Podiumnews.com / Horison / Neraca

Ombak Dulu, Modal Kemudian

Oleh Nyoman Sukadana • 26 Juli 2026 • 13:33:00 WITA

Ombak Dulu, Modal Kemudian
ILUSTRASI: Papan selancar dan tanda tanah dijual menggambarkan ombak yang lebih dahulu terkenal, lalu modal perlahan menguasai ruang pesisir Bali. (AI/Podiumnews)

RUSTY Miller dan Stephen Cooney berdiri di mulut gua Uluwatu pada 1971. Miller memandang gelombang setinggi delapan hingga sepuluh kaki yang pecah di atas karang. Cooney baru berusia 15 tahun. Papan selancar mereka belum dilengkapi tali pengaman.

Albe Falzon berdiri di atas tebing dengan kamera. Ia merekam keduanya masuk ke laut.

Adegan itu kemudian muncul dalam Morning of the Earth, film selancar Australia yang dirilis pada 1972. ABC Australia menyebut gambar Miller dan Cooney sebagai salah satu adegan penting dalam sejarah selancar. Film tersebut menjadi kartu pengenal Bali dan menarik peselancar dari berbagai negara menuju Uluwatu. 

Falzon membangun gambaran Bali secara terencana. Ia tidak memasukkan mobil, tiang listrik, atau bangunan modern ke dalam film. Ia ingin menampilkan alam, laut, dan kehidupan masyarakat Bali tanpa gangguan pembangunan. Uluwatu muncul sebagai kawasan yang belum dipadati wisatawan dan bangunan komersial. 

Film itu tidak langsung membawa investor. Peselancar juga bukan satu-satunya kelompok yang memperkenalkan Bali kepada dunia. Seni, kebudayaan, upacara, dan kehidupan masyarakat Bali telah lama menarik wisatawan asing.

Namun, di sejumlah kawasan pantai, peselancar menjadi kelompok awal yang membangun reputasi tempat. Mereka mencari ombak, mengenali musim, menemukan jalan menuju pantai, lalu menyebarkan informasi melalui film, majalah, dan percakapan antarpeselancar.

Wisatawan lain mengikuti setelah pantai itu dikenal. Bisnis datang ketika jumlah pengunjung mulai membentuk pasar.

Kuta menjalani proses tersebut lebih dahulu.

Sejarawan Universitas Udayana I Nyoman Wijaya dan Sri Lestari, dalam artikel Kuta, Bali: From Port City to Surf City yang terbit di Journal of Maritime Studies and National Integration Universitas Diponegoro pada 2025, mencatat kegiatan selancar di Kuta telah dimulai pada 1937.

Bob Koke, warga Amerika Serikat, bersama Muriel Pearson membuka Kuta Beach Hotel. Koke membuat papan dan menawarkan pelajaran berselancar kepada wisatawan yang menginap di hotel tersebut. Kegiatan itu berhenti setelah hotel tersebut dibakar pasukan pendudukan Jepang pada 1942. 

Selancar hidup kembali pada akhir 1960-an ketika pelancong hippie Amerika datang ke Kuta. Pelancong Australia menyusul dalam jumlah lebih besar pada awal 1970-an. Mereka mencari penginapan murah, pantai terbuka, dan ombak yang belum dipenuhi peselancar.

Dengan merujuk data kepolisian, Wijaya dan Lestari mencatat jumlah pelancong hippie di Kuta meningkat dari 1.700 orang pada 1971 menjadi 6.280 orang pada 1972. Setahun kemudian, jumlahnya mencapai 14.447 orang. 

Warga Kuta melihat peluang. Sebagian rumah diubah menjadi penginapan. Warung makan, penyewaan sepeda motor, toko cendera mata, dan berbagai usaha lain tumbuh di sekitar pantai.

Laporan Tim Penelitian Hippies Komdak XV Bali pada 1973 mencatat 73 dari 204 hotel dan penginapan di Bali berada di Kuta. Pada awal Mei 1974, jumlah penginapan di Kuta telah mencapai 114. Sebagian besar berada di Banjar Tegal, Pande, dan Buni, kawasan yang dekat dengan pantai, jalan utama, dan bandara. 

Data itu memperlihatkan tahapan awal perubahan Kuta. Peselancar dan pelancong asing membentuk arus kunjungan. Warga menyediakan kamar, makanan, kendaraan, dan kebutuhan lain. Ketika jumlah wisatawan terus meningkat, penginapan dan bisnis dengan modal lebih besar ikut masuk.

Kuta menunjukkan pertumbuhan usaha wisata dalam skala kampung. Uluwatu kemudian menunjukkan besarnya nilai ekonomi sebuah ombak.

Laporan Assessing Direct Expenditure Associated with Ecosystem Services in the Local Economy of Uluwatu, Bali, Indonesia yang disusun Tom Margules dan tim peneliti dari Conservation International, San Diego State University, Universitas Udayana, serta Save The Waves pada 2014 memperkirakan kawasan selancar Uluwatu menerima 243.939 kunjungan dalam setahun.

Angka itu mencakup seluruh orang yang menggunakan kawasan, termasuk wisatawan yang datang menonton peselancar atau menikmati pemandangan. Namun, sebanyak 56,3 persen responden menyebut surfing sebagai alasan utama datang ke Uluwatu. Peneliti memperkirakan 137.337 kunjungan setiap tahun dapat dikaitkan langsung dengan keberadaan ombak. 

Pengeluaran langsung para wisatawan diperkirakan mencapai US$35,3 juta per tahun. Setelah dampak lanjutan terhadap ekonomi Bali dihitung, nilainya diperkirakan mencapai US$132,2 juta.

Data itu berasal dari penelitian lapangan pada 2013 sehingga tidak dapat dipakai sebagai gambaran nilai ekonomi Uluwatu sekarang. Namun, penelitian tersebut membuktikan bahwa ombak mampu menghidupkan penginapan, warung, restoran, penyewaan papan, sekolah selancar, transportasi, dan jasa pemandu. 

Sebanyak 43,8 persen responden bahkan menyebut Uluwatu sebagai alasan utama mereka datang ke Bali. Bagi kelompok tersebut, selancar bukan kegiatan tambahan dalam perjalanan. Ombak menjadi alasan membeli tiket pesawat, memilih tempat menginap, dan tinggal di kawasan selatan Bali.

Pasar itu tidak berhenti di pantai. Nilai ekonomi ombak kemudian merambat menuju tanah di belakangnya.

Lahan mulai dinilai berdasarkan jarak menuju titik selancar, akses jalan, dan pemandangan laut. Rumah berubah menjadi penginapan. Tanah disewa untuk hotel, vila, restoran, toko, dan tempat hiburan. Pemandangan laut dimasukkan ke dalam harga kamar, menu makanan, paket pernikahan, dan promosi properti.

Peselancar biasanya datang untuk beberapa hari atau beberapa minggu. Investor mengikat tanah melalui kontrak sewa puluhan tahun.

Canggu memperlihatkan perubahan itu dengan lebih terang.

Peneliti Universitas Warmadewa Bayu Adhinata dan Made Yaya Sawitri, dalam artikel Touristification and the Changing of Spaces for Tourism in Canggu Village yang terbit di Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Pendidikan Ganesha pada 2022, mencatat wisatawan telah datang ke Canggu untuk mencari ombak sejak 1980-an.

Pada masa itu, Canggu masih dikenal sebagai desa pertanian dan perikanan. Pantainya lebih sepi dibandingkan Kuta dan Seminyak. Ombaknya sesuai untuk selancar. Penginapan masih didominasi pondok sederhana. Hotel pertama, Dewata Beach Hotel, berdiri pada dekade yang sama. 

Keadaan berubah ketika jumlah wisatawan meningkat. Adhinata dan Sawitri mencatat hingga akhir 2017 terdapat 479 usaha akomodasi dan pariwisata di Canggu, mulai dari hotel, restoran, vila, hingga bar. Desa yang dahulu bergantung pada pertanian dan perikanan berubah menjadi kawasan dengan kegiatan ekonomi utama berbasis pariwisata. 

Peselancar tidak sendirian menyebabkan perubahan itu. Pembangunan jalan, promosi digital, perizinan, platform pemesanan, kebutuhan ekonomi warga, dan keputusan pemilik tanah mempunyai peran besar.

Namun, kedatangan peselancar memberi Canggu reputasi awal sebagai kawasan pantai yang layak dikunjungi. Setelah reputasi terbentuk, wisatawan dengan kebutuhan berbeda berdatangan. Kamar, makanan, kendaraan, hiburan, dan tempat tinggal menjadi barang dagangan.

Investor melihat permintaan yang terus tumbuh.

Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Suhirman dan kawan-kawan, dalam artikel Tradition & Modernity: Land Use Change and Land Tenure Pattern in Canggu Village, Bali, Indonesia yang terbit di jurnal Planning Malaysia pada 2026, mencatat lahan pertanian Desa Canggu menyusut dari 281 hektare pada 2010 menjadi 211,5 hektare pada 2022.

Canggu kehilangan 69,5 hektare lahan pertanian dalam 12 tahun. Citra satelit memperlihatkan pembangunan mulai meluas di sekitar Jalan Subak Canggu pada 2015. Perubahan bertambah cepat pada 2018 dan 2019 ketika hotel, restoran, kedai kopi, vila, dan permukiman masuk ke lahan pertanian. 

Penelitian terhadap 108 pelaku usaha itu juga menemukan pola penguasaan tanah yang penting. Sertifikat tanah sebagian besar masih dimiliki warga lokal. Namun, kendali usaha semakin berpindah kepada investor domestik dan asing melalui kontrak sewa selama 25 sampai 30 tahun.

Pemilik tanah menerima uang sewa. Investor membangun, menentukan jenis usaha, menetapkan harga, dan menguasai pendapatan bisnis selama masa kontrak. 

Perbedaan antara memiliki tanah dan mengendalikan tanah sering luput dalam pembicaraan tentang investasi Bali. Nama warga dapat tetap tercantum dalam sertifikat. Selama puluhan tahun, penggunaan tanah itu ditentukan oleh penyewa.

Sawah, kebun, atau rumah keluarga berubah menjadi aset usaha untuk melayani wisatawan.

Pariwisata memang membuka pekerjaan. Dalam penelitian ITB tersebut, 88 dari 108 responden menyatakan pariwisata mendorong warga bekerja di sektor wisata. Sebanyak 72 responden mengatakan masyarakat mulai membuka penginapan, warung, toko, spa, dan penyewaan sepeda motor.

Pendapatan warga bertambah. Jenis pekerjaan menjadi lebih beragam. Namun, para peneliti juga menyimpulkan bahwa keuntungan yang diterima warga tetap lebih kecil dibandingkan keuntungan investor yang menguasai usaha. 

Hubungan antara ombak dan modal terlihat pada titik ini. Peselancar membangun reputasi pantai. Reputasi mendatangkan wisatawan. Kunjungan menciptakan permintaan terhadap kamar, makanan, kendaraan, hiburan, dan lahan. Investor mengubah permintaan itu menjadi kontrak sewa, bangunan, dan bisnis jangka panjang.

Masalah muncul ketika pertumbuhan bisnis bergerak lebih cepat daripada kemampuan kawasan mengatur tanah, air, jalan, sampah, dan akses menuju pantai.

Kepadatan bahkan menjalar sampai ke laut. Survei Uluwatu pada 2013 mencatat 84,8 persen peselancar menilai titik selancar itu terlalu ramai. Meski demikian, 87 persen tetap merasa sangat puas dan 90,8 persen menyatakan akan kembali. 

Paradoksnya jelas. Peselancar mencari pantai yang sepi. Kehadiran mereka membuat pantai dikenal. Wisatawan lain berdatangan setelah nama kawasan tersebar. Investor masuk ketika pasar dan harga tanah telah terbentuk. Kawasan yang dahulu dicari karena tenang kemudian dipadati bangunan untuk menjual ketenangan itu.

Kuta, Uluwatu, dan Canggu mengalami perubahan dengan cara berbeda. Kuta memperlihatkan bagaimana pelancong asing menumbuhkan penginapan milik warga. Uluwatu menunjukkan bahwa ombak dapat menghasilkan puluhan juta dolar. Canggu memperlihatkan bagaimana reputasi pantai berlanjut menjadi alih fungsi lahan dan penguasaan usaha melalui kontrak sewa.

Investasi dapat membuka pekerjaan dan meningkatkan pendapatan. Tanpa tata kelola yang kuat, investasi juga dapat mengurangi sawah, membebani jalan, mempersempit akses pantai, dan memindahkan kendali ruang kepada pemilik modal.

Peselancar memperkenalkan pantai. Investor datang setelah pantai itu mempunyai nama dan pasar.

Pemerintah dan desa adat seharusnya memastikan tanah, akses laut, serta keuntungan ekonomi tidak ikut menjauh dari warga yang hidup di sana. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.