward Said menjadi relevan. Pemikir Palestina-Amerika itu menjelaskan dalam Orientalism, terbit pada 1978, bagaimana Barat membentuk gambaran tentang Timur sebagai lawan dari dirinya sendiri.
Timur digambarkan eksotis, spiritual, sensual, irasional, tradisional, serta belum modern. Gambaran tersebut bukan sekadar persoalan salah memahami kebudayaan lain. Di belakangnya bekerja hubungan kuasa. Pihak yang memproduksi gambaran ikut menentukan apa yang dianggap nyata, penting, menarik, dan layak dipercaya tentang masyarakat yang digambarkan.
Dalam kasus Bali, orientalisme tidak selalu hadir sebagai penghinaan. Ia lebih sering datang sebagai pujian.
Bali disebut spiritual. Masyarakatnya dianggap komunal. Upacara yang terus berlangsung diperlakukan sebagai bukti keaslian. Pulau ini dipuji karena dinilai belum sepenuhnya menyerupai dunia modern.
Orientalisme lama memandang Timur tertinggal karena belum modern. Orientalisme mutakhir justru mengagumi Timur karena dianggap belum modern.
Keduanya bertemu dalam satu sikap: orang luar merasa berhak menentukan tahap sejarah yang paling cocok bagi masyarakat lain.
Penelusuran terhadap pemberitaan sejumlah media asing menunjukkan bahwa imajinasi lama itu masih bekerja, hanya bahasanya yang berubah.
Pada 11 Maret 2026, Vogue menulis tren perjalanan bernama mystic outlands. Munduk dan Bali Timur dimasukkan sebagai tujuan bagi wisatawan yang mencari tempat terpencil, berkabut, dekat dengan upacara pura, ritual air, serta kehidupan yang dinilai autentik.
Ubud dan Uluwatu tetap disebut, tetapi sebagai wilayah spiritual yang sudah dikenal. Pandangan kemudian diarahkan ke utara dan timur, menuju daerah yang dianggap lebih sunyi dan belum terlalu ramai.
Yang dicari ternyata bukan sekadar tempat baru. Wisatawan sedang mencari panggung baru bagi imajinasi lama tentang Bali.
Pada Juni 2026, Reuters menulis generasi muda yang membayar untuk menjalani retret hening. Bali tampil sebagai tempat untuk menyerahkan telepon, menjauhi kafein dan gula, lalu membeli beberapa hari tanpa percakapan.
ABC Australia memandang Nyepi melalui kontras yang mudah dipahami pembaca asing. Ketika tahun baru di banyak tempat dirayakan dengan pesta dan kembang api, Bali menghentikan kendaraan, memadamkan lampu, menutup perdagangan, dan membiarkan jalan kosong.
Bagi umat Hindu Bali, Nyepi merupakan bagian dari rangkaian keagamaan. Dalam pasar pengalaman global, Nyepi mudah diterjemahkan menjadi sesuatu yang semakin langka dalam kehidupan modern: dunia yang bersedia berhenti.
Sementara itu, The Guardian memperlihatkan sisi yang jarang masuk kartu pos. Di belakang vila, kolam renang, pusat kebugaran, lapangan padel, restoran, dan ruang kerja bersama, Bali menghadapi tekanan air. Sawah menyusut. Subak terdesak. Sebagian warga harus membeli air, sedangkan industri pariwisata terus menjual kenyamanan yang memerlukan pasokan dalam jumlah besar setiap hari.
Tulisan-tulisan tersebut memiliki sudut pandang berbeda. The Guardian jauh lebih kritis dibandingkan Vogue. Namun, terdapat pola yang berulang: Bali tetap sering digunakan untuk membicarakan kebutuhan orang luar.
Ketika kehidupan mereka terasa terlalu cepat, Bali dibayangkan lambat.
Ketika dunia mereka dianggap terlalu materialistis, Bali diposisikan sebagai pulau spiritual.
Ketika layar dan pekerjaan menimbulkan kelelahan, Bali ditawarkan sebagai tempat memutus sambungan.
Ketika hubungan pribadi retak, ritual air dikemas sebagai kesempatan memulai kembali.
Bali hadir dalam tulisan-tulisan itu, tetapi sering kali melalui kegelisahan mereka yang datang.
Antropolog Prancis Michel Picard melihat hubungan pariwisata dan kebudayaan Bali secara lebih rumit. Dalam Bali: Cultural Tourism and Touristic Culture, ia menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya menggunakan kebudayaan sebagai daya tarik. Pariwisata juga ikut memengaruhi cara kebudayaan Bali dijelaskan, dipertunjukkan, bahkan dipahami oleh masyarakatnya sendiri.
Terbentuk lingkaran yang sulit diputus.
Wisatawan datang mencari Bali yang autentik. Industri pariwisata memilih tanda-tanda yang dianggap mewakili keaslian. Masyarakat menampilkan unsur kebudayaan yang paling mudah dikenali. Tampilan tersebut lalu dianggap sebagai bukti bahwa bayangan wisatawan tentang Bali memang benar.
Bali akhirnya tidak hanya dijual kepada orang luar. Bali juga perlahan belajar memandang dirinya melalui kacamata pariwisata.
Namun, masyarakat Bali bukan korban yang hanya menerima keadaan. Puri, seniman, pemerintah, pengusaha, desa adat, pemilik tanah, dan warga ikut menegosiasikan, memanfaatkan, menolak, atau mengubah citra tersebut.
Ubud, misalnya, tidak dibentuk oleh orang asing saja. Kawasan itu tumbuh melalui perjumpaan seniman Bali, keluarga puri, pelukis asing, pasar seni, pemerintah, investor, dan jaringan internasional.
Perubahan Bali juga tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada wisatawan asing. Pemerintah menerbitkan izin. Pengusaha membeli dan menyewa lahan. Pemilik tanah mengambil keputusan ekonomi. Elite lokal memperoleh keuntungan. Pasar domestik ikut mendorong pembangunan hotel, vila, restoran, dan kawasan komersial.
Masalah utamanya terletak pada ketimpangan kuasa dan pembagian manfaat.
Media global memiliki jangkauan besar. Hotel dan agen perjalanan memiliki modal. Investor dapat mengubah tanah menjadi komoditas. Algoritma menentukan gambar yang beredar. Pasar memilih bentuk Bali yang paling mudah dikenali sekaligus paling mudah dijual.
Sementara masyarakat setempat harus menjalani konsekuensi dari gambaran tersebut.
Pelancong datang membawa telepon pintar, laptop, kartu kredit, drone, dan aplikasi perjalanan. Mereka menginap di vila berpendingin udara, berenang di kolam, bekerja dari kafe, memesan makanan melalui aplikasi, serta meminta jaringan Internet berkecepatan tinggi.
Semua kenyamanan modern itu dianggap wajar tersedia.
Namun, di luar vila, sawah diharapkan tetap hijau. Petani diminta terus bertani. Rumah warga sebaiknya tidak terlalu tinggi. Anak muda Bali boleh bekerja dalam industri global, tetapi tetap diharapkan tampil sebagai pewaris tradisi yang tenang, ramah, dan selalu siap menjalankan upacara.
Bali boleh modern, selama modernitasnya tidak terlalu terlihat.
Kontradiksi itu makin jelas ketika warga Bali menggunakan hak yang sama untuk memperbaiki kehidupannya.
Petani yang menjual sawah dapat dituduh merusak Bali. Pertanyaan tentang mengapa bertani tidak lagi menjanjikan jarang diajukan. Begitu pula soal harga tanah yang melonjak, biaya produksi yang meningkat, menyusutnya pasokan air, dan besarnya permintaan terhadap vila.
Warga yang membangun rumah beton dianggap merusak pemandangan. Padahal rumah itu mungkin dibutuhkan untuk menampung anak, orang tua, serta kegiatan keluarga. Arsitektur tradisional memang memiliki nilai budaya, tetapi biaya pembangunan dan perawatannya tidak selalu terjangkau bagi setiap keluarga.
Keaslian mudah dipuji ketika biaya mempertahankannya ditanggung orang lain.
Petani menjaga sawah yang dipotret wisatawan. Desa menanggung biaya mempertahankan ruang terbuka. Komunitas adat mengeluarkan uang, tenaga, dan waktu untuk upacara yang sekaligus menopang citra pariwisata.
Penari, perajin, pemangku, perempuan pembuat sarana upacara, serta warga banjar terus menyediakan kebudayaan yang dipromosikan, dipertunjukkan, difoto, dan dijual.
Keuntungan yang dihasilkan dari seluruh aktivitas tersebut belum tentu kembali secara seimbang kepada mereka.
Karena itu, pertanyaan pentingnya tidak berhenti pada siapa yang meminta Bali tetap Bali.
Pertanyaan berikutnya lebih menentukan: siapa yang membayar agar Bali terus tampak seperti Bali?
Ubud menyediakan contoh yang mudah dilihat. Kawasan tersebut lama dipromosikan sebagai pusat seni, persawahan, yoga, meditasi, dan spiritualitas. Orang datang karena ingin tinggal dekat dengan semua unsur tersebut. Hotel, vila, restoran, studio yoga, pusat kebugaran, ruang kerja bersama, serta tempat penyembuhan kemudian tumbuh mengikuti permintaan.
Kini Ubud dikeluhkan karena macet, padat, dan terlalu ramai.
Kerinduan terhadap Ubud lama muncul tanpa selalu disertai kesadaran bahwa perubahan kawasan tersebut berkaitan langsung dengan kedatangan wisatawan, investasi, dan pembangunan fasilitas untuk melayani mereka.
Ketika Ubud dianggap kehilangan keaslian, imajinasi tentang Bali tidak ikut dibuang. Ia dipindahkan ke Munduk, Sidemen, Karangasem, atau wilayah lain yang dianggap belum terlalu tersentuh.
Pola yang sama dapat terulang. Daerah baru ditemukan, dipuji karena sunyi, dipromosikan sebagai Bali yang sesungguhnya, lalu dibangun untuk menampung orang-orang yang ingin menikmati kesunyian tersebut.
Kritik terhadap cara pandang ini tidak berarti Bali harus menerima semua pembangunan.
Vila ilegal, alih fungsi lahan, eksploitasi air, pelanggaran tata ruang, arsitektur serampangan, serta kerusakan lingkungan tetap harus dilawan. Pemerintah wajib mengendalikan pembangunan. Industri pariwisata harus menanggung lebih banyak biaya sosial dan ekologis yang selama ini dipikul warga.
Namun, mempertahankan Bali tidak sama dengan membekukannya seperti foto Gregor Krause lebih dari seabad lalu.
Kebudayaan yang hidup selalu berubah. Masyarakat Bali berhak membangun rumah yang nyaman, memilih pekerjaan di luar pertanian, memakai teknologi, membuka usaha, menempuh pendidikan, serta menafsirkan kembali cara hidup mereka.
Persoalannya bukan apakah Bali boleh berubah.
Yang perlu dipersoalkan ialah siapa yang menentukan arah perubahan, siapa yang memperoleh keuntungan, dan siapa yang menanggung kerugiannya.
Bali memang harus tetap Bali.
Namun, bukan Bali yang dibekukan dalam foto kolonial, halaman majalah perjalanan, unggahan media sosial, atau pemandangan dari jendela vila.
Bali yang tetap Bali ialah Bali yang masyarakatnya masih memiliki tanah, air, ruang hidup, kebudayaan, serta kuasa untuk menentukan sendiri bagaimana mereka memasuki masa depan. (*)
Menot Sukadana