Podiumnews.com / Horison / Neraca

Bukan Gaji, tapi Sisanya

Oleh Nyoman Sukadana • 17 September 2026 • 13:32:00 WITA

Bukan Gaji, tapi Sisanya
ILUSTRASI slip gaji yang terus menyusut, dipotong biaya hidup, hingga hanya menyisakan sedikit tabungan di celengan pada akhir bulan itu. (AI/Podiumnews)

YOGA WIKRAMA sudah punya pekerjaan sebelum berangkat ke kapal pesiar. Ia pernah bekerja di sebuah hotel di Nusa Dua. Penghasilannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi sulit menjadi tabungan.

Warga Desa Abuan, Bangli, itu akhirnya memilih berlayar. Ketika diwawancarai BaleBengong pada 2024, Yoga sudah delapan tahun bekerja di kapal pesiar.

“Kerja di Bali itu istilahnya cukup. Tujuan ke kapal itu untuk masa depan karena gajinya lumayan di sana, kita bisa nge-keep gaji kita di sana untuk ngirim uang,” katanya kepada BaleBengong.

Selama kontrak, makan dan tempat tinggal disediakan perusahaan. Pengeluaran yang biasanya habis untuk tempat tinggal dan makan sehari-hari praktis tidak ada. Sebagian gaji bisa dikirim ke rumah, sisanya disimpan.

Yoga bukan kasus khusus di kampungnya. Dalam laporan BaleBengong tentang pekerja kapal pesiar di Desa Abuan, disebutkan 62 warga Banjar Serokadan Kaja bekerja di kapal pesiar. Jumlahnya lebih dari 180 orang jika dihitung seluruh Desa Abuan.

Pada akhir 1990-an, warga desa yang bekerja di kapal masih sedikit. Setelah orang-orang pertama pulang, pekerjaan di kapal pesiar makin dikenal oleh keluarga dan tetangga. Jalurnya juga makin terbuka karena warga sudah mempunyai informasi tentang sekolah, biaya keberangkatan hingga perusahaan tempat melamar.

Cerita lain datang dari Polandia.

Sri Intan bekerja sebagai terapis. Kepada ANTARA, perempuan asal Bali itu mengatakan dapat mengirim Rp7 juta hingga Rp8 juta setiap bulan kepada keluarganya di Klungkung.

Gaji pokoknya sekitar Rp8 juta sampai Rp9 juta, belum termasuk tip. Makan dan tempat tinggal disediakan pemberi kerja. Kebutuhan sehari-hari dapat ditutup dari tip sehingga sebagian besar gaji pokok bisa dikirim ke Bali.

“Bersyukurnya, makan dan tempat tinggal kita sudah disiapkan pihak pemberi kerja,” kata Sri Intan seperti dikutip ANTARA.

Hitungan pekerja migran memang tidak berhenti pada angka gaji.

Pekerja hotel di Bali bisa menerima pendapatan lebih tinggi dari upah minimum karena ada service charge dan tunjangan. Tetapi sebagian pendapatan itu kembali keluar untuk tempat tinggal, makan, bensin dan kebutuhan sehari-hari. Bebannya tentu berbeda antara pekerja yang masih tinggal bersama keluarga dan mereka yang harus menyewa kamar dekat tempat kerja.

Di kapal pesiar, tempat tinggal dan makanan menjadi bagian dari fasilitas selama kontrak. Sejumlah lowongan resmi pekerja migran untuk sektor hotel, restoran dan spa juga mencantumkan akomodasi atau konsumsi yang ditanggung pemberi kerja.

Klungkung bahkan beberapa tahun terakhir menyiapkan tenaga spa untuk pasar luar negeri.

Program pelatihan diberikan antara lain kepada warga dari keluarga kurang mampu. Hingga April 2026, menurut laporan detikBali, 48 peserta asal Klungkung telah bekerja sebagai terapis di luar negeri. Penghasilan pokok mereka disebut berada pada kisaran Rp13 juta hingga Rp15 juta per bulan.

Ni Luh Suyeni Purnawati Dewi dari Nusa Penida menjadi salah satu peserta yang berangkat. Kepada detikBali, ia mengatakan ingin bekerja agar bisa mandiri sekaligus membantu orang tuanya.

Pilihan bekerja ke luar negeri terus berlangsung. Data penempatan pekerja migran menunjukkan 5.631 warga Bali berangkat ke luar negeri sepanjang Januari hingga Juni 2025. Terapis spa menjadi kelompok terbesar dengan 1.461 orang, disusul waiter 943 orang dan housekeeping 415 orang.

Pada 2026, BP3MI mencatat Bali berada di urutan keenam nasional dalam penempatan pekerja migran Indonesia. Di Buleleng, 567 pekerja berangkat selama Januari hingga Juni tahun itu. Turki menjadi salah satu negara tujuan terbesar, terutama untuk pekerjaan spa dan perhotelan.

Angka tersebut menarik karena Bali sendiri mempunyai industri pariwisata besar. Hotel, restoran, vila dan spa membutuhkan tenaga kerja. Sekolah, kampus dan lembaga pelatihan pariwisata juga tersebar di sejumlah kabupaten.

Sebagian orang yang memperoleh keterampilan dari industri tersebut kemudian mencari pasar kerja di luar negeri.

Gaji jelas menjadi pertimbangan. Selisihnya bisa beberapa kali lipat dibanding penghasilan awal pekerja hotel atau spa di Bali. Namun, cerita Yoga dan Sri Intan memperlihatkan perhitungan yang lebih rinci.

Yoga pernah bekerja di Bali sehingga tahu berapa penghasilan yang diterima dan berapa yang tersisa setiap bulan. Sri Intan bisa mengirim sebagian besar gaji pokok karena dua pengeluaran besar, makan dan tempat tinggal, sudah ditanggung perusahaan.

Di Desa Abuan, persoalan modal juga ikut menentukan pilihan.

Kepala Desa Abuan, I Wayan Wiadnyana, dalam laporan BaleBengong mengatakan banyak warga desanya berasal dari keluarga petani dan buruh. Membuka usaha membutuhkan modal, sementara meminjam uang membawa risiko jika usaha tidak berjalan sesuai rencana. Bekerja ke luar negeri kemudian menjadi salah satu jalan yang dipilih keluarga.

Biaya pendidikan dan keberangkatan tetap harus disiapkan. Setelah bekerja, uang yang dikirim dari luar negeri digunakan untuk berbagai kebutuhan keluarga dan tabungan.

Pilihan itu tentu mempunyai harga.

Sri Intan, dalam laporan ANTARA, bekerja sekitar 12 jam sehari dan memperoleh satu hari libur dalam seminggu. Yoga menjalani kontrak berbulan-bulan jauh dari keluarga. BaleBengong juga mencatat persoalan pengasuhan anak ketika suami dan istri sama-sama bekerja di kapal pesiar.

Di situlah hitungannya menjadi tidak sesederhana membandingkan dua angka gaji.

Pekerja tahu pekerjaan di luar negeri berarti meninggalkan rumah dalam waktu panjang. Jam kerjanya juga tidak ringan. Tetapi mereka bisa menghitung dengan cukup jelas berapa uang yang dapat dikirim setiap bulan dan berapa yang mungkin terkumpul setelah satu atau beberapa kontrak.

Bagi Yoga, pekerjaan di Bali sudah pernah dicoba. Ia tahu hasilnya.

Kapal pesiar menawarkan hitungan berbeda.

Bukan cuma berapa gaji yang diterima, tetapi berapa yang masih bisa dibawa pulang. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.