Podiumnews.com / Horison / Neraca

Bali Sudah Terbiasa Enak

Oleh Nyoman Sukadana • 24 Juli 2026 • 17:20:00 WITA

Bali Sudah Terbiasa Enak
ILUSTRASI: Bayangan hotel jatuh di meja makan, menandai pariwisata yang membiayai sekaligus membentuk kebutuhan hidup keluarga Bali modern hari ini. (AI/Podiumnews)

PANDEMI Covid-19 pernah membuat Bali kehilangan turis dalam waktu singkat. Perbatasan negara ditutup. Penerbangan internasional dibatasi. Orang yang punya uang pun tidak dapat pergi berlibur.

Bali menerima sekitar 6,28 juta wisatawan mancanegara pada 2019. Setahun kemudian jumlahnya tinggal sekitar 1,07 juta. Sepanjang Januari hingga November 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) hanya mencatat 51 kedatangan wisatawan asing secara langsung ke Bali.

Bukan karena pantainya mendadak buruk. Bukan pula karena pura, sawah, atau kebudayaannya kehilangan pesona. Dunia sedang mengunci pintu.

Hotel menutup kamar. Restoran mengurangi pegawai. Pemandu wisata kehilangan rombongan. Sopir memarkir kendaraan. Pekerja yang bertahun-tahun hidup dari kedatangan orang asing pulang tanpa kepastian kapan akan dipanggil kembali.

Penghasilan berhenti. Tagihan tidak.

Cicilan sepeda motor tetap jatuh tempo. Uang sekolah anak harus dibayar. Listrik, internet, kebutuhan rumah tangga, obat orang tua, dan kewajiban sosial tidak mengenal istilah penutupan sementara.

Wisatawan bisa hilang dalam hitungan minggu. Cara hidup yang tumbuh bersama uang pariwisata ternyata tidak ikut pergi.

Pandemi kemudian memperlihatkan bahwa ketergantungan Bali pada pariwisata bukan hanya perkara hotel, restoran, dan angka pertumbuhan ekonomi. Pariwisata telah masuk lebih jauh. Ia membentuk pilihan sekolah, pekerjaan yang dianggap berhasil, barang yang dianggap perlu, tempat yang dipandang bergengsi, bahkan cara sebuah keluarga menilai masa depannya.

Bali sudah terbiasa enak.

Kalimat itu mudah disalahartikan sebagai sindiran kepada masyarakat yang manja. Seolah-olah orang Bali telah terlalu lama hidup dari uang turis, lalu lupa bagaimana caranya bersusah-susah. Seolah-olah “enak” hanya berarti kopi mahal, restoran, kendaraan baru, atau telepon pintar.

Padahal hidup enak tidak selalu berhubungan dengan kemewahan.

Rumah yang tidak bocor juga enak. Anak bisa kuliah juga enak. Orang tua dapat berobat tanpa menjual perhiasan juga enak. Keluarga mempunyai kendaraan untuk bekerja, sambungan internet untuk belajar, serta uang untuk menjalankan upacara tanpa terus-menerus berutang, itu juga bentuk kehidupan yang enak.

Pariwisata membantu banyak keluarga Bali mencapai keadaan tersebut.

Uang masuk melalui hotel, restoran, vila, perjalanan wisata, transportasi, pertunjukan seni, perdagangan, konstruksi, penyewaan tanah, dan berbagai usaha yang hidup dari kedatangan tamu. Pendapatan itu membiayai sekolah, rumah, kendaraan, upacara, dan usaha keluarga.

Pariwisata membuka jalan menuju kelas menengah.

Namun uang tidak pernah datang sendirian. Bersamanya ikut masuk standar baru tentang pekerjaan, kenyamanan, penampilan, dan keberhasilan.

Hotel adalah salah satu tempat standar itu dipelajari.

Seorang pegawai hotel tidak hanya menerima gaji. Ia memakai seragam, bekerja di lingkungan tertata, menggunakan bahasa asing, mengikuti pelatihan, mengenal pembagian jabatan, dan melihat kemungkinan promosi. Ia bisa mulai sebagai pekerja harian, menjadi penyelia, kepala bagian, lalu manajer.

Pariwisata memberi pekerjaan sebuah tangga yang terlihat.

Daya tarik itu tercermin dalam pasar tenaga kerja. Pada Februari 2024, penyediaan akomodasi dan makan-minum menjadi lapangan usaha dengan pertambahan pekerja terbesar di Bali. Jumlah pekerjanya meningkat sekitar 59.790 orang dibandingkan setahun sebelumnya. Pada 2025, sekitar 392 ribu penduduk Bali bekerja dalam sektor tersebut.

Angka itu belum mencakup sopir, pemandu, penari, fotografer, pemasok makanan, agen properti, pekerja bangunan, pedagang, dan pemilik kamar sewaan. Mereka tercatat dalam kelompok usaha yang berbeda, tetapi penghasilannya tetap bergerak mengikuti ramai dan sepinya wisatawan.

Dari hubungan panjang itu lahir hierarki pekerjaan.

Pegawai hotel lebih mudah dikenali sebagai profesi. Ada perusahaan, jabatan, kartu pegawai, seragam, slip gaji, dan tempat kerja. Ketika bank meminta bukti penghasilan, semuanya tersedia.

Petani mempunyai pengetahuan yang tidak kalah rumit. Ia memahami tanah, air, musim, benih, hama, dan cuaca. Namun pendapatannya tidak datang pada tanggal yang sama setiap bulan. Harga panen dapat berubah. Hujan bisa merusak perhitungan. Jenjang kariernya tidak tercetak dalam bagan organisasi.

Masyarakat tetap mengatakan petani adalah pekerjaan mulia. Pilihan keluarga sehari-hari sering berkata lain.

Banyak orang tua menyekolahkan anak agar tidak menjalani pekerjaan berat yang mereka lakukan. Anak diharapkan memperoleh gaji tetap, bekerja di tempat bersih, memakai seragam, dan mempunyai peluang naik jabatan. Anak yang menjadi kepala bagian hotel lebih mudah disebut berhasil daripada anak yang kembali mengolah sawah keluarga.

Anak muda kemudian dituduh tidak tertarik bertani.

Tuduhan itu terlalu mudah. Mereka tumbuh dalam struktur ekonomi yang memberi pendapatan, kepastian, identitas, dan pengakuan lebih besar kepada pekerjaan yang berhubungan dengan pariwisata.

Pariwisata bukan hanya membentuk pasar kerja. Ia membentuk selera terhadap pekerjaan.

Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis yang meneliti hubungan antara selera dan kelas sosial, menyebut pilihan makanan, pakaian, pendidikan, hiburan, dan pekerjaan tidak sepenuhnya lahir dari kehendak pribadi. Selera juga dipakai untuk menunjukkan posisi sosial. Orang memilih sesuatu karena menyukainya, sekaligus karena pilihan itu menunjukkan ingin menjadi bagian dari kelompok mana.

Bali merupakan panggung yang besar bagi proses tersebut.

Jutaan wisatawan datang membawa daya beli, pakaian, makanan, teknologi, dan cara menggunakan waktu luang. Mereka tinggal di vila, makan di restoran, berolahraga di pusat kebugaran, bekerja dari kafe, dan menghabiskan uang untuk kenyamanan.

Masyarakat Bali tidak meniru semuanya secara mentah. Pengaruh itu disaring dan dipadukan dengan kebutuhan lokal. Rumah modern tetap mempunyai tempat suci. Kendaraan digunakan untuk bekerja sekaligus menghadiri kegiatan banjar. Gaji hotel dipakai membayar kuliah sekaligus membiayai upacara.

Pariwisata tidak menghapus kehidupan lama. Ia membuat kehidupan lama dijalankan dengan ukuran ekonomi baru.

Upacara dapat dibuat lebih besar. Rumah diperluas. Busana adat makin beragam. Telepon pintar dipakai bekerja, berjualan, mengatur kegiatan banjar, dan menyebarkan undangan upacara. Kendaraan diperlukan karena tempat kerja, sekolah, rumah keluarga, dan kegiatan sosial berada di lokasi berbeda.

Karena itu, perubahan konsumsi tidak dapat disederhanakan sebagai pemborosan.

Pada 2025, rata-rata pengeluaran penduduk Bali mencapai sekitar Rp1,96 juta per kapita setiap bulan. Pengeluaran makanan sekitar Rp827 ribu. Pengeluaran bukan makanan mencapai sekitar Rp1,14 juta, hampir 58 persen dari keseluruhan pengeluaran.

Kelompok bukan makanan meliputi perumahan, fasilitas rumah tangga, pendidikan, kesehatan, transportasi, pakaian, pajak, dan berbagai jasa.

Angka itu tidak membuktikan bahwa masyarakat Bali hidup mewah. Ia menunjukkan bahwa kehidupan modern mempunyai ongkos yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan beras dan lauk.

Ketika pendapatan turun, keluarga dapat berhenti makan di restoran. Mereka tidak mudah menghentikan sekolah anak, memutus internet, menjual kendaraan yang dipakai bekerja, atau menunda pengobatan orang tua.

Kemajuan menciptakan kebutuhan yang sulit dibatalkan.

Pariwisata tentu bukan satu-satunya penyebab. Urbanisasi, pendidikan, media sosial, teknologi, kredit, dan pertumbuhan kelas menengah juga mengubah gaya hidup masyarakat di daerah lain. Namun Bali mengalami perjumpaan yang lebih langsung. Jutaan orang asing datang setiap tahun, menggunakan ruang yang sama, membawa daya beli, dan menciptakan pasar bagi bentuk-bentuk kenyamanan baru.

Pariwisata menjadi sumber pendapatan sekaligus etalase kehidupan.

Kafe yang mula-mula dibangun untuk wisatawan kemudian dipenuhi anak muda Bali. Meja yang dahulu digunakan turis untuk sarapan berubah menjadi tempat rapat, bekerja dengan laptop, bertemu klien, merayakan ulang tahun, atau sekadar menjaga pergaulan.

Pusat kebugaran, restoran, spa, tempat perawatan tubuh, dan berbagai ruang rekreasi mengalami pergeseran serupa. Fasilitas yang awalnya tumbuh karena wisatawan kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal.

Tidak ada yang otomatis buruk dari perubahan itu. Kafe dapat membuka usaha dan memperluas pergaulan. Pusat kebugaran dapat membuat orang lebih sehat. Restoran memperkaya pilihan makanan.

Persoalan muncul ketika ruang konsumsi ikut menentukan kelas sosial.

Canggu, Berawa, Seminyak, Sanur, dan Ubud tidak lagi hanya menjadi nama wilayah. Setiap kawasan membawa citra, harga, pakaian, makanan, dan pergaulan tertentu. Alamat tempat tinggal, tempat makan, hingga lokasi seseorang mengunggah foto mulai ikut menentukan bagaimana ia dibaca oleh lingkungannya.

Tentu tidak semua masyarakat Bali hidup dengan standar yang sama. Pengaruh pariwisata di Badung, Denpasar, dan Gianyar berbeda dengan Bangli, Jembrana, Karangasem, atau Buleleng. Dalam satu kawasan wisata pun terdapat pemilik tanah, pengusaha, pekerja kontrak, pedagang kecil, pendatang, dan keluarga yang tidak memperoleh keuntungan langsung.

Namun pusat pariwisata mempunyai kekuatan menentukan apa yang dianggap baru, maju, dan berhasil. Ukuran itu menyebar melalui media sosial, pergaulan, pendidikan, dan pasar.

Tanah memperlihatkan perubahan tersebut dengan lebih terang.

Tanah keluarga dahulu terutama dipandang sebagai tempat tinggal, kebun, sawah, warisan leluhur, dan jaminan bagi generasi berikutnya. Pariwisata menambahkan ukuran lain: harga per meter, lebar jalan, pemandangan, jarak dari pantai, dan kemungkinan dibangun menjadi vila atau restoran.

Sawah tidak lagi hanya dihitung dari jumlah panen. Kebun tidak lagi dinilai dari kelapa, kopi, atau buah. Sebidang tanah dibandingkan dengan nilai sewanya selama dua puluh atau tiga puluh tahun.

Tanah berubah menjadi tiket naik kelas.

Keluarga yang menyewakan lahan dapat membangun rumah, membeli kendaraan, membiayai pendidikan, menjalankan upacara, dan membuka usaha. Pariwisata benar-benar menciptakan kekayaan bagi banyak pemilik tanah.

Namun kekayaan itu membawa ironi.

Harga tanah yang naik membuat generasi berikutnya kesulitan membeli lahan di kampung sendiri. Sawah yang memberikan hasil sedikit demi sedikit kalah menarik dibandingkan pembayaran sewa dalam jumlah besar. Kampung menjadi mahal bagi orang yang lahir di sana.

Pariwisata menaikkan pendapatan. Ia sekaligus menaikkan ongkos untuk tetap hidup di wilayah yang diperkayanya.

Di sinilah kalimat Bali sudah terbiasa enak menemukan persoalannya.

Setelah keluarga mengenal pendidikan tinggi, rumah yang lebih baik, kendaraan, pekerjaan bergaji bulanan, teknologi, dan waktu senggang, semuanya sulit dibalik. Tidak masuk akal meminta masyarakat kembali kepada standar hidup tiga atau empat dasawarsa lalu hanya karena pariwisata sedang terguncang.

Pandemi membuktikannya.

Banyak pekerja kembali berkebun, melaut, menjual makanan, menjadi buruh, atau menerima pekerjaan apa pun yang tersedia. Itu menunjukkan daya tahan. Namun daya tahan sering dibaca terlalu romantis.

Orang dapat bertahan dengan pendapatan lebih kecil. Belum tentu ia dapat mempertahankan biaya kuliah anak, cicilan kendaraan, kesehatan orang tua, dan kebutuhan rumah tangga yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Orang juga tidak membandingkan pekerjaan hanya dari besarnya upah. Mereka memperhitungkan kepastian, jenjang karier, lingkungan kerja, akses kredit, jaringan sosial, dan pengakuan.

Itulah sebabnya seruan mengurangi ketergantungan terhadap pariwisata tidak selesai dengan membagikan bibit atau meminta pekerja hotel kembali bertani.

Sektor lain harus menawarkan kehidupan yang tetap dianggap berhasil.

Pertanian perlu menghasilkan petani profesional, ahli teknologi, pengusaha pangan, pengelola merek, dan pemilik industri pengolahan. Industri kreatif harus mampu menjual karya ke pasar nasional dan internasional, bukan hanya cendera mata kepada wisatawan. Pendidikan perlu membuka jalan menuju profesi kesehatan, teknologi, penelitian, lingkungan, dan jasa profesional.

Diversifikasi bukan usaha mengembalikan masyarakat kepada kehidupan lama. Ia harus menyediakan jalan baru menuju kelas menengah.

Pada 2025, penyediaan akomodasi dan makan-minum masih menyumbang lebih dari 22 persen ekonomi Bali. Sektor tersebut menjadi kontributor terbesar dan tumbuh lebih dari 10 persen sepanjang tahun.

Data itu menjelaskan mengapa Bali segera kembali kepada pariwisata setelah pandemi. Industri ini sudah mempunyai pasar, modal, pekerja, infrastruktur, serta jaringan yang sulit ditandingi sektor lain.

Namun ketergantungan Bali tidak hanya terdapat dalam statistik ekonomi. Ia telah masuk ke pilihan sekolah, penilaian terhadap pekerjaan, harga tanah, pola konsumsi, ruang pergaulan, dan gambaran masa depan.

Bali tidak keliru karena menikmati kehidupan yang lebih baik. Banyak keluarga memperoleh pendidikan, rumah, usaha, dan kesempatan melalui pariwisata.

Masalahnya, hampir seluruh jalan menuju kehidupan yang dianggap berhasil dibangun dari sumber uang yang sama.

Wisatawan dapat berhenti datang karena pandemi, perang, krisis ekonomi, bencana, atau perubahan selera. Masyarakat tidak dapat diminta menghentikan pendidikan, kebutuhan, dan cita-citanya pada saat yang sama.

Bali sudah terbiasa enak.

Tantangannya bukan mengajari masyarakat hidup susah kembali. Tantangannya menciptakan sumber kemakmuran lain agar hidup enak tidak selalu bergantung pada turis yang datang. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.