Podiumnews.com / Kolom / Opini

Kampung Halaman di Dalam Telepon Genggam

Oleh Nyoman Sukadana • 20 September 2026 • 22:48:00 WITA

Kampung Halaman di Dalam Telepon Genggam
Angga Wijaya (Vector/AI)

DULU, merantau berarti pergi. Meninggalkan kampung halaman, keluarga, tetangga, dan segala sesuatu yang akrab. Orang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, sekolah, atau kehidupan yang lebih baik. Ketika berada jauh dari rumah, jarak terasa nyata. Kabar tentang keluarga harus ditunggu, sementara kerinduan mungkin disampaikan melalui surat.

Surat membutuhkan waktu. Seseorang menulis hari ini, tetapi orang di kampung mungkin baru membacanya beberapa hari kemudian. Kabar tentang ibu yang sakit, adik yang sekolah, atau ayah yang membutuhkan uang tidak datang seketika. Jarak geografis sekaligus menjadi jarak komunikasi. Merantau pada masa itu memiliki pengalaman keterpisahan yang lebih kuat.

Sekarang keadaan berubah. Saya melihat para perantau di Denpasar hampir selalu lekat dengan telepon genggam. Di warung, tempat kerja, kamar kos, bahkan ketika berjalan di jalan, benda itu seolah tidak pernah jauh dari tangan. Panggilan telepon, video call, foto, pesan singkat, dan grup keluarga membuat kampung halaman selalu dapat dihubungi.

Seorang anak yang bekerja di Denpasar dapat melihat wajah ibunya pada malam hari. Orang tua di kampung dapat menyaksikan kehidupan anaknya melalui layar. Jika dulu perantau membawa kabar dari kampung ke kota, sekarang kampung halaman ikut berada di dalam telepon genggam.

Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian alat komunikasi. Dalam perspektif antropologi, teknologi perlu dilihat dari bagaimana ia masuk ke dalam hubungan sosial. Penelitian mengenai penggunaan smartphone dalam keluarga menunjukkan bahwa telepon genggam dapat menjadi bagian dari praktik kekerabatan. Perangkat itu membantu mempertahankan hubungan, mengatur kehidupan keluarga, sekaligus menciptakan rasa dekat di antara orang-orang yang terpisah secara geografis.

Karena itu, telepon genggam seorang perantau bukan sekadar benda elektronik. Fungsinya telah melebar menjadi penghubung antara kehidupan di kota dan kehidupan keluarga di kampung.

Antropologi tidak melihat perpindahan manusia hanya sebagai persoalan geografis. Migrasi berkaitan dengan hubungan sosial, ekonomi, kebudayaan, identitas, dan harapan. Merantau, dalam pengertian budaya, bahkan memiliki makna lebih luas daripada sekadar berpindah tempat. Keputusan meninggalkan kampung dapat didorong keinginan mengubah nasib sekaligus memenuhi kewajiban terhadap keluarga.

Di zaman telepon pintar, kedua kepentingan tersebut dapat berlangsung bersamaan. Perantau bekerja di Denpasar sambil mengikuti persoalan keluarga di kampung. Dari kamar kos, ia tetap dapat berbicara dengan orang tua. Dari tempat kerja, sebagian penghasilannya bisa dikirim ke rumah.

Dalam kajian migrasi, keadaan semacam ini dapat dibaca melalui konsep translocality. Konsep tersebut membantu memahami kehidupan yang tidak lagi terikat pada satu tempat. Perpindahan seseorang ke kota tidak serta-merta memutus hubungan dengan ruang asal. Sebaliknya, jaringan sosial, ekonomi, identitas, dan perhatian tetap bergerak di antara kedua tempat.

Perantau akhirnya hidup di antara dua ruang. Denpasar menjadi tempat tubuhnya berada, sementara kampung tetap menjadi ruang kekerabatan, ingatan, kewajiban, dan identitas. Keduanya bukan dunia yang sepenuhnya terpisah. Teknologi justru membuat hubungan di antara keduanya semakin rapat.

Keterhubungan tersebut paling mudah terlihat melalui telepon dan video call. Seorang perantau dapat mengetahui keadaan orang tua tanpa harus pulang. Wajah, suara, kamar kos, tempat kerja, bahkan makanan yang sedang disantap dapat diperlihatkan secara langsung. Video call bukan lagi sekadar percakapan, melainkan cara menghadirkan diri ketika tubuh tidak dapat hadir secara fisik.

Seorang anak tidak berada di ruang tamu rumah orang tuanya, tetapi wajahnya dapat muncul di layar. Sebaliknya, seorang ibu yang berada di kampung dapat melihat keadaan kamar kos anaknya. Tubuh terpisah, tetapi kehadiran tidak sepenuhnya hilang. Teknologi memungkinkan hubungan keluarga berlangsung melampaui batas geografis.

Kemudahan itu sekaligus membuat hubungan keluarga semakin intens. Panggilan dari ibu, pesan ayah, permintaan adik, atau percakapan di grup keluarga dapat masuk kapan saja. Persoalan yang dahulu mungkin menunggu sampai perantau pulang sekarang dapat disampaikan dalam hitungan detik.

Teknologi tidak hanya mengurangi jarak. Ia memungkinkan kewajiban keluarga menembus jarak. Hal ini penting karena merantau tidak otomatis membebaskan seseorang dari kehidupan keluarga. Dalam banyak masyarakat, seorang anak tetap memiliki tanggung jawab terhadap orang tua dan saudara meskipun sudah dewasa dan tinggal jauh dari rumah. Teknologi menyediakan sarana agar tanggung jawab tersebut dapat terus dijalankan.

Hal yang sama terjadi dengan uang. Dalam banyak keluarga, anak yang merantau bukan hanya orang yang pergi mencari kehidupan untuk dirinya sendiri. Keberadaannya di kota dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi keluarga. Ia bekerja, menerima penghasilan, memenuhi kebutuhan hidup, lalu mengirim sebagian pendapatannya ke kampung.

Kiriman tersebut dapat digunakan untuk orang tua, biaya sekolah adik, perbaikan rumah, kebutuhan sehari-hari, atau keperluan keluarga lainnya. Dalam kajian antropologi migrasi, remitansi tidak hanya dipahami sebagai perpindahan uang. Di dalamnya terdapat perhatian, kewajiban, rasa berutang budi, harapan, dan hubungan timbal balik.

Karena itu, ketika seorang anak mengirim uang kepada orang tuanya setiap bulan, yang bergerak bukan hanya rupiah. Bersamaan dengan uang tersebut, berlangsung pula pemeliharaan hubungan kekerabatan.

Dalam konteks tertentu, perantau bahkan dapat dipandang sebagai investasi keluarga. Keluarga telah mengeluarkan biaya untuk membesarkan dan menyekolahkannya sampai mampu bekerja. Ketika memperoleh penghasilan, muncul harapan bahwa sebagian hasil tersebut akan kembali kepada keluarga.

Merantau akhirnya tidak selalu merupakan proyek individual. Keberhasilan seorang anak dapat menjadi keberhasilan keluarga, sementara penghasilannya menjadi sumber daya bersama. Kota menjadi tempat mencari nafkah, tetapi sebagian hasilnya mengalir kembali ke kampung.

Dari sini persoalan sandwich generation menjadi menarik. Seorang anak muda bekerja di Denpasar sambil membayar kos, makan, transportasi, dan kebutuhan pribadi. Mungkin ia sedang menabung untuk menikah, membeli rumah, atau membangun masa depan. Pada saat yang sama, orang tua masih membutuhkan bantuan dan adik mungkin belum mandiri.

Posisinya berada di antara dua tuntutan, yakni membangun kehidupan sendiri dan menopang keluarga asal. Persoalan tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui ekonomi. Di dalamnya terdapat nilai kekerabatan dan moral tentang berbakti, membalas jasa orang tua, membantu saudara, dan menjaga keberlangsungan keluarga.

Fenomena ini juga tidak mengenal batas suku maupun agama. Orang Bali, Jawa, Sasak, Madura, Flores, Batak, dan kelompok etnis lainnya dapat mengalaminya. Keluarga dengan latar agama berbeda pun dapat berada dalam situasi serupa. Bentuk kewajibannya mungkin berbeda, tetapi posisi sosialnya sama: anak bekerja jauh dari rumah sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap keluarga.

Teknologi membuat hubungan tersebut semakin mudah dipelihara. Uang dapat dikirim dalam hitungan detik, keputusan keluarga dibicarakan melalui grup, dan keadaan orang tua diperiksa lewat video call. Teknologi tidak menciptakan kewajiban kekerabatan, tetapi membuat kewajiban tersebut dapat dijalankan tanpa harus pulang.

Perkembangan lain yang menarik adalah kemampuan perantau menyiarkan kehidupan rantau kepada kampung. Facebook dan TikTok memungkinkan seseorang melakukan live dari kota tempatnya bekerja. Suasana jalan, tempat kerja, warung, pasar, tempat wisata, bahkan kamar kos dapat diperlihatkan secara langsung.

Orang-orang di kampung tidak lagi hanya menerima cerita setelah perantau pulang. Mereka dapat menyaksikan kehidupan tersebut ketika sedang berlangsung. Dulu, perantau pulang membawa cerita tentang kota. Kini kota dapat dibawa pulang melalui layar.

Seorang ibu di kampung dapat melihat anaknya berada di suatu tempat di Denpasar. Saudara di rumah dapat mengikuti aktivitasnya. Teman sekampung pun dapat mengetahui kehidupan perantau tanpa harus menemuinya. Kehadiran tidak lagi harus ditandai tubuh yang berada di tempat yang sama.

Namun, live juga mengubah cara seseorang menampilkan dirinya. Kehidupan tidak hanya dijalani, tetapi dapat dipertontonkan. Perantau tidak sekadar mengalami kota, tetapi juga dapat menunjukkan kepada orang lain bagaimana dirinya menjalani kehidupan di kota.

Di sinilah perbedaan antara mengalami dan menampilkan kehidupan menjadi penting. Media sosial membuat batas keduanya semakin tipis. Live bukan hanya teknologi komunikasi, melainkan juga ruang pembentukan identitas.

Perantau dapat memperlihatkan dirinya sebagai pekerja, anak kos, anak muda kota, orang yang sedang berjuang, atau seseorang yang dianggap berhasil. Kampung tidak hanya menerima kabar tentang dirinya, tetapi juga menerima representasi dirinya.

Di titik ini, merantau zaman sekarang menjadi menarik secara antropologis. Seseorang pergi dari kampung, tetapi jaringan sosialnya tidak ikut ditinggalkan. Tubuh berpindah tempat, sementara hubungan kekerabatan tetap bekerja. Penghasilan bergerak pulang, komunikasi berlangsung dua arah, dan kehidupan kota dapat disaksikan dari kampung.

Konsep translocality menjadi relevan untuk membaca keadaan tersebut. Kehidupan sosial tidak selalu berhenti pada satu lokasi. Hubungan, uang, informasi, perhatian, identitas, dan pengalaman dapat bergerak di antara tempat-tempat berbeda.

Kampung halaman pun tidak lagi hanya berupa tempat geografis. Ia menjelma menjadi jaringan yang hadir dalam nomor telepon, grup WhatsApp, rekening bank, foto, video call, live Facebook atau TikTok, dan ingatan yang terus bekerja.

Namun, di balik kedekatan tersebut terdapat paradoks. Teknologi memang membuat perantau lebih dekat dengan keluarga, tetapi kedekatan itu dapat membuatnya semakin sulit mengambil jarak. Dulu, jarak mungkin memaksa seseorang belajar mandiri. Sekarang keluarga dapat menghubunginya kapan saja, termasuk ketika persoalan yang dibicarakan sebenarnya kecil.

Teknologi tidak hanya menghapus jarak. Ia juga dapat memindahkan rumah ke dalam kehidupan perantau. Rumah tidak lagi berada hanya di kampung. Ia dapat muncul di layar telepon kapan saja.

Mungkin inilah yang membedakan pengalaman merantau sekarang dengan masa lalu. Dulu, seseorang yang pergi harus belajar hidup dengan jarak. Sekarang, seseorang pergi sambil membawa teknologi yang memungkinkan jarak tersebut terus dinegosiasikan. Ia dapat berbicara dengan orang tua, mengirim uang, mengetahui keadaan rumah, sekaligus memperlihatkan kehidupannya di kota.

Saya kemudian bertanya; apa sebenarnya arti merantau pada zaman sekarang? Apakah merantau masih berarti meninggalkan kampung halaman? Ataukah merantau berarti memindahkan tubuh, sementara hubungan sosial, ekonomi, emosional, dan kekerabatan tetap berlangsung di kampung?

Mungkin merantau sekarang bukan lagi tentang seberapa jauh seseorang pergi. Ia tentang kemampuan hidup di antara dua ruang. Tubuh berada di kota, penghasilan bergerak pulang, suara bergerak bolak-balik, wajah muncul melalui layar, kehidupan kota disiarkan kepada kampung, dan persoalan kampung masuk ke kamar kos.

Perantau modern tidak sepenuhnya meninggalkan kampung. Ia membawa kampung ke mana pun ia pergi. Teknologi telah membuat perjalanan itu lebih mudah, tetapi sekaligus membuat seseorang semakin sulit untuk benar-benar pergi.

Seseorang tidak hanya membawa koper ketika meninggalkan kampung. Ia membawa nomor telepon orang tua, grup keluarga, kewajiban mengirim uang, harapan keluarga, dan sebuah telepon genggam. Di dalam benda kecil itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada teknologi, yakni hubungan kekerabatan.

Ia pergi dari rumah, tetapi rumah tidak pernah benar-benar pergi dari dirinya. Maka pertanyaan tentang merantau mungkin bukan lagi “Seberapa jauh kita pergi?”, melainkan “Seberapa jauh kita benar-benar bisa pergi ketika kampung halaman selalu ada di dalam telepon genggam? (*)

Oleh: I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang berasal dari Negara, Jembrana, Bali. Pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana, ia menulis puisi, esai, dan berbagai tulisan tentang kebudayaan serta kehidupan sehari-hari. Sejak 2015, ia aktif sebagai jurnalis dan tinggal di Denpasar. Sejumlah bukunya telah diterbitkan oleh penerbit di Bali maupun luar Bali.



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.