Industri yang Menjual Balas Dendam
PEREMPUAN itu baru saja ditampar di depan keluarga suaminya. Ia dituduh miskin, tidak berpendidikan, dan hanya menumpang hidup. Suaminya diam. Ibu mertuanya tersenyum puas.
Ketika perempuan itu hendak membuka dokumen yang membuktikan dirinya sebagai pemilik perusahaan, layar mendadak gelap. Episode berakhir.
Untuk melihat kelanjutannya, penonton harus membeli koin.
Pola semacam ini memenuhi drama mikro vertikal yang ditonton melalui telepon genggam. Judulnya dibuat terbuka dan berlebihan: istri yang dibuang ternyata pemilik perusahaan, menantu miskin sebenarnya miliarder, perempuan yang dihina kembali sebagai pewaris keluarga kaya.
Setiap episode hanya berlangsung sekitar satu hingga tiga menit. Cerita bergerak cepat. Tokoh utama dipermalukan, identitasnya disembunyikan, lalu pembalasan ditunda hingga beberapa episode berikutnya.
Yang dijual bukan hanya cerita. Industri ini menjual kesempatan menyaksikan orang sombong dipermalukan.
Balas dendam telah menjadi barang dagangan.
Penonton diajak menanggung penghinaan bersama tokoh utama. Rasa marah dipelihara dari satu episode ke episode berikutnya. Ketika orang yang berkuasa akhirnya berlutut meminta ampun, penonton memperoleh kepuasan yang telah ditunggu.
Industri drama mikro memahami satu hal sederhana: rasa terhina membuat orang bertahan menonton. Keinginan melihat pembalasan membuat mereka membuka dompet.
Formula ini terlihat baru karena hadir melalui layar vertikal dan pembayaran digital. Namun, industri media telah menjual emosi serupa sejak cerita bersambung berkembang di surat kabar Eropa pada abad ke-19.
Teknologinya berubah. Cara mempertahankan pembaca dan penonton tidak banyak bergeser.
Cerita Diputus, Pembaca Kembali
Pada 1836, pengusaha media Prancis Émile de Girardin meluncurkan surat kabar La Presse. Ia menurunkan harga langganan tahunan dari sekitar 80 franc menjadi 40 franc. Kekurangan pendapatan dari pelanggan ditutup melalui iklan.
Model tersebut membutuhkan jumlah pembaca yang besar. Surat kabar harus memiliki alasan agar pelanggan terus kembali.
Salah satu caranya adalah memperkuat feuilleton, bagian di bawah halaman koran yang memuat kritik sastra, tulisan ringan, dan cerita rekaan. Novel kemudian diterbitkan secara bersambung, sedikit demi sedikit, mengikuti jadwal terbit surat kabar.
Eugène Sue menerbitkan Les Mystères de Paris pada 1842 hingga 1843. Alexandre Dumas menerbitkan Le Comte de Monte-Cristo melalui Journal des débats mulai 1844.
Penerbitan bersambung memengaruhi cara cerita disusun. Konflik harus dipanjangkan. Rahasia tidak dapat dibuka terlalu cepat. Tokoh utama perlu menghadapi penderitaan berulang agar pembaca tetap menunggu penyelesaian.
Bagian cerita biasanya dihentikan ketika keadaan sedang genting. Teknik itu kini dikenal sebagai cliffhanger.
Fungsinya sejak awal bukan semata-mata artistik. Cerita yang diputus pada saat menegangkan membuat pembaca kembali membeli atau menunggu edisi berikutnya.
Penulis tetap menghasilkan karya sastra. Namun, karya mereka juga menjadi bagian dari bisnis surat kabar yang hidup dari langganan dan iklan.
Sejak masa itu, cerita bersambung telah menghubungkan emosi pembaca dengan kepentingan industri.
Orang Miskin, Bangsawan Baik
Melodrama abad ke-19 tumbuh bersama perubahan sosial akibat Revolusi Industri. Kota membesar. Pabrik menyerap tenaga kerja. Kemiskinan, kejahatan, dan kesenjangan sosial terlihat semakin jelas.
Cerita bersambung banyak menampilkan orang miskin, perempuan tertindas, anak yang terpisah dari keluarga, serta tokoh kaya yang kejam. Pembaca mengikuti penderitaan mereka sambil menunggu datangnya keadilan.
Karl Marx dan Friedrich Engels membahas Les Mystères de Paris dalam The Holy Family yang terbit pada 1845. Mereka mengkritik cara novel Eugène Sue menyelesaikan persoalan sosial melalui Rudolph, seorang bangsawan kaya yang menyamar dan menolong orang miskin.
Rudolph membantu korban, menghukum penjahat, dan memulihkan ketertiban. Namun, struktur sosial yang menghasilkan kemiskinan tetap berdiri.
Kritik tersebut masih terlihat dalam banyak drama mikro hari ini. Cerita menampilkan penghinaan dan ketimpangan, tetapi penyelesaiannya jarang datang melalui perubahan keadaan sosial.
Tokoh utama menang karena identitasnya ternyata berbeda dari yang diperkirakan.
Perempuan yang dianggap miskin ternyata pemegang saham terbesar. Pegawai rendahan adalah anak pemilik perusahaan. Menantu yang diperlakukan seperti pembantu ternyata memiliki kekayaan lebih besar daripada keluarga suaminya.
Keadilan tidak lahir karena orang miskin memperoleh perlakuan yang lebih baik. Keadilan datang setelah diketahui bahwa tokoh utama sebenarnya bukan orang miskin.
Pesannya menjadi janggal. Menghina orang miskin tetap terlihat biasa, selama orang tersebut benar-benar miskin. Kesalahan antagonis bukan terletak pada tindakan merendahkan manusia, melainkan karena salah memilih korban.
Formula ini terus diproduksi karena mudah menghasilkan kepuasan. Penonton mengetahui rahasia yang belum diketahui para tokoh jahat. Mereka menunggu saat kesombongan berubah menjadi ketakutan.
Semakin berat penghinaan pada awal cerita, semakin besar kepuasan yang dijanjikan pada bagian pembalasan.
Sabun dan Air Mata
Pola cerita bersambung kemudian berpindah dari koran ke radio.
Pada awal 1930-an di Amerika Serikat, produsen barang konsumsi mulai menjadi sponsor drama radio harian. Program tersebut terutama menyasar perempuan yang mendengarkan radio sambil melakukan pekerjaan rumah.
Procter & Gamble termasuk perusahaan yang aktif membiayai acara semacam itu. Pada 1933, perusahaan tersebut mensponsori drama radio Ma Perkins untuk mempromosikan sabun cuci Oxydol.
Keterlibatan produsen sabun kemudian melahirkan istilah soap opera.
Model bisnisnya serupa dengan novel bersambung. Pendengar harus kembali pada jadwal siaran berikutnya. Karena itu, konflik keluarga diperpanjang, hubungan percintaan dibuat semakin rumit, dan rahasia tokoh dibuka sedikit demi sedikit.
Radio kemudian digantikan televisi. Formula yang sama berkembang menjadi opera sabun Amerika, telenovela Amerika Latin, drama Asia, dan sinetron Indonesia.
Penonton Indonesia pernah mengikuti penderitaan tokoh dalam Marimar dan Rosalinda. Televisi nasional kemudian memproduksi sinetron harian tentang perebutan warisan, pertukaran bayi, pernikahan yang ditentang, tokoh kaya yang menyamar, serta perempuan miskin yang diperlakukan sewenang-wenang.
Episode dapat bertambah selama jumlah penonton dan pemasukan iklan masih tinggi. Konflik yang seharusnya selesai dalam beberapa bagian dipanjangkan hingga ratusan episode.
Industri televisi menjual perhatian penonton kepada pengiklan. Agar perhatian itu bertahan, penderitaan dan pembalasan harus terus ditunda.
Pabrik Cerita Seragam
Theodor Adorno dan Max Horkheimer menggunakan istilah industri kebudayaan untuk menjelaskan bagaimana film, radio, musik, dan majalah diproduksi secara massal melalui pola yang seragam.
Konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa melodrama dari berbagai negara memiliki susunan yang hampir sama.
Nama dan latar tokoh dapat berubah. Cerita bisa berlangsung di desa, kantor, rumah keluarga kaya, atau sekolah elite. Namun, polanya mudah dikenali.
Tokoh utama dihina. Antagonis dibuat sangat kejam. Identitas penting disembunyikan. Kebenaran dibuka setelah penderitaan dianggap cukup panjang. Orang yang sebelumnya berkuasa kemudian dipermalukan.
Pengulangan tersebut bukan semata-mata akibat kekurangan gagasan. Industri memilih pola yang telah terbukti mampu mempertahankan penonton.
Drama mikro mempercepat pola itu.
Adegan yang tidak langsung mendorong konflik dibuang. Dialog dibuat singkat. Tokoh tidak diberi banyak waktu untuk berkembang. Dalam beberapa detik pertama, penonton harus sudah mengetahui siapa yang menderita dan siapa yang harus dibenci.
Cerita tidak lagi memiliki banyak ruang untuk keraguan moral. Tokoh baik dibuat sepenuhnya baik. Tokoh jahat harus terlihat kejam sejak awal agar penonton segera memiliki alasan untuk menunggu pembalasannya.
Kasir di Ujung Episode
Drama mikro berkembang pesat di China sebelum menyebar ke pasar internasional melalui aplikasi seperti ReelShort, DramaBox, ShortMax, dan sejumlah platform lain.
Satu episode umumnya berdurasi 30 detik hingga lima menit. Satu judul dapat terdiri atas 60 sampai 100 episode.
China Netcasting Services Association memperkirakan nilai pasar drama mikro di China mencapai 50,44 miliar yuan pada 2024. Nilainya melampaui pendapatan bioskop daratan China pada tahun yang sama yang berada di kisaran 47 miliar yuan.
Jumlah pengguna drama mikro di China diperkirakan mencapai sekitar 576 juta pada Juni 2024. Angka tersebut setara dengan lebih dari separuh pengguna internet di negara itu.
Besarnya pasar menunjukkan bahwa drama mikro bukan lagi hiburan kecil di sela penggunaan media sosial. Ia telah menjadi industri dengan rumah produksi, penulis, aktor, platform, pengiklan, dan sistem pembayaran sendiri.
Perbedaan utama dengan sinetron televisi terletak pada cara memperoleh pendapatan.
Televisi menjual perhatian penonton kepada pengiklan. Drama mikro dapat menjual kelanjutan cerita langsung kepada penonton.
Episode awal biasanya diberikan secara gratis. Setelah penonton memahami konflik dan mulai menunggu pembalasan, episode berikutnya dikunci.
Pengguna harus menonton iklan, membeli koin, atau berlangganan untuk melanjutkan cerita.
Cliffhanger tidak lagi hanya dipasang pada akhir tayangan untuk membawa penonton kembali keesokan hari. Ia muncul setiap beberapa menit dan terhubung langsung dengan sistem pembayaran.
Dalam model ini, titik paling menegangkan sekaligus menjadi kasir.
Semakin kuat keinginan penonton melihat antagonis dihukum, semakin besar peluang mereka membayar.
Keadilan yang Serba Cepat
Mengapa cerita semacam itu terus laku?
Kehidupan nyata jarang memberikan penyelesaian yang cepat. Sengketa hukum bisa berlangsung bertahun-tahun. Pekerja yang diperlakukan tidak adil belum tentu memperoleh pembelaan. Orang yang merendahkan pihak lain tidak selalu menerima hukuman.
Melodrama menawarkan dunia yang lebih sederhana.
Orang jahat akhirnya kalah. Penghinaan dibalas. Rahasia dibuka. Tokoh yang menderita mendapat kemenangan.
Cerita semacam itu memberi kepuasan karena penonton melihat keadaan yang sebelumnya timpang berbalik dalam waktu singkat.
Namun, pembalasan yang ditawarkan biasanya bersifat pribadi. Tokoh utama tidak memperbaiki sistem yang memungkinkan penghinaan terjadi. Ia hanya membuktikan bahwa dirinya lebih kaya dan lebih berkuasa daripada orang yang merendahkannya.
Setelah identitas terbongkar, keluarga yang semula menghina mendadak menghormati. Bukan karena mereka sadar bahwa tindakannya salah, melainkan karena mengetahui kedudukan tokoh utama.
Drama berakhir ketika susunan kekuasaan berubah. Orang yang berada di bawah naik ke atas, sementara pihak yang sebelumnya berkuasa jatuh.
Penonton mendapatkan pembalasan. Struktur sosial tetap sama.
Di sinilah industri menemukan barang dagangannya. Drama mikro tidak perlu menawarkan perubahan sosial yang rumit. Ia cukup menjanjikan satu adegan ketika orang sombong dipaksa berlutut.
Janji itu dibagi menjadi puluhan episode, diputus pada saat paling menegangkan, lalu dijual melalui koin digital.
Pada abad ke-19, pembaca menunggu koran berikutnya. Pada masa radio dan televisi, penonton menunggu jadwal siaran. Kini, kelanjutan cerita tersedia dalam hitungan detik, selama pengguna bersedia membayar.
Industri media telah lama menjual rasa penasaran. Drama mikro menambahkan komoditas lain yang tidak kalah kuat: keinginan melihat penghinaan dibalas.
Teknologinya baru. Barang dagangannya sudah berusia ratusan tahun. (*)
Menot Sukadana