Wawancara di Sela Kopi
SETELAH kontrol ke rumah sakit, kemarin lusa saya menuju Graha Yowana Suci di Denpasar Barat. Saya sedang mencari tempat yang nyaman untuk mengikuti wawancara kerja dengan sebuah media online nasional. Jam menunjukkan 15.56 WITA. Wawancara baru akan dimulai pukul 16.30.
Saya masuk ke sebuah kedai kopi di kawasan GYS, memesan kopi, lalu memilih duduk di luar. Beberapa anak muda sedang berlatih dance di selasar. Di persimpangan Suci, kendaraan bergerak padat merayap. Denpasar seperti biasa, tetap sibuk pada sore hari.
Anak-anak muda mengobrol ditemani minuman kesukaan mereka. Ada pula orang tua muda yang membawa anaknya bersantai di halaman GYS. Saya menikmati suasana itu sambil menunggu waktu. Sesekali mata saya mengarah ke jalan, lalu kembali kepada laptop yang sudah saya siapkan.
Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum wawancara dimulai. Saya sebenarnya bisa menghabiskan kopi dengan santai, tetapi pikiran tetap tertuju pada percakapan yang akan berlangsung. Bagaimanapun, ini sebuah wawancara kerja. Saya ingin mengikutinya dengan tenang, tanpa terlalu banyak memikirkan hasil.
Menjelang waktunya, saya membawa cangkir kopi masuk ke dalam kedai. Saya memilih meja panjang yang bentuknya mengingatkan saya pada meja meeting di kantor. Laptop dibuka, kamera diperiksa, koneksi internet dipastikan. Setelah semuanya siap, saya tinggal menunggu layar mempertemukan saya dengan pewawancara.
Pertanyaan pertama cukup sederhana, meminta saya memperkenalkan diri. Setelah itu percakapan bergerak ke pengalaman saya sebagai wartawan, liputan lapangan, serta media-media yang pernah memuat tulisan saya. Saya bercerita tentang liputan budaya, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan berbagai peristiwa yang pernah saya datangi.
Pertanyaannya kemudian masuk ke pekerjaan sehari-hari. Berapa lama saya menyelesaikan hard news, bagaimana menulis feature, dan bagaimana bekerja ketika sebuah peristiwa membutuhkan kecepatan. Saya menjawab berdasarkan pengalaman yang saya jalani selama menjadi wartawan, bukan sekadar teori yang pernah saya baca.
Saya pernah berada di lapangan ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi. Pernah mengejar narasumber, menunggu informasi, memeriksa ulang data, lalu pulang dengan bahan yang harus segera ditulis. Dunia jurnalistik sering tidak memberi banyak waktu untuk berpikir panjang. Tetapi pengalaman membuat kita tahu kapan harus bergerak dan kapan harus berhenti sejenak untuk memeriksa kembali.
Editor kemudian menjelaskan sistem kerja di media tersebut. Ia menerangkan genre tulisan yang mereka produksi, standar pemberitaan, hingga alur kerja kontributor. Saya mendengarkan dengan saksama. Tidak banyak yang perlu saya tanyakan karena hampir semuanya sudah dijelaskan dengan cukup terang.
Saya hanya menanyakan satu hal yang menurut saya penting, yaitu honor tulisan. Pembayarannya dilakukan berdasarkan berita yang dimuat, dengan besaran yang menurut saya cukup layak untuk ukuran media nasional. Namun, ada satu hal yang terus ditekankan, tulisan mereka harus bertumpu pada data dan riset.
Bagi saya, bagian itu menarik. Menulis berita bukan hanya soal siapa yang paling cepat sampai kepada pembaca. Di belakang sebuah berita terdapat pekerjaan yang sering tidak terlihat. Membaca data, memeriksa informasi, mencari sumber, melakukan konfirmasi, kemudian menyusun tulisan agar tidak sekadar menjadi kabar yang lewat begitu saja.
Liputan lapangan juga menjadi bagian penting. Untuk rubrik news flash, misalnya, peristiwa yang sedang hangat perlu segera didatangi, diliput, ditulis, bahkan dilengkapi video. Saya mengiyakan. Pekerjaan semacam itu bukan sesuatu yang asing bagi saya.
Bertahun-tahun menjadi wartawan membuat saya cukup akrab dengan situasi ketika sebuah peristiwa datang tanpa banyak pemberitahuan. Telepon berbunyi, pesan masuk, lalu tubuh harus bergerak sebelum berita kehilangan waktunya. Kadang belum sempat memikirkan makan siang, sudah harus berada di lokasi.
Mendengar penjelasan itu, ingatan saya berjalan sebentar ke belakang. Banyak hal yang berubah selama bertahun-tahun bekerja sebagai wartawan. Tempat liputan berganti, orang-orang yang ditemui juga berganti, begitu pula cara berita sampai kepada pembaca. Namun, keinginan untuk tetap berada di dekat sebuah peristiwa ternyata tidak banyak berubah.
Mungkin itu yang membuat percakapan sore tersebut terasa akrab. Saya seperti sedang berkunjung kembali ke sebuah pekerjaan yang pernah menjadi bagian besar dari hidup saya. Bedanya, kali ini saya duduk di sebuah kedai kopi, bukan di ruang redaksi, sementara suara musik dan percakapan pengunjung terdengar samar dari sekitar.
Wawancara berlangsung sekitar satu jam. Percakapannya tidak terasa terburu-buru. Dari pengalaman kerja, jenis tulisan, hingga sistem kerja kontributor, semuanya dibicarakan dengan cukup terbuka. Ketika layar akhirnya ditutup, saya tidak langsung beranjak dari kursi.
Saya masih duduk di depan laptop yang sudah gelap. Cangkir kopi di sampingnya tinggal seteguk. Di luar kaca, kendaraan terus bergerak melewati persimpangan Suci. Pemandangan itu sebenarnya tidak berbeda dari ketika saya datang tadi, tetapi entah mengapa rasanya sedikit berbeda.
Mungkin karena selama satu jam saya baru saja membicarakan pekerjaan yang selama ini saya kenal. Juga karena sebuah wawancara kerja membuat seseorang kembali melihat dirinya sendiri. Apa yang pernah dikerjakan, apa yang masih bisa dilakukan, dan ke mana langkah berikutnya akan dibawa.
Senin atau Selasa mendatang, saya akan mengetahui apakah bisa melanjutkan ke tahap berikutnya sebagai kontributor wilayah Bali. Media tersebut memiliki jaringan di Jakarta dan Yogyakarta. Untuk sementara, saya hanya bisa menunggu sambil kembali menjalani pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Saya tidak tahu hasilnya nanti. Namun, sore itu saya mendapat kesempatan untuk kembali duduk sebagai seseorang yang sedang mencari pekerjaan. Menjelaskan pengalaman, menjawab pertanyaan, dan mendengarkan kemungkinan tentang apa yang mungkin dikerjakan berikutnya.
Ada satu kalimat editor yang saya ingat. Sebagai pekerja media, suatu waktu kami akan saling membutuhkan. Bahkan jika saya tidak lolos, katanya, mereka tetap bisa menghubungi saya ketika membutuhkan jaringan atau tenaga liputan di Bali.
Saya menyukai cara berpikir seperti itu. Dunia media memang dibangun dari banyak pertemuan, banyak orang, dan banyak kemungkinan. Hari ini mungkin menjadi pelamar. Besok bisa saja menjadi orang yang dihubungi untuk sebuah liputan.
Mungkin memang begitu cara sebuah kesempatan bekerja. Kita tidak pernah benar-benar tahu dari mana ia akan datang. Kadang ia muncul melalui sebuah lowongan kerja. Kadang melalui percakapan selama satu jam. Kadang pula hanya berupa perkenalan yang kelak membawa kita kepada pertemuan berikutnya.
Wawancara akhirnya selesai. Saya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Musik jazz masih mengalun pelan di kedai. Saya merapikan laptop, lalu kembali memperhatikan cangkir kopi yang tinggal seteguk.
Saya duduk sebentar sebelum meminumnya. Dari balik kaca, jalanan Denpasar masih ramai. Kendaraan bergerak seperti biasa. Anak-anak muda masih berada di selasar, sementara sore perlahan menuju malam.
Saya menyeruput sisa kopi. Saat itu saya merasa belum terlalu tua untuk sebuah wawancara kerja. Belum terlalu tua untuk membuka laptop, menjawab pertanyaan, dan menunggu sebuah kesempatan baru.
Saya tidak tahu apakah kesempatan itu akan benar-benar datang. Tetapi setidaknya sore itu saya kembali mengingat sesuatu yang sederhana. Selama masih ada kemauan untuk mencoba, selalu ada alasan untuk membuka pintu yang baru. Wallahu alam. (*)
Oleh: I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Negara, Jembrana, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Aktif menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan sekitar 20 buku berupa puisi dan esai. Karyanya banyak mengangkat sastra, kebudayaan Bali, kehidupan sehari-hari, ingatan, manusia, dan persoalan sosial.