Buleleng Tak Perlu ke Selatan
SELAMA bertahun-tahun, arah mencari kerja bagi banyak anak muda Buleleng relatif mudah ditebak. Setelah tamat sekolah, pilihan yang terbuka lebih lebar berada di selatan. Denpasar, Badung, Gianyar, lalu kawasan wisata seperti Kuta, Nusa Dua, Sanur atau Ubud menjadi tempat mencari pengalaman sekaligus penghasilan.
Pola itu lahir dari struktur ekonomi Bali sendiri. Industri pariwisata tumbuh jauh lebih cepat di bagian selatan, sementara perkembangan Bali Utara tertinggal. Pemerintah Kabupaten Buleleng bahkan mengakui pertumbuhan ekonomi Bali dalam waktu lama lebih banyak bertumpu pada Badung, Denpasar, Gianyar dan sebagian Tabanan. Ketimpangan tersebut ikut menentukan persebaran pekerjaan dan perpindahan tenaga kerja antardaerah.
Data migrasi lama BPS memperlihatkan jejaknya. Buleleng pernah mencatat 21.742 migran keluar dan hanya 9.467 migran masuk. Pada periode yang sama, Badung dan Denpasar justru mencatat migrasi neto positif. Angka tersebut tentu tidak menggambarkan keadaan 2026 secara langsung, tetapi menunjukkan pola lama: orang bergerak menuju wilayah yang memiliki kegiatan ekonomi lebih besar.
Sekarang arahnya mulai bertambah.
Bukan hanya ke selatan.
Pada 2024, sebanyak 2.245 dari 9.597 pekerja migran Indonesia asal Bali berasal dari Buleleng. Setahun kemudian jumlahnya naik menjadi 2.437 orang. Hingga April 2026, sudah 1.052 pekerja asal kabupaten ini ditempatkan di luar negeri dari total sekitar 4.900 pekerja migran asal Bali. BP3MI menyebut Buleleng sebagai kabupaten dengan penempatan pekerja migran terbesar di Bali.
Jumlah tersebut terlalu besar untuk dipandang sebagai kumpulan keputusan pribadi yang tidak saling berhubungan. Ada perubahan pada cara tenaga kerja Buleleng melihat pasar.
Dulu, bekerja di hotel Badung bisa menjadi tujuan setelah lulus sekolah pariwisata. Sekarang pekerjaan yang sama juga tersedia di kapal pesiar, Turki, Italia, Jepang, Bulgaria atau negara lain. Bali Selatan masih menjadi pasar kerja penting, tetapi bukan lagi satu-satunya pintu.
Perubahan itu dimungkinkan karena infrastruktur pembentukan tenaga kerja mulai tersedia di Buleleng sendiri.
SMKN 1 Singaraja, misalnya, memiliki ratusan siswa di program perhotelan dan usaha layanan pariwisata. Program sejenis juga terdapat di SMKN 1 Sukasada, SMKN 1 Seririt dan SMKN 1 Gerokgak. Jurusan perhotelan, kuliner serta pelayanan wisata tersedia jauh sebelum siswanya harus meninggalkan Bali Utara.
Setelah sekolah, pilihan pelatihan juga semakin banyak. Pertemuan yang digelar Disnakertrans Buleleng pada Agustus 2026 melibatkan 13 lembaga pelatihan kerja yang beroperasi di kabupaten ini. Bidangnya beragam, mulai bahasa Jepang, pelatihan kapal pesiar, spa, perhotelan hingga bahasa Inggris.
Sebagian lembaga tersebut sejak awal memang mengarahkan peserta ke pasar luar negeri. Calon pekerja tidak hanya diajarkan keterampilan teknis, tetapi juga bahasa dan persiapan mengikuti proses perekrutan.
Perusahaan penempatan pekerja migran juga sudah masuk ke Buleleng. BP3MI melakukan pengawasan terhadap kantor cabang P3MI yang beroperasi di wilayah tersebut. Kehadiran perusahaan penempatan membuat jarak antara calon pekerja di Bali Utara dan perusahaan luar negeri semakin pendek.
Jalur yang terbentuk karena itu berbeda dengan satu atau dua dekade sebelumnya.
Anak muda Buleleng tidak harus selalu pindah ke Kuta atau Nusa Dua lebih dahulu hanya untuk mengenal pekerjaan hospitality. Pendidikan dasar dapat diperoleh di daerah sendiri, pelatihan tersedia, sementara informasi lowongan dan proses perekrutan luar negeri semakin mudah diakses.
Pilihan itu masuk akal ketika dilihat dari penghasilan.
Buleleng tidak menetapkan UMK yang lebih tinggi dari UMP Bali. Pada 2026, UMP Bali ditetapkan Rp3.207.459. Di selatan, UMK Badung mencapai Rp3.791.002 dan Denpasar Rp3.499.879. Selisih tersebut masih membuat Badung menarik bagi pencari kerja dari kabupaten lain.
Tetapi perbandingan pekerja sekarang tidak lagi berhenti antara Singaraja dan Badung.
Mereka juga bisa melihat tawaran dari luar negeri.
Pekerjaan hospitality yang dipasarkan melalui jalur resmi menawarkan penghasilan yang dalam sejumlah kasus jauh lebih tinggi daripada upah minimum Bali. Sebagian juga menyediakan akomodasi, makan atau fasilitas lain. Kondisinya berbeda pada setiap negara, sehingga angka gaji tidak dapat dibandingkan begitu saja dengan upah di Bali. Namun bagi pekerja, selisih pendapatan tetap menjadi pertimbangan yang mudah dipahami.
Pemerintah Kabupaten Buleleng sendiri mengakui minat bekerja ke luar negeri semakin besar karena peluang terbuka, kualitas pelatihan meningkat dan penghasilan dinilai lebih tinggi dibanding pekerjaan sejenis di dalam negeri. Kerja luar negeri bahkan mulai dipandang sebagai jalur karier, bukan sekadar pilihan terakhir ketika seseorang gagal mendapat pekerjaan di daerah asal.
Ini menarik karena Buleleng bukan daerah yang sedang mengalami pengangguran besar.
Pada 2025, sekitar 509 ribu penduduk Buleleng tercatat bekerja. Tingkat pengangguran terbuka sekitar 1,52 persen. Ekonomi kabupaten juga tumbuh 5,54 persen, sementara sektor akomodasi dan makan-minum tumbuh 10,87 persen.
Jadi orang pergi bukan semata karena tidak ada pekerjaan.
Pasarnya yang berubah.
Anak muda yang memiliki keterampilan perhotelan kini dapat membandingkan beberapa pilihan sekaligus. Ia bisa bekerja di Singaraja, pindah ke Badung, mencoba kapal pesiar, atau mengikuti perekrutan ke Jepang dan Eropa. Jarak geografis tidak lagi menjadi batas utama selama kemampuan, bahasa dan dokumen yang dibutuhkan tersedia.
Di sinilah posisi Bali Selatan mulai berubah.
Selama puluhan tahun, Denpasar dan Badung berfungsi sebagai magnet bagi tenaga dari kabupaten lain. Pekerjaan mengikuti investasi. Ketika hotel, restoran dan pusat wisata terkonsentrasi di selatan, orang Buleleng yang ingin masuk industri pariwisata harus bergerak ke sana.
Pasar global membuat rantai itu tidak lagi harus selalu dilalui.
Investasi hotel tidak perlu terlebih dahulu pindah ke Singaraja agar tenaga kerja Buleleng memperoleh akses pada pekerjaan internasional. Perekrut dapat mencari orang langsung dari daerah asal. Sekolah dan lembaga pelatihan menyiapkan tenaga, sedangkan proses penempatan membawa mereka ke tempat lain.
Karena itu, gagasan pemerataan ekonomi Bali Utara sekarang berhadapan dengan kenyataan yang agak ironis.
Selama ini solusi ketimpangan utara-selatan banyak dibicarakan melalui pembangunan infrastruktur dan pemindahan pusat pertumbuhan. Bali Utara diharapkan mendapat investasi lebih besar agar penduduknya tidak harus terus mencari nafkah ke selatan.
Namun sebelum investasi besar itu benar-benar tiba, sebagian tenaga mudanya sudah menemukan jalan keluar sendiri.
Mereka tidak menunggu hotel internasional dibangun di Buleleng. Keterampilan yang dimiliki sudah mempunyai pembeli di negara lain.
Hal itu tidak berarti Bali Selatan kehilangan peran. Badung dan Denpasar tetap menyediakan pasar kerja jauh lebih besar dibanding Buleleng. Industri pariwisata di selatan juga menjadi tempat banyak pekerja memperoleh pengalaman sebelum mencoba pekerjaan yang lebih jauh.
Tetapi kedudukannya sebagai satu-satunya tangga menuju karier pariwisata mulai berkurang.
Ada sisi lain yang tidak boleh dilewatkan.
Besarnya minat bekerja ke luar negeri ikut membuka ruang bagi persoalan penempatan. BP3MI dan pemerintah daerah beberapa kali menangani pengaduan calon pekerja yang bermasalah dengan lembaga pelatihan atau proses perekrutan. Pada Juli 2026, DPRD Buleleng bahkan menggelar rapat dengar pendapat terkait calon pekerja yang mengaku mengalami kerugian dalam program sebuah LPK.
Semakin banyak orang ingin berangkat, semakin besar pula pasar bagi lembaga yang menawarkan jalan menuju pekerjaan luar negeri. Pengawasan menjadi penting karena biaya pelatihan, dokumen serta proses penempatan dapat mencapai jumlah yang tidak kecil bagi keluarga pekerja.
Ada pula persoalan sosial yang mulai diperhatikan pemerintah daerah. Kepergian tenaga usia muda dalam waktu panjang berpengaruh terhadap keterlibatan mereka dalam keluarga, desa adat dan kehidupan sosial. Pemkab Buleleng sudah mengangkat persoalan ini dalam pembahasan mengenai meningkatnya pekerjaan migran.
Masalah lain bahkan mulai terlihat di pasar kerja lokal.
Disnakertrans Buleleng pada Juni 2026 menyoroti semakin sulitnya mendapatkan tukang bangunan lokal. Sejumlah proyek harus mendatangkan tenaga dari luar Bali. Pemerintah mengaitkannya dengan perubahan pilihan kerja generasi muda yang makin enggan masuk pekerjaan konstruksi.
Belum ada data yang cukup untuk menyimpulkan bahwa keberangkatan pekerja migran menjadi penyebab langsung kekurangan tersebut. Tetapi dua perkembangan itu menunjukkan perubahan yang sama: tenaga muda Buleleng semakin mempunyai pilihan untuk meninggalkan pekerjaan yang dinilai kurang menarik.
Di satu sisi, pekerja Buleleng pergi ke luar negeri. Pada sisi lain, beberapa pekerjaan di daerah sendiri mulai diisi tenaga dari luar.
Pola seperti ini bukan hal aneh dalam ekonomi terbuka. Tenaga kerja bergerak menuju pekerjaan yang dianggap menawarkan hasil lebih baik. Kekosongan yang ditinggalkan kemudian diisi oleh orang dari daerah dengan pilihan berbeda.
Persoalan bagi Buleleng justru baru akan terasa apabila pembangunan ekonomi Bali Utara benar-benar bergerak lebih cepat.
Hotel baru, kawasan wisata, industri, konstruksi dan berbagai investasi yang selama ini diharapkan masuk ke utara akan membutuhkan pekerja. Pada saat itu, mereka tidak hanya bersaing dengan perusahaan di Badung atau Denpasar dalam mencari tenaga.
Mereka mungkin harus bersaing dengan kapal pesiar, hotel di Eropa, spa di Turki dan perusahaan Jepang.
Karena itu, pembicaraan mengenai pekerja migran Buleleng tidak cukup berhenti pada jumlah orang yang berhasil diberangkatkan atau besarnya uang yang dikirim pulang. Ada pertanyaan yang lebih panjang mengenai bagaimana daerah mempertahankan tenaga terampil, bagaimana pengalaman pekerja yang pulang digunakan, dan apakah investasi baru di Bali Utara mampu memberikan pekerjaan yang cukup menarik bagi penduduknya sendiri.
Untuk saat ini, angka penempatan pekerja migran menunjukkan satu perubahan yang sulit diabaikan.
Anak muda Buleleng tidak lagi harus melihat Bali Selatan sebagai satu-satunya tempat untuk mendapatkan pekerjaan pariwisata yang lebih baik.
Dunia sudah membuka pintu lain.
Ketika ekonomi utara kelak benar-benar tumbuh, pertanyaan berikutnya mungkin bukan lagi bagaimana menyediakan pekerjaan bagi orang Buleleng.
Melainkan apakah orang Buleleng masih tertarik mengambilnya. (*)
Menot Sukadana