Banten Masuk Algoritma
MENCARI banten sekarang bisa dimulai dari kolom Google.
Ketik saja “banten melaspas Bali”. Dalam beberapa detik muncul pilihan usaha lengkap dengan foto, alamat, nomor WhatsApp, jenis banten yang tersedia, sampai layanan pengiriman. Beberapa penjual memiliki situs sendiri. Yang lain mengandalkan Instagram, Facebook, TikTok, atau marketplace.
Pemandangan semacam itu sebenarnya tidak lagi aneh. Orang Bali sudah lama membeli canang, pejati, daksina, sampian, buah, bunga, jajan, dan berbagai perlengkapan upacara di pasar. Membeli banten juga bukan gejala baru. Yang mulai berubah adalah cara pembeli dan pembuatnya bertemu.
Dahulu jalurnya pendek dan sangat lokal. Orang mencari tukang banten melalui keluarga, tetangga, warga banjar, atau orang yang dianggap mengetahui urusan upacara. Nama pembuatnya beredar lewat percakapan. Pelanggan datang karena pernah memakai jasanya atau mendapat rekomendasi.
Sekarang seseorang yang tinggal di Denpasar dapat memesan banten dari Gianyar tanpa pernah mengenal pembuatnya. Ia melihat foto di telepon genggam, bertanya lewat WhatsApp, mentransfer pembayaran, kemudian menunggu barang diantar.
Pasar yang sebelumnya banyak bergantung pada kedekatan sosial mulai melampaui batas banjar dan desa.
Jejak perubahannya sudah terlihat pada sejumlah usaha sarana upakara. Sri Yadnya di Gianyar, misalnya, tidak hanya menggunakan media sosial dan WhatsApp, tetapi juga membangun situs dengan katalog dan artikel yang dirancang agar mudah ditemukan melalui pencarian internet. Ada pula Arsaloka yang menawarkan kebutuhan acara adat Bali dalam bentuk marketplace, dari banten hingga jasa pendukung upacara.
Cara menjualnya pun berubah. Jenis banten difoto lebih rapi, disusun dalam katalog, diberi nama paket, lalu disertai keterangan layanan dan cara pemesanan. Pembeli yang ingin bertanya tidak perlu datang ke rumah pembuat banten. Percakapan pindah ke layar.
Perubahan semacam ini menemukan pasar karena kehidupan rumah tangga Bali sendiri sedang berubah.
Di kawasan perkotaan, banyak keluarga bekerja dengan jam yang semakin panjang. Tidak semua anggota keluarga mempunyai cukup waktu untuk majejahitan atau menyiapkan perlengkapan upacara. Perempuan Bali yang selama ini memikul banyak pekerjaan persiapan ritual juga semakin banyak bekerja di luar rumah.
Karena itu pembelian banten tidak selalu berhubungan dengan soal kemampuan atau ketidakmampuan membuatnya. Sering kali persoalannya jauh lebih sederhana: waktu.
Menyiapkan sebuah upacara memerlukan pekerjaan yang panjang. Bahan harus dicari, janur dipotong, jejahitan dibuat, bunga dan buah disusun, lalu berbagai perlengkapan dirangkai menurut kebutuhan. Pada upacara yang lebih besar, pekerjaan itu bisa berlangsung berhari-hari.
Sebagian keluarga memilih menyerahkannya kepada orang lain.
Dari sini berkembang ekonomi yang selama ini hidup cukup senyap di sekitar ritual Bali. Ada orang yang membuat jejahitan, memasok janur, membuat jajan, merangkai banten, sampai mengantarkan pesanan. Keterampilan yang dahulu banyak berada di lingkungan rumah tangga perlahan memperoleh harga yang lebih jelas.
Internet memperluas pasar mereka.
Seorang pembuat banten di rumah tidak harus menyewa toko di jalan utama. Foto yang bagus dan nomor WhatsApp sudah cukup untuk mulai menerima pesanan dari luar lingkungan terdekat. Jika usahanya berkembang, ia dapat menambah akun media sosial, katalog, situs web, atau memasang iklan.
Pada titik ini kemampuan membuat banten bertemu keterampilan yang sebelumnya tidak berkaitan langsung dengan upacara: pemasaran digital.
Seorang pembuat banten bisa sangat terampil, tetapi di internet keterampilan itu tidak otomatis membuat usahanya terlihat. Mesin pencari mempunyai aturan sendiri. Begitu pula Instagram dan TikTok.
Usaha yang rutin mengunggah foto, mencantumkan lokasi, menulis keterangan yang mudah dicari, mempunyai banyak interaksi, atau membayar promosi mempunyai peluang lebih besar muncul di hadapan calon pembeli.
Di pasar tradisional, posisi kios ikut menentukan orang datang. Dalam perdagangan digital, halaman pertama Google atau linimasa media sosial mengambil sebagian fungsi itu.
Perubahan tersebut juga mengubah cara konsumen memilih.
Dalam satu telepon genggam, orang bisa membuka beberapa akun sekaligus. Foto dibandingkan. Kelengkapan ditanyakan. Harga dicek. Jarak pengiriman dihitung. Pembeli tidak lagi hanya berhadapan dengan satu pembuat banten yang direkomendasikan keluarga.
Persaingannya menjadi lebih terbuka.
Di sinilah muncul kecenderungan lain: banten semakin sering dipasarkan sebagai paket.
Ada paket otonan, paket melaspas, paket pawiwahan, dan berbagai paket berdasarkan kebutuhan upacara. Cara ini tentu memudahkan penjual maupun pembeli. Penjual dapat menghitung bahan dan tenaga. Pembeli memperoleh gambaran biaya sejak awal.
Namun banten tidak selalu mudah dimasukkan ke dalam katalog.
Tradisi upacara Bali mempunyai banyak variasi. Bentuk, susunan, istilah, dan tingkat kelengkapannya dapat berbeda menurut desa, keluarga, maupun kebiasaan setempat. Sesuatu yang dianggap lazim di satu tempat belum tentu persis sama di tempat lain.
Penjual banten tentu memahami persoalan tersebut dan biasanya masih membuka ruang konsultasi. Tetapi ketika skala usaha membesar, kebutuhan membuat produk yang mudah dijelaskan kepada konsumen juga semakin kuat.
Foto harus mewakili barang. Nama paket harus mudah dipahami. Harga perlu dihitung. Keterangan harus cukup pendek untuk dibaca di layar.
Di sinilah perdagangan digital mulai memberi bentuk baru pada jasa banten. Bukan karena tradisinya berubah seketika, melainkan karena sesuatu yang sebelumnya sangat bergantung pada percakapan dan pengetahuan lokal harus diterjemahkan menjadi katalog.
Tahap berikutnya sudah dapat terlihat arahnya.
Ketika persaingan semakin ramai, pelaku usaha akan membutuhkan cara agar produknya lebih sering terlihat. Media sosial menawarkan promosi berbayar. Google mempunyai sistem iklan berdasarkan pencarian. Marketplace mempunyai fasilitas menaikkan posisi produk.
Banten kemudian memasuki ruang yang sama dengan produk lain yang berebut perhatian pengguna telepon genggam.
Orang yang suatu malam mencari “banten melaspas” dapat menjadi sasaran iklan beberapa hari sesudahnya. Platform digital menyimpan jejak minat pengguna dan menggunakannya untuk menentukan iklan yang akan muncul.
Bagi penjual, itu peluang mendapatkan pelanggan.
Bagi ekonomi upacara Bali, itu perubahan yang cukup menarik. Hubungan antara pembuat banten dan pengguna jasa tidak lagi sepenuhnya dibangun melalui jaringan sosial yang telah ada. Mesin ikut mempertemukan keduanya.
Perubahan lebih besar dapat muncul jika pasar ini kelak terkonsolidasi dalam platform.
Modelnya sebenarnya sudah dikenal di sektor lain. Hotel mempunyai platform pemesanan. Restoran bergantung pada aplikasi pengantaran. Pengemudi bertemu penumpang melalui aplikasi. Banyak pedagang kecil memperoleh pelanggan lewat marketplace.
Dalam model seperti itu, pembuat barang atau penyedia jasa tidak selalu menjadi pihak yang menguasai hubungan dengan konsumen. Platform berada di tengah karena memiliki data, trafik, dan akses ke pelanggan.
Hal serupa bukan tidak mungkin terjadi pada kebutuhan upacara.
Satu platform dapat mengumpulkan puluhan pembuat banten, menampilkan katalog, menerima pembayaran, lalu mengatur pengiriman. Konsumen tinggal memilih jenis upacara dan kebutuhan yang diperlukan.
Pembuat banten tetap bekerja di rumah masing-masing. Namun pesanan datang dari sistem yang tidak mereka miliki.
Belum tentu arah tersebut akan terjadi dalam waktu dekat. Perdagangan banten di Bali masih sangat beragam dan hubungan personal tetap penting, terutama untuk upacara yang rumit. Banyak keluarga juga akan tetap mengandalkan orang yang telah lama mereka kenal.
Namun satu hal sudah terlihat sekarang.
Orang Bali yang membutuhkan banten tidak lagi selalu bertanya kepada orang terdekat lebih dulu. Sebagian mulai bertanya kepada Google.
Di layar itulah pasar baru banten sedang tumbuh. (*)
Menot Sukadana