Bemo yang Tinggal dalam Lagu
SUATU masa di Denpasar, naik bemo cukup lazim untuk masuk ke lagu pop.
Yong Sagita merekam suasana itu lewat Jaje Kakne. Tokoh dalam lagunya adalah seorang kakek yang sedang jalan-jalan naik bemo keliling kota. Ketika ingin membeli es kojong, ia meminta sopir berhenti sebentar. Setelah es habis dimakan, bungkus berbentuk kerucut itu hendak dikembalikan kepada sopir karena disangka wadah yang tidak bisa dimakan. Sopir kemudian nyeletuk, “Jaje kakne, ajeng telasang.”
Sebuah catatan tentang musik Bali lawas yang ditulis PandeBaik pada 2021 bahkan mengenang video klip lagu tersebut menampilkan pelawak Bali Petruk berkeliling kawasan Puputan Badung dengan bemo roda tiga. Petruk memerankan si kakek, sementara es kojong menjadi bagian dari kelucuan cerita.
Catatan itu bukan arsip resmi video klip sehingga detailnya tetap perlu diperlakukan sebagai kesaksian nostalgia. Namun satu hal yang sulit dibantah dari lirik lagunya: bemo ketika itu begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga perjalanan di dalamnya mudah dipahami pendengar tanpa perlu banyak penjelasan.
Sekarang keadaan hampir terbalik. Generasi muda Denpasar mungkin masih bisa menemukan Jaje Kakne melalui YouTube, tetapi belum tentu pernah menumpang bemo untuk pergi ke sekolah, pasar atau pusat kota. Kendaraan yang dahulu masuk lagu itu perlahan lebih mudah ditemukan dalam ingatan dibandingkan di jalan.
Padahal Denpasar pernah mempunyai jaringan angkutan umum yang cukup jelas.
A.A. Gde Putra Agung, I Gde Parimartha, Ida Bagus Gde Budharta dan Ida Bagus Rama mencatatnya dalam buku Sejarah Kota Denpasar 1945-1979. Buku hasil Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional tersebut diterbitkan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pada 1986. Catatan mereka menunjukkan terminal dan tempat mangkal angkutan sudah menjadi bagian penting dalam pergerakan warga Denpasar pada akhir 1970-an.
Terminal Ubung melayani perjalanan menuju Singaraja, Gilimanuk hingga Jawa sekaligus tersambung dengan angkutan kota. Kreneng menjadi simpul perjalanan ke arah timur Bali. Tegal melayani kawasan selatan, termasuk Kuta, Tuban, Pecatu, Nusa Dua dan Uluwatu. Ada pula Suci serta Wangaya yang melayani perjalanan ke sejumlah kawasan di dalam dan sekitar kota.
Pembagiannya memang tidak secanggih jaringan angkutan massal modern. Tidak ada aplikasi yang memberi tahu kapan kendaraan akan tiba, halte berpendingin udara, pembayaran digital atau pusat kendali lalu lintas. Namun seseorang yang tiba dari luar Denpasar masih bisa turun di satu simpul kemudian meneruskan perjalanan dengan angkutan lain.
Pemerintah bahkan mengatur tarifnya secara rinci.
Keputusan Gubernur Bali Nomor 2 Tahun 1983 tentang tarif angkutan penumpang umum menetapkan ongkos bemo roda tiga Sanglah-Gajah Mada Rp100. Tarif yang sama berlaku untuk Kreneng-Gajah Mada, Ubung-Gajah Mada dan Kreneng-Sanglah. Perjalanan Kreneng-Tanjung Bungkak-Renon-Sanglah dipatok Rp125. Dari Denpasar menuju Kuta ongkosnya Rp150, sedangkan Tuban Rp175.
Daftar tarif itu sekarang dapat dibaca seperti peta sosial Denpasar empat dekade lalu. Gajah Mada menjadi pusat pertemuan banyak perjalanan. Sanglah penting karena rumah sakit sekaligus kawasan permukiman. Kreneng terhubung dengan pasar. Ubung menjadi pintu perjalanan antarkota. Di selatan terdapat Tegal yang menghubungkan pusat Denpasar dengan daerah yang kemudian tumbuh pesat bersama pariwisata.
Suci mempunyai kisah yang lebih khas. Situs pariwisata Pemerintah Kota Denpasar mencatat kawasan di persimpangan Jalan Diponegoro, Hasanuddin dan Sumatra itu dahulu merupakan terminal angkutan dalam kota dan antarkota. Sepanjang 1970-an hingga 1980-an, bemo roda tiga hilir mudik dari sana. Terminal Suci juga pernah menjadi tempat mangkal minibus tujuan Tabanan dan Negara sebelum Ubung mengambil peran lebih besar. Pada 1980-an, kawasan tersebut dialihfungsikan menjadi pertokoan Suci Plaza dengan tempat parkir di bawah tanah.
Perubahan Suci seperti memberi tanda tentang arah kota berikutnya. Ruang yang sebelumnya dipakai orang untuk mendapatkan kendaraan umum kemudian membutuhkan tempat untuk menyimpan kendaraan pribadi.
Bemo sendiri belum serta-merta mati.
I Wayan Sukma Wijaya dan Ni Luh Putu Tejawati, peneliti Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, menelusuri perubahan tersebut dalam penelitian berjudul Dinamika Transportasi Umum di Kota Denpasar Tahun 1992-2018. Riset yang dimuat dalam Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial pada 2021 itu menggunakan metode sejarah untuk merekonstruksi perubahan transportasi Denpasar, mulai dokar, bemo, taksi, ojek hingga bus pemerintah.
Wijaya dan Tejawati mencatat bemo roda tiga mulai diremajakan menjadi bemo roda empat sekitar 1992-1994. Pada 1993 terdapat 1.047 bemo roda empat. Dalam periode 1993-2002, jumlah angkutan itu disebut pernah mencapai 1.407 unit. Masa 1980-an hingga 1990-an mereka sebut sebagai periode ketika bemo roda empat berada pada puncak penggunaan, dengan ongkos sekitar Rp100 sampai Rp300 bergantung jarak.
Jumlah sebesar itu sulit dibayangkan sekarang. Namun bemo masih mempunyai pasar karena tidak semua keluarga memiliki motor atau mobil.
Penelitian Wijaya dan Tejawati menunjukkan perubahan mulai terasa kuat menjelang akhir 1990-an. Showroom kendaraan bertambah dan sistem kredit memudahkan masyarakat membeli kendaraan pribadi. Sebelumnya, harga kendaraan yang relatif mahal membuat angkutan umum tetap dibutuhkan banyak warga. Ketika motor semakin mudah dimiliki, perhitungan perjalanan ikut berubah.
Motor memang menawarkan jawaban yang sangat praktis.
Warga tidak perlu menunggu bemo mendapatkan penumpang. Perjalanan tidak terikat trayek. Motor bisa masuk gang, berhenti di depan rumah, mengantar anak sampai sekolah atau membawa seseorang langsung dari rumah menuju tempat kerja tanpa berpindah kendaraan.
Pada saat bersamaan, Denpasar juga sedang berubah.
Pusat kegiatan kota tidak lagi hanya berkisar di Pasar Badung, Gajah Mada, Kreneng, Sanglah dan beberapa kawasan lama. Renon berkembang menjadi pusat pemerintahan dan perkantoran. Teuku Umar dipenuhi perdagangan dan jasa. Permukiman meluas menuju Sesetan, Pedungan, Pemogan, Padangsambian dan Peguyangan. Di bagian utara dan barat, perkembangan Denpasar semakin sulit dipisahkan dari Kerobokan, Dalung serta kawasan lain di Kabupaten Badung.
Akibatnya, perjalanan sehari-hari menjadi semakin menyebar.
Seseorang tidak lagi cukup berangkat dari rumah menuju pasar atau pusat kota kemudian kembali pada trayek yang sama. Orangtua bisa mengantar anak ke sekolah sebelum bekerja, mendatangi bank ketika jam istirahat, bertemu klien di tempat berbeda, membeli kebutuhan rumah lalu menjemput anak sebelum pulang.
Bemo mempunyai jalur yang ditentukan. Motor mengikuti keinginan pengendaranya.
Di situlah kekalahan bemo mulai terlihat.
Karena itu, hilangnya bemo tidak cukup dijelaskan dengan mengatakan masyarakat Denpasar lebih menyukai sepeda motor. Pilihan tersebut juga dibentuk oleh perkembangan kota. Ketika permukiman, sekolah, kantor dan pusat perdagangan menyebar sementara jaringan angkutan umum tidak berkembang dengan kecepatan yang sama, kendaraan pribadi akhirnya menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Peter Newman dan Jeffrey Kenworthy sudah lama meneliti persoalan semacam itu. Newman merupakan profesor bidang keberlanjutan di Curtin University, Australia, sementara Kenworthy juga dikenal sebagai akademisi yang banyak meneliti transportasi perkotaan dan ketergantungan terhadap kendaraan pribadi. Dalam buku The End of Automobile Dependence: How Cities are Moving Beyond Car-Based Planning yang diterbitkan Island Press pada 2015, keduanya membahas bagaimana bentuk kota dan kebijakan transportasi dapat membuat masyarakat semakin bergantung pada mobil serta bagaimana ketergantungan itu bisa dikurangi.
Denpasar bergerak ke arah ketergantungan kendaraan pribadi tidak melalui sebuah keputusan tunggal. Perubahannya terjadi sedikit demi sedikit.
Warga membeli motor karena lebih praktis. Rumah menyediakan garasi. Toko menyiapkan parkir. Kantor melakukan hal serupa. Sekolah setiap pagi dipenuhi kendaraan pengantar. Ketika semakin banyak orang membawa kendaraan sendiri, penumpang bemo berkurang. Sopir harus menunggu lebih lama untuk memenuhi kendaraan sehingga layanan menjadi semakin tidak menarik.
Lingkarannya terus berputar.
Data yang dikutip Wijaya dan Tejawati dari kajian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Denpasar tahun 2017 menunjukkan 96 persen perjalanan di Denpasar dan sekitarnya sudah menggunakan angkutan pribadi. Angkutan umum hanya mendapat porsi sekitar empat persen. Pada 2018, jumlah bemo roda empat yang tersisa disebut hanya 285 unit.
Wangaya menunjukkan perubahan itu dalam bentuk lain.
Pebri Andika Putri dan Luh Putu Aswitari dari Universitas Udayana menyinggung sejarah kawasan tersebut dalam penelitian Pendapatan Pedagang Perempuan Jejaitan Ceper dalam Menunjang Ekonomi Keluarga di Pasar Bunga Wangaya Kota Denpasar. Penelitian yang diterbitkan E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana pada 2022 itu mencatat Pasar Bunga Wangaya sebelumnya merupakan Terminal Trayek Denpasar-Plaga. Angkutannya antara lain Isuzu berwarna merah dan terminal tersebut beroperasi pada 1980-an hingga 1990-an. Ketika kepemilikan kendaraan pribadi bertambah, angkutan umum kehilangan pengguna dan kawasan terminal akhirnya berubah fungsi.
Maka yang hilang sebenarnya lebih besar daripada kendaraan bernama bemo. Ikut melemah pula jaringan perjalanan yang pernah menghubungkan pasar, terminal dan pusat kegiatan kota.
Kondisi itu kemudian menghasilkan persoalan baru. Orang tetap harus bekerja, sekolah, belanja dan mengantar anak. Perjalanan tidak pernah berkurang hanya karena bemo hilang. Sarana untuk melakukannya yang berubah. Perjalanan yang sebelumnya dapat dilakukan bersama dalam satu kendaraan berpindah ke ribuan motor dan mobil pribadi.
Pemerintah mencoba mengembalikan pilihan angkutan umum melalui Trans Sarbagita dan kemudian Trans Metro Dewata.
Upaya tersebut sampai sekarang masih berjalan. Pada Agustus 2026, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Kadek Mudarta menyebut penumpang Trans Metro Dewata sudah berada di atas 5.000 orang per hari sejak Juli. Pemerintah Provinsi Bali mengalokasikan sekitar Rp56 miliar untuk layanan itu pada 2026 dan mengusulkan Rp58 miliar untuk 2027. Mudarta juga menegaskan kemacetan tidak mungkin ditangani hanya dengan membangun atau melebarkan jalan tanpa memperkuat angkutan umum.
Trans Metro Dewata kini melayani enam koridor yang menghubungkan sejumlah simpul seperti Terminal Ubung, Kuta, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Sanur, Ubud, Jimbaran dan Nusa Dua. Teknologinya tentu sudah jauh meninggalkan bemo. Pembayaran bisa menggunakan uang elektronik dan QRIS, sementara penumpang tertentu memperoleh tarif khusus.
Tetapi tantangan yang dihadapi justru lebih berat dibandingkan zaman Jaje Kakne.
Membeli bus dapat dilakukan melalui anggaran pemerintah. Koridor bisa ditetapkan. Tarif bisa disubsidi. Armada bahkan bisa diganti dengan kendaraan listrik.
Yang jauh lebih sulit adalah meyakinkan masyarakat bahwa meninggalkan motor di rumah tidak akan membuat perjalanan menjadi repot.
Bus harus mudah dijangkau dari rumah. Waktu kedatangannya mesti bisa diandalkan. Penumpang membutuhkan sambungan untuk mencapai tujuan yang tidak berada persis di jalur utama. Trotoar menjadi penting karena setiap perjalanan dengan angkutan umum selalu menyisakan jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Di sinilah bemo lama memberi pelajaran.
Denpasar tentu tidak perlu menghidupkan kembali kendaraan roda tiga yang bising dan berasap. Kota juga sudah terlalu berubah untuk sekadar menyalin sistem transportasi 1980-an. Namun jaringan lama memperlihatkan sesuatu yang masih relevan: angkutan umum harus berhubungan dengan tempat orang benar-benar menjalani kehidupan.
Terminal berada dekat pasar. Trayek menuju pusat perdagangan. Angkutan menghubungkan terminal satu dengan lainnya. Seseorang yang datang dari pinggiran kota masih mempunyai cara untuk meneruskan perjalanan tanpa harus membawa kendaraan sendiri.
Empat dekade kemudian, Denpasar mempunyai kendaraan yang lebih bagus, jalan lebih lebar, telepon pintar, pembayaran digital dan teknologi yang jauh lebih maju.
Pertanyaannya justru semakin sederhana: bisakah seseorang keluar rumah, bekerja, berbelanja atau mengantar anak, kemudian pulang tanpa merasa wajib mempunyai motor?
Dulu pertanyaan seperti itu mungkin terdengar aneh.
Dalam Jaje Kakne, seorang kakek cukup duduk di bemo, berkeliling kota, lalu meminta sopir berhenti karena ingin membeli es kojong. Tidak ada yang istimewa dari adegan tersebut. Justru karena itulah bemo bisa masuk lagu.
Sekarang lagunya masih bisa diputar.
Bemonya yang hampir tidak terdengar lagi. (*)
Menot Sukadana