Podiumnews.com / Horison / Neraca

Bali Tidak Pernah Lulus dari Pariwisata

Oleh Nyoman Sukadana • 19 Agustus 2026 • 18:46:00 WITA

Bali Tidak Pernah Lulus dari Pariwisata
ILUSTRASI: Pariwisata menjadi infus ekonomi Bali, menghidupi banyak sektor sekaligus memperlihatkan rapuhnya ketergantungan pada wisatawan yang terus datang setiap tahun berikutnya. (AI/Podiumnews)

ENAM puluh tahun lalu, ketika Bali Beach Hotel berdiri di Sanur, pariwisata modern Bali belum seperti sekarang. Belum ada deretan vila di Canggu, beach club di pesisir selatan, restoran yang berimpitan di Seminyak, atau wisatawan yang bekerja dari laptop sambil tinggal berbulan-bulan di Ubud.

Sanur menjadi salah satu pintu masuk menuju zaman baru itu. Hotel dibangun, promosi dilakukan, penerbangan bertambah, lalu wisatawan datang. Perlahan, sebuah pulau yang sebelumnya lebih dikenal dunia melalui kebudayaan, seni, dan lanskap agraris mulai membangun ekonomi baru dari orang-orang yang datang berlibur.

Enam dekade kemudian, keputusan itu terbukti membawa perubahan besar. Bali menjadi salah satu destinasi paling dikenal di dunia. Hotel, restoran, biro perjalanan, perdagangan, transportasi, properti, hiburan dan berbagai usaha tumbuh mengikuti arus wisatawan.

Angkanya terus membesar. Sepanjang 2025, Bali menerima 6.948.754 kunjungan wisatawan mancanegara langsung, naik 9,72 persen dibandingkan 2024. Ekonomi Bali pada tahun yang sama tumbuh 5,82 persen. Penyediaan akomodasi dan makan minum tetap menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi Bali.

Pariwisata karena itu bukan lagi sekadar salah satu bagian dari ekonomi Bali. Ia sudah menjadi pusat gravitasinya.

Di situlah persoalannya.

Bali berhasil membangun pariwisata, tetapi belum sepenuhnya berhasil menggunakan keberhasilan itu untuk membangun kaki ekonomi lain yang sama kuat. Setelah lebih dari setengah abad, Bali masih membutuhkan pesawat yang penuh, hotel yang terisi dan wisatawan yang terus datang agar ekonominya bergerak cepat.

Pada triwulan IV 2025, misalnya, penyediaan akomodasi dan makan minum masih menyumbang 22,10 persen PDRB Bali. Setahun kemudian struktur itu belum menunjukkan perubahan mendasar. Pada triwulan I 2026, sektor yang sama tetap menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 20,95 persen.

Prof. Ni Putu Wiwin Setyari, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, melihat posisi tersebut sebagai dua sisi dari keadaan yang sama. Besarnya peranan Bali dalam pariwisata nasional menunjukkan kekuatan, tetapi sekaligus memperlihatkan tingginya ketergantungan ekonomi daerah terhadap sektor itu. Dalam forum BALINOMICS 2026, diversifikasi kembali ditempatkan sebagai agenda penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi Bali.

Masalahnya, percakapan seperti itu sebenarnya bukan hal baru.

Pandemi pernah memperlihatkan ketergantungan tersebut dengan cara yang paling keras.

Ketika penerbangan internasional berhenti pada 2020, yang kehilangan pendapatan bukan hanya hotel. Sopir kehilangan penumpang. Restoran kehilangan pembeli. Pemandu kehilangan pekerjaan. Laundry kehilangan pelanggan. Pemasok makanan kehilangan pasar. Toko oleh-oleh sepi. Pekerja pulang kampung. Sebagian orang kembali mencari penghidupan di desa.

Sebuah penelitian yang diterbitkan Jurnal Kajian Bali pada 2025 menggambarkan kerasnya pukulan tersebut. Industri akomodasi Bali mengalami kontraksi 41,37 persen pada 2020 dan kembali menyusut 17,05 persen pada 2021. Penelitian yang menggunakan data 3.378 usaha akomodasi itu juga mencatat tekanan besar terhadap keberlangsungan usaha dan tenaga kerja selama pandemi.

Pandemi bukan menciptakan ketergantungan Bali terhadap pariwisata. Pandemi hanya memperlihatkannya tanpa hiasan.

Saat itulah satu kata kembali sering terdengar: diversifikasi.

Bali harus memperkuat pertanian. Bali harus masuk ekonomi digital. Bali harus membesarkan industri kreatif. Pendidikan dan kesehatan disebut sebagai sektor baru. UMKM harus diperkuat. Ekonomi tidak boleh lagi bertumpu terlalu berat pada kedatangan wisatawan.

Ekonom Universitas Udayana I Gusti Wayan Murjana Yasa pada 2021 bahkan sudah menyebut ekonomi kreatif dan digital, pendidikan, pertanian serta kesehatan sebagai sektor potensial untuk mempercepat diversifikasi ekonomi Bali.

Lima tahun kemudian, daftar itu masih terdengar akrab.

Wisatawan keburu kembali.

Pesawat kembali penuh. Hotel terisi. Vila bermunculan. Tanah kembali diburu. Restoran dibuka. Investasi masuk. Ekonomi tumbuh. Kemacetan kembali memenuhi percakapan sehari-hari.

Bersamaan dengan itu, urgensi membangun mesin ekonomi baru seperti ikut surut.

Di sinilah persoalan Bali dapat dibaca melalui pemikiran ekonom Dani Rodrik.

Rodrik sudah lama mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi bukan hanya soal menghasilkan pertumbuhan dari kegiatan yang sudah dimiliki. Dalam kajiannya mengenai pembangunan, ia menempatkan diversifikasi produktif sebagai unsur penting. Ekonomi berkembang ketika kegiatan baru muncul dan sumber daya bergerak menuju aktivitas baru yang lebih produktif. Ia bahkan merumuskan secara tegas bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan diversifikasi, bukan sekadar spesialisasi.

Kalau pandangan itu dibawa ke Bali, pertanyaannya menjadi berbeda.

Bukan lagi: apakah pariwisata Bali tumbuh?

Jawabannya jelas tumbuh.

Pertanyaannya: setelah enam dekade pariwisata tumbuh, kegiatan ekonomi baru apa yang berhasil dibangun Bali hingga mampu berdiri tanpa sepenuhnya bergantung pada wisatawan?

Pertanyaan itu lebih sulit dijawab.

Bali memiliki semakin banyak usaha. Ada hotel, vila, restoran, kafe, spa, coworking space, gym, beach club, wedding organizer, rental kendaraan, sekolah selancar, studio yoga, jasa fotografi sampai perusahaan yang mengelola properti bagi orang asing.

Secara kasatmata ekonomi terlihat semakin beragam.

Tetapi keragaman jenis usaha tidak selalu berarti keragaman sumber pendapatan.

Hotel menjual kamar kepada orang yang datang. Vila juga. Restoran mendapatkan sebagian pasarnya dari orang yang datang. Rental kendaraan, spa, beach club, sekolah selancar dan berbagai layanan lainnya berada dalam rantai permintaan yang sama.

Pembelinya berganti. Model bisnisnya berubah. Interiornya semakin modern. Teknologinya semakin canggih.

Tetapi banyak uang tetap datang karena seseorang membeli tiket dan mendarat di Bali.

Itulah perbedaan antara diversifikasi usaha dan diversifikasi ekonomi.

Seribu bisnis yang bergantung pada satu sumber permintaan tetap mempunyai kelemahan yang sama ketika sumber permintaan itu menghilang.

Rodrik bersama sejumlah ekonom pembangunan menyebut transformasi struktural terjadi ketika muncul industri atau aktivitas ekonomi baru dan tenaga kerja serta modal dapat berpindah menuju kegiatan yang lebih produktif. Tanpa kemunculan kegiatan baru, ekonomi kehilangan salah satu tenaga pendorong untuk bergerak ke tahap berikutnya.

Di Bali, yang sering terjadi justru sebaliknya. Keberhasilan pariwisata menarik semakin banyak kegiatan ekonomi masuk ke dalam orbitnya.

Pertanian memberi contoh yang paling mudah terlihat.

Pariwisata membutuhkan pertanian. Hotel membutuhkan sayur. Restoran membutuhkan beras, buah, ikan, daging, kopi dan berbagai bahan pangan. Dalam hubungan yang sehat, jutaan wisatawan seharusnya menciptakan pasar besar bagi produk pertanian Bali.

Namun pariwisata sekaligus meningkatkan tekanan terhadap tanah dan tenaga kerja.

Penelitian Ni Wayan Purnami Rusadi, I Gde Pitana, I Nyoman Sunarta dan I Nyoman Sukma Arida dari Universitas Udayana menunjukkan perkembangan pariwisata Bali ikut mendorong pergeseran tenaga kerja dari pertanian serta meningkatkan kebutuhan infrastruktur, perumahan dan fasilitas wisata. Tekanan tersebut kemudian berkaitan dengan konversi lahan pertanian ke penggunaan nonpertanian.

Sawah akhirnya menghadapi kompetisi yang tidak seimbang.

Satu petak tanah tidak lagi hanya dihitung dari berapa gabah yang dapat dipanen. Pemiliknya juga menghitung berapa nilainya jika disewakan, dijual, dijadikan vila, restoran atau bangunan komersial.

Dalam perhitungan seperti itu, pertanian sering kalah bahkan sebelum musim tanam dimulai.

Anak muda menghadapi perhitungan serupa.

Ketika sebuah hotel, restoran, kapal pesiar atau perusahaan jasa menawarkan penghasilan yang lebih menarik, keputusan meninggalkan sektor pertanian bukan perkara kehilangan kecintaan terhadap tanah. Itu keputusan ekonomi yang rasional.

Karena itu, menyelesaikan persoalan diversifikasi Bali dengan slogan kembali ke pertanian tidak cukup.

Pertanyaannya harus lebih konkret: bagaimana membuat pekerjaan di luar pariwisata memberikan pendapatan dan masa depan yang menarik?

Ekonom senior Dradjad Wibowo pernah mengusulkan hilirisasi pertanian sebagai salah satu jalannya. Menurut dia, Bali mempunyai komoditas seperti ikan, jeruk, kopi, kayu dan kerajinan yang dapat dikembangkan sehingga pertanian tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Ia melihat langkah tersebut sebagai bagian dari diversifikasi agar ekonomi Bali tidak terus bergantung kepada pariwisata.

Di sinilah gagasan diversifikasi menjadi lebih konkret.

Menanam kopi belum tentu menciptakan mesin ekonomi baru. Tetapi mengolah kopi, membangun merek, memperkuat desain, mengembangkan teknologi produksi, lalu menjual produk itu keluar Bali mulai menciptakan rantai ekonomi yang berbeda.

Hal yang sama berlaku pada kakao, ikan, buah, kerajinan, desain, film, musik, perangkat lunak dan jasa profesional.

Kuncinya terdapat pada satu pertanyaan: apakah uang dapat masuk ke Bali tanpa pembelinya harus datang ke Bali?

Selama ini keberhasilan ekonomi Bali sangat mahir menjawab pertanyaan sebaliknya: bagaimana membuat orang datang dan membelanjakan uang di Bali?

Model itu tidak salah. Bahkan berhasil luar biasa.

Justru keberhasilan itulah yang kemudian menciptakan jebakan.

Ketika satu are tanah menghasilkan lebih banyak uang sebagai vila daripada sawah, modal bergerak menuju vila. Ketika membuka restoran untuk wisatawan menghasilkan keuntungan lebih cepat daripada membangun industri pengolahan, modal akan memilih restoran. Ketika pasar tenaga kerja terbesar berada di sektor hospitality, pendidikan akan beradaptasi memasok tenaga kerja ke sana.

Semua keputusan itu masuk akal jika dilihat satu per satu.

Namun ketika jutaan keputusan rasional bergerak ke arah yang sama, sebuah ekonomi dapat menjadi semakin terkonsentrasi.

Bali bukan kesulitan melakukan diversifikasi karena pariwisata gagal.

Bali kesulitan melakukan diversifikasi justru karena pariwisata terlalu berhasil.

Bank Dunia melihat pariwisata sebenarnya dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan yang lebih beragam apabila dikelola dengan baik. Pariwisata dapat memperbesar pasar bagi produsen lokal, mendorong investasi dan menyebarkan pendapatan ke berbagai kegiatan ekonomi. Dengan kata lain, sektor wisata tidak harus menjadi tujuan akhir. Ia dapat menjadi modal untuk membangun kegiatan ekonomi berikutnya.

Ini bagian yang sering hilang dalam pembicaraan tentang keberhasilan pariwisata Bali.

Yang diperdebatkan hampir selalu jumlah wisatawan, lama tinggal, belanja wisatawan, hotel baru, penerbangan baru atau destinasi baru.

Ketika Kuta padat, pembangunan bergerak ke Seminyak. Ketika Seminyak mahal, Kerobokan dan Canggu tumbuh. Setelah Canggu semakin penuh, investasi bergerak ke Pererenan, Seseh, Cemagi dan wilayah lainnya.

Secara geografis pariwisata meluas.

Secara ekonomi mesin utamanya tidak banyak berubah.

Mungkin sudah waktunya ukuran keberhasilan Bali digeser.

Bukan hanya berapa juta orang yang berhasil didatangkan, melainkan berapa banyak produk dan jasa yang berhasil dijual keluar.

Seorang desainer di Denpasar dapat menjual karya kepada perusahaan di Singapura tanpa wisatawan datang ke Ngurah Rai. Perusahaan teknologi dapat melayani klien Australia dari Bali. Produk pangan olahan dapat masuk pasar luar negeri. Industri kreatif dapat menjual film, musik, desain dan kekayaan intelektual. Perguruan tinggi dapat menghasilkan riset dan menarik mahasiswa. Jasa profesional dapat memperoleh pasar di luar pulau.

Bali tidak harus menjadi kawasan industri untuk melakukan transformasi ekonomi.

Rodrik sendiri dalam perkembangan pemikirannya tidak lagi melihat manufaktur sebagai satu-satunya jalan. Sektor jasa yang produktif dan mampu menciptakan pekerjaan berkualitas juga dapat memainkan peranan penting dalam transformasi ekonomi. Yang menentukan bukan label sektornya, tetapi produktivitas, kemampuan menyerap tenaga kerja dan keterhubungannya dengan pasar yang lebih luas.

Ini relevan untuk Bali.

Bali sudah memiliki modal yang tidak kecil: reputasi internasional, konektivitas global, tenaga kerja jasa, komunitas kreatif, perguruan tinggi, budaya yang kuat dan pengalaman berhubungan dengan pasar dunia.

Persoalannya adalah bagaimana semua modal yang lahir bersama pariwisata itu digunakan untuk membangun ekonomi setelah pariwisata.

Bukan ekonomi tanpa wisatawan, melainkan ekonomi yang tidak jatuh ketika wisatawan berkurang.

Pandemi seharusnya menjadi ujian kelulusan pertama.

Bali gagal dalam ujian itu, sebagaimana terlihat dari dalamnya kontraksi ketika pariwisata berhenti. Tetapi kegagalan tersebut sebenarnya memberikan pelajaran yang mahal: sebuah ekonomi yang sangat berhasil pada masa normal dapat sangat rapuh ketika seluruh keberhasilannya bertumpu pada sumber permintaan yang sama.

Kini keadaan sudah kembali berbeda.

Pada 2025 ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen. Hampir tujuh juta wisatawan mancanegara datang langsung sepanjang tahun. Hotel kembali ramai dan pembangunan terus berjalan.

Semua itu kabar baik.

Namun pertumbuhan tidak sama dengan ketahanan.

Bali tidak perlu meninggalkan pariwisata. Tidak masuk akal meninggalkan industri yang telah dibangun selama puluhan tahun, memberikan pekerjaan kepada begitu banyak orang dan menjadikan Bali salah satu nama paling dikenal di dunia.

Yang perlu dilakukan adalah mengubah fungsi keberhasilan itu.

Pariwisata seharusnya menjadi modal untuk membiayai pendidikan yang lebih baik. Pasar hotel dan restoran harus memperbesar industri pangan lokal. Pendapatan dari wisata dapat digunakan untuk memperkuat riset, teknologi dan infrastruktur ekonomi baru. Perguruan tinggi perlu disambungkan dengan kebutuhan industri di luar hospitality. Anak muda harus mempunyai lebih banyak pilihan pekerjaan tanpa semuanya berujung pada melayani orang yang datang berlibur.

Dengan demikian, diversifikasi bukan berarti mengganti pariwisata.

Diversifikasi berarti membuat pariwisata berhenti menjadi satu-satunya mata pelajaran yang dikuasai Bali.

Sanur enam dekade lalu membuka pintu menuju kemakmuran baru. Dari sana Bali belajar menerima dunia, melayani dunia dan mendapatkan penghasilan dari kedatangan dunia.

Pelajaran berikutnya seharusnya lebih sulit.

Bagaimana Bali menjual pengetahuan, produk, kreativitas, teknologi dan keterampilannya kepada dunia tanpa selalu meminta dunia datang terlebih dahulu.

Bali baru benar-benar lulus dari pariwisata ketika berkurangnya penerbangan tidak serta-merta membuat terlalu banyak orang kehilangan penghasilan. Ketika seorang sarjana mempunyai pilihan pekerjaan berpenghasilan baik di luar hotel dan restoran. Ketika sawah tidak selalu kalah dalam perhitungan ekonomi terhadap vila. Ketika produk Bali dapat menghasilkan uang bahkan ketika pembelinya berada ribuan kilometer dari pulau ini.

Enam puluh tahun lalu, Bali belajar menerima dunia.

Setelah enam puluh tahun, seharusnya Bali mulai belajar hidup dari dunia tanpa selalu menunggu dunia mendarat di Ngurah Rai. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.