Dari Turis ke Triliuner
SELAMA puluhan tahun, uang asing masuk ke Bali terutama melalui pariwisata. Wisatawan datang, menginap di hotel, makan di restoran, menyewa kendaraan, berbelanja, kemudian pulang. Nilai ekonominya kemudian dihitung melalui jumlah kunjungan, lama tinggal, tingkat hunian hotel, serta pengeluaran selama berada di Bali.
Pola itu dapat berubah jika rencana Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) benar-benar dikembangkan di Bali. Uang asing tidak lagi hanya masuk melalui belanja wisatawan, tetapi juga melalui perbankan internasional, investasi, pengelolaan kekayaan, family office, asuransi, pasar modal, serta berbagai kegiatan keuangan lintas negara.
Perbedaannya cukup besar. Pariwisata mengandalkan orang datang untuk membelanjakan uang. Pusat finansial mengandalkan orang dan perusahaan datang untuk mengelola uang.
Pemerintah memperkirakan pusat finansial tersebut dapat menarik investasi sekitar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun. Bali menjadi salah satu lokasi yang paling banyak dibicarakan, dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali di Serangan masuk dalam pengembangan yang dikaitkan dengan kegiatan ekonomi bernilai tinggi.
Jika rencana tersebut berjalan, sasaran Bali ikut berubah. Selama ini pemerintah dan pelaku pariwisata mengejar wisatawan berkualitas dengan lama tinggal dan pengeluaran lebih tinggi. PFII membawa kelompok dengan skala kekayaan yang berbeda, mulai perusahaan investasi, pengelola aset, bank internasional, hingga pemilik kekayaan yang nilainya dapat mencapai jutaan atau miliaran dollar AS.
Dari turis ke triliuner.
Perubahan itu muncul ketika Bali masih mencari cara mengurangi ketergantungan terhadap pariwisata. Lapangan usaha penyediaan akomodasi serta makan dan minum masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah. Ketika wisatawan ramai, hotel terisi, restoran hidup, transportasi bergerak, dan berbagai usaha jasa ikut mendapat pasar.
Pandemi Covid-19 menunjukkan sisi lain dari struktur tersebut. Ketika perjalanan berhenti, kegiatan ekonomi Bali ikut turun karena banyak usaha bergantung pada pergerakan wisatawan.
Pengalaman itu kemudian memperkuat kebutuhan mencari sumber pertumbuhan baru. Jasa keuangan, teknologi, pendidikan, kesehatan, serta berbagai pekerjaan profesional menjadi bagian dari sektor yang dapat memperlebar struktur ekonomi Bali di luar pariwisata.
PFII menawarkan arah tersebut.
Bank internasional membutuhkan kantor dan tenaga kerja. Perusahaan investasi membutuhkan analis. Pengelola kekayaan memerlukan akuntan, pengacara, ahli pajak, manajer risiko, tenaga teknologi informasi, hingga petugas kepatuhan. Di sekeliling kegiatan itu akan tumbuh pula kebutuhan terhadap perkantoran, hunian, pendidikan, kesehatan, transportasi, restoran, dan berbagai jasa lainnya.
Karena itu, dampak pusat finansial tidak berhenti pada uang yang dikelola di dalam kawasan. Kegiatan ekonomi akan menyebar melalui orang-orang yang bekerja dan tinggal di sekitarnya.
Wisatawan biasanya berada di Bali selama beberapa hari atau beberapa minggu. Pekerja perusahaan finansial dapat tinggal selama bertahun-tahun. Sebagian membawa keluarga, menyewa atau membeli rumah, menyekolahkan anak, menggunakan layanan kesehatan, membeli kendaraan, serta membelanjakan pendapatannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Permintaan baru tersebut akan bertemu dengan pasar lokal.
Mekanismenya sudah lama terlihat di kawasan pariwisata Bali. Ketika jumlah pendatang meningkat, kebutuhan terhadap rumah, vila, restoran, toko, pusat kebugaran, dan berbagai layanan ikut bertambah. Pelaku usaha kemudian masuk mengikuti pasar, sedangkan harga tanah dan sewa bergerak mengikuti permintaan.
Canggu menjadi salah satu contoh paling mudah dilihat. Perubahan kawasan berlangsung seiring bertambahnya vila, restoran, pusat kebugaran, ruang kerja bersama, dan berbagai usaha yang melayani wisatawan maupun warga asing yang tinggal lebih lama.
Pertumbuhan tersebut meningkatkan nilai ekonomi kawasan. Tanah mempunyai pasar, properti berkembang, usaha mendapat pelanggan, dan pekerjaan bertambah. Namun perubahan harga juga ikut terjadi.
Ketika pembeli atau penyewa mempunyai kemampuan membayar lebih tinggi, pemilik tanah dan properti akan mengikuti harga yang dapat diterima pasar. Kondisi tersebut membuat harga yang berlaku di sebuah kawasan tidak lagi sepenuhnya mengikuti pendapatan masyarakat lokal.
PFII dapat membawa proses serupa dengan tingkat daya beli yang lebih tinggi.
Perbedaannya terletak pada kelompok yang datang. Wisatawan masih menghitung biaya kamar hotel, makan, atau transportasi selama liburan. Pemilik kekayaan besar, bankir, pengelola dana, maupun profesional keuangan mempunyai pola konsumsi dan kebutuhan tempat tinggal yang berbeda.
Mereka dapat menyewa rumah untuk beberapa tahun, membeli properti, memilih sekolah internasional, menggunakan layanan kesehatan premium, serta membutuhkan berbagai jasa profesional. Semakin besar jumlah orang yang masuk, semakin besar pula permintaan terhadap fasilitas tersebut.
Pasar kemudian bergerak mengikuti konsumen baru.
Pengembang dapat membangun hunian dengan harga yang sesuai kemampuan pembeli. Sekolah internasional mendapat pasar lebih besar. Klinik premium berkembang. Restoran, pusat kebugaran, ruang perkantoran, konsultan, firma hukum, hingga jasa keamanan mengikuti kebutuhan yang muncul.
Dampaknya tidak harus berhenti di Serangan.
Sanur berada sangat dekat dengan kawasan tersebut. Renon terhubung dengan pusat pemerintahan dan bisnis Denpasar. Jimbaran dan Nusa Dua sudah mempunyai hunian, hotel, sekolah, serta berbagai fasilitas yang menyasar pasar menengah atas.
Jika kegiatan finansial tumbuh, permintaan dapat menyebar ke kawasan tersebut.
Pergerakan itu memberi peluang bagi properti dan berbagai usaha jasa, tetapi pada saat yang sama dapat mengubah struktur harga. Pekerja dengan pendapatan yang lebih rendah akan berhadapan dengan pasar hunian yang semakin banyak dipengaruhi kemampuan membayar kelompok berpendapatan tinggi.
Gejala tersebut sebenarnya sudah ditemukan di berbagai kawasan wisata. Orang dapat bekerja di hotel, restoran, atau vila kelas atas, tetapi tidak selalu mampu membeli rumah di sekitar tempat mereka bekerja. Mereka kemudian mencari tempat tinggal lebih jauh karena harga tanah dan hunian lebih rendah.
Jarak tempat tinggal dengan tempat kerja bertambah. Kebutuhan kendaraan ikut meningkat. Beban jalan kemudian bertambah.
Dari sini, pusat finansial mempunyai hubungan langsung dengan persoalan yang selama ini dianggap berada di luar sektor keuangan, seperti perumahan, transportasi, tata ruang, air bersih, dan infrastruktur.
Besarnya investasi juga perlu dibedakan dengan besarnya uang yang benar-benar berputar di Bali.
Sebuah family office dapat berkantor di Serangan dan mengelola aset bernilai triliunan rupiah. Namun aset tersebut dapat ditempatkan pada saham di Amerika Serikat, obligasi di Eropa, perusahaan di Singapura, atau properti di negara lain.
Dengan demikian, nilai aset kelolaan tidak otomatis sama dengan investasi yang masuk ke ekonomi Bali.
Manfaat lokal lebih banyak terbentuk melalui kegiatan yang menyertai pengelolaan aset tersebut. Perusahaan menyewa kantor, membayar pegawai, menggunakan jasa akuntan, firma hukum, konsultan pajak, perusahaan teknologi, penyedia makanan, transportasi, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Semakin panjang hubungan dengan ekonomi lokal, semakin besar pula uang yang berputar di daerah.
Tenaga kerja menjadi salah satu penentunya.
Pusat finansial membutuhkan jenis pekerjaan yang selama ini belum menjadi pasar tenaga kerja utama di Bali. Kebutuhannya mulai dari analis investasi, manajer portofolio, pengelola kekayaan, akuntan, ahli perpajakan, pengacara bisnis, manajer risiko, tenaga teknologi finansial, hingga petugas yang menangani kepatuhan terhadap aturan keuangan.
Sebagian pekerjaan tersebut mempunyai nilai tambah dan tingkat pendapatan yang tinggi.
Jika kebutuhan dapat dipenuhi tenaga lokal, gaji yang dibayarkan perusahaan akan kembali berputar melalui konsumsi, perumahan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan di Bali. Sebaliknya, jika sebagian besar tenaga profesional harus direkrut dari Jakarta atau luar negeri, bagian pendapatan yang tinggal dalam struktur tenaga kerja lokal akan lebih kecil.
Perbedaan itulah yang membuat jumlah lapangan kerja saja belum cukup untuk membaca dampak PFII.
Seribu pekerjaan dapat memberi dampak yang berbeda tergantung jenis pekerjaannya. Pekerjaan sebagai analis investasi, pengacara bisnis, atau manajer risiko menghasilkan tingkat pendapatan dan kebutuhan keahlian yang berbeda dibandingkan pekerjaan pendukung seperti keamanan, kebersihan, transportasi, atau pelayanan.
Semua tetap dibutuhkan. Namun pembagian nilai ekonominya berbeda.
Bali mempunyai pengalaman panjang membangun tenaga kerja untuk pariwisata. Sekolah kejuruan dan perguruan tinggi pariwisata berkembang mengikuti kebutuhan hotel, restoran, biro perjalanan, dan berbagai kegiatan jasa. Ribuan pekerja kemudian mempunyai pengalaman dan jaringan kerja yang terbentuk selama puluhan tahun.
Industri keuangan internasional belum mempunyai kedalaman serupa di Bali.
Kondisi tersebut membuat persiapan tenaga kerja menjadi bagian penting dari rencana PFII. Pendidikan akuntansi, manajemen, hukum, perpajakan, serta teknologi informasi sebenarnya sudah tersedia. Namun kegiatan finansial lintas negara membutuhkan kemampuan yang lebih khusus, mulai manajemen investasi, pengelolaan risiko, perpajakan internasional, teknologi finansial, kepatuhan, hingga pencegahan pencucian uang.
Kemampuan itu tidak dapat dibentuk setelah perusahaan datang.
Perguruan tinggi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kurikulum, membangun kerja sama dengan industri, menyediakan program magang, serta mendorong sertifikasi profesional. Industri juga membutuhkan waktu untuk mentransfer pengalaman kepada pekerja baru.
Tanpa proses tersebut, pertumbuhan pusat finansial dapat bergerak lebih cepat daripada ketersediaan tenaga kerja lokal. Perusahaan kemudian akan mencari tenaga siap pakai dari pasar yang sudah terbentuk.
Hal serupa berlaku pada infrastruktur.
Pusat ekonomi baru selalu menarik orang dan kegiatan usaha. Jumlah pekerja bertambah, kebutuhan hunian meningkat, kendaraan bertambah, kebutuhan air naik, dan berbagai fasilitas baru dibangun.
Bali sudah mempunyai pengalaman ketika pertumbuhan kawasan bergerak lebih cepat dibandingkan kapasitas infrastrukturnya. Di Canggu, pertumbuhan vila, restoran, dan berbagai usaha berlangsung ketika jaringan jalan tetap terbatas. Di sejumlah kawasan wisata lain, bertambahnya hotel dan permukiman ikut meningkatkan kebutuhan air dan produksi sampah.
PFII masih berada pada tahap awal sehingga kebutuhan tersebut dapat dihitung lebih dahulu.
Jumlah tenaga kerja yang akan masuk dapat diproyeksikan. Kebutuhan hunian dapat dipetakan. Kapasitas jalan dan transportasi umum dapat dihitung. Begitu pula kebutuhan air, listrik, sekolah, layanan kesehatan, serta berbagai fasilitas yang akan mengikuti pusat finansial.
Perhitungan tersebut penting karena nilai ekonomi PFII pada akhirnya tidak hanya berasal dari transaksi keuangan yang dilakukan di dalam kawasan.
Dampaknya akan terlihat pada perubahan struktur ekonomi di sekitarnya.
Jika bank dan perusahaan investasi tumbuh, tenaga profesional ikut dibutuhkan. Ketika tenaga profesional bertambah, permintaan rumah meningkat. Ketika permintaan hunian naik, harga properti bergerak. Perubahan tempat tinggal kemudian memengaruhi pola perjalanan dan kebutuhan transportasi.
Satu kegiatan ekonomi dapat menghasilkan rangkaian dampak yang panjang.
Karena itu, angka investasi Rp300 triliun atau Rp500 triliun baru menunjukkan ukuran modal yang ingin ditarik. Angka tersebut belum menunjukkan berapa banyak uang yang berputar di Bali, berapa pekerjaan profesional yang tercipta, berapa tenaga lokal yang dapat mengisinya, atau seberapa besar kegiatan tersebut mendorong usaha di luar kawasan.
Ukuran tersebut akan menentukan apakah PFII benar-benar menambah mesin ekonomi baru bagi Bali atau hanya menjadi tempat pengelolaan aset global.
Selama ini Bali memperoleh uang ketika wisatawan datang dan berbelanja. Hotel menerima pembayaran kamar, restoran menjual makanan, kendaraan disewa, dan berbagai kegiatan ekonomi bergerak mengikuti jumlah orang yang datang.
Pusat finansial menawarkan pola yang berbeda. Pendapatan dapat muncul dari pengelolaan investasi, jasa hukum, akuntansi, teknologi, perpajakan, pendidikan, properti, serta berbagai usaha yang tumbuh mengikuti kegiatan keuangan.
Perubahan itu dapat memperlebar ekonomi Bali yang selama ini sangat bertumpu pada pariwisata.
Namun besarnya manfaat tidak ditentukan oleh jumlah triliuner yang datang ataupun besarnya aset yang dikelola dari Serangan. Dampaknya baru terlihat dari seberapa panjang hubungan antara modal global dengan tenaga kerja dan usaha yang hidup di Bali.
Selama puluhan tahun, Bali membangun ekonomi untuk melayani wisatawan.
PFII membuka kemungkinan berbeda. Pulau ini tidak lagi hanya menjadi tempat orang asing membelanjakan uang, tetapi juga tempat mereka mengelola kekayaan.
Dari turis ke triliuner.
Jika perubahan itu benar-benar terjadi, yang berubah bukan hanya sumber uang yang masuk ke Bali. Jenis pekerjaan, kebutuhan hunian, harga tanah, pola perjalanan, hingga struktur ekonomi daerah juga akan ikut bergerak. (*)
Menot Sukadana