Podiumnews.com / Kolom / Opini

Tradisi Cara Menua

Oleh Nyoman Sukadana • 19 September 2026 • 19:12:00 WITA

Tradisi Cara Menua
Menot Sukadana (AI/Vector)

PENSIUN rupanya tidak selalu berarti pekerjaan selesai. Di banyak keluarga di Bali, justru muncul pekerjaan baru setelah anak-anak dewasa dan berumah tangga. Pagi hari kembali punya jadwal. Mengantar cucu ke sekolah, menjaga ketika bapak dan ibunya bekerja, menyiapkan makanan, sesekali menemani belajar. Orang menyebutnya momong cucu.

Kata momong berasal dari bahasa Jawa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya sebagai mengasuh anak. Dalam kehidupan keluarga, pekerjaan itu tentu lebih luas daripada sekadar menjaga. Kakek dan nenek sering ikut mengenalkan bahasa, kebiasaan rumah, hubungan kekerabatan, sampai cerita tentang anggota keluarga yang tidak pernah dikenal cucunya.

Di Indonesia, pekerjaan tersebut ternyata cukup berat jika dihitung dengan waktu. Kajian Bank Dunia mencatat kakek-nenek yang terlibat dalam pengasuhan cucu, terutama nenek, rata-rata mencurahkan sekitar 30 jam setiap minggu. Hampir menyerupai jam kerja. Usia rata-rata mereka sekitar 56 tahun. Bank Dunia bahkan menyinggung kemungkinan munculnya grandmother penalty, ketika perempuan mengurangi keterlibatan dalam pekerjaan karena harus mengasuh cucu.

Kebiasaan itu menarik jika dibaca dari Bali. Dalam ajaran Hindu terdapat Catur Asrama yang membagi perjalanan hidup ke dalam Brahmacari, Grihastha, Wanaprasta, dan Sannyasa. Wanaprasta ditempatkan setelah masa berumah tangga. Tanggung jawab lahiriah mulai berkurang, perhatian terhadap urusan dunia perlahan dikendurkan, sementara kehidupan batin memperoleh ruang lebih besar. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menyebut wanaprasta sebagai masa mencari ketenangan jiwa dan mengendalikan keterikatan duniawi.

Gambaran pergi ke hutan tentu tidak harus dipahami secara harfiah. Orang Bali hari ini tidak perlu meninggalkan rumah begitu anaknya menikah. Yang relevan adalah perubahan posisi dalam kehidupan. Setelah puluhan tahun bekerja, membesarkan anak, dan mengurus rumah, sebagian tanggung jawab mulai diserahkan kepada generasi berikutnya.

Ajaran itu ternyata masih dianggap berguna. Awal September lalu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar bahkan memberikan pembinaan mengenai wanaprasta kepada masyarakat dan kelompok lansia di Desa Medahan, Blahbatuh. Materinya diarahkan pada pemantapan spiritual, penyucian batin, dan pengabdian moral kepada masyarakat.

Kenyataan keluarga modern bergerak ke arah yang lebih rumit.

Anak sudah menikah, tetapi belum tentu seluruh urusan selesai. Suami dan istri bekerja. Rumah harus dibayar, biaya sekolah meningkat, perjalanan dari rumah ke tempat kerja semakin jauh, sementara anak kecil membutuhkan pengasuhan. Kakek dan nenek yang masih sehat kemudian masuk kembali dalam pembagian kerja keluarga.

Mereka memang tidak lagi membesarkan anak sendiri. Kini giliran cucu.

Keadaan semacam ini juga membantu generasi yang berada di tengah. Mereka sering disebut sandwich generation: masih menanggung anak, pada saat yang sama mulai mempunyai kewajiban terhadap orang tua yang menua. Bantuan kakek-nenek menjaga cucu membuat rumah tangga generasi tersebut masih bisa berjalan dengan kedua orang tua yang bekerja.

Jadi, ada pergeseran yang cukup menarik. Masa tua yang dalam gagasan wanaprasta memberi ruang untuk mengurangi beban justru dapat kembali dipenuhi tanggung jawab keluarga.

Budaya populer Asia mengenal situasi itu dengan baik. Dalam drama-drama China mudah ditemukan adegan kakek atau nenek mendesak cucu agar segera menikah. Umur mereka sudah lanjut dan keinginannya sederhana: melihat generasi berikutnya lahir sebelum terlambat. Adegan semacam itu terasa akrab karena keluarga di banyak masyarakat Asia masih melihat usia tua melalui hubungan antargenerasi. Menjadi tua berarti melihat anak dewasa, cucu lahir, kemudian, kalau umur cukup panjang, bertemu cicit.

Namun, bentuk keluarga tidak selamanya bertahan seperti itu.

Singapura mulai memperlihatkan perubahannya. Pada 2014 terdapat 42.100 penduduk berusia 65 tahun ke atas yang tinggal sendiri. Sepuluh tahun kemudian jumlahnya menjadi 87.200 orang. Hampir 80 persen lansia memang masih tinggal bersama pasangan dan/atau anak sehingga hidup sendiri belum menjadi pola utama. Namun, arahnya cukup jelas: semakin banyak orang memasuki usia tua tanpa berbagi rumah dengan anak-anaknya.

Hubungan keluarga tidak otomatis hilang. Survei rumah tangga HDB 2023/2024 masih menemukan sekitar 84 persen anak yang telah menikah dan orang tua yang tinggal terpisah saling berkunjung setidaknya sebulan sekali. Pertemuan harian justru menurun dibandingkan satu dekade sebelumnya. Teknologi memungkinkan telepon dan percakapan video menggantikan sebagian pertemuan, tetapi secara fisik jarak keluarga semakin terlihat.

Jepang sudah berjalan lebih jauh.

Pada 2025, National Police Agency mencatat 76.941 orang yang tinggal seorang diri meninggal di rumah. Angka itu setara dengan 37,6 persen dari jenazah yang ditangani polisi sepanjang tahun tersebut. Tidak seluruhnya terlambat diketahui, tetapi statistik ini menunjukkan betapa besarnya jumlah orang yang menjalani hari tua seorang diri di Jepang.

Di sana dikenal istilah kodokushi, kematian dalam kesendirian. Ada orang yang meninggal di apartemen dan baru diketahui setelah beberapa hari, bahkan lebih lama. Sejumlah pemerintah lokal membangun jaringan warga untuk memantau lansia yang tinggal sendiri. Tetangga, organisasi lingkungan, petugas pelayanan sosial, bahkan toko dan kantor pos dapat menjadi bagian dari sistem yang memperhatikan apakah seorang warga lanjut usia masih menjalani rutinitas seperti biasa.

Ada jarak yang cukup jauh antara wanaprasta dan keadaan seperti itu.

Orang yang memilih menepi tetap membutuhkan hubungan dengan manusia lain. Di Bali dahulu, seseorang dapat mengurangi kegiatan ekonomi, tetapi tetap dikenal tetangga, keluarga, banjar, dan lingkungan pura. Ketika beberapa hari tidak terlihat, biasanya ada orang yang bertanya.

Kota modern membuat hal sederhana seperti itu tidak selalu terjadi.

Bali belum berada dalam keadaan seperti Jepang. Struktur keluarga masih kuat. Banjar dan desa adat juga menyediakan hubungan sosial yang tidak dimiliki banyak masyarakat perkotaan modern. Namun, demografi memberi alasan untuk mulai membicarakannya sekarang.

Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat penduduk lanjut usia di Bali sudah mencapai 15,07 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan Bali telah masuk fase ageing population. Pada saat bersamaan, angka kelahiran total berada pada 2,02, sudah berada di sekitar tingkat penggantian penduduk, sementara rasio ketergantungan meningkat menjadi 43,82 persen.

Proyeksi penduduk juga menunjukkan jumlah kelompok usia tua terus bertambah. Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2020–2050 yang digunakan dalam dokumen perencanaan Bali, penduduk Bali usia 60–64 tahun diperkirakan meningkat dari sekitar 231 ribu pada 2025 menjadi 261 ribu pada 2030. Kelompok 65–69 tahun naik dari sekitar 175 ribu menjadi 211 ribu, sementara kelompok 80 tahun ke atas bergerak dari sekitar 63 ribu menjadi hampir 78 ribu orang. Secara nasional, pemerintah memperkirakan sekitar seperlima penduduk Indonesia akan menjadi lansia pada 2045.

Angka itu seharusnya mengubah cara kita memandang persoalan lansia. Selama ini urusan orang tua cenderung dianggap selesai sepanjang masih ada anak yang mengurus. Asumsi tersebut bekerja dalam keluarga besar yang tinggal berdekatan. Dua puluh tahun mendatang keadaannya belum tentu sama.

Anak Bali semakin mudah bekerja di luar kabupaten, luar pulau, bahkan luar negeri. Ukuran keluarga mengecil. Rumah tiga generasi tidak selalu menjadi pilihan. Perumahan baru menghasilkan lingkungan yang hubungan antarwarganya berbeda dengan desa lama. Di kawasan yang cepat berubah, tetangga bahkan bisa berganti dalam hitungan tahun.

Pertanyaan tentang masa tua karena itu tidak cukup berhenti pada siapa yang akan membiayai pensiun atau siapa yang akan menjaga orang tua yang sakit.

Ada soal yang lebih mendasar: dengan siapa orang akan menua?

Bali sebenarnya memiliki modal yang cukup besar untuk menjawabnya. Banjar mengenal warganya sampai tingkat keluarga. Desa adat mempunyai struktur yang menjangkau kehidupan sehari-hari. Posyandu lansia sudah ada di banyak tempat. Keluarga besar masih mempunyai pengaruh kuat. Modal sosial semacam ini jangan menunggu sampai melemah baru dianggap penting.

Pengalaman Singapura dan Jepang bisa dibaca sebagai peringatan awal. Kehidupan mandiri pada usia tua tentu bukan masalah. Tidak semua orang tua harus tinggal bersama anak, apalagi menjadikan anak sebagai jaminan hari tua. Sebagian orang justru lebih tenang mempunyai rumah dan rutinitas sendiri.

Yang perlu dipikirkan adalah jaringan yang tetap menghubungkan mereka dengan lingkungan.

Banjar, misalnya, dapat mengetahui warga lansia yang hidup sendiri tanpa memperlakukannya sebagai orang tidak berdaya. Kunjungan kesehatan, kegiatan rutin, kelompok hobi, atau sekadar sistem sederhana untuk mengetahui jika seorang warga beberapa hari tidak terlihat bisa menjadi bagian dari kehidupan desa yang menua. Pemerintah daerah juga perlu mulai melihat hunian, transportasi, pelayanan kesehatan, dan ruang publik dari kebutuhan orang yang akan semakin banyak berusia 60, 70, bahkan 80 tahun.

Wanaprasta mungkin tidak lagi dijalani seperti yang dibayangkan berabad-abad lalu. Orang tua tetap bekerja, momong cucu, mengurus upacara, pergi ke pertemuan banjar, atau memilih hidup sendiri. Bentuk kehidupan berubah bersama ekonomi dan keluarga.

Namun, ada sesuatu dari ajaran lama itu yang masih relevan. Manusia membutuhkan cara untuk berpindah dari satu tahap hidup ke tahap berikutnya tanpa kehilangan tempat di masyarakat.

Bali sudah mempunyai tradisi untuk menua. Sekarang persoalannya berbeda. Dalam dua dekade ketika jumlah orang tua semakin banyak dan bentuk keluarga terus berubah, Bali perlu memastikan tradisi itu masih mempunyai rumah dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, persoalan masyarakat menua kelak mungkin bukan kekurangan orang yang berumur panjang. Persoalannya bisa jauh lebih sederhana: apakah ketika seorang warga tua beberapa hari tidak terlihat membuka pintu rumah, masih ada orang di sekitarnya yang merasa perlu mengetuk. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.