Podiumnews.com / Horison / Neraca

Yang Mahal Bukan Beritanya

Oleh Nyoman Sukadana • 09 September 2026 • 16:29:00 WITA

Yang Mahal Bukan Beritanya
ILUSTRASI kotak berita kecil memantulkan bayangan raksasa, menggambarkan nilai media yang melampaui teks, tumbuh dari pengaruh, kepercayaan, dan perhatian publik. (AI/Podiumnews)

BERITA punya umur pendek. Pagi ini orang mencarinya. Siang dibagikan ke mana-mana. Malam mulai tenggelam. Besok, redaksi sudah sibuk dengan berita baru.

Anehnya, perusahaan yang setiap hari memproduksi barang secepat itu basi justru bisa dihargai sangat mahal.

Ketika Chairul Tanjung mengambil alih Detik.com pada 2011, angka yang dilaporkan mencapai sekitar 60 juta dolar AS. Dengan kurs ketika itu, nilainya lebih dari setengah triliun rupiah. Padahal laba bersih Detik setahun sebelumnya disebut sekitar Rp20 miliar. Pembeli membayar jauh lebih mahal daripada keuntungan yang bisa dikumpulkan perusahaan itu dalam satu atau dua tahun.

Lebih dari satu dekade kemudian, angka serupa muncul dalam transaksi Kumparan. GDP Venture, perusahaan investasi yang berada dalam ekosistem Grup Djarum, dilaporkan mengeluarkan sekitar 60 juta dolar AS untuk membeli hampir seluruh saham Kumparan yang sebelumnya belum mereka miliki. Transaksi itu membuat penguasaan GDP terhadap perusahaan tersebut mendekati penuh.

September tahun ini giliran Narasi. PT Global Digital Indonesia, kendaraan investasi di bawah GDP Venture, mengambil alih perusahaan pengelola Narasi. Dokumen perusahaan yang diperiksa DealStreetAsia menunjukkan GDI kini menguasai 6.910 dari 6.911 saham. Nilai transaksinya tidak diumumkan.

Tiga transaksi itu menyisakan satu pertanyaan sederhana: kalau berita begitu cepat kehilangan nilai, apa sebenarnya yang dibeli ketika seseorang membeli perusahaan media?

Jawabannya tentu bukan meja redaksi. Bukan komputer wartawan. Juga bukan puluhan ribu artikel lama yang tersimpan di server.

Pembeli pertama-tama membeli perhatian.

Setiap hari media mengumpulkan orang. Ada yang datang melalui Google, membuka tautan dari media sosial, menonton video, mengikuti kanal YouTube, berlangganan newsletter, atau langsung mengetik nama media yang sudah menjadi kebiasaan.

Dalam bisnis digital, orang-orang itu mempunyai nilai karena perhatian semakin sulit diperoleh. Pilihan semakin banyak sementara waktu manusia tetap 24 jam sehari. Media, TikTok, YouTube, Netflix, gim, marketplace sampai aplikasi percakapan berebut sumber daya yang sama: mata dan waktu manusia.

Tetapi trafik saja belum cukup.

Seseorang bisa masuk ke sebuah situs karena menemukan satu artikel melalui Google, membaca dua menit, kemudian tidak pernah kembali. Angkanya tetap tercatat sebagai kunjungan. Nilainya berbeda dengan pembaca yang setiap pagi sengaja membuka media tertentu karena ingin mengetahui apa yang terjadi.

Yang pertama adalah trafik. Yang kedua sudah menjadi audiens.

Perbedaan itu penting karena trafik bisa dibeli. Iklan dapat mendatangkan pengunjung. Judul sensasional juga bisa menghasilkan klik. Bahkan satu berita viral dapat membuat grafik kunjungan melonjak dalam sehari.

Membangun kebiasaan jauh lebih sulit.

Detik menjadi mahal bukan karena mempunyai banyak artikel. Pada saat dibeli CT Corp, portal yang lahir pada 1998 itu sudah menjadi salah satu tujuan utama orang Indonesia mencari berita di internet. Yang diambil alih bukan hanya sebuah alamat situs, tetapi kebiasaan jutaan orang mendatangi alamat itu.

Di atas kebiasaan ada sesuatu yang lebih mahal lagi: kepercayaan.

Orang tidak mungkin memeriksa sendiri semua peristiwa. Mereka tidak datang ke lokasi kecelakaan, mengikuti rapat kabinet, membaca seluruh laporan keuangan perusahaan, atau mewawancarai kepala daerah. Pekerjaan itu diserahkan kepada media.

Karena itu nama media berfungsi seperti jaminan. Pembaca percaya informasi yang muncul di sana telah melalui proses tertentu sebelum diterbitkan.

Kepercayaan semacam itu tidak bisa dibuat dalam tiga bulan. Uang dapat membeli server, kamera, kantor dan wartawan. Tetapi uang tidak otomatis membuat publik percaya.

Di sinilah nilai media mulai sulit dihitung dengan kalkulator biasa.

Laporan industri merger dan akuisisi Berkery Noyes menunjukkan perusahaan dalam sektor media, marketing dan bisnis online pada semester pertama 2026 diperdagangkan dengan median sekitar 1,7 kali pendapatan tahunan atau 8,7 kali EBITDA. Itu memberikan gambaran bahwa pembeli memang tidak menghitung perusahaan hanya berdasarkan keuntungan satu tahun. Mereka membayar kemampuan perusahaan menghasilkan uang pada masa depan.

Namun dua media dengan omzet sama belum tentu memiliki harga yang sama.

Satu media mungkin memperoleh seluruh pembacanya dari mesin pencari. Media lain memiliki pembaca langsung, kanal video kuat, komunitas, acara tahunan, podcast, database anggota dan produk yang telah dikenal publik. Jika Google mengubah algoritma besok pagi, risiko kedua perusahaan itu tentu berbeda.

Karena itulah media digital belakangan tidak berhenti pada berita.

Narasi adalah contoh yang menarik. Nilainya tidak bisa dihitung hanya dari jumlah orang yang membuka narasi.tv. Di belakang nama itu ada produksi video, berbagai program, komunitas, acara, kanal distribusi dan tentu saja Najwa Shihab.

Nama terakhir bahkan merupakan aset tersendiri.

Orang mengenal Narasi melalui figur, karakter jurnalistik dan sejumlah program yang telah mempunyai tempat di kepala penontonnya. Mata Najwa, misalnya, jauh lebih panjang umur ekonominya dibandingkan satu berita yang diproduksi pagi tadi. Sebuah program dapat diproduksi berkali-kali, mendapatkan sponsor, dibuat menjadi acara langsung, dipotong menjadi video, didistribusikan ke berbagai platform, lalu terus melekat pada sebuah merek.

Dunia bisnis menyebutnya intellectual property atau kekayaan intelektual.

Berita biasanya hanya sekali jual. IP dapat dijual berulang kali.

Itu sebabnya perusahaan media yang matang mulai berusaha mengubah sebagian pekerjaannya menjadi produk yang memiliki umur lebih panjang. Ada festival, forum, podcast, riset, membership, konferensi, studio kreatif, jaringan kreator sampai produk pendidikan.

Kumparan juga tidak berhenti menjadi halaman tempat orang membaca berita. Sejak awal, perusahaan itu dibangun dengan unsur teknologi dan komunitas pengguna. GDP Venture sendiri sudah menjadi investornya sejak masa awal. Martin Hartono, CEO GDP Venture, bahkan pernah mengatakan bahwa bisnis media berbasis teknologi menarik di Indonesia karena pemain lokal mempunyai keunggulan dalam memahami konteks dan konten.

Jadi ketika Kumparan berpindah ke penguasaan hampir penuh GDP, yang berpindah bukan sekadar kumparan.com.

Ada merek, teknologi, redaksi, jaringan distribusi, pembaca, pengiklan, kreator, arsip, data dan hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Namun harga tinggi juga bisa menipu.

Vice Media pernah menjadi contoh paling terkenal bagaimana optimisme terhadap bisnis media dapat melambungkan valuasi terlalu tinggi. Pada 2017, perusahaan media anak muda itu pernah dihargai sekitar 5,7 miliar dolar AS. Enam tahun kemudian Vice masuk proses kebangkrutan. Perusahaan itu akhirnya dibeli konsorsium krediturnya dengan nilai sekitar 350 juta dolar AS.

Pembacanya tidak tiba-tiba hilang. Nama Vice juga masih dikenal.

Masalahnya lebih sederhana: bisnis tetap harus menghasilkan uang.

Brand tidak dapat terus membayar gaji jika tidak bisa dimonetisasi. Jutaan pengikut di media sosial tidak selalu berubah menjadi pendapatan. Trafik tinggi juga belum tentu menghasilkan margin yang sehat.

Karena itu nilai perusahaan media pada akhirnya berada di pertemuan dua dunia.

Yang pertama adalah dunia jurnalistik: reputasi, pembaca, kepercayaan, pengaruh dan kualitas produk.

Yang kedua adalah dunia bisnis: pendapatan, laba, pertumbuhan dan kemampuan bertahan.

Media yang hanya kuat pada dunia pertama bisa berpengaruh tetapi terus kesulitan membayar biaya operasi. Media yang hanya mengejar dunia kedua mungkin menghasilkan uang, tetapi kehilangan alasan bagi publik untuk mempercayainya.

Persoalan ini terasa lebih dekat jika dibawa ke media lokal.

Banyak portal daerah masih mengukur pertumbuhan dari berapa banyak berita yang diterbitkan setiap hari. Sepuluh berita dianggap kurang. Tiga puluh lebih baik. Kalau bisa lima puluh, terlihat semakin produktif.

Masalahnya, hampir semua pesaing dapat melakukan hal yang sama.

Berita rapat pemerintah, kunjungan pejabat, kecelakaan, rilis kepolisian atau kegiatan perusahaan dapat muncul di belasan portal pada hari yang sama. Isinya hampir serupa. Judulnya hanya bergeser beberapa kata.

Sulit membangun nilai perusahaan dari sesuatu yang begitu mudah digantikan.

Media lokal justru mempunyai aset yang sering tidak masuk laporan keuangan: pengetahuan tentang daerahnya.

Wartawan yang bekerja bertahun-tahun mengetahui sejarah sebuah persoalan, siapa yang harus dihubungi, dokumen apa yang perlu diperiksa dan mengapa satu keputusan pemerintah penting bagi masyarakat setempat. Arsipnya menyimpan perubahan sebuah kota yang tidak selalu dicatat media nasional.

Kalau kemampuan itu diolah menjadi produk editorial yang khas, nilainya berbeda dengan portal yang sekadar memindahkan rilis ke CMS.

Di situlah media lokal perlu mulai mengubah pertanyaan.

Bukan lagi hanya: berapa berita yang kita terbitkan hari ini?

Tetapi: aset apa yang bertambah setelah berita itu diterbitkan?

Apakah pembaca mengenal nama medianya? Apakah mereka datang kembali tanpa harus dipancing mesin pencari? Apakah sebuah rubrik mempunyai pembaca sendiri? Apakah media memiliki arsip yang berguna? Apakah ada forum, riset, video, podcast atau produk lain yang lahir dari pekerjaan jurnalistiknya? Apakah pengiklan datang karena jumlah klik atau karena ingin berhubungan dengan komunitas yang telah dibangun media itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih menentukan masa depan sebuah perusahaan media daripada jumlah artikel yang masuk CMS setiap malam.

Berita tetap menjadi pekerjaan utama. Tanpa berita yang baik, sebuah media kehilangan alasan keberadaannya. Tetapi dalam perusahaan media, berita sebenarnya baru bahan baku.

Dari bahan baku itu tumbuh reputasi. Reputasi mendatangkan pembaca. Pembaca yang kembali membentuk audiens. Audiens yang percaya dapat berkembang menjadi komunitas. Dari sana lahir produk, kekayaan intelektual dan berbagai kemungkinan bisnis.

Proses itu membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Mungkin itulah sebabnya harga perusahaan media kadang terlihat tidak masuk akal jika hanya dibandingkan dengan harga satu artikel atau keuntungan satu tahun.

Redaksi memang memproduksi sesuatu yang umurnya sangat pendek. Berita pagi bisa basi malam nanti. Sebagian bahkan hilang dari ingatan dalam hitungan jam.

Tetapi jika orang kembali besok pagi, kembali minggu depan, lalu masih datang bertahun-tahun kemudian, ada sesuatu yang tidak ikut basi bersama berita.

Namanya kepercayaan.

Dan ketika sebuah media dibeli mahal, sangat mungkin itulah barang yang sebenarnya sedang dibeli. (*)

Menot Sukadana



Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.