Bali Hidup dari Jadwal Kapal
Antrean Pertalite di Bali berulang karena cadangan bahan bakar minyak (BBM) di Bali tipis dan permintaan Pertalite naik, dua masalah yang dijelaskan teori Charles Perrow dan Amartya Sen.
PADA akhir September 2021, Inggris mengalami krisis bensin. Perusahaan minyak Inggris BP, yang dulu bernama British Petroleum, mengumumkan penutupan sementara sebagian stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) miliknya karena kekurangan sopir truk tangki. Setelah pengumuman itu, pengendara beramai-ramai mengisi penuh tangki. Dalam beberapa hari, banyak SPBU kosong. Petrol Retailers Association, asosiasi pengusaha SPBU Inggris, mencatat sekitar dua pertiga SPBU yang dipantaunya sempat kehabisan bahan bakar.
BP, Shell, dan ExxonMobil menyatakan stok bensin di kilang dan terminal Inggris masih banyak. Bensin itu tidak sampai ke SPBU karena Inggris kekurangan sekitar 100 ribu sopir truk dan permintaan melonjak akibat kepanikan. Pada awal Oktober 2021, pemerintah Inggris mengerahkan sekitar 200 tentara untuk mengemudikan truk tangki.
Bali mengalami krisis serupa pada 2026. Di Inggris, bensin tertahan di terminal karena kekurangan sopir. Di Bali, bensin terlambat masuk terminal karena kapal tanker terlambat.
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, Dodik, pengemudi ojek daring, antre bensin di sebuah SPBU di Renon, Denpasar. Sebelumnya ia sudah melewati empat SPBU lain. Ia memilih SPBU di Renon karena tempatnya teduh. Selama antre, ia mematikan aplikasi ojek daringnya. Ia tidak mau mengambil pesanan dengan bensin yang hampir habis karena motornya bisa mogok di jalan.
Selama satu jam antre, Dodik tidak mendapat penghasilan. Ia juga belum tentu mendapat bensin. Jika stok habis sebelum gilirannya, ia akan pulang.
Roni, pengemudi ojek daring lain, mengalami hal yang sama. Biasanya ia mengantar tiga sampai empat pesanan dalam satu jam. Hari itu, satu jamnya habis untuk antre. "Ibaratnya, bensin itu tenaga kami," kata Roni.
Pagi di Latu
Pada pagi yang sama, seorang perempuan asal Desa Bongkasa pingsan saat antre Pertalite di SPBU Latu, Abiansemal, Badung. Ia sudah antre berjam-jam. Polisi dan petugas SPBU menolongnya. Ambulans membawanya ke Puskesmas Abiansemal I. Plt Kapolsek Abiansemal, Ajun Komisaris Polisi I Komang Juniawan, mengatakan kondisinya sudah membaik.
Antrean juga terjadi di Denpasar, Tabanan, dan Buleleng. Di Singaraja, Buleleng, seorang warga datang antre membawa botol bensin cadangan agar tidak kehabisan di jalan. Wayan Suantara, pengelola SPBU di Jalan Gajah Mada, Singaraja, mengatakan pesanan Pertalite sebanyak 16 kiloliter kadang hanya datang 8 kiloliter. Gubernur Bali I Wayan Koster meminta warga tidak panik. Koster mengatakan pasokan BBM cukup. Menurut Koster, antrean terjadi karena warga takut kehabisan dan mengisi bensin pada waktu bersamaan. Ia juga mengatakan truk tangki terhambat macet dalam perjalanan dari depo ke SPBU.
Bali memiliki dua terminal BBM. Terminal BBM Integrasi Manggis di Karangasem adalah terminal terbesar di Bali. Terminal ini juga memasok Nusa Tenggara. Terminal kedua adalah Fuel Terminal Sanggaran di Denpasar. Meski ada dua terminal, SPBU di Bali kehabisan stok pada November 2025, akhir Agustus 2026, dan Oktober 2026.
Antrean yang terjadi tiga kali dalam setahun tidak bisa dijelaskan hanya dengan kepanikan warga.
Kapal yang Ditunggu
BBM untuk Bali dikirim dengan kapal tanker ke Manggis atau Sanggaran. Dari terminal, truk tangki mengangkut BBM ke SPBU. Pada Oktober 2026, kapal pembawa Pertalite terlambat. Pertamina Patra Niaga mengakui keterlambatan itu. Pasokan Pertalite baru tiba pada 7 Oktober. Kiriman berikutnya, 18 ribu kiloliter dari Kilang Balongan, dijadwalkan tiba di Manggis pada 11 Oktober. Pada 13 Oktober pagi, kapal motor tanker (MT) Klasogun tiba di Sanggaran membawa Pertalite dan Biosolar.
Pertamina memberi dua angka berbeda tentang kapasitas tangki Pertalite di Bali. Pada 23 April 2024, Ahad Rahedi, Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, menyebut kapasitas tangki Pertalite di Manggis dan Sanggaran sekitar 19 ribu kiloliter. Pada hari yang sama, ia menyebut angka hampir 43 ribu kiloliter.
Menurut Pertamina, kebutuhan Pertalite di SPBU Bali sekitar 2.109 kiloliter per hari pada Agustus 2026. Dengan kebutuhan itu, 19 ribu kiloliter cukup untuk sekitar sembilan hari. Sebanyak 43 ribu kiloliter cukup untuk sekitar 20 hari. Hitungan ini berlaku jika tangki penuh. Kenyataannya, tangki jarang penuh karena BBM terus dikirim ke SPBU.
Saat terjadi gangguan, stok bisa jauh lebih kecil. Pada Maret 2023, kapal MT Kristin terbakar di perairan Ampenan, Lombok. Kapal itu membawa 5.900 kiloliter Pertalite. Saat itu stok Pertalite di Sanggaran hanya 4.200 kiloliter, cukup untuk sekitar empat setengah hari. Pertamina mengirim BBM dari Manggis lewat darat dan mendatangkan kapal dari Bima.
Pada November 2025, cuaca buruk membuat tanker mengubah rute. Pertamax dan Pertamax Turbo kosong di SPBU Renon. Seorang warga Dalung mencari bensin sampai ke Kuta Selatan. Pada akhir Agustus 2026, Pertamina menyebut penyebab antrean adalah penyesuaian jadwal sandar kapal. Pada 26 Agustus, Pertalite yang disalurkan hanya 1.600 kiloliter, sekitar tiga perempat kebutuhan harian.
Penyebab setiap kejadian berbeda: kapal terbakar, cuaca buruk, jadwal sandar kapal, dan keterlambatan pasokan. Akibatnya sama. Setiap kali satu kapal terlambat, SPBU di Bali kekurangan pasokan.
Satu Jalur Pasokan
Sosiolog Amerika Charles Perrow menulis buku Normal Accidents (1984) setelah kecelakaan reaktor nuklir Three Mile Island. Perrow membedakan sistem yang longgar dan sistem yang terkunci erat atau tightly coupled. Dalam sistem yang terkunci erat, setiap tahap bergantung langsung pada tahap sebelumnya. Hampir tidak ada waktu jeda. Gangguan kecil di satu titik cepat menjalar ke titik lain.
Pasokan BBM Bali adalah sistem yang terkunci erat. Urutannya tetap: kilang, kapal, terminal, truk tangki, SPBU. Jika satu kapal terlambat, tidak ada jalur lain yang bisa menggantikannya. Sistem ini lebih sederhana daripada reaktor nuklir. Namun prinsip Perrow tetap berlaku: sistem yang terkunci erat membutuhkan cadangan yang disiapkan sejak awal. Cadangan tidak bisa diadakan mendadak saat gangguan terjadi.
Pertamina sudah bertindak. Terminal dibuka 24 jam. Pengiriman diprioritaskan ke SPBU tertentu. Tambahan pasokan 26.200 kiloliter dikirim bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober. Pertamina juga pernah menyatakan stok bisa cukup untuk 12 hari sampai puluhan hari setelah kapal selesai bongkar muat.
Semua langkah itu dilakukan setelah antrean terjadi. Stok yang besar setelah kapal tiba tidak membantu Dodik saat kapal belum datang.
Siapa yang Menunggu
Masalah kedua adalah permintaan. Permintaan Pertalite naik, sehingga antrean makin panjang.
Ekonom India Amartya Sen meneliti kelaparan Bengal 1943 dalam buku Poverty and Famines (1981). Sen menemukan persediaan pangan saat itu tidak lebih sedikit daripada tahun-tahun sebelumnya ketika tidak ada kelaparan. Jutaan orang meninggal karena penghasilan mereka tidak cukup untuk membeli beras. Sen menyebut hal ini hilangnya hak akses atau entitlement. Menurut Sen, kelangkaan sering kali ditentukan oleh siapa yang mampu membeli barang, bukan oleh jumlah barang yang tersedia.
Antrean bensin jauh lebih ringan daripada kelaparan. Namun prinsip yang sama berlaku. Pada 10 Juni 2026, harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sejak itu banyak pengguna Pertamax beralih ke Pertalite. Data Pertamina Patra Niaga menunjukkan porsi Pertalite dalam konsumsi bensin nasional naik dari 75,4 persen pada Januari–Mei menjadi 80,3 persen pada Juli 2026. Di Jawa Timur, yang satu kantor regional dengan Bali, peralihan dari Pertamax ke Pertalite sekitar 7 sampai 10 persen.
Angka peralihan khusus untuk Bali belum tersedia di publik. Jika polanya sama, permintaan Pertalite di Bali juga naik. Pertamina mengakui SPBU sulit menambah dispenser atau nozzle untuk BBM subsidi. Pemilik mobil yang mampu masih bisa membeli Pertamax jika Pertalite habis. Pengemudi ojek daring seperti Dodik dan Roni tidak punya pilihan itu.
Gubernur Koster menyebut kepanikan warga memperpanjang antrean di Bali. Pada Agustus 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga menyebut pembelian panik sebagai salah satu penyebab antrean BBM di berbagai daerah. Kepanikan itu memang terjadi. Warga sudah dua kali mengalami SPBU kosong, pada November dan Agustus. Karena pengalaman itu, warga cenderung langsung mengisi penuh tangki begitu mendengar pasokan terlambat.
Jadwal Kapal
Pada hari Dodik antre di Renon, MT Klasogun sudah tiba di Sanggaran, Denpasar. Pertamina menargetkan muatan kapal itu mulai disalurkan siang hari. Setelah itu, truk tangki masih harus mengangkut bensin ke SPBU. Menurut Gubernur Koster, perjalanan truk terhambat macet.
Ketahanan energi Bali ditentukan oleh jumlah hari Bali bisa bertahan saat kapal terlambat. Pertamina dan pemerintah daerah bisa mengambil tiga langkah. Pertama, mengumumkan stok BBM Bali dalam hitungan hari untuk setiap jenis bahan bakar. Kedua, menambah cadangan Pertalite menjelang musim ramai. Ketiga, menguji gagasan Pertamina tentang SPBU kecil untuk mengurangi antrean.
Inggris mengatasi krisisnya dengan menambah sopir, termasuk tentara. Cara itu tidak menyelesaikan masalah Bali. Masalah Bali adalah cadangan BBM di darat yang tidak cukup selama menunggu kapal berikutnya.
Selama kapal tiba tepat waktu, warga Bali tidak perlu memikirkan asal bensin mereka. Saat satu kapal terlambat, Dodik mematikan aplikasinya dan antre satu jam di Renon. (*)
Menot Sukadana